
"Oma!" pekikan anak kecil memecah keheningan yang terjadi di rumah mewah milik keluarga Anggara.
Wanita yang di panggil Oma langsung berlari dan menghampiri cucu kesayangannya itu. Walau bertemu semalam, Alana masih merindukan Farzan.
"Cucu Oma." Sambut Alana langsung mengendong Farzan.
"Mommy." Alatha dan Arga langsung mencium punggung tangan Alana.
"Udah nggak cemberut lagi nih, suaminya pulang," sindir Alana pada Alatha.
Yang di sindir malah mendelik. "Daddy tuh jahat banget, ngorbanin anak sendiri ke Luar Negeri karena nggak mau pisah sama Mommy," cibir Alatha.
"Ya kan Daddy juga cape Alha, jadi nggak papa Abang yang pergi. Sekarang juga udah balik. memangnya mau jalan-jalan kemana? Mau di manja gimana? Sini Abang turutin," sahut Arga tidak pernah melepaskan lengannya di pinggang Alatha.
"Jalan-jalan kemana aja. Kayaknya ngulang sama muda seru deh Bang, ketemu sama teman-teman kamu yuk?" ajak Alatha. "Tapi nggak ada yang boleh bawa ekor."
Alana dan Arga tertawa memdengar permintaan Alatha. Walau begitu, Arga langsung menghubungi teman-temannya yang lain.
Sambil menunggu informasi dadakan di setujui, Arga dan Alatha memutuskan duduk dan menonton Tv, berbeda dengan Alana dan Farzan yang menghilang entah kemana.
__ADS_1
Oma dan Cucunya itu sangat sefrekuensi, sampai jika bermain bersama pasti lupa waktu.
Mendapat persetujuan dari yang lain, walau tidak semuanya, akhirnya Alatha dan Arga memutuskan pergi, tapi sebelumnya pamit lebih dulu pada Alana dan Farzan.
Untung saja Farzan lebih memilih tinggal bersama Omanya di banding harus ikut orang tua, itulah Farzan.
Sepasang suami istri itu menuju Markas Avegas yang sudah di kosongkan oleh ketua Angkatan 6 yang tak lain putra Keenan.
Di sana sudah banyak orang, mulai anggota Angkatan 6 sampai inti Avegas, juga anak-anak inti Avegas angkatan 1 yang tidak masuk dalam perkumpulan saat sekolah.
"Wih pasangan bucin tapi aneh akhirnya datang juga. Tumben ngajak ketemu di markas?" sambut Alana.
"Istri gue pengen ala-ala remaja, jadi ngulang nggak ada salahnya kali," jawab Arga dengan kekehan kecil. Dia melirik Angkara.
"Papa gue ketua Angkatan satu, lo mau apa?" tantang Angkara. "Nakal kok bangga," gumam laki-laki tersebut.
Suara tawa seketika terdengar memenuhi Markas. Memang benar di markas tersebut tidak semuanya inti Avegas angkatan 6, tetapi mereka anak-anak angkatan 1.
"Suami aku belum datang," cemberuu Sheila. "Abang pasti ngerjain dia lagi?" Todong Sheila pada pria dingin di sampingnya.
__ADS_1
"Urusan Abang." Cuek Angkara.
Lama mereka menunggu hingga semua lengkap, barulah mengadakan pesta seadanya, padahal semalam mereka bertemu di acara ulang tahun Farzan.
Mungkin karena mereka tidak punya beban ekonomi, hingga berpesta setiap hari bukanlah masalah besar.
"Alatha awas!" pekik Alana langsung mendorong tubuh Alatha agar menyingkir dari tengah ruangan. Sayang, pergerakan Alatha sangat lambat hingga lampu ruangan menghantam kakinya.
Wanita itu langsung tidak sadarkan diri, membuat Sheila langsung mematikan Sound yang mereka bunyikan.
"Sayang?" panggil Arga dengan wajah panik.
"Angkat cepat!" bentak Angkara.
Arga langsung mengangkat tubuh Alatha dan membawanya ke mobil, tanpa peduli darah yang mengalir dari kaki Alatha, juga bagian wajah yang terkena percikan kaca lampu.
"Kamu nggak Papa?"
"Nggak cuma nyeri di ...." Alana jatuh pingsan tanpa menyelesaikan kalimatnya. Mungkin karena kaget juga rasa sakit sebab goresan besi di bagian lengan.
__ADS_1
...****************...
Baru juga mau Happy udah ada kejadian nggak enak. Bukan salah otor. Salah Alatha sama Alana mainnya ke tengah ruangan, padahal yang lain duduk anteng.