
"Baiklah kalau itu mau kamu Clara."
Ucapan Arga membuat yang lain menatap tak percaya, terutama Alana dan Alvi. Keduanya mengira Clara dan Arga saling mencintai, dan terjadinya insiden kemarin malam hanya karena mabuk tanpa ada perasaan.
Bukan hanya Alvi, Clara yang memancing juga ikut terkejut, bukan ini yang dia ingingkan. Dia hanya ingin di cegah dan pernikahan di batalkan karena ketidak setujuannya.
Alatha langsung berdiri. "Kenapa harus ada perceraian?" tanya gadis cantik dan tak kalah licik itu.
Dengan wajah sok polosnya, Alatha menatap kedua orang tuanya. "Di sini aku yang bersalah karena menjebak bang Arga Daddy, jadi aku harus menanggung semuanya termasuk jika harus menjadi istri kedua bang Arga, itu tidak masalah," ucapnya.
Alatha beralih manatap Arga. "Jangan ceraikan kak Clara, Bang! Kalian baru menikah, apa yang akan orang katakan? Kasian kak Clara jika harus jadi janda di usia muda, terlebih dia sudah tidak mempunyai siapapun."
"Tapi Nak. Mommy tidak setuju adanya poligami dalam rumah tangga kalian, salah satu dari kalian harus mengalah."
"Tidak, Alatha tidak setuju Mommy."
"Keputusan ada di tangan Arga, apa kamu bersedia bersikap adil, Nak?" tanya Alvi langsung menengahi.
__ADS_1
Dengan ragu, Arga menganggukan kepalanya. "Benar apa yang di katakan Alatha Daddy, aku tidak seharusnya berpisah dengan Clara, aku yang meminta dia untuk menjadi istriku, tidak mungkin aku mencampakkannya begitu saja."
Arga bangkit dari duduknya dan menghampiri Clara. "Izinkan aku menikah dengan Alatha, aku berjanji akan bersikap adil pada kalian," pinta Arga sunggu-sungguh walau masih ada sedikit keraguan di hatinya.
Entah dia bisa atau tidak berlaku adil, terlebih perasaanya lebih condong kepada Alatha karena sudah tinggal bersama bertahun-tahun.
Siapa yang menyangka, Clara menganggukkan kepalanya. Dalam hati gadis itu merasa sangat lega, untung saja Alathan bodoh karena mempertahakan dirinya. Dia sedikit menyesali perkataannya tadi.
Tanpa Clara tahu, Alatha bukan bodoh karena mempertahakan dirinya dan memilih poligami. Gadis cantik itu merencanakan sesuatu untuk membuat Clara hidup bergelimang harta dalam neraka yang akan dia ciptakan.
Alatha tidak akan menyerang fisik Clara, melainkan akan menyerang mental gadis itu sebagai mana dulu Clara menyerang mentalnya.
"Aku masih belum terima jika putriku harus di poligami Aa," lirih Alana.
"Ini kesalahan mereka Alana, biarkan mereka yang menyelesaikannya sendiri," bujuk Alvi.
Agatha yang sedari tadi diam saja mengelus pundak Mommynya. "Tidak ada yang perlu di khawatikan Mom, bang Arga tidak mungkin membuat Alha menderita," ucapnya menenangkan.
__ADS_1
Lama Alana terdiam, hingga menyetujui usulan suami dan anak-anaknya. Mereka membicarakan tentang akad yang akan di langsung besok di masjid terdekat.
"Mommy tidak mau tahu, pernikahan Alatha dan Arga harus terdaftar hukum maupun Agama, ajukan setelah kalian menikah, Mommy akan membantu Arga."
"Pengurusannya akan lebih mudah, karena Clara menyetujui hal ini."
"Baik Mommy," sahut Arga.
Ketika Arga dan Clara ke kamarnya begitupun dengan Alatha. Agatha juga hendak pamit pulang, tetapi di cegah oleh Alana.
"Bermalam lah Nak!" pinta Alana.
"Tapi Mom, mas Agler sudah di perjalanan akan menjemput Aga."
"Assalamualaikum." Agatha langsung tersenyum. "Mas Agler sudah datang."
Wanita itu langsung menyambut suaminya dan mencium tangan Agler di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
...****************...
Like dan Komen buruan, sebelum author kabur💃