
Tepat tengah malam, Murano keluar dari kamar Alya dan menuju kamarnya. Kairo bergegas ke dapur membuatkan teh manis hangat dan mengambil kotak yang berisi obat-obatan Devano yang membekalinya, karena ia takut Murano kembali menyakiti Alya
Kairo membuka pintu perlahan. Alya duduk meringkuk di sudut kamar setengah telanjang dan penuh luka dan darah. Ia berdesak kesal
Tuan Murano keterlaluan. Sejahat-jahatnya Aku, aku tidak akan menyakiti wanita. Kairo mengangkat tubuh Alya dan menutupnya dengan selimut. Kairo membantu Alya dan memberinya minum.
"Di mana Mariska?" tanya Alya lirih
"Dia sudah tidur di kamarku. Jangan khawatir, Kairo meletakkan kembali gelas ke atas meja kecil di samping ranjang. Perlahan Kairo membersihkan luka dengan kain dan air hangat. Setelah itu mengoleskan obatnya.
"Kau bawa obat-obatan ku?" tanya Alya sambil menahan perih dan ngilu
"Devano yang suruh membawanya." jawab Kairo
Alya tersenyum hampa. "Dia baik dan perhatian."
Kairo kembali memasukkan obat-obatan dan perban ke tempatnya
"Tidurlah, nggak usah mengkhawatirkan Mariska. besok pagi kita kembali ke Phnom Penh."
Alya menggeleng. "Aku mau pulang bersama keluargaku."
Kairo menatapnya prihatin
"Aku mau bersama Mariska." Alya menangis tersedu
"Aku tidak bisa memberikannya tanpa seijin Tuan Murano, aku harap kau maklum."
"Kenapa kamu makan kueku?" bentak seorang wanita berambut ikal, panjang, tangannya berkacak pinggang dan matanya melotot.
"A.. Aku lapar Bu." ucap seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun tubuhnya gemetar karena kedinginan setelah disuruh tidur di luar semalaman.
"Apa?
"Lapar? wanita itu tertawa terbahak-bahak seolah sedang menyaksikan pertunjukan lawak. "Enak saja, itu namanya mencuri dan harus dihukum."
Si bocah bersujud minta ampun. "Ampun Ibu, jangan pukul lagi. Aku janji tidak akan mencuri lagi."
Namun, wanita itu tidak peduli. Dia mengambil sapu dan memukulkan gagangnya ke bocah itu. Bocah laki-laki itu menangis kesakitan. Rintihan dan permohonan ampun, tidak dihiraukan wanita yang sudah kesetanan itu.
Murano bangun. Nafasnya tersengal-sengal naik turun. Tubuhnya basah oleh keringat. Murano mengusap wajahnya dengan kasar. mimpi buruk itu datang lagi merobek luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Murano mengambil air minum di atas meja. dan langsung menghabiskannya. Ia membuka jendela lebar-lebar dan menghirup udara. Suara-suara binatang malam saling bersahutan. Jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Murano memutuskan keluar kamar, sepi dan gelap.
"Ada beberapa pengawal berjaga di depan kamar Alya mereka terlelap karena lelah dan kantuk yang menyerang. Murano membuka pintu dengan pelan. lalu menghampiri Alya yang terlelap tidur. Rasa bersalah menelusup dalam hati.
Alya menggeliat lalu mengigau Memanggil nama Daniel dan Mariska bergantian. "Begitu besarkah rasa cintamu pada pria cacat dan menyedihkan itu, sampai terbawa mimpi?" ucap Murano dalam hati.
Kemudian ia membangunkan pengawalnya. Mereka tergagap "Maafkan kami Tuan." ucap mereka sambil menunduk ketakutan.
__ADS_1
Murano mendengus kesal. "Jaga yang benar, kalau dia kabur kepala kalian." gantinya
"Iya tuan."
Jam 06.30 pagi mereka semua berangkat ke bandara. Namun, mereka harus menunggu pesawat selesai dicek dan pengurusan administrasi. Mereka menunggu di ruang tunggu khusus VIP.
"Tuan...., Pak walikota dan rombongannya datang." bisik Kairo. Murano mengangguk.
"Selamat datang Pak walikota." sambut Murano sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Tuan Murano." Pak walikota membalas uluran tangan Murano.
"Ternyata anda masih di sini." ucap Pak walikota sambil melirik Kairo.
"Maafkan pengawalku yang sudah berbohong kemarin. Aku kurang enak badan, malas bertemu siapapun. Murano dan pak walikota duduk berhadapan. Ada Daniel dan Bimbim yang ikut bersama Pak walikota.
"Sebenarnya Ada perlu apa Pak walikota?" tanya Murano
"Ini terkait dengan keberadaan dan keselamatan salah satu warga kampong camp, yaitu ibu Alya dan anaknya Mariska." jawab Pak walikota.
Pak walikota menceritakan kronologis kejadiannya dari awal hingga akhir. "Pak, Daniel sangat mengkhawatirkan istri dan putrinya." ucap pak Walikota. Kemudian
Murano menyilangkan kaki.
"Alya kemarin memang bekerja sebagai pembantu di rumahku. Tapi seiring berjalannya waktu hubungan kami pun berubah. Murano menatap Daniel dengan tatapan mengejek
"Maksud Anda apa?" tanya Daniel yang mulai geram
"Bohong!" ucap Daniel dan Bimbim
"Kamu membawa mereka dengan paksa. bukti-buktinya ada dan jelas."
"Oh ya, Murano tertawa mengejek.
" Kalian mengatakan saya memaksanya? hello, Alya masih muda dan cantik dia berhak untuk hidup lebih baik, kan."
"Anda bohong, memutar balikan fakta yang sebenarnya. Anda merebutnya dari kami." jari telunjuk Daniel mengarah kepada Murano
"Kami ingin bertemu dan bicara langsung sama Kak Alya." pinta Bimbim.
Murano menyuruh Kairo memanggil Alya. Tak Berapa lama Alya muncul. Semua orang terpesona melihat kecantikannya, memakai gaun pendek selutut
Alya menunduk tak berani menatap Daniel dan Bimbim. Ini sangat sulit, Daniel mendekatinya. Saat ingin meraih tangannya Alya menghindar.
"Sayang ada apa?" tanya Daniel dengan bibir bergetar. Alya hanya menggeleng
"Nyonya Alya Sebenarnya apa yang terjadi? katakan terus terang." ucap Pak walikota
Alya menarik nafas dalam-dalam. "Aku ingin pergi bersama Tuan Murano." jawab Alya membuat Daniel dan bimbing kecewa
__ADS_1
"Apa maksudmu? aku tahu kamu pasti dipaksakan pria jahat ini. Kamu sudah mengancam, kan?" cacar Daniel
"Kak katakan yang sebenarnya. Di mana Mariska? apa Tuan Murano sedang menyekap Mariska lalu mengancam kakak? Iya Kak?" Desak Bimbim.
Kedua tangan Alya saling meremas. Maaf kalau keputusan ini menyakiti kalian semua, aku dan Mariska akan ikut Tuan Murano ke Phnom Penh.
"Kenapa sayang?" Daniel mengusap air matanya. Alya sungguh tidak tega, namun keselamatan Sang Putri terancam.
"Kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Daniel penuh selidik.
"Maaf, aku ingin Putri kita memiliki masa depan yang baik." jawab Alya. Dalam hati Murano memuji Alya yang pandai berakting.
"Aku tahu Kakak terpaksa kan?" tanya Bimbim.
Petugas dari bandara pun datang dan memberitahu pesawat sudah siap untuk diterbangkan.
"Semua sudah selesai, kami segera berangkat." ucap Murano
"Saat Alya akan berbalik, Daniel menarik tangannya. "Sayang benarkah kamu tidak mencintaiku lagi? katakan yang sebenarnya."
"Iya, aku tidak mencintaimu lagi, aku bosan hidup susah." sebenarnya hatinya menangis saat mengatakan itu
Mata Daniel berkaca-kaca. "Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Aku hanya bisa ikhlas, ku doakan semoga kamu bahagia.
Alya mengangguk sekuat tenaga. Ia menahan tangis.
"Izinkan aku bertemu dengan Mariska. Aku ingin menciumnya." Ucup Daniel Alya menatap Murano sekilas. Murano memerintahkan Kairo membawa Mariska
Gadis kecil tak berdosa itu sedang tertidur pulas. Kairo menyerahkan Mariska ke pangkuan Daniel. Daniel mengecup d kening dan pipinya.
"Selamat jalan Sayang, sampai ketemu lagi di lain waktu. Mungkin saat itu kamu sudah besar. Ayah sangat mencintai dan menyayangimu melebihi apapun. Dan untukmu Alya , Tolong jangan buat dia melupakan aku ya."
Alya mengangguk.
"Katakan padanya, kalau aku cacat dan miskin. Rasa cintaku sangat besar untuknya." Daniel menyerahkan kembali Mariska kepada Kairo.
Bimbim pun mengecup Mariska. "Om Bimbim juga sayang sama Mariska."
"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut ke Phnom Penh, sekolah di tempat yang bagus dan tidak perlu lagi bekerja." Murano memberi penawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Bimbim.
"Lebih baik hidup di sini, daripada bersama orang jahat seperti anda." Ketusnya
Air mata yang sedari tadi Alya tahan, akhirnya keluar juga dengan derasnya. Hingga semua make up-nya terhapus
"Aktingmu bagus juga, Kamu berbakat jadi pemain drama atau sinetron." Murano tertawa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN