
Usai menyelesaikan semua pekerjaanya, juga menghadiri beberapa rapat, akhirnya Arga bisa pulang kerumah untuk bertemu sang istri yang entah sedang apa.
Senyuman di bibir Arga mulai terlihat jelas ketika mamasuki rumah, sengaja tidak mengucapkan salam dengan suara lumayan lantang agar Alatha tidak menyadari keberadaanya.
Dia bersandar di tembok, memperhatikan aktivitas sang istri yang tengah membantu asisten rumah tangga memasak sesuatu.
"Bibi tolong cepat sedikit! Sebentar lagi suami saya datang, takutnya lapar," ujar Alatha masih tidak menyadari keberadaan Arga, toh perempuan itu sedang membelakangi pintu.
"Iya Neng, ini hampir selesai, ada lagi yang mau Neng Alha masak?"
"Tidak ada, ini semua sudah cukup. Tolong meja pantri di bersihkan Bi!"
Alis Arga terangkat, dengan jari yang berada di bibirnya, memberi kode pada wanita paruh baya itu agar tidak membeberkan keberadaanya.
Dengan gerakan tangan, Arga menyuruh asisten rumah tangga itu untuk meninggalkan dapur, kemudian dia mendekati sang istri.
"Bibi, saya tidak bantu cuci piring Ya, soalnya tangan saya kalau kena sabun suka luka-luka."
"Iya Sayang," bisik Arga langsung memeluk Alatha dari belakang, membuat wanita itu sedikit terkejut. "Itu bukan tugas kamu juga, bahkan untuk berada di dapur saja sepertinya tidak perlu," lanjutnya.
Arga sedikit melonggarkan pelukannya, mempermudah Alatha untuk berbalik. Dia majukan kepalanya hanya untuk mengecup bibir seksi itu.
"Kok pulangnya tidak ada kabar?"
"Biar jadi kejutan."
"Sok-sok kejutan, jantungan iya."
Arga terkekeh geli, menikmati wajah Alatha yang sangat dekat dengan wajahnya, terlebih tangan wanita itu melingkar di leher.
"Sebentar lagi teman-teman abang datang, buruan kekemar! Abang tidak mau kamu bertemu mereka."
"Kok gitu? Kak Angkara juga akan datang?"
__ADS_1
"Iya, dan kamu tahu, rata-rata teman-teman abang nakal, jadi sebelum mereka datang, abang mau menyembunyikan berlian dulu agar tidak di culik oleh siapun." Arga menyentil pucuk hidung Alatha, kemudian mengendongnya ke kamar.
***
Apa yang dia perintahkan pada Alatha benar-benar di turuti, sejak teman-temannya datang kerumah, istrinya benar-benar tidak keluar dari kamar. Meski begitu, Alatha terus menganggunya lewat pesan teks di aplikasi hijau.
Sungguh, keduanya sepertinya remaja yang sedang jatuh cinta. Pacaran diam-diam agar tidak ada yang mengetahui hubungan mereka.
Bicara tentang backstreet, memang Arga dan Alatha jagonya, hingga saat pacaran dulu tidak ada yang menyadari kalau saja kejadian dimana Alatha menjebaknya tidak terjadi.
"Tumben banget kalian ngajak reuni gini, biasanya pada sibuk," celetuk Arga, menuangkan wine ke gelas teman-temannya.
Memang jika sedang berkumpuk seperti ini, minuman beralkohol selalu menemani, dari ke tujuh pria tampan di ruangan itu, hanya satu orang yang tidak mencicipi minuman haram tersebut, dan lebih memilih minun air putir. Dia adalah Angkara, yang selalu menjauhkan dirinya dari hal-hal negatif meski teman-temannya masuk dalam kategori sesat.
Obrolan-obrolan mengalir begitu saja, hingga tidak terasa jarum jam menunjukkan angka 11.
"Hentikan! Ini sudah terlalu banyak!" tegur Angkara mencegah Arga menuangkan minuman lagi.
"Ayolah, Kara, segelas saja!"
Karena tidak ingin terhasut, Angkara segera berdiri. "Pulang!"
Hanya satu kata, tetapi ke lima pria mabuk itu langsung berdiri, menepuk pundak Arga sebelum meninggalkan rumah.
Sudah tidak asing lagi, jika rumah Arga selalu menjadi sasaranya.
Sama seperti teman-temannya yang lain, Arga juga sudah mabuk walau tidak parah. Laki-laki itu masih bisa mempertahankan kesadarannya. Berjalan sempoyongan menuju kamar.
Hal itu membuat perhatian Alatha teralihkan.
"Ya ampun, Abang?"
"Sayang."
__ADS_1
"Aku sudah curiga sejak awal, pasti ini akan terjadi,", omel Alatha, membantu Arga membuka baju, kemudian membimbingkan keranjang.
Brugh.
Tubuh Alatha tertindih oleh tubuh kekar Arga, senyum smirk tercetak di wajah laki-laki itu. Tangannya menyusuri wajah Alatha yang terlihat lebih cantik malam ini.
"Boleh ya?" izin Arga seraya mengedip-ngedipkan matanya merayu.
"Boleh apa tuh?" Bukannya takut, Alatha malah menggoda sang suami.
Toh Arga tidak mabuk sepenuhnya, lebih tepatnya Arga tidak pernah hilang kesadaran jika sedang mabuk, hanya rasa pening di kepala, kewarasanpun tetap terjaga.
"Buat dedek yang lebih gemas dari kamu Sayang."
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Kalau begitu, abang akan memerko*samu malam ini."
"Bagaimana jika sebaliknya?" Alatha menaikan alisnya semakin menggoda, terlebih dia sudah bersih pagi tadi, dan mandi wajib sore harinya.
"Silahkan!" Arga mengulingkan tubuhnya ke samping, tidur telengtang seraya memejamkan mata.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Dengkuran harus mulai terdengar di telinga Alatha.
Arga tertidur.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo