
Beberapa minggu kemudian setelah Dokter memperbolehkan Alya kembali ke rumah. tampak Alya dan Murano merencanakan pergi bermula madu. Sementara anak buah Murano, Devano sudah mengurus perpindahan sekolah Bimbim dari kampong Camp ke kota Phnom Penh
Dua hari yang lalu, Bimbim sudah mulai sekolah di sekolah barunya, sekolah bertaraf internasional. Kebetulan juga Bimbim siswa yang berprestasi. Tampak Bimbim bahagia bisa dapat tinggal bersama sang kakak yang paling Ia sayangi dan juga keponakannya Mariska.
Terlihat Alya menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. "Sayang mengapa kamu menatapku seperti itu?"tanya Murano sambil langsung meraih tubuh istrinya ke pelukannya.
"Aku hanya tidak menyangka, perubahan dirimu yang begitu drastis. Aku bangga kepadamu, Kamu dapat melewatinya semua. Terima kasih kamu sudah mau berubah untukku."ucap Alya kepada Murano.
Murano mengembangkan senyumnya, lalu memberikan kecupan hangat di kening sang istri.
"Bersiaplah, kita akan pergi berbulan madu. bulan madu yang tertunda."ucapnya sambil tersenyum tipis.
Mariska datang menghampiri kedua orang tuanya."Ayah dan ibu akan pergi jalan jalan ?
Alya membulatkan matanya, Entah dari mana gadis kecil itu mengetahui rencana kepergian mereka.
"Tidak perlu khawatir Bu, ada bibi dan Om Bimbim yang menjagaku di sini. Tapi Mariska harap setelah pulang jalan-jalan nanti, ibu dan ayah membawa oleh oleh dedek bayi untuk Mariska."ucap gadis kecil itu yang mampu membuat Alya terhenyak. Entah dari mana gadis kecil itu mengetahui mengatakan hal demikian.
Alya tidak mengetahui kalau Murano sudah bernegoisasi dengan Mariska, agar Mariska bersedia tinggal. Dan tidak ikut bersama Mereka pergi melakukan perjalanan bulan mad. Dengan janji, Murano dan Alya sepulang dari bulan madu, mereka membawa dedek bayi untuk Mariska.
"Astaga, Kenapa dia bisa berbicara demikian? tanya Alya kepada suaminya sambil langsung meraih tubuh putrinya.
Murano mengerikan bahunya. Membuat Alya menggelengkan kepala.
Sementara di tempat lain, Dokter Chang mai dan Daniel sudah mulai semakin dekat. Sepertinya Vicky Putra dari dokter Chang Mai begitu dekat dengan Daniel. Berulang kali Vicky meminta kepada dokter Chang Mai agar menikah dengan Daniel, lelaki yang ada di masa lalu Alya.
Tak sungkan-sungkan, Vicky juga meminta kepada Daniel, agar segera menikahi sang Mama. Ia ingin Daniel menjadi Papa sambungnya, pengganti dari ayah kandungnya yang sudah lebih dulu dipanggil Sang khalik.
Semakin hari hubungan dokter Chang Mai dan Daniel semakin dekat, hingga di antara keduanya tumbuh rasa cinta dengan perlahan. Perlahan tapi pasti, mereka sudah saling nyaman jika sedang bersama. Masa lalu dokter Chang Mai yang begitu rumit membuat dirinya agak sulit menerima laki-laki lain di dalam hatinya. Tapi entah mengapa ketika ia bersama Daniel ia merasa nyaman.
__ADS_1
****
Beberapa Minggu kemudian, setelah Daniel memimpin Hotel milik Murano yang ada di kampong Camp, akhirnya Daniel memberanikan diri melamar dokter Chang Mai. Karena menurutnya ia sudah mampu membiayai kehidupan dokter Chang Mai dengan putranya Vicky.
Lamaran segera dilakukan, karena kondisi kesehatan ibu Nerina juga semakin menurun. Sehingga ia ingin mempercepat pernikahannya dengan dokter Chang mai. Ia ingin menikah dengan Chang Mai, disaksikan oleh ibu Nerina.
Setelah lamaran dilakukan, acara pernikahan pun dilaksanakan secara sederhana. Walaupun dokter Chang Mai dan Daniel mampu untuk melakukan pesta mewah, tapi mereka memilih untuk melaksanakan acara pernikahan mereka secara sederhana, dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat sajak dan teman-teman dekat mereka.
Bimbim, Alya, juga merasa bahagia melihat Daniel telah bersanding dengan dokter Chang Mai, orang yang menurut mereka tepat mendampingi Daniel. Walaupun antara Murano dan dokter chang Mai sempat berseteru, tapi niat baik dokter Chang Mai yang ingin, agar Alya mengingat masa lalunya.
Alya dan Murano yang sedang di kota Jakarta untuk mengadakan liburan merasa bahagia ketika mendapat sambungan telepon seluler kalau Daniel dan dokter Chang Mai akan segera menikah. Sehingga mereka Langsung segera kembali ke kota Phnom Penh dari kota Jakarta. Mereka ingin dapat menyaksikan pernikahan Daniel dengan dokter Chang Mai.
Tampak dokter Chang Mai dan Daniel begitu bahagia, Begitu juga dengan ibu Nerina yang saat ini masih duduk di kursi roda. Kondisi kesehatan ibu Nerina semakin menurun, membuat Alya merasa tidak tega melihatnya.
Setelah acara pernikahan Daniel dan dokter Chang Mai telah usai dilaksanakan. Kini mereka sudah berada di rumah yang diberikan oleh Murano untuk Daniel kala itu. Tampak Ibu Nerina tersenyum bahagia, tetapi tiba-tiba Ibu nerina kejang lalu langsung jatuh pingsan.
Hal itu menarik atensi seluruh keluarga yang masih ada di rumah itu. Alya berlari menghampiri ibu Nerina. Ia berusaha untuk menyadarkan ibu Nerina. Dan berniat ingin membawa ibu Nerina ke rumah sakit. Tapi, tiba-tiba saja Ibu Nerina membuka kedua kelopak matanya, menahan tangan Alya dan Murano
"Aku sudah memaafkan ibu, Ibu juga tolong maafkan atas sikap kasar Murano selama ini terhadap ibu."ucap Murano ikut meminta maaf kepada ibu Nerina.
"Kamu tidak salah Nak, ibu yang salah kepada kamu. Tolong jaga Nak Alya, bahagiakan dia, Jangan pernah kau sakiti hatinya dan jaga Mariska seperti putri kandungmu sendiri."ucap ibu Nerina.
Kali ini, netra ibu Nerina beralih kepada putranya Daniel dan menantunya dokter Chang Mai. Ibu nerina meraih tangan dokter Chang Mai dan juga Daniel. lalu mempersatukan tangan keduanya.
"Aku ingin, Kalian harus tetap bahagia walaupun tidak adanya ibu di hadapan kalian. tolong jangan sakiti hati menantuku Nak."ucap ibu nerina kepada Daniel sambil mengelus wajah cantik dokter Chang Mai
"Iya Bu, aku mencintai Chang Mai dari lubuk hatiku yang paling dalam, tidak mungkin aku menyakitinya." Ibu nerina mengembangkan senyumnya lalu netranya beralih kepada dokter Chang Mai.
"Aku ingin kamu juga berjanji kepadaku, untuk tetap menyayangi Putraku." ucap ibu Nerina kepada dokter Chang Mai.
__ADS_1
"Ibu jangan khawatir, Aku sangat cinta dan sayang kepada Putra Ibu Daniel." sahut Chang Mai.
Kini Bimbim tidak dapat membendung air matanya, perlahan ia mendekat menghampiri wanita yang selama ini menemani dirinya mulai dari kecil.
"Bimbim, kamu sudah besar. Ibu berharap kamu dapat menggapai cita-citamu. Sekarang ibu sudah melihat kalian di sini, dan ibu ingin kalian tetap bahagia. Jangan ada perseteruan diantara kalian karena masa lalu yang begitu kelam. Sekarang berjanjilah kepada Ibu, kalau kalian baik-baik saja dan tidak akan saling menyakiti."ucap Ibu Nerina memohon kepada orang-orang terdekatnya yang ada di sana.
"Iya, Bu Murano berjanji, Alya juga berjanji Bu, Daniel juga berjanji, Chang Mai juga berjanji, Bimbim juga berjanji Bu, kami akan saling menyayangi antara satu sama lain. Ibu jangan khawatir."ucap mereka serentak.
Ibu nerina mengembangkan senyumnya, menatap satu persatu orang-orang yang ia sayangi.
"Sekarang ibu bahagia melihat kalian saling menyayangi." ucap ibu Nerina lalu perlahan ia menghembuskan nafas dan menutup matanya dengan damai.
"Selamat tinggal semuanya."ucap Ibu nerina sambil langsung melambaikan tangannya. mereka yang ada disa menjerit Memanggil nama ibu Nerina yang saat ini sudah menghadap Sang khalik.
Tangis Daniel pecah, Begitu juga dengan Alya. semua orang-orang di sana menangisi kepergian ibu Nerina. Hanya satu yang tidak menangis. Mariska sama sekali tidak menangis. Ia hanya mengelus wajah pucat Omanya yang sudah tak bernyawa.
"Ayah dan ibu Mengapa menangis? Oma sudah tenang dia sudah bersama Tuhan."ucap Mariska yang mampu membuat Alya benar-benar terhenyak begitu dewasanya Putri kecilnya itu berpikir. Padahal usianya masih empat tahun, tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa.
****
Setelah jenazah ibu nerina di kebumikan, tampak satu persatu anggota keluarga sudah meninggalkan rumah yang ditempati oleh Daniel dan dokter Chang Mai saat ini. Tinggallah Daniel, dokter Chang Mai dan Vicky di sana, beserta asisten rumah tangga.
"Maaf ya Sayang, seharusnya hari ini kita pergi berbulan, tapi karena ibuku telah pergi menghadap Sang khalik, sehingga kita tidak dapat melakukannya saat ini. Tapi aku berharap Ibu tenang di alamnya. Percayalah suatu saat nanti kita akan dapat pergi berbulan madu."ucapnya sambil langsung meraih tubuh Chang Mai lalu memberikan kecupan hangat di kening dan di bibir sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN