HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 9. BERTEMU DENGAN KELUARGA _HTM


__ADS_3

"Semuanya jadi kacau sejak ada wanita jelek itu! harusnya malam itu ku tembak dia." gerutunya.


Alya menerima syarat yang diajukan Murano. yang terpenting bisa bertemu dulu dengan Mariska dan suaminya. Siapa tahu juga ada celah untuk melarikan diri.


Alya kembali lagi ke kamar Murano tempat ia disiksa pertama kali, dan tempat tubuhnya dijamah pria selain suaminya. Kondisi tubuhnya belum pulih. Alya berharap Murano tidak menyakitinya malam ini.


Alya duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Alya cemas, entah apa lagi yang akan dibuat pria kejam itu. Murano keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek dan kaos oblong, duduk di samping Alya dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja


"Pijat kakiku." perintahnya yang dengan terpaksa di turuti Alya.


malam ini Murano tidurnya di ranjangnya Dan Dia menyuruh Alya tidur di sofa, tanpa bantal dan selimut. Alya meringkuk menahan dingin Murano sengaja mengecilkan suhu pendingin ruangan.


***


Alya dibuat terkagum-kagum saat ke dalam pesawat jet pribadi milik Murano. Terlihat pesawat itu mewah dan megah dinding lantai dan tempat duduknya dilapisi dengan material kulit terdapat ruang makan dapur dan kamar pribadi lengkap dengan kamar mandi.


Pesawat jet ini mampu terbang jarak jauh dan menampung kurang lebih dua puluh orang. Makanan dan minuman yang disajikan pun sangat lezat. Diam-diam murano memperhatikan Alya. Melihat Alya tersenyum hatinya bergetar.


Perjalanan kali ini Murano tak mengikutsertakan Devano. Ia menyuruh Devano melakukan pekerjaan lain.


Alya melihat langit biru dari jendela sambil membayangkan duduk manis sambil bersandar di pundak suaminya, dan melihat putrinya tertawa riang.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empati Puluh lima menit dari kota Phnom Penh menuju kampong Camp yang tidak terlalu luas, bandara ini banyak diisi pesawat-pesawat jet dan yang mengangkut wisatawan. Alya menghirup dalam-dalam udara segar tanah kelahirannya yang dikelilingi laut yang biru, jernih dan perbukitan yang hijau.


Sudah empat bulan ia tidak menikmati sinar matahari, karena terkurung di kamar mewah sang Tuan. Bagai burung dalam sangkar emas. Setelah selesai mengambil barang dan mengurus administrasi, Mereka pergi menuju hotel. Hotel berbintang lima, hotel terbesar di kampung camp


Dulu waktu mereka masih kecil, Alya dan teman-temannya pernah menyusup ke hotel lewat pintu belakang. Mereka berenang bersama para wisatawan asing, sebelum akhirnya diusir pihak keamanan. Alys sering mengkhayal tidur di dalam hotel. Alya senyum-senyum sendiri mengingat masa kecilnya yang konyol.


Alya dan Murano berada di dalam satu kamar. Alya langsung membuka gorden dan jendela lebar-lebar, menikmati pemandangan indah dari Balkon. Andai Aku di sini bersama kalian suami dan putriku sayang, kebahagiaan ini akan sempurna.


"Bereskan semua barang-barang ku, jangan keluar kamar."


"Kapan aku bisa bertemu dengan keluargaku?" Alya menatap penuh harap Murano akan berbelas kasihan padanya.


"Kalau urusanku sudah selesai," Murano berbalik dan keluar kamar.


Hari yang ditunggu-tunggu Alya pun tiba. Murano mengajaknya pergi menemui suami dan putrinya. Hati Alya berbunga-bunga membayangkan bisa kembali mengecup putrinya.


Tiba-tiba Murano menarik tangannya memasuki sebuah toko pakaian.

__ADS_1


"Ada apa? Alya melepaskan tangan Murano


"Apa kamu nggak mau memberikan hadiah untuk putrimu?"


Alya menunduk. "Aku nggak punya uang." lirihnya


"Pilih Saja, Aku yang bayar." Murano memperlihatkan isi dompet yang dipenuhi dengan berbagai kartu kredit dan lembaran-lembaran uang.


"Kamu boleh beli apapun, berapapun untuk Siapa saja boleh. Kecuali suamimu." ucap Murano tegas.


Alya mengambil tiga setelan baju anak perempuan. Satu setelan untuk ibu mertuanya dua kaos dan tas ransel untuk sang Adik. Dam-diam Alya mengambil Satu kemeja untuk suaminya. Aneka makanan dan buah.


mobil Murano berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Yang sebagian dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong termakan usia. Seorang pria berkursi roda keluar dari dalam rumah.


"Alya....." spontan memanggil namanya.


"Daniel..." teriaknya sembari membuka pintu mobil. Alya berlari. Pria berkulit kuning langsat itu tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedatangan sang pujaan hati. Pria bernama Daniel itu merentangkan tangannya.


Alya duduk bersimpuh mencium tangan suaminya. "Aku merindukanmu."


Daniel mengangkat kepala Alya dan membingkainya dengan kedua tangan, mengecup setiap inci wajahnya


Murano langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. emosinya sudah di puncak. "Dasar wanita tidak tahu diri, tidak bisakah ia menghargai kehadiranku?" geramnya.


Alya masuk ke dalam, melihat Sang Putri sedang tidur siang. Alya tidak bisa menahan keinginan untuk mengecup gadis kecil berusia satu tahun setengah itu. Hingga bocah itu pun bangun.


"Sayang Ibu mana?" tanya Alya


"Oh beliau dirawat di rumah sakit. Bayar pengobatannya ditanggung pemerintah Desa ini." jelas Daniel


"Kak Alya...." seru seorang remaja tanggung bernama Bimbim Adik kandung Alya. Bimbim memeluk Alya.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Alya


"Baik kak." jawabnya.


"Oh iya kak, yang di luar itu mobil siapa?"


Alya melupakannya sangking bahagianya bertemu orang-orang yang dicintai, ia sampai melupakan Murano. Alya menelan ludah tak bisa membayangkan kemarahannya.

__ADS_1


Alya keluar mengajak Murano dan kairo masuk. Tanpa diduga Murano ingin menginap di rumahnya.


"Apa Tuan yakin mau tidur di sini?" tanya Alya


"Ya tentu saja, gak boleh? Murano menyilangkan tangan di dada.


"Di sini banyak nyamuk dan tidak ada pendingin ruangan, kasurnya pun tidak sempurna. Alya berusaha meyakinkan Murano untuk mengubah niatnya.


Namun pria itu keras kepala.


Mereka makan malam dengan menu seadanya. Murano terlihat tidak berselera makan.


"Maaf Tuan lauknya seadanya." ucap Daniel yang merasa tidak percaya diri duduk bersebelahan dengan Murano. Murano tersenyum tipis.


"Aku sering mendengar tentang Tuan Murano di televisi. Senang bisa melihat anda langsung." ujar Bimbim. Aku ingin menjadi pebisnis hebat seperti anda.


"Kamu harus belajar berbisnis dari sekarang." Murano menanggapi.


Malam hari pun tiba


Murano tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamar Alya dan Daniel. Perasaannya campur aduk sekarang. Ada rasa menyesal sudah mengajak dan mempertemukan Alya dengan suaminya.


"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.


Alya bersandar di dada Daniel yang bidang. Daniel membelai rambutnya. Mereka saling berbagi cerita. "Apa Tuan Murano memperlakukanmu dengan baik?"


"Iya dia baik, Alya menyembunyikan fakta sebenarnya. Ia tidak ingin Daniel khawatir.


"Aku tidak percaya diri di depannya ." Daniel mengubah posisinya.


"Apapun yang terjadi, di mataku kamu tetap yang terbaik." hiburnya


Alya memeluk Daniel dari belakang, menghirup aroma tubuhnya yang sangat ia rindukan. Tak Berapa lama mereka pun hanyut dalam kerinduan yang mendalam.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2