
Setelah semua situasinya tenang, keluarga A kembali berkumpul di ruang tamu, kali ini tidak ada lagi air mata dan emosi meliputi, mereka sudah membenahi hati masing-masing, termasuk Arga juga Alana.
Alvi mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan semuanya pada Arga, tentang sejak kapan dia mengadopsi laki-laki itu, hingga asal usul orang tua Arga yang sebenarnya.
"Daddy mengambil kamu dari panti asuhan, karena jatuh cinta sejak pertama kali melihat kamu. Kamu adalah anak yang sangat mengemaskan dan pintar, lagi pula saat itu Daddy dan Mommy belum mempunyai anak."
Alvi tersenyum, mengenggam tangan Alana agar tidak kembali menangis, Alvi hanya menjelaskan sampai di sana. Arga tidak perlu tahu, bahwa kehadirannya, hampir membuat Alvi dan Alana berpisah.
"Karena tahu kamu di temukan di depan panti asuhan, Daddy memutuskan menambahkan nama Vernando di belakang nama kamu Nak. Daddy mengurus semuanya dan menjadikan kamu anak Daddy seutuhnya, mungkin selama ini kamu juga merasakan bagaimana kami tidak pernah membedakan kasih sayang antara si kembar dengan dirimu, Nak."
Arga menunduk, tentang kasih sayang dan kemewahan, dia memang tidak pernah mendapat ketidak adilan dalam hidupnya. Sakin sayangnya mereka, sampai Arga tidak mencurigai bahwa dia hanyalah anak angkat.
"Tentang orang tua kamu, Daddy sudah menemukannya sejak usiamu 16 tahun, dia meninggalkan dunia karena kecelakaan, setiap tahunnya kita selalu menemuinya, Nak."
Kepala Arga mendongak, kali ini dia sedikit bingung dengan kalimat Daddynya. "Maksud Daddy?"
__ADS_1
"Makam yang selalu kita kunjungi bukanlah saudara Daddy, melainkan makam orang tua kamu Arga. Daddy tidak menceritakan semuanya, karena Mommy kamu tidak ingin kamu menjauh dan merasa asing di keluarga ini."
"Maaf Daddy, selama ini Arga tidak pernah membuat Daddy dan Mommy bangga," lirih Arga.
Arga mendongak ketika Alvi menepuk pundaknya. "Kamu kebanggan Daddy Arga, berkat kamu perusahaan berkembang pesat, cara kamu mempimpin perusahaan membuat Daddy bangga."
"Jangan jauhin Mommy," pinta Alana dengan wajah cemberut.
Alatha dan Agatha tersenyum melihat kedua orang tua juga abang mereka tersenyum, akhirnya masalah satu selesai, kini waktunya membahas tentang pernikahan Alatha dan Arga.
"Kalian harus menikah, malam ini juga, Daddy tidak ingin menunda-nunda."
"Tapi Aa, bagaimana dengan Clara? Kita tidak bisa memutuskan ini seorang diri. Apa Aa lupa bahwa Arga sudah menikah?"
Tanpa seseorang pun tahu, di balik wajah sedih Clara, hatinya sedang tersenyum mendengar kalimat mertuanya, Alana memang selalu bisa membuat Clara menang.
__ADS_1
Kini semua tatapan tertuju pada Clara, baik Alatha maupun Arga.
Sebagai kepala keluarga, Alvi mewakili semuanya untuk bertanya pada sang menantu, apa yang di katakan istrinya benar, sekarang Arga sudah menikah, mereka juga harus meminta mendapat Clara sebagai seorang istri.
Apa lagi, usia pernikahan Arga dan Clara baru 12 hari, masih terbilang pengantin baru.
"Nak Clara, apa kamu bersedia menerima Alatha sebagai istri kedua Arga?" tanya Alvi.
Clara yang semula menunduk segera medongakkan kepalanya, gadis itu memasang wajah sesedih mungkin untuk menarik perhatian semua orang. Air mata buaya keluar dari manik wanita itu.
"Tidak ada seorang perempuan yang rela di madu, termasuk aku Daddy. Jika Arga lebih memilih menikah, maka dia harus menceraikan aku!"
...****************...
Nggak ramai, Author ngambek🧐
__ADS_1