
Alya menangis di bawah guyuran air shower, Ia rasakan udara dingin yang menusuk kulit. Ia menggosok tubuhnya yang kasar bermaksud menghilangkan jejak-jejak kepuasan Murano. Perih karena luka-luka yang belum sembuh, kembali berdarah. Alya bersandar pada dinding. Tubuhnya meluruh ke lantai.
Devano memukul Samsat tinju dengan keras membayangkan Samsat itu adalah dirinya sendiri yang pengecut. Entah Ia takut pada Murano atau takut kehilangan semua fasilitas yang diberikan Murano. Gaji yang besar, kendaraan mewah, tinggal di rumah mewah, dan memiliki kekuasaan meski tidak sebesar Murano.
"Ada apa denganmu sobat? kau terlihat kacau tegur Kairo
Devano hanya melirik sekilas. lama-lama tenaganya habis. Ia melepaskan sarung tinjunya dan duduk di sebelah Kairo yang sudah tidak sabar mendengar cerita Devano.
Kairo memberikan sebotol air mineral dingin. Devano meneguknya hingga tinggal setengah botol.
"Apa kamu kesal karena Tuan Murano menghabiskan malam bersama Alya?
Devano menyugar rambutnya yang hitam kecoklatan.
"Iya sedikit."
"Apa kamu cemburu?"
Devano menatap Kairo lalu mengangkat bahunya. "Entahlah aku bingung." Devano membasuh keringat dengan handuk kecil yang dibawakan Kairo.
Aku hanya kasihan pada Alya. Tapi rasa kasihan itu berubah jadi peduli dan mungkin juga sayang."ujar Devano kemudian.
"Aku sudah menduganya, kamu terlalu perhatian padanya." Kairo menepuk-nepuk pundak Devano. "Ingat wanita itu milik tuanmu."
Devano manggut-manggut. "Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Aku juga belum pernah jatuh cinta atau merasakan sayang pada seseorang. Lagi pula Siapa yang mau menjadi pendamping penjahat seperti kita" Kairo pun jadi curhat
"Tangan kita penuh darah." timpal Devano
"Tapi orang-orang yang kita bunuh Memang pantas mati sih." tukas Kairo. Mereka pun tertawa bersama, lalu saling diam sibuk dengan pikirannya masing masing
"Aku selalu berdoa pada Tuhan agar ia tidak memberiku perasaan cinta pada seseorang." ucap Kairo kemudian
"Kenapa?"
Kairo mendesah. "Agar aku tidak menyakiti orang yang tidak pantas disakiti."
"Apa kamu pernah berpikir untuk berhenti dan menjalankan kehidupan normal?" tanya Devano
Kairo menggeleng. "Sudah terlanjur seperti ini." Kairo terkekeh.
Hari sudah beranjak pagi. Kairo yang mengantuk memutuskan untuk ke kamar. Sebagian pengawal memang tinggal di rumah Murano di lantai basement, satu kamar ditempati beberapa orang dan total kamar kamar sekita sepuluh kamar. Mereka sangat nyaman ranjang empuk, berpendingin udara, dan lemari berukuran besar untuk masing-masing orang.
__ADS_1
Murano memang sangat perhatian pada pengawalnya. Kesejahteraan dan kesehatan mereka selalu diperhatikan. Dua orang pengawal yang kemarin tewas saat baku tembak dengan anak buah Airos pun jenazahnya dikuburkan secara layak, dan keluarganya mendapat santunan yang besar.
Pak Barco datang membawakan sarapan untuk Alya. Ia merasa heran karena tidak ada satupun pengawal yang berjaga di depan kamar Alya. Pak Barco terkejut karena Alya tidak ada. Kamarnya pun berantakan. perasaannya tidak enak, ia mendengar suara gemercik air di kamar mandi.
Pak Barco Memanggil Alya. Tapi tidak ada jawaban. pak Barco mencoba membuka pintu tidak bisa. Rupanya Alya mengunci dari dalam kebetulan ada Murano melintas.
"Ada apa pagi-pagi sudah ribut?" hardiknya
"Alya Tuan, dia di kamar mandi. Saya panggil tidak menyahut dan pintunya dikunci dari dalam." jelas Pak Barco
Mendengar itu, Murano langsung lari ke kamar Alya dan menendang pintu dengan keras. Alya tergeletak tak sadarkan diri di bawah guyuran shower. Tubuh polosnya dingin dan kebiru-biruan. Murano membopong Alya dan membawanya ke atas ranjang, dan menutupinya dengan selimut. Pak Barco mengambil handuk dari lemari
"Dasar perempuan bodoh, mau bunuh diri, hah? Murano terlihat panik
setelah dikeringkan, Murano meminta Pak Barco menghubungi dokter Surya. Sementara ia memakaikan Alya baju.
"Aku mau pulang, aku mau pulang." Alya merancu
"Kamu akan pulang kalau aku sudah puas dan bosan denganmu." sahut Murano.
Setengah jam kemudian, dokter Surya datang melihat mobil dokter Surya. Devano bergegas ke kamar Alya.
"Ada apa dengan Alya dokter?" tanya Devano khawatir. Devano tidak menyadari kehadiran Murano. Murano merasa heran dengan sikap Devano.
"Kamu khawatir banget sama Alya, jangan-jangan kamu menyukainya?" ceplos Murano
"Oh, bukan begitu Tuan. Saya khawatir karena dia itu kan miliknya Tuan, dan saya berkewajiban menjaganya sampai Tuan tidak menginginkannya lagi."
"Oh, oke aku percaya padamu."
Murano jalan keluar. "Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Devano.
"Dia demam, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." kata dokter Surya. Dokter senior itu menatap Murano.
" Kenapa menyakitinya lagi Murano?"
"Dia menyakiti dirinya sendiri. Justru aku yang menyelamatkannya."Kilah Murano.
Menjelang sore Alya baru sadarkan diri. "Suhu tubuhnya sangat panas. Pak Barco membantunya untuk duduk dan menyuapinya makan. Namun, Ayah hanya memakan sedikit perutnya terasa mual.
Murano masuk ke kamar. Pak Barco membungkuk penuh hormat. Sementara Alya membuang muka. Ia sangat muak dengan pria yang memperlakukan dia seperti sampah. Murano menyuruh Barco keluar.
Air mata Alya menetes cepat-cepat. Ia menghapusnya. Murano duduk di tepi ranjang menatapnya dan membuat Alya risih.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyelamatkan aku? harusnya Biarkan aku mati kedinginan." ketus Alya
"Aku masih membutuhkan kamu."
Alya mendengus kesal untuk kamu siksa dan menperlakukanku seperti binatang? Alya kembali menangis
Murano berdiri memasukkan tangan ke saku celana, dan memandang keluar lewat jendela. minggu depan aku ke Kampong Camp."
Mendengar kampong camp disebut-sebut, Alya spontan mendongak.
"Kampong camp?
"Apa yang akan kamu lakukan di sana?" Alya curiga Murano akan melakukan hal buruk pada keluarganya. Karena kampong camp lokasinya tidak jauh dari Painting.
"Mau ikut apa tidak?" tanya Murano
"Apa kamu sungguh-sungguh?"
"Tentu saja, Tapi ada syaratnya." Murano melirik lalu tersenyum.
"Apa?" tanya Alya antusias meskipun ia tahu syaratnya tidak akan mudah.
"Syarat pertama, kamu harus selalu dalam pengawasan ku. Tidak boleh bicara dengan orang lain, tanpa izin ku. Mengerti?
Alya mengangguk tanda setuju.Dan
Yang kedua, mulai nanti malam dan seterusnya Kamu tidur di kamarku dan melayani aku tanpa melawan."
"Tidak...." Alya berteriak
"Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa.
Alya berpikir keras. "Kenapa harus aku? di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dan seksi yang dengan senang hati membuka pahanya untukmu." Alya mengeluarkan unek-unek dalam hati.
"Aku sudah menikah, dan punya anak. Kamu juga bilang kalau aku jelek, apa salahku padamu? Kenapa kau perlakukan aku seperti ini?"
Alya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar naik turun seiring tangisnya yang semakin kencang.
"Aku bosan melihatmu menangis." setelah berkata seperti itu, Murano keluar dari kamar Alya dan kembali ke kamarnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN