Hasrat Terlarang Nona Muda

Hasrat Terlarang Nona Muda
Part 61


__ADS_3

Arga pulang hampir jam 10 malam, Alatha sudah tidur, itulah yang Arga lihat ketika masuk ke kamar. Karena tidak ingin menganggu tidur bumil kesayangannya, Arga hanya mengecup pipi nya sekilas.


Namun, itu malah berhasil membangunkan Alatha.


"Jangan bekerja terlalu keras Bang," gumam Alatha yang sedari tadi menunggu suaminya pulang.


Mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa tidur sebelum Arga pulang kerumah, walau tahu suaminya berada di kantor, tetap saja dia sebagai istri khawatir.


"Tidak Sayang, semuanya sudah selesai, mulai besok dan seterusnya, abang tidak akan lembur sampai selarut ini," jawab Arga.


Alatha mengangguk mengerti, menunggu Arga yang masuk ke kamar mandi. Dia menampilkan senyuman melihat suaminya keluar dari kamar mandi hanya menggukan celana pendek di atas paha. Dia merubah posisi tidurnya menghadap Arga setelah lelaki itu berbaring di sampingnya.


"Cantik banget istri aku malam ini."


"Itu pernyataan, atau gombalan biar dapat jatah?" goda Alatha.


"Pernyataan, tapi kalau ada bonus kenapa tidak?" Arha menyengir, hampir seminggu ini, dia tidak pernah meminta pada Alatha sakin stresnya, dan malam ini rasa stres itu sudah hilang sebab masalah teratasi dengan cepat.


Ah ya, Arga hampir melupakan sesuatu. "Besok daddy akan mengadakan konferensi pers untuk mengumukan hubungan kita, apa kamu siap?" tanya Arga.


Alatha mengangguk. "Daddy sudah bertanya lebih dulu Bang, aku siap. Kita harus membersihkan nama kita. Lagian aku sangat kesal pada nenek lampir itu, aku yakin biang dari semua masalah adalah dia, awas saja nanti jika ...." Kalimat Alatha harus tertahan karena jari telunjuk Arga mendarat di bibirnya.


"Abang sudah bilang, jangan pernah menyimpan dendam terlalu berlebihan Alha, apa lagi sekarang kamu sedang hamil. Cukup Daddy yang menanganinya, kita fokus pada rumah tangga saja, perut kamu semakin besar, tentu saja banyak yang di perlukan."


"Maaf," lirih Alatha.


"Maafnya tidak diterima!"

__ADS_1


"Kok gitu?" Alatha mamanyungkan bibirnya.


"Sebelum abang bisa jenguk anak kita .... Auhhh, sakit Sayang." Keluar Arga saat Alatha mencubit perutnya.


"Modus banget."


"Bukan modus Sayang, tapi kode," bisik Arga.


Tangan laki-laki itu mulai bergerak di balik selimut, mencari sesuatu yang selalu membuatnya tertidur nyenyak dalam situasi apapun. Senyum jenaka Arga perlihatkan, saat mendapati benda kenyal tidak bertulang itu.


Erangan kecil terdengar di mulut Alatha, wanita itu memperbaiki posisi tidurnya, memudahkan Arga menjamah tubuhnya, toh untuk apa menolak? Bukankah menyenangkan suami ada tugas seorang istri?


***


Pagi hari yang cerah, secerah wajah Alatha yang sudah selesai bersiap-siap, wanita itu sedang menunggu suaminya mandi.


"Tau banget apa yang abang ingingkan, sepertinya kamu jauh lebih Peka setelah hamil," gumam Arga memeluk pinggang Alatha, menikmati aroma segar di tubuh istrinya yang telah rapi.


Kenapa secepat itu? Karena Alatha bangun pagi-pagi sekali hanya untuk bersiap-siap, wanita itu sangat antusias untuk hadir di konferensi pers, mungkin karena akan membersihkan namanya.


Usai membantu Arga bersiap-siap, keduanya sarapan dulu sebelum pergi.


"Lihat Dad, Tuan Putri kamu hari ini cantik banget," puji Alana.


Alatha yang di puji hanya bisa tersenyum, duduk di salah satu kursi yang di tarik Arga untuknya. Seperti biasa, Alatha mengambil piring kosong untuk Arga kemudian mengisinya nasi. Ya, mereka masih berada di rumah orang tuanya.


"Rajin banget Mom, sampai dia yang bangunin aku," celetuk Arga menahan senyum.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Salah?" tanya Alatha.


"Tuh sensi lagi sama suami sendiri, Alha kamu harus ingat pesan Mommy! Arga bukan lagi abang kamu yang harus di jahilin atau seenaknya kamu perlakukan, dia sekarang suami kamu."


"Iya Mom, Alha tahu." Alatha menatap Daddynya. "Daddy tidak mau bela aku?"


Alvi mengendikkan bahu acuh. "Mau bagaimana lagi, Daddy takut sama Mommy."


Kekehan kecil keluar dari mulut Alana juga Arga. Keduanya merasa menang, apa lagi pada Alatha yang selalu di bela oleh Alvi.


"Sepertinya cucu Oma tidak rewel." Alana kembali memulai pembicaraan seraya sarapan.


Bercerita saat di meja makan adalah cara tersendiri keluarga A mempereraat hubungan sesama.


"Tidak, mungkin mengerti Papanya lagi stres, besok siapa tahu berulah lagi," jawab Alatha melirik Arga.


Yang dilirik hanya tertawa. "Hari ini dan seterusnya, Papa siap memenuhi segala keinginan calon anak Papa!"


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1


__ADS_2