Hasrat Terlarang Nona Muda

Hasrat Terlarang Nona Muda
Boncap 4


__ADS_3

"Mama!" teriak Farzan terus berlari ke arah Alatha satelah turun dari gendongan Arga. Bocah kecil 3 tahun itu hendak manjat untuk naik ke pangkuan Alatha. Namun, langsung di cegah oleh Arga.


"Mama lagi sakit Nak, nggak boleh di gangguin," ucap Arga. "Cium aja, cium." Arga mengarahkan Farzan ke pipi Alatha.


Cup


"Ajan cayang Mama," ucap Farzan setelah mengecup pipi Alatha.


"Mama juga sayang Farzan," balas Alatha mengacak-acak rambut putranya seraya tersenyum. "Setelah sembuh, mama gendong ya."


Farzan hanya mengangguk sebagai jawaban, bocah kecil itu meronta ingin di turunkan. Setelah berdiri dengan kakinya sendiri, dia menghampiri mamanya, memegang kaki Alatha.


"Cepat cembuh ya Mama."


"Iya Sayang."


"Mama datuh mana?"


"Jatuh di rumah om Kara," bohong Alatha.


"Halusnya Mama ati-ati taya Ajan."


Arga dan Alatha tertawa melihat ekspresi bangga yang di perlihatkan Farzan. Ah putranya memang sangat lucu, pintar dan mengemaskan. Sangat tidak mencerminkan kepribadian orang tuanya yang sedikit nakal saat sekolah dulu.


Alatha beralih menatap Arga yang masih berdiri di hadapannya.


"Farzan di antar sama siapa?"


"Daddy."


"Oh, mereka kayaknya udah nggak sayang lagi sama aku Bang, apa karena sekarang nggak bisa jalan, makanya mereka malu punya anak kayak aku?" tanya Alatha dengan mata berkaca-kaca.


Selama ini dia menunggu Mommynya datang, bukan cuma menanyakan kabar lewat telpon saja, tetapi Alana sangat jarang menyempatkan waktu.


"Daddy sama Mommy bukan malu. Tapi Mommy nggak tega liat kamu kayak gini Sayang. Mommy sedih kalau anaknya luka, makanya nggak mau datang, takut kamu ikut sedih." Arga mengelus rambut Alatha penuh kasih sayang.


"Tapi nggak gitu Bang, aku kan pengen ...."


"Selamat sore Ajan!"


"Mama," pekik Farzan langsung berlari ke ambang pintu melihat Agatha. Bocah kecil itu langsung di gendong.

__ADS_1


"Babang ana?"


"Abang di bawah sama Papa," jawab Agatha mengecup pipi gembul Farzan.


Wanita cantik dengan wajah dingin itu menghampiri Alatha juga Arga. "Aku kira kalian nggak ada di rumah, makanya langsung masuk gitu aja."


"Kirain kak Aga juga nggak mau ketemu Alha." Alatha merentangkan tangannya manja. Namun, jangan harap Agatha akan memeluk, itu hal jarang terjadi.


"Cepat sembuh, nggak usah manja. Luka gitu doang juga," ucap Agatha menepuk-nepuk kepala Alatha pelan.


"Luka gitu doang? Kak Aga belum rasain sakitnya kayak gimana sampai nggak bisa jalan, jangan ngomong gitu ih."


"Hilih, kamu kira aku nggak pernah luka? Jatuh dari motor aja aku masih bisa bangun."


Arga menghela nafas kasar, dia memutuskan untuk menemui Agler di lantai bawah daripada harus mendengar perdebatan dua saudara kembar yang tidak akan ada habisnya.


"Kakak Ipar apa adek ipar ya?" gumam Arga bingung sendiri. Sampai sekarang dia masih bingung akan memanggil Agler apa dalam silsilah keluarga. Dia anak pertama, tapi juga menantu dari Alvi.


"Bodo, panggil nama aja." Putusnya.


Arga melempar senyum melihat anak kecil tengah bermain di karpet, bocah kecil satu tahun lebih tua dari putranya itu tengah memainkan mobil-mobil besar Farzan.


"Halo bro!" sapa Arga menaikan tangannya bersiap untuk tos ria.


"Udah lama nggak ketemu," ucap Arga basi-basi pada suami adiknya itu.


"Hm, entah kamu yang terlalu sibuk, atau saya." Agler terkekeh ringan.


"Sepertinya kamu, karena tugas negara."


"Bisa jadi."


Keduanya hanya berbicara ringan tentang pekerjaan satu sama lain, sambil menunggu para wanita selesai dengan urusan masing-masing.


Agler berdiri kerika melihat Agatha berjalan menghampiri.


"Udah?" tanyanya.


"Udah Mas, Alha baik-baik aja," jawab Agatha. Wanita itu menurunkan Farzan dari gendongannya.


Hingga membuat bocah kecil itu menghampiri bocah kecil yang kerap kali di panggil Abang.

__ADS_1


"Ibi-ibi atu!" Farzan mendorong sepupunya agar turun.


"Pinjam Ajan!" Jawabnya.


"Nda oleh, ini puna Ajan."


"Ajan pelit, kita musuhan!"


"Farzan nggak boleh gitu sama Abang. Ayo kasi!"


"Udah Bang, nggak usah. Lagian kita udah mau pamit," ucap Agatha. Marah? Sama sekali tidak, sebab Farzan dan putranya kadang akur kadang tidak.


Farzan juga sering menangis karena putranya jika Alatha dan Arga berkunjung kerumah.


"Cepat banget."


"Ini mumpung pak Agler cuti, mau nginap di rumah Mommy dulu, oh iya Alha udah siap-siap, katanya mau ikut kerumah Mommy juga."


Sebenarnya Agatha sudah menceramahi saudara kembarnya saat di kamar tadi, itulah mengapa Alatha ingin berkunjung kerumah Mommynya.


"Selama apapun, sesering bagaimana kamu sama Mommy ketemu. Dekat atau nggak rumah kalian. Kunjungan seorang anak kerumah orang tuanya itu sangat perlu Alha. Kalau Mommy nggak kerumah, berarti dia nunggu kita berkunjung."


Itulah nasehat yang Agatha berikan pada Adiknya agar berhenti marah.


.


.


.


.


.


.


Komentar kalian semangar Author


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual

__ADS_1


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


__ADS_2