HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 48. MEMBONGKAR KEBOHONGAN _ HTM


__ADS_3

Karena sedang mendapat libur, Daniel segera membeli ponsel baru dan menghubungi Chang Mai. Pada kesempatan itu Chang Mai mengatakan rencananya untuk menculik Alya dan juga Mariska.


"Kita bongkar kebohongan Murano supaya seluruh dunia tahu, kita hancurkan Murano."ucap Chang Mai.


"Iya, aku setuju. Aku sudah tidak tahan melihat tangan kotornya menyentuh Alya."ujar Daniel


"Besok aku akan bertemu dengan Alya dan Mariska di cafe, usahakan kamu yang menyupirinya, ya."jelas Chang Mai.


"Oke aku mengerti, aku juga akan bersiap."Daniel mematikan sambungan telepon dengan segera kembali sebelum Murano dan Bimo kembali. Aku juga akan bersiap. Daniel mematikan sambungan telepon dan segera kembali sebelum Murano dan Bimo kembali.


"Kim Liu apa semua sudah siap? tanya Chang Mai pada pria kemayu yang sedari tadi malah sibuk bercermin merapikan rambutnya.


"Tenang saja, aku sudah menyewa orang-orang hebat yang akan mengalahkan Murano dan pengawalnya." jawab Kim Liu


Murano Baru saja sampai ke rumah dan dia langsung menuju ke kamarnya. Alya yang sedang minum teh di balkon memanggilnya.


"Aku rasa kita harus bicara."ucap Alya.


Murano menarik tubuh mungilnya ke dalam pelukan dan mencium wajah Alya.


Alya meronta. "lepaskan! aku mengajakmu bicara bukan yang lain."


"Kita bercinta dulu baru bicara, aku kangen." Murano mengedipkan matanya.


"Jangan diamkan aku lagi, aku mohon pintanya dengan wajah memelas.


"Tergantung kamu harus bicara jujur dulu." bisik Alya


Murano melepaskan pelukannya menggandeng tangan Alya dan mendudukkannya di sofa panjang, berwarna hijau muda dengan motif dedaunan.


Mungkin ini waktunya untuk mengatakan semua."Murano menatap Alya dekat-dekat.


"Pertama soal ruangan itu, Murano menarik nafas dalam-dalam.


"Ruangan itu memang dulu aku gunakan untuk menstruasi orang-orang yang menghianatiku, dulu aku memang kejam dan sangat."Murano menutupi wajah dengan kedua tangannya. Alya terperang. Ah, tidak pernah ia melihat Murano serapuh ini.


Alya menepuk pundak Murano. "ceritakan semua agar kamu merasa tenang, aku akan selalu mendukungmu."bisiknya.


Murano membingkai wajah Alya yang lembut selembut sutra dengan kedua tangannya.


"Berjanjilah, Kamu tidak akan marah apalagi sampai meninggalkan aku."


Alya mengangguk pelan. "Aku berjanji."


Banyak orang merenggang nyawa di ruangan itu. Tapi sejak bertemu denganmu, aku tidak pernah lagi melakukan itu. Aku juga melepaskan semua bisnis kotorku.


Aku...."


Murano terisak, Alya segera memeluknya walau ada sedikit rasa takut dalam dirinya. Alya berinisiatif membuatkan secangkir teh agar Murano bisa lebih santai.

__ADS_1


"Minum dulu tehnya, sayang,"ucapnya sambil meletakkan segelas teh. Murano bentuknya sebentar lalu menyeruputnya perlahan.


"Sayang bagaimana dengan ikat pinggang itu, aku merasa aku ada hubungannya dengan benda itu?"tanya Alya hati-hati.


Murano menghela nafas berat. "Iya dulu aku sering menyakiti kamu dengan benda itu..."Murano tertunduk sedih walau kaget Alya tetap berusaha bersikap tenang.


"Maksudnya apa?"


"Aku pernah menyiksa kamu dengan benda itu, karena dulu Aku sangat membenci perempuan. Kamu sudah membaca artikel surat kabar itu, kan?"


Alya mengangguk. "Iya, kamu membenci perempuan karena itu?"


"Iya, sayang. Setiap kali melihat atau berdekatan dengan perempuan aku selalu berusaha ingin menyakiti mereka. Murano bersimpuh di depan Alya dan mencium di tengahnya berulang kali ia meminta maaf.


Air mata pun menetes menguasai Alya.


"Aku tidak menyangka kau seperti itu."lirihnya


"Aku sudah berubah Sayang. Percayalah aku sudah tidak pernah menyakiti siapapun lagi."


"Lalu apa aku koma juga karena kamu atau kecelakaan yang disebabkan oleh Daniel?"


Murano bergaming bingung harus menjawab apa.


"Sayang, Kenapa diam? apa aku koma karena itu? Desak Alya.


Murano berdiri dan mencoba memeluk Alya tapi perempuan cantik itu menghindar.


"Selama ini kamu sudah membohongi aku!"bentaknya.


"Itu karena aku takut kamu marah dan meninggalkan aku."wajah Murano semakin memelas.


"Lalu siapa Daniel?"tanya wanita dengan mini dress berwarna peach itu dengan sorot mata tajam.


"Dia dulu pengawalku tapi aku sudah memecatnya. Dia ada sedikit dendam, jadi dia berusaha mengganggu kita."untuk yang satu ini Murano tidak bisa mengatakan yang sebenarnya


Murano mendekati Alya dan kembali meminta maaf. "Aku sungguh mencintaimu dan menyesal pernah menyakiti kamu. Waktu kamu koma, Aku tidak bisa tidur dan melakukan aktivitas apapun, aku benar-benar takut kehilanganmu.


Murano berlutut di hadapan Alya."kumohon Maafkan Aku, kamu mau, kan?"


Hati dan pikiran Alya tidak kompak. Hati tentu ingin memaafkan Ia pun rindu bulan mesra Murano. Namun pikirannya menolak karena apa yang Ia lakukan terlalu buruk.


Alya berbalik badan menatap jendela. "Aku perlu waktu sendiri."


Murano berdiri. "Baiklah, aku mengerti."


****


Ke mana Robert?"tanya Bimo saat melihat bukan Robert alias Daniel yang menyiapkan mobil untuk Murano.

__ADS_1


"Dia lagi sakit, wajahnya sangat pucat."jawab pengawal yang menggantikan Daniel.


"Huh! habis liburan malah sakit, apa saja yang ia lakukan kemarin."gerutu Bimo.


Pagi ini Murano sarapan sendiri, Alya dan Mariska dan pengasuh Mariska sarapan di teras belakang. Murano jadi Tidak selera, Padahal pak Barco menyiapkan sarapan favorit nasi kebuli.


Sepanjang jalan pun Murano hanya merenggut, membuat Bimo agak enggan mengajaknya bicara.


Daniel menghampiri Ayah yang masih menyuapi Mariska.


"Kamu nggak mengantar Murano?"tanya Alya tanpa nama menatap wajah Daniel


"Aku ingin mengajak kamu dan Mariska ke suatu tempat yang bisa mengembalikan lagi ingatan kamu,"ujar Daniel


Alya menghentikan aktivitasnya dan menatap Daniel lekat-lekat.


"Ke mana? tanya wanita pemilik bibir tipis itu tetapi tetap terlihat seksi.


"Murano cerita nggak kalau kamu punya adik laki-laki dan masih memiliki suami?"


Alya menggigit bibirnya dan menggeleng pelan. "Adik dan suami?"tanyanya.


"Adikmu bernama Bimbim dan nama suami kamu Daniel.


Seluruh tubuh Alya langsung terasa lemah sehingga ia pun menjatuhkan sendok dan mangkok yang berisi sarapan Mariska


Alya membekap mulutnya."Apa itu benar?"


"Ayo ikut bersama aku, semua akan terungkap hari ini."Daniel tersenyum penuh keyakinan bahwa hari ini dia bisa mendapatkan keluarganya kembali.


Alya menggendong Mariska dan ikut bersama Daniel. Pengasuh Mariska yang tadi maupun pembicaraan Alya dan Daniel mencegah Alya pergi.


"Nyonya lebih baik jangan pergi Siapa tahu dia itu orang jahat yang mau menjebak nyonya dan."ucapnya sambil berbisik. Namun, Daniel mendengar dan memarahi wanita berusia lima puluh tahun itu.


"Jangan ikut campur, Bibi tidak tahu apa-apa." bentaknya


pengasuh Mariska menggigit bibirnya. Baru kali ini dia dibentak seorang yang usianya lebih muda.


Sudah tidak apa-apa Bu. Alya menepuk pundak pengasuh Mariska.


Alya dan Mariska masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Daniel, saat ada pengawal yang bertanya Daniel bilang kalau dia minta Tuan Murano membawa Alya dan Mariska ke kantor.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2