![Hasrat Terlarang [Suka Sama Suka]](https://asset.asean.biz.id/hasrat-terlarang--suka-sama-suka-.webp)
Kembali kutatap layar ponsel ku berharap Rendi kembali menghubungi ku. Seakan diriku belum percaya dengan perkataannya yang menyuruhku agar tak pernah menghubungi nya lagi. Mungkinkah dia berkata seperti itu karena takut ketahuan oleh Shania?
Lama aku menunggu, namun tak ada tanda-tanda adik iparku itu akan menghubungiku lagi. Karena kesal, kembali kuletakkan ponsel ku didalam laci tanpa dinonaktifkan, lalu diriku memutuskan untuk mandi agar pikiranku tidak kacau seperti ini.
Karena hari ini diriku hanya berdiam diri dirumah saja, jadi acara mandinya tak memakan waktu yang lama. Asal terkena sabun, sudah cukup bagiku. Gak perlu lah terlalu bersih-bersih amat mandinya, terserah kalau dibilang jorok aku tak peduli, hehe.
Setelah memakai baju, buru-buru aku mengambil kembali ponsel ku, dan berharap adik iparku mau menghubungi ku lagi. Hasilnya nihil, sepertinya dia memang sudah tak mau berhubungan denganku lagi. Karena merasa kesal, lebih baik ku matikan saja ponsel ku dan ku taruh kembali ke tempatnya.
Aku tak tau harus berbuat apa, sehingga kuputuskan untuk pergi ke rumah PELANGI. Mungkin disana hati dan pikiranku akan sedikit tenang. Kembali kuganti pakaianku lalu memesan taxi online, mungkin aku juga akan makan siang diluar saja. Kebetulan Mas Rangga juga ada meeting diluar, jadi gak perlu repot-repot untuk memasak lagi.
______________________
Saat tiba dirumah PELANGI, diriku terkejut saat melihat kalau adik iparku ternyata juga ada disana. Namun melihat kedatangan ku, dia malah berpamitan untuk pulang. Jujur hatiku merasa sedih saat dirinya cuek kepadaku.
"Mengapa kamu menyiksaku seperti ini? " ucapku saat dirinya melewatiku.
Langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapanku barusan. Lalu dirinya menarik tanganku untuk mengikuti langkah kakinya. Dia terlihat beda hari ini, biasanya senyumnya akan mengembang saat bertemu denganku. Ternyata dia membawaku masuk kedalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan.
Saat mata kami saling tatap, bibir ini sulit untuk memulai percakapan. Rendi tak henti-hentinya menatapku dengan tatapan datar.
"Muai saat ini, sepertinya kita tak bisa berhubungan lagi. Aku mohon, bukalah hatimu untuk Bang Rangga, dan mulailah jalani rumah tangga kalian dari nol. " Ucapnya lalu menundukkan kepalanya.
"Aku tau ini bukan dari hatimu kan? tolong, jangan siksa aku seperti ini! aku hanya mencintaimu, dan jangan pernah kudengar kamu menyuruhku untuk membuka hatiku untuk Mas Rangga lagi! " Ucapku mulai terisak.
__ADS_1
"Aku tak pantas untukmu, Kak. Aku tak bisa melindungimu, dan aku adalah lelaki pengecut. " Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu akan menyerah untuk memperjuangkan cinta kita? ingat, saat ini aku sedang mengandung anak mu. Apakah kamu tak mempunyai keinginan untuk hidup bahagia denganku dan calon anak kita? " ucapku terus meyakinkan Rendi agar dirinya tak putus asa.
Lama kami terdiam, ku lihat dengan jelas raut kesedihan adik iparku tersebut. Yah kuakui harusnya aku tak berhak untuk meminta kebahagiaan darinya. Namun, aku tak bisa jika harus berpisah darinya. Sungguh, aku sangat mencintai adik iparku apalagi sekarang aku sedang mengandung buah cinta kami.
Terserah jika diriku dipandang egois, aku tak peduli akan hal itu. Aku yakin kami bisa mempertahankan hubungan ini dan menjalaninya secara diam-diam dan pasti akhirnya setelah kedok Mas Rangga terbongkar, aku dan Rendi bisa hidup bahagia.
"Untuk saat ini, lebih baik kita fokus pada rumah tangga kita masing-masing. Jika kita memang berjodoh, suatu saat pasti akan dipertemukan lagi. Aku harap kakak bisa mengerti dengan ucapanku ini. Aku hanya tak ingin, hidup kita berdua terancam. " Ucap Rendi lalu menyuruhku untuk keluar dari mobilnya.
"Aku tak menyangka, kamu akan memperlakukan aku seperti ini. Kamu sama saja, lelaki pengecut. Mulai saat ini, aku tak ingin melihat mukamu lagi. " Ucapku lalu keluar dari mobilnya dengan perasaan kecewa yang sangat mendalam.
Untuk menghilangkan rasa sakit ini, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sebuah taman sekedar untuk menghirup udara segar. Siapa tau bisa menghilangkan rasa sakit hati ini. Saat tengah duduk di sebuah bangku taman yang berjejer, tanpa sengaja aku melihat adik perempuan ku bersama seorang pria yang seumuran denganku.
Karena tak ingin keberadaan ku terlihat oleh Reni, buru-buru aku meninggalkan taman itu dan memutuskan untuk pulang saja kerumah. Ternyata sesampai dirumah, tak ada orang.
Karena capek, aku pun masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku diatas kasur. Tanpa terasa diriku tertidur dengan pulas. Hingga kedatangan Mas Rangga mengagetkan ku, tampaknya dia terlihat panik dan menyuruhku untuk ikut serta dengannya. Aku melihat jam, sudah menunjukkan pukul lima sore. Ternyata lama juga aku tertidur.
Padahal aku ingin membersihkan tubuhku dulu alias mandi. Namun kata Mas Rangga gak perlu karena ada masalah yang terjadi jadi harus pergi dengan buru-buru. Jelas saja aku jadi penasaran, kira-kira masalah apa yang dimaksud?
Ternyata, kami mendatangi sebuah rumah sakit. Dengan raut kebingungan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya,
"Mas, kok kita kesini sih? emangnya siapa yang sakit? " tanyaku namun tak mendapat jawaban.
__ADS_1
"Ikut saja, nanti kamu akan tau sendiri. " Ucapnya kemudian membuatku diam dan mengikuti saja langkah kakinya.
Saat tiba di satu ruangan yang membuatku bergidik ngeri karena ruangan itu adalah ruang untuk mayat. Aku jelas kaget melihat suasana yang ada didepan ruangan tersebut. Terlihat ibu dan bapak mertua dengan raut kesedihan. Aku menatap wajah Mas Rangga untuk meminta penjelasan darinya.
"Tadi siang, Shania mengalami kecelakaan. Dia ditabrak oleh orang yang tak bertanggung jawab. Dan karena keadaannya sangat parah, sore ini nyawanya tak dapat diselamatkan. " Ucap Mas Rangga lalu menghampiri kedua mertuaku.
Aku menutup mulut dengan kedua tanganku seakan tak percaya dengan semuanya. Namun setelah melihat Rendi keluar dari ruang itu membuatku yakin bahwa perkataan Mas Rangga memang benar adanya. Kedua orangtua Shania terdengar menangis histeris tak terima dengan kepergian anak satu-satunya itu.
Sebenarnya diriku ingin mendekati Rendi untuk menenangkan hatinya. Namun mengingat hanya akan membuat kedua mertuaku dan Mas Rangga marah, ku urungkan niatku tersebut. Dan aku memilih duduk di samping Mas Rangga. Aku sekilas melirik kearah adik iparku itu, ternyata dia juga sedang menatap kerahku. Namun mengingat kejadian tadi siang, aku pun membuang muka dan mengalihkan pandanganku lurus kedepan.
"Rendi, memangnya tadi siang kamu itu pergi kemana?" tanya ibu mertua membuatku menelan saliva.
"Aku tadi lagi ada urusan, Ma. Kalau tau kejadiannya akan seperti ini, aku tak akan meninggalkan istriku sendirian. Tapi sebelum kejadian itu, Shania sempat mengatakan ingin menemui kak Renata. "
Deg
Menemui aku katanya? untuk apa Shania mau menemuiku, karena setahuku wanita itu sangat membenciku dan tak suka melihatku. Kalau pun benar perkataan Rendi, untuk apa?
"Apa tadi siang kamu bertemu dengan Shania? " tanya Mas Rangga kepadaku.
"Gak kok, Mas. Seharian ini kan aku dirumah terus. " Ucapku membuatnya mengangguk.
"Aku yakin, ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Shania. Dan itu berhasil hingga membuat Shania meregang nyawa. " Ucap Mas Rangga lagi mengingatkanku pada sesuatu.
__ADS_1
"Apakah Shania, wanita yang dimaksud oleh Reni? apalagi saat melihat dia dan seorang lelaki tadi di taman, yah tak salah lagi." Batinku menerka bahwa semuanya adalah perbuatan adik perempuan ku.