
"Saat bekerja jangan sambil main ponsel!"rekan yang ikut mengawal Murano ke kantor memberi peringatan keras.
"Maaf."jawab Daniel sambil menunduk.
Rombongan Alya telah sampai di bandara kampung Camp. Masayu kembali mengirimkan pesan kepada Daniel, Daniel yang pura-pura ke kamar mandi mengirimkan informasi yang ia peroleh ke Bimbim.
Bimbim sudah siap di posisinya dari kejauhan ia melihat dua sosok yang sangat ia rindukan, Alya dan juga Mariska.
Bimbim berteriak memanggil Alya. Namun, ia tidak mendengarnya. Karena kondisi bandara yang ramai dan Alya sendiri pun sibuk menenangkan Mariska yang sedang merajuk.
Malik melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Jansen sepertinya ada masalah. Coba perhatikan sosok remaja pria di sebelah kanan sana." Malik menunjuk ke arah Bimbim.
"Itu adik Nyonya Alya."Janson mengenal Bimbim karena dulu ia ikut juga ke kampong Camp.
"Jangan sampai Nyonya melihatnya, segera amankan."
Malik mengerti maksud rekannya. "Nyonya sepertinya ada sedikit masalah keamanan, mohon ikut aku ke ruang tunggu bandara,"ajak Malik.
"Masalah keamanan apa?"tanya Masayu panik.
"Sudah! kamu nggak usah banyak tanya, ini demi keamanan Nyonya Dan Kita,"ucap Malik dengan tegas.
Masayu menggigit bibirnya, ia merasa kesal takut rencananya gagal. Jansen pergi mencari Bimbim, yang masih sibuk mencari celah untuk mendekati Alya yang sudah ada di dalam ruang tunggu tamu VVIP.
Jansen memegang tangan Bimbim. "Kamu mau bertemu Nyonya Alya, kan?"bisiknya.
Bimbim meronta. "lepaskan! kamu pengawalnya pria kejam itu kan?"
"Ikut saja aku, kalau kamu mau bertemu dengan Nyonya Alya!"Jansen membawa Bimbim ke tempat yang sepi dan mendorong tubuh Bimbim Kedinding.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?"
"Tidak ada."ucap Bimbim sambil meringis kesakitan karena kepalanya ditekan dengan kuat ke dinding.
"Bohong! pasti kamu bekerja sama dengan seseorang, kan?"Desak Jansen namun Bimbim tetap tidak mau mengaku.
"Sebenarnya ada masalah apa, mana Jansen?"tanya Alya pada Malik yang wajahnya terlihat tegang. Masayu kembali mengirimkan pesan tentang keadaan mereka saat ini. Akan tetapi, Daniel tidak bisa membukanya karena rekannya selalu mengawasi.
"Kalau tidak mau mengaku, Aku akan membunuhmu!" ancam Jansen pada Bimbim.
"Bunuh saja sekarang!"Bimbim malah menantang.
"Jansen kembali mendorong tubuh Bimbim ke dinding dan memelintir tangan kanannya. Bimbim teriak kesakitan."Katakan siapa yang menyuruhmu!"
"Tidak ada, Aku bekerja di sini, tadi kebetulan lihat Kak Alya,"jelasnya.
Jansen tersenyum sinis. "Kamu pikir aku percaya? dasar pembohong!"
Malik sudah berhasil membeli tiket pulang untuk mereka semua. Lalu ia menghubungi Jansen untuk segera pergi sebelum masalah lain datang dan menyulitkan mereka.
__ADS_1
Jansen memasukkan Bimbim ke sebuah ruangan, lalu menguncinya dari luar. Bimbim berteriak-teriak minta keluar, Jansen segera pergi dari sana menuju ruang tunggu bandara.
"Sebenarnya ada apa, sih? tanya Alya
Maaf nyonya seharusnya kami tidak menerima tawaran anda."ucap Malik dengan penuh penyesalan. "Uang yang akan Anda berikan tidak sepadan dengan risiko yang akan kami alami, nanti. Jika Tuan Murano tahu."
Alya menghempaskan tubuhnya ke sofa ia memejamkan mata. Alya melihat dia ada di ruang ini bersama Murano dan sejumlah orang yang wajahnya asing, tapi wajah-wajah itu penuh dengan kesedihan.
Alya tersentak saat mendengar suara Jansen yang meminta mereka bersiap untuk naik pesawat kembali ke Phnom Penh.
Jam tiga sore mereka sudah kembali ke rumah karena lelah, ia lihat langsung menuju ke kamar. "Bandara itu dan ruang tunggu itu seperti tidak asing, aku merasa pernah ke sana sebelumnya."ucap Alya berkali-kali
Masayu menelpon Daniel tapi tidak tersambung, lalu ia menghubungi Chang Mai dan melaporkan yang terjadi rencana mereka gagal lagi.
"Tidak apa-apa, kita coba di lain waktu, tapi ingat kamu harus lebih hati-hati lagi,'pesan Chang Mai, setelah itu ia mematikan sambungan telepon selulernya.
Murano dalam perjalanan pulang, ia tidak sabar untuk sampai ke rumah mendengar cerita Alya tentang acara jalan-jalan tadi ke mall.
Sedangkan, Daniel tampak dalam hatinya bertanya-tanya, berhasilkah rencananya.
Bimbim berhasil dikeluarkan oleh pekerja cleaning service bandara, dalam kondisi lemas akibat kekurangan oksigen. Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Sayang, apa kamu sakit? wajahmu pucat sekali."Murano agak panik saat melihat Alya sedang tiduran di ranjang.
"Tidak, aku cuman capek aja."Murano menurunkan kakinya dan duduk di tepi ranjang.
"Kamu keliling berapa mal hari ini?"ledek Murano sambil mengusap pucuk kepala Alya.
"Kamu nggak belanja apa-apa?
Alya menggeleng. "Tidak ada yang menarik semuanya aku sudah punya."
Murano duduk di samping Alya dan menggenggam tangannya. "Kamu masih sama seperti dulu."
Alya menyandarkan kepalanya di lengan sang pria yang sangat perhatian.
"Memangnya aku seperti apa?
"Kamu manis, sederhana tapi punya tekad dan mental yang kuat."mata Murano menerawang mengingat masa lalu.
"Dulu aku sering menyakiti kamu, tapi kamu selalu memaafkan dan memberiku cinta. hingga aku sadar kaulah cinta sejatiku."
"Benarkah aku seperti itu?"
Murano mengangguk. "Maka dari itu sekarang Aku ingin membahagiakan kamu dan memberikan cinta sepenuhnya."
Tiba-tiba murano bersimpuh di depannya membuatnya bingung. "Ada apa?"
"Ayo, kita buat anak sayang."
Alya terbelalak mendengar ucapan Murano.
__ADS_1
"Bukankah kita sudah punya Mariska?"
"Maksudku kita buat adik untuk Mariska, dia sudah besar. Cocoklah punya adik
"Hmm .."Alya senyum-senyum, lalu mengangguk membuat Murano tersenyum lebar.
"Nanti malam kita kerjakan proyek besar kita,"ucap Murano
"Proyek apa?"Alya pura-pura tidak mengerti. Murano mencubit hidung mancungnya.
"Aduh sakit tahu."Alya ganti mencubit pipi Murano
****
Murano melempar surat kabar yang diberikan oleh Bimo setelah membaca isinya. surat kabar yang merupakan perusahaan milik Kim Liu.
Headline surat kabar itu berjudul bisnis kotor Murano company. Isinya tentang bisnis kotor yang dijalankan perusahaan Murano lengkap dengan bukti-buktinya. Selama ini tidak ada media baik cetak elektronik atau online yang berani mengangkat berita negatif Murano company.
"Mungkin ini karena penolakan Tuan di pesta Tuan Airos."ucap Bimo
Murano berkacak pinggang. " Anak kecil itu main-main denganku."Murano menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Panggil Wijaya dan juga Hans ke sini secepatnya!"
"Baik Tuan!" Bimo memutar tumit lalu pergi.
kurang dari dua jam, Wijaya dan Hans pengacara pribadi Murano datang.
"Apa kalian sudah membaca surat kabar dari perusahaan milik Kim Liu? tanya Murano
"Sudah Tuan. Bahkan kami sudah menghubungi pimpinan redaksi mereka." ucap Wijaya.
"Lalu apa kata mereka? tanya Murano
"Mereka menolak menarik surat kabar edisi hari ini dan menolak minta maaf," ucap Hans yang memiliki postur tubuh tinggi dan besar.
"Apa Tuan akan menuntut mereka?"tanya Wijaya.
Murano mengendorkan dasinya. "Tidak!"Aku tidak akan menuntut mereka, Aku punya strategi lain.
Kedua pengacara itu saling pandang.
"Maksudnya bagaimana tuan?"tanya Wijaya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1