HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 44. TERTANGKAP BASAH_ HTM


__ADS_3

Menangis membuat Alya lelah hingga ia tertidur. Namun, ia merasa kedinginan, tangannya meraba-raba. Matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka sempurna.


"Ke mana tangan kekar yang selalu memelukku dengan erat?"ucapnya dalam hati. Alya mengambil ponsel dari atas lemari kecil samping ranjang, di layar masih menunjukkan pukul dua dini hari. Ada dua panggilan tidak terjawab dari Masayu


Alya mengambil sweater dari dalam lemari dan mengenakannya. Ia keluar dari kamar, memindai seluruh ruangan. Sepi.


Alya akhirnya menuju kamar Mariska yang berada persis di samping kamarnya. seharian ini ia tidak mengajak putrinya main, sibuk dengan berbagai duga dan prasangka.


Perlahan Ia membuka pintu, Alya terkejut karena murah mau tidur di samping Mariska. tangan Murano menggenggam tangan Mariska dengan erat. Alya mengambil selimut yang terjatuh dan menutupi tubuh orang-orang tercintanya.


"Kalau dia bukan suami dan ayah kandung Mariska, tidak mungkin dia akan sesayang ini pada Mariska. Apa aku yang sudah terlalu berlebihan tadi? tapi bagaimana dengan video itu? Alya memutuskan keluar dari kamar Mariska.


Saat sarapan, Alya dan Murano saling diam, sesekali bertemu pandang. Namun, Alya langsung membuang muka.


"Bi, Masayu ke mana? jam segini belum bangun?"tanya Alya.


"Kayaknya belum bangun, nyonya. Atau dia lagi minum kopi di dapur,"jawab pengasuh Mariska sambil menyuapi Mariska.


"Bi, Tolong panggil Masayu, biar Mariska aku yang menyuapi."Alya mengambil alih pekerjaan sang pengasuh.


"Ibu masih sedih, nggak?"tanya Mariska


"Ibu nggak sedih, sayang. Ibu happy sekali!"Alya menyunggingkan senyum terpaksa.


Saat Murano akan berangkat kerja dan ia ingin mencium pipi Alya, wanita itu malah menghindar.


"Ibu, Kenapa nggak mau dicium Ayah?"tanya Mariska sambil berkaca pinggang, gayanya lucu sekali.


"Ibu lagi marah sama ayah, Nak."Murano mencium pucuk kepala gadis kecilnya.


Mariska geleng-geleng kepala, bibirnya mengerucut. "Ibu nggak boleh marah sama Ayah, Ayah kan, baik sekali."Mariska memeluk Murano. "Ibu harus maafin Ayah."


Ayah hanya mengangguk pelan. Mariska mengajak Ayah dan Ibunya bersalaman sebagai tanda sudah perbaikan.


"Ih, bukan apa nggak mau?"tanya Mariska yang semakin pintar dan ceriwis.


"Dunia ini akan suram tanpa senyuman ibu yang sehangat senja."ucap Mariska bijak


Alya dan Murano tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Mariska. "Kamu tahu kata-kata itu dari mana, sayang?"tanya Alya sambil mencubit gemes hidung Mariska.


"Aku dengar dari drama di televisi,"jawab Mariska malu-malu.


Murano dan Alya saling berpandangan. "Mariska nggak boleh nonton drama di televisi lagi ya, itu acara yang gak bagus untuk anak-anak,"jelas murano.


Pengasuh Mariska datang bersama dengan masayu, raut wajah menunjukkan kesedihan, bahkan matanya berair.


"Kamu mau ke mana, Masayu? tanya alias sambil melirik koper besar yang dibawa Masayu

__ADS_1


"Hmmm... Aku mau berhenti kerja nyonya,"jawabnya sambil menunduk. Tanpa disangka Masayu langsung bersimpuh dan menangis di depan Alya.


"Kamu apa-apaan kayak gini!"Alya menghindar dan meminta wanita dengan sweater berwarna pink itu untuk bangun. "Kamu kenapa?"


Masayu membuka kacamatanya dan mengusap air matanya. '"A...Aku sudah bersalah sama nyonya dan Tuan."jawabnya sambil sesungguhkan.


Murano menurunkan niatnya berangkat ke kantor. Ia menarik salah satu kursi dan ikut mendengarkan penjelasan Masayu.


"Bersalah apa? kalau bicara yang jelas!"sungut Alya


"Aku sudah membohongi Nyonya. video yang aku perlihatkan adalah video editan seseorang yang ingin menjatuhkan nama baik Tuan Murano nyonya."jelasnya


"Apa kamu tahu siapa yang mengedit dan menyebarkan di sosial media?"tanya Alya


Masayu menggeleng lalu kembali bersimpuh. "Aku minta maaf, nyonya dan Tuan. sudah membuat kalian bertengkar."


Seorang pengawal datang dan memberitahu jika taksi yang dipesan Masayu sudah datang.


"Kamu benar-benar akan, pergi?"lirih Alya bertanya.


"Iya nyonya."jawab Masayu pelan.


"Apa ada yang mengancam atau menekan mu?"Alya menatap Murano dan Bimo bergantian. Bimo langsung menunduk sedangkan Murano tanpa ekspresi.


"Iya nyonya."Masayu kembali menangis.


"Akting wanita ini keren, dia pantas didapatkan piala Oscar."cibir Murano dalam hati.


Masayu berdiri dan menyelami Alya, pengasuh Mariska, Mariska, dan juga Murano.


"Biar aku bantu bawakan kopermu keluar."ucap Bimo.


"Nyonya ,Tuan, Aku mau mengantarkan Masayu dulu ,ya."ucap sang pengasuh. Alya hanya mengangguk.


"Aku ikut, Bi."Mariska merentangkan tangannya ke atas, sang pengasuh segera menggendongnya. Tinggallah Murano dan Alya di ruang makan yang dihiasi dengan berbagai koleksi Murano yang indah.


"Apa kamu masih tidak percaya padaku?"tanya Murano


"Entahlah, aku bingung."tangan kanannya menopang dagu dan jari jari tangan kirinya mengetuk-ketuk meja makan yang terbuat dari kayu jati yang kuat dan kokoh.


"Kebenaran sudah terungkap, kamu masih tak percaya juga."Ketus Murano


Alya memutuskan ikut keluar mengantar kepergian wanita yang sudah dianggap adik itu.


"Akting kamu tadi bagus sekali." bisik Aldo saat membukakan pintu taksi.


"Semoga kamu dan Tuanmu puas!"sinisnya.

__ADS_1


"kamu sangat puas, Semoga bahagia di tempat yang baru."Bimo tersenyum yang membuat Masayu muak. Masayu melambaikan tangan sebelum menutup pintu mobil.


Taksi yang ditumpangi Masayu melaju dengan kecepatan sedang. Namun, bukan ke arah bandara.


"Pak, kita mau ke mana?"Masayu mulai panik. tak usah berhenti di pinggir jalan raya yang sepi. Tiba-tiba dua orang pria berpakaian serba hitam masuk ke taksi.


"Hei, kalian siapa, dan mau apa?"teriak Masayu.


Salah satunya memegang tangannya, yang satu mengeluarkan jarum suntik yang berisi obat tidur. Masayu memberontak tapi kemudian wanita itu merasa pusing dan lemas hingga tidak sadarkan diri.


Daniel lega karena Masayu masih hidup dan dibiarkan pulang ke kampung halamannya.


"Tuan, Wanita itu sudah berhasil diamankan,"ucap Bimo setelah menerima telepon dari seseorang.


Hati Daniel bertanya-tanya, wanita mana yang ia maksud?


"Bagus! satu pengganggu sudah disingkirkan goreskan sisanya!"


Daniel tidak konsentrasi menyetir ia mendadak mengerem karena hampir menabrak pejalan kaki. Tubuh Bimo dan Murano terdorong ke depan.


"Apa-apaan sih kamu!"bentak Bimo.


"Maaf Tuan, maaf." ucapnya berkali-kali. kebetulan ada orang yang tiba-tiba ingin menyeberang, Daniel kembali memberikan alasannya.


"Apa kamu sudah bosan hidup?"memang tidak pernah marah atau berteriak, Tetapi kata-katanya sangat menusuk dan membuat siapapun langsung ketakutan.


"Sekali lagi maafkan aku Tuan, Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan."Daniel menghela nafas, mengumpulkan segenap keberanian.


"Apa?"


"Siapa yang Tuan singkirkan?"tanya Daniel sambil menatap Murano.


"Tentu saja orang-orang yang menghianati aku dan bersikap pengecut dengan menjadi musuh dalam selimut,"jawab Morano, pria dengan setelan jas berwarna hitam itu kembali bicara,"cara menyingkirkannya bisa bermacam-macam yang paling parah ia mati!


"Lagian Kenapa tanya-tanya? Ayo jalan." perintah Bimo


Daniel kembali mobil mewah milik Murano menuju gedung Murano company.


Menjelang siang, Chang Mai baru sempat membuka ponselnya. Kesibukan sebagai orang tua tunggal yang bekerja sangat menguras waktunya, hari ini pasien juga lumayan banyak dengan permasalahan yang kompleks.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2