
Usai melakukan ritual bersama sang istri, Arga segera keluar dari kamar untuk makan siang, dia meninggalkan Alatha di kamar karena tertidur, mungkin lelah sehabis mandi.
Di meja makan, dia bertemu Clara yang tengah menyiapkan makan siang untuknya.
"Aku kira kamu tidak akan turun, Arga," ucap Clara menyambut kadatangan suaminya. "Alha mana?"
"Alha tidur," jawab Arga seraya menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Clara.
"Oh tidur, ya sudah, makanlah dulu." Clara menyerahkan piring berisi nasi pada Arga.
Keduanya makan dengan khidmat, kaki Clara di bawah meja sengaja di julurkan agar mengapai kaki Arga. Apa lagi laki-laki itu hanya memakai celana pendek rumahan.
Karena sedikit risih, Arga segera memindahkan kakinya. Namun, urung menegur Clara, takut gadis itu tersinggung.
"Setelah ini aku akan ke kantor, tolong bangunkan Alatha jika sudah jam 2 siang, dia sering kebablasan saat tertidur," ucap Arga.
"Iya, lagian sekarang dia sudah aku anggap adik Arga."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya, semoga kalian akur saat aku tidak ada di rumah. Oh iya, tentang permintaan yang kamu ajukan ...." Arga menjeda kerena menyuapkan makanan kemulutnya.
__ADS_1
"Bisa?"
"Hm, besok kita akan ke AR Entertaiment, untuk memperkenalkan kamu pada yang lainnya. Mungkin dengan menjadi model kamu tidak akan kesepian di rumah."
"Terimakasih Sayang, aku senang mendengarnya." Senyuman Clara mengembang, akhirnya penantiannya selama ini membuahkan hasil, dia berhasil masuk di AR Entertaiment, bukan hanya sebagai model, tetapi istri dari pemilik perusahaan.
Dia tidak akan di pandang rendah, mungkin banyak yang akan menyanjung dirinya.
Usai makan siang bersama, Arga kembali ke kamar untuk menganti baju dengan yang lebih formal, sebelum keluar dia terlebih dahulu mengecup kening Alatha.
"Abang ke kantor dulu, menyusullah nanti, jika ingin," bisik Arga hanya di jawab gumamam oleh wanita cantik itu.
Saat akan pergi, dia di antara oleh Clara hingga di depan pintu. Gadis itu langsung mencium tangan Arga, tak lupa merapikan dasi yang sebenarnya sudah tapi hanya untuk mengambil simpati sang suami.
"Hm, jangan bertengkar!" titah Arga mengelus rambut Clara sebelum pergi.
Umur kedua istrinya hanya selisih satu tahun, itulah mengapa Arga memperlakukan Clara sebagai adiknya. Seperti yang di katakan Alatha sebelumnya, bahwa Arga adalah tipe pria penyayang dan perhatian pada siapapun yang dekat dengannya.
***
__ADS_1
Alatha meregangkan otot-otot tubuhnya, tulang-tulangnya terasa sangat remuk karena gempuran Arga di kamar mandi. Dia meraba tempat tidur di sampingnya dan tidak mendapati sang suami.
Dengan mata setengah terbuka dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Arga, tidak butuh waktu lama panggilannya di jawab.
"Baru bangun?"
Alatha mengangguk seraya mengucek matanya. Wanita itu akan menjadi anak manis dan mengemaskan jika berada di antara orang-orang tersayangnya, tetapi berbeda jika berada di lingkugan para musuh, dia bisa saja menjadi iblis berwujud malaikat.
"Ini sudah jam tiga sore Sayang, kamu belum makan siang. Abang tadi menyuruh Clara untuk membangunkan kamu."
"Tidak ada yang bangunin Alha, Bang. Pulang jam berapa? Aku nungguin Abang saja kalau begitu."
"Abang sepertinya akan lembur, Abang pesankan makanan kesukaan kamu saja, mau?"
"Ya sudah, see you Abang Sayang." Alatha melambaikan tangannya sebelum memutuskan sambungan telpon.
Dia tadi melakukan video call tanpa malu memperlihatkan wajah bantalnya, toh bagaimanapun penampilannya dia akan tetap telihat cantik, secara orang tuanya adalah bibit unggul yang tidak di ragukan lagi.
"Dasar nenek lampir, bisa-bisanya tidak membangungkan aku."
__ADS_1
...****************...
Yok Komen dan Like biar ramaiš„³