HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 12. KEDATANGAN WALIKOTA _ HTM


__ADS_3

Lelah menangis, Mariska pun tertidur. Sesekali terdengar ucapannya. Alya mencoba menghubungi Bimbim. Tetapi sambungan telepon sudah diputus oleh pengawal Murano. Alya melihat keluar jendela ada beberapa orang pengawal yang berjaga disana


Alya mendengus duduk di tepi ranjang, sambil menatap wajah polos putrinya. Alya mengusap punggung Sang Putri. "Apa yang akan terjadi besok, Kenapa hidup selalu mempermainkan kita?" ucapnya dalam hati


Ya siapa yang menyangka penyebab kemarahan Murano dan kebenciannya pada perempuan adalah ibu Nerina ibu mertua Alya sendiri. Padahal hal Alya mengenal wanita itu sebagai sosok yang lembut dan sabar. Bahkan waktu kecil ia memanggil Ibu Nerina dengan sebutan bidadari.


"Pasti ada sebab Ia melakukan penyiksaan pada Murano." gumamnya.


Saat ini Murano berada di klub malam yang ia sewa ada beberapa penari tercantik dan terseksi di klub ini, bergoyang mengikuti irama musik. Tingkah mereka menggoda dan menantang.


Kairo yang menemani sang Bos besar, menelan ludah saat dua orang penari mendekati dan menggodanya. Celananya menjadi sesak karena penari itu menyebabkan juniornya bangun. Kairo tersentak saat sang Bos besar berteriak.


"Ada apa Tuan?" Kairo mengusap keningnya yang berkeringat.


"Ambilkan aku minuman lagi." teriaknya.


"Tapi Tuan sudah terlalu banyak minum." Kairo merasa khawatir. Sebab sudah sangat lama Tuannya tidak minum.


"Jangan banyak omong! ambilkan saja." Murano melempar dua botol minuman, sekaligus pecahannya berhamburan kemana-mana


"Baik Tuan." Kairo bergegas mengambil minuman yang diminta Murano. Minuman dengan kadar alkohol tinggi yang diimpor dari negara lain.


Kairo membuka dan menuang minuman ke dalam gelas. Murano meneguknya hingga habis dan ia meminta Lagi Dan Lagi. Kehadiran penari tak berpengaruh walau menggodanya. Mungkin jika yang menari itu Alya Tuan Murano langsung tertarik." ucap Kairo dalam hati.


Akhirnya Murano tak sadarkan diri. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Kairo Membopong tubuh Murano dan memasukkannya ke dalam mobil, lalu menghela nafas lega. Tubuh Murano lebih besar dan tinggi darinya, hingga ia kesulitan dan lelah.


"Baru saja akan memejamkan mata, Alya mendengar deru suara mobil. Tak lama terdengar sedikit kegaduhan. Alya memeluk erat tubuh Mariska. Hatinya terus berdoa agar mereka selalu dalam lindungan Tuhan.


Kairo dan seorang pengawal membaringkan tubuh Murano di ranjang. Kairo membuka sepatu dan kaos kaki serta membuka sebagian kancing kemeja Murano dan menyelimutinya.


***


Pagi-pagi sekali Bimbim dan Daniel sudah ada di kantor walikota kampung camp semalaman mereka juga tidak bisa tidur memikirkan nasib Alya dan juga Mariska.


Setelah hampir dua jam menunggu, mereka pun diperkenankan masuk menemui sang walikota.


Setelah memperkenalkan diri, Pak walikota mempersilahkan mereka duduk. Daniel menceritakan masalahnya dan kronologi kejadian dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditutupi. Daniel juga memperlihatkan rekaman video itu.


"Kemarin kami sudah lapor polisi Pak. Namun, laporan kami Hanya dianggap angin lalu. Saya sangat mengkhawatirkan keselamatan istri dan anak saya Pak." ucap Daniel.


"Saya akan memanggil kepala polisi kampong camp dan bicara dengan Tuan Murano.


Ucapan Pak walikota sedikit membuat Daniel tenang. Ada secercah harapan.

__ADS_1


"Kalian juga harus sabar. Ini masalah yang besar, jangan menyebarkan video itu ya." ucap Pak walikota.


"Iya baiklah, kami akan menuruti anda Pak. saya minta tolong sekali." Daniel menakup tangan di dada


Sepeninggalan Daniel dan Bimbim Pak walikota menghubungi Murano namun tidak diangkat.


"Di mana Tuan Murano menginap?" tanya Pak walikota kepada asistennya


"Dia menginap di salah satu hotel yang lokasinya tidak jauh dari pantai." jawab asistennya.


"Baik, kita ke sana sekarang juga."


"Siap pak."


Sesampainya di Hotel pak walikota harus menelan kekecewaan. Sebab Murano sudah check out sejak semalam.


"Pak, ada laporan yang mengatakan Tuan Murano ada di villa yang lokasinya tidak jauh dari sini juga." ucap si asisten


Pak walikota yang baru menjabat satu tahun yang lalu, ia mengangguk. "Kita ke sana."


Murano bangun dan langsung ke kamar mandi. Perutnya mual hingga ia mengeluarkan semua isi perutnya, kepalanya pun pusing. Murano menyalakan shower dan mengguyur dirinya, berharap pusing yang akan hilang.


Sementara di kamar lain, Alya sibuk menenangkan Mariska menangis meminta main di luar. "Sabar ya Sayang, nanti kita mainnya ya sayang." Alya memeluk dan mencium Mariska. Tapi tak berhasil tangisnya semakin kencang akan marah.


Semalam Tuan Murano mabuk, hingga tak sadarkan diri. Dia benar-benar kacau." ujar Kairo


"Kira-kira apa yang akan dilakukan padaku, dengan keluargaku ya?" mata Alya menerawang.


Kairo mengangkat kedua bahunya. Entahlah dia bisa melakukan apapun sulit diduga.


Aku takut dia akan menyakiti suami, adik, dan putriku. Kalau aku sudah mulai terbiasa." Alya tersenyum hambar.


"Semuanya di luar dugaan kita." ucap Kairo. Aliya mengangguk. Mariska sudah lebih tenang setelah diberi sarapan dan susu.


Tiba-tiba seorang pengawal datang dan memberitahu berita penting untuk Kairo. Mata Kairo membulat.


"Aku akan memberitahu Tuan Murano." wajah Kairo terlihat panik.


"Ada apa?" tanya Alya penasaran.


"Kamu jangan membuat keributan, dan pastikan anakmu tenang." perintah Kairo.


Kairo bergegas ke kamar Murano dan mengabarkan berita, Kalau Pak walikota dan asistennya akan datang menemuinya.

__ADS_1


"Aku males bertemu siapapun hari ini. Bilang saja aku sakit, atau sudah kembali ke ibukota." ucap Murano.


Tidak membantah, Kairo menuruti perintah sang Bos besar. Saat ini emosi sangat Tuan besar sedang tidak stabil membantah bukan ide yang bagus. Bisa-bisa nyawa taruhannya.


Kairo mempersilahkan Pak walikota dan asistennya duduk. Mereka berbasa-basi sebentar.


"Kedatangan kami ke sini untuk menemui Tuan Murano. Ada masalah penting yang ingin aku sampaikan." ucap pak walikota yang merupakan walikota termuda sepanjang sejarah kampung camp.


"Sayang sekali Pak walikota, Tuan Murano sudah kembali ke ibu kota. Siang ini kami juga akan kembali ke kota. "ucap Kairo dengan tenang


"Apa kamu tahu soal keluarga Ibu Nerina?" tanya Pak walikota. Kairo menggeleng.


"Menantu dan cucu beliau diculik oleh Tuan Murano dan anak buahnya. Selain itu Tuan Murano sudah melakukan kekerasan pada Daniel yang merupakan anak dari ibu Nerina." jelas Pak walikota panjang lebar.


"Maaf Pak, kami semua yang ada di sini tidak tahu menahu masalah itu." Kairo kembali berbohong


Pak walikota menetapnya curiga. "Benarkah kamu tidak tahu apa-apa?


Jantung Kairo berdegup kencang. Biasanya Kairo hanya bertugas menyetir. Urusan-urusan seperti ini, biasanya ditangani oleh Devano.


"Iya benar Pak." sahut Kairo.


Di video itu, terekam pula wajahmu yang sedang menggendong paksa cucu Ibu Nerina.


Kairo menelan ludah. Bingung mau bicara apa lagi untuk mengelak.


"Itu pasti editan Pak." akhirnya Hanya kata-kata itu yang terucap dari Kairo


"Maaf Pak walikota, bukannya tidak sopan tapi saya dan teman-teman mau bersiap untuk pulang.


Pak walikota dan asistennya pun pulang dengan tangan hampa. Tidak ada informasi apapun yang didapat


"Akhirnya mereka pergi juga." segera ia mengeluarkan Alya dan Mariska dari gudang


"Memangnya siapa yang datang, polisi ya?" Cecar Alya. Beruntung Mariska masih tertidur.


"Sudah tidak perlu banyak tanya." sahut Kairo.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2