
Ini bukan pertama kalinya Clara menjadi pusat perhatian oleh tahanan lain. Wanita yang sudah 3 bulan lamanya menjadi tahanan serlihat aneh semakin harinya.
Clara selalu melakukan hal yang membuat semua orang tertawa. Berjalan di kerumunan para tahanan wanita seperti sedang Fashion show, bukan hanya itu. Dia bahkan berteriak histeris mengira semua yang ada dalam tahanan adalah fansnya.
Mungkin salah satu penyebabnya kerena sudah lama tidak menggonsumsi obat-obatan, padahal sebelum ke ke tahanan dia selalu bergantung pada obat-obatan tersebut.
"Tenanglah, aku akan memberi kalian tangantangan, ayo berbaris rapi!" pekik Clara penuh kegirangan.
Orang-orang yang berada dalam tahanan, menatap aneh padanya. Siapa juga yang mengantri? Semua orang mengucilkannya di dalam tahanan, tetapi bertingkah dia seolah-olah menjadi artis.
"Dasar sarap?" maki ibu-ibu tahanan yang duduk bersama teman-temannya.
Kini mereka sedang berada di lapangan untuk olahraga pagi atau sekedar duduk-duduk.
"Ngebet pengen jadi artis, ujung-ujung gila!" cibir yang lainnya.
***
Alatha sangat terkejut mendengar kabar bahwa Clara di pindahkan kerumah sakit jiwa. Dia yang sedang berjemur bersama putranya segera masuk kerumah bertemu sang suami.
"Abang, katanya Clara gila?"
"Sepertinya, Agatha baru saja mengabarkan itu, kenapa?" tanya Arga.
"Tidak, aku hanya tidak menyangka dia akan gila seperti itu. Kok aku menyesal ya Bang?"
Arga langsung berdiri. "Tidak ada yang perlu di sesali Sayang, terlebih kamu sudah memaafkan dirinya. Kita fokus sama keluarga kita saja," ucapnya.
Alatha menganggukan kepalanya, dia melirik putranya yang terus menatap Arga saat berbicara. "Liat deh Farzan Bang, dari tadi liatin kamu terus," ucapnya dengan senyuman.
Arga yang semula memperhatikan sang istri, langsung menatap putranya, bayi usia 3 bulan lebih itu tersenyum seraya mengerakkan tangannya.
__ADS_1
Karena gemas, Arga mengambil Farzan dari gendong Alatha.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Arga.
"Belum, ini baru mau."
"Ya sudah, sarapanlah dulu, biar Farzan sama Abang."
Arga mengendong putranya kekamar, dia akan memandikan bayi mungil itu seraya menunggu Alatha makan.
Dia dan Alatha sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya sejak satu bulan yang lalu karena keinginan sang istri.
"Kalau aku tinggal di rumah Mommy terus, kapan pintarnya? Semua di urus sama mommy saja."
Itulah yang di katakan Alatha satu bulan yang lalu. Alhasil Alvi mengurangi perkerjaan Arga, menyuruh Hendri menjadi asisten putranya agar tidak terlalu repot dan siap 24 jam untuk putra tanpa terbebani pekerjaan.
Usai memandikan Farzan, Arga menidurkan bayi mungil tersebut di atas ranjang, memainkan tangan juga kaki Farzan karena gemas.
Untuk memakaikan baju, dia belum berani hingga harus menunggu Alatha. Sering kali laki-laki itu mendapat terguran entah dari baju, celana dan sepatu.
***
"Ayo Bang, kita kerumah sakit jiwa, aku mau liat kondisi Clara!" ajak Alatha.
"Dia baik-baik saja, tidak perlu memikirkannya Alha, mendingan kita kerumah Mommy!"
"Tidak, aku mau ketemu Clara, aku mau menyelesaikan semuanya. Aku ingin berdamai dengan masalaluku, hidup tanpa ada musuh satupun, agar aku kamu dan anak-anak kita nanti hidup tenang."
Karena tidak ada pilihan lain, Arga menuruti keinginan sang istri, mengantar wanita cantik itu kerumah sakit jiwa. Arga tidak ikut masuk, hanya menunggu di mobil bersama Farzan, yang masuk hanya Alatha dan Sheila.
Ya sebelum berangkat, Alatha mengajak Sheila juga, janjian bertemu di rumah sakit.
__ADS_1
Dua perempuan cantik satu frekuensi itu masuk kesebuah ruangan di dampingi beberapa suster takut Clara mengamuk.
Alatha melirik Sheila sebelum mendekati Clara yang terus berpose ala model padahal tidak ada kamera sama sekali.
"Ayo, katakan padanya setelah itu kita pulang!" perintah Sheila.
Alatha berjongkok di hadapan Clara yang penampilannya tidak beraturan lagi.
"Kamu masih kenal aku?" tanya Alatha hati-hati.
"Kamu fans aku kan? Mau minta foto? tandatangan? Nanti ya aku sibuk," jawab Clara.
"Clara, dari dulu sampai sekarang, aku cuma menunggu kata maaf terucap dari mulut kamu, tapi sampai sekarang kata itu tidak pernah aku dengar. Jadi aku kesini untuk memberikan maafku tanpa kamu harus meminta maaf. Semoga cepat sembuh dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Alatha.
Alatha menepuk pundak Clara sebelum pergi. Saat akan melangkah, tangannya di tarik oleh wanita yang pernah menjadi musuhnya.
"Maafkan aku," ucap Clara, setelahnya wanita itu memanangis sesegukan tanpa ingin melepaskan tangan Alatha. Clara terus menggumamkan kata maaf, hingga tangisan tersebut berubah menjadi tawa.
Sheila langsung menarik tangan sahabatnya, takut di lukai oleh Clara. "Ayo pulang! Urusan kita sudah selesai disini. Biarkan dia hidup dengan dunianya sendiri!"
...END...
...****************...
Sifat iri dan dengki dalam hati manusia memang tidak bisa di hilangkan. Seperti sebuah Hp, sifat tersebut sistem bawaan yang tidak mungkin di Uninstal. Hanya saja setiap orang berbeda-beda cara menyikapi perasaan iri dan dengki, mungkin ada yang menguburnya dalam-dalam, atau berusaha lebih baik dari orang tersebut tanpa harus menjatuhkannya, atau malah sebaliknya.
Dendam. Jika mengikuti keinginan hati, maka dendam tidak akan pernah berakhir hingga memakan korban dan menyakiti diri sendiri. Menyimpan dendam, ibarat kata kita menyimpan Bangkai, setiap harinya bukannya wangi, malah semakin membusuk, begitupun dengan dendam.
Jadi ada baiknya, rasa dendam tidak perlu di pelihara dalam hati, cukup ikhlaskan saja. Jika kita tidak mendapatkan permintaan maaf pada seseorang, maka tidak ada salahnya jika kita meminta maaf lebih dulu. Meminta maaf tidak mengukur kita salah atau tidaknya, tetapi mengukur seberapa besar hati kita.
See you buat kalian para readers tersayang🥰, kita akhiri kisah di sini, tapi bukan berarti kisah readers dan author ikut berakhir.
__ADS_1
Akan ada novel baru yang akan publish dalam waktu dekat ini, auhtor harap, kalian masih berkenang hadir untuk menemani setiap cerita yang author buat.
Dedek Farzan sayang kalian banyak-banyak🥰