
Daniel sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. Tekadnya sudah bulat untuk merebut kembali Alya dan Mariska. Kondisi kakinya juga sudah membaik dan sudah tidak perlu memakai alat bantu.
"Kak, sampaikan salamku untuk Kak Alya dan Mariska, ya." ucap Bimbim
"Iya, pasti Kakak sampaikan kangen kamu sama mereka ya." Daniel mengajak-ajak rambut adik iparnya itu.
"Aduh kak, Aku bukan anak kecil lagi. Bimbim merapikan kembali rambutnya.
Daniel tertawa. "Di mataku kamu tetap Bimbim yang masih kecil yang imut.
Bimbim berdecak kesal. Ibu Bimbim dan Alya meninggal beberapa hari setelah melahirkan Bimbim, Sejak saat itu Bu Nerina yang membantu mengasuh Bimbim sehingga hubungan mereka sangat dekat.
"Bu, Daniel pergi dulu ya. Jaga kesehatan, agar bisa bertemu kembali dengan Alya dan juga Mariska." Daniel memeluk tubuh rentan Ibu Nerina dengan erat.
Ibu Nerina mengusap punggung Daniel. "Hati-hati ya, nak."
"Kak, kapalnya sudah mau berangkat." Bimbim mengingatkan.
"Bim, Kakak tinggal dulu ya, titip ibu ya"
Bimbim mengacungkan ibu jarinya. Beres kak."
Untuk menghemat pengeluaran, Daniel menggunakan transportasi kapal laut. Kira-kira sampai di kota Phnom Penh keesokan harinya mungkin sore hari.
"Baru saja sampai di rumah, tukang pos datang dan memberikan sebuah amplop berwarna merah coklat. Bimbim melihat nama dan alamat pengirim.
"Dari siapa Bim?" tanya ibu Nerina yang penglihatannya sudah terganggu.
"Dari pengacara Bu."
"Coba dibuka dulu. Ibu Nerina penasaran setelah dibaca, ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Alya untuk Daniel. di dalam amplop itu juga disertakan foto mesra dan Alya.
Kasihan Daniel sesampainya di sana, ia pasti akan terluka. Ibu nerina menghapus air matanya.
****
Alya dan Murano duduk berhadapan di halaman belakang yang disulap menjadi arena bermain anak.
"Alya berhentilah memanggilku Daniel, Karena sebab namaku bukan itu, tapi Murano Andalas."
Dua alis Alya saling bertaut. "Lalu Daniel itu siapa?"
__ADS_1
"Daniel orang yang membuat kamu celaka, dan amnesia Sayang." jawab Murano.
Mata Alya membulat karena terkejut. "Bagaimana ceritanya?"
"Dulunya dia salah satu pengawalku. Tapi dia sudah berkhianat, jadi aku pecat. Murano menjeda ceritanya karena harus menolong Mariska yang terjatuh.
"lalu apalagi? Desak Alya yang sikapnya lebih acuh sama Mariska.
Dia sakit hati dan berniat balas dendam. "Sayangnya bukan aku yang kena, tapi kamu."
Alya memeluk Murano dan mengucapkan maaf. Mulai sekarang aku tidak akan memanggil kamu. Dan lagi Alya berdecak kesal. "Kenapa aku malah teringat nama manusia jahat itu ya?"
Murano merasa lega. Sejauh ini Alya percaya seratus persen pada kata-katanya.
"Sudah tidak apa-apa." Murano mencium pipi Alya yang sekarang agak tembem lalu berbisik mesra " I love you Alya.
****
Tepat pukul lima sore Daniel tiba di pelabuhan kota Phnom Penh yang termasuk dalam deretan pelabuhan terbaik. Daniel melihat ke sekeliling semua terlihat menarik di matanya.
Ada pohon natal yang tinggi menjulang di sekeliling lampu dan hiasan berwarna-warni. deretan toko yang menjual oleh-oleh khas kota Phnom Penh. Ada kue-kue kering pakaian dan juga aksesoris
Kota Phnom Penh dan Kampong Camp bagaikan langit dan bumi. Kota Phnom Penh banyak terdapat gedung-gedung tinggi yang saling berlomba mencapai langit jalan raya yang mulus dan lebar, yang ramai dengan kendaraan mewah dan mengkilat. Warganya yang berjalan dengan tergesa-gesa sambil dikit-dikit melirik jam tangannya.
Daniel menuju ke taman kota yang tida terlalu jauh dari tempat dia tadi berdiri. Suasana taman kotanya tidak terlalu ramai. Daniel duduk di salah satu bangku taman, di bawah pohon yang rindang masih ada tiga roti gorengan ukuran besar yang berisi daging, ayam dan sayuran. Saat sedang asyik menikmati makannya, ada anak laki-laki yang sedang mengejar balon yang sudah terbang jauh ke udara.
Bocah laki-laki itu menangis tersedu-sedu dan menghampirinya dan berjongkok. sehingga tingginya hampir menyamai bocah itu. " Kenapa nangis nak?" tanyanya
Bocah itu menunjukkan ke atas. "Aku mau balon." ucapnya
Balonnya sudah terbang jauh nak, Daniel mengusap kepala bocah itu. "Nah lihat di sana, Daniel menunjukkan seorang tukang balon yang kebetulan melintas.
Daniel memanggilnya dan mengajak bocah itu membelinya. Bocah itu terlihat ragu-ragu. "Kata Ibu tidak boleh menerima apapun dari orang asing."
Daniel tertawa. "Iya betul sekali nak, Daniel kembali mengusap kepala bocah pintar itu. "Tapi kamu tenang saja, Om bukan orang jahat..Sekarang pilihlah mau balon warna apa?
"Hmmm.. warna merah, ia menunjukkan balon berbentuk hati berwarna merah. Setelah itu daniel mengajaknya duduk di bangku taman dan memberinya sepotong roti
"Rotinya enak Om, beli di mana ?Tanya bocah berkulit putih dengan mata yang jernih itu
"Om bikin sendiri don". jawab Daniel
__ADS_1
"Wah, Om hebat." bocah itu mengacungkan tangan ibu jarinya.
Tiba-tiba seorang perempuan cantik memakai dress berwarna biru selutut yang dipadu belajar putih mendekat
"Moses, ternyata kamu di sini. Ibu mencari kamu kemana-mana." ucapnya
"Maaf Nyonya, tadi aku melihatnya menangis karena balonnya hilang. Jadi Aku berinisiatif membelikan balon lagi." jelas Daniel.
Wanita itu memperhatikan Daniel dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Sepertinya dia orang baik." batin wanita itu.
"Maafkan anakku Tuan, Berapa harga balonnya?" tanya wanita itu dengan sopan
"Tidak perlu nyonya." tolak Daniel
"Ibu roti buatan Om ini sangat lezat, Aku suka." kata bocah bernama Moses itu.
"Aduh, Aduh kamu ini!" wanita itu meminta maaf pada Daniel. "Di mana Anda membeli rotinya Tuan?"
"Saya membuatnya sendiri, ini bekal yang aku bawa dari Desa." Daniel terkekeh
"Oh Anda dari mana, dan mau ke mana?"
"Aku dari kampung camp. Aku mau ke gedung Murano company." dijawab Daniel
"Apa anda tahu di mana gedung itu berada?
Wanita itu mengangguk seluruh kota Phnom tahu di mana gedung itu. "Ada keperluan apa datang ke sana?"
"Mau menemui pemiliknya Tuan Murano Andalas." ucap Daniel penuh percaya diri.
Kening wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu, berkerut hingga beberapa lama Anda mengenal Murano
"Iya aku mengenalnya. Dia juga mengenal aku dengan baik ada kelihatan kemarahan di.
Wanita itu mengingat-ingat sesuatu kampong camp bukankah Alya berasal dari kampung camp apa Dia keluarganya Alya atau mungkin suaminya
"Ada apa Nyonya?" tanya Daniel bingung melihat sikap wanita itu. Mereka pun berkenalan, wanita itu bernama dokter Chang Mai itu mengajak Daniel ke sebuah Cafe.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN