HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 34. RENCANA MASAYU_ HTM


__ADS_3

Saat ini Daniel sudah berada di depan pintu ruang kerja Murano. Sebelum mengetuk pintu, Daniel menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya. Daniel akui Murano memang memiliki kharisma yang membuat siapapun rendah diri.


Setelah siap, pria yang baru pertama kali memakai jas itu pun mengetuk pintu. Terdengar suara bariton dari dalam menyuruhnya masuk. Perlahan Ia membuka pintu.


"Selamat pagi Tuan."Sapa Daniel


"Selamat pagi, duduklah."sahut Murano


Daniel menarik kursi dan menghempaskan bokongnya tepat di hadapan Murano.


"Bagaimana tidurmu semalam?"tanya Murano berbasa-basi.


"Sangat nyenyak Tuan, kamarnya sangat nyaman."jawab Daniel.


"Hari ini, kamu mulai bekerja menggantikan posisi sopir yang mengantar aku ke manapun."


"Apa pekerjaannya akan aku lakukan dengan baik Tuan,"ucap Daniel kurang percaya diri.


"Kamu bukan hanya saja menyupir tapi juga harus memastikan mobil itu aman dinaiki.


Pembunuh bayaran menggunakan berbagai macam cara melenyapkan targetnya. "Murano beranjak dari duduknya melihat pemandangan melalui jendela.


Secara diam-diam Daniel pun memperhatikan ruang kerja Murano yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Ruangan ini sangat luas, ada banyak rak yang berisi buku, pajangan, dan foto-foto. Dindingnya berwarna gelap serasi dengan meja kerja dan kursi serta sopa panjang yang terdapat juga di ruangan itu.


Di meja kerjanya terdapat di laptop, alat tulis, tumpukan buku dan map yang Daniel sama sekali tidak mengetahui apa isinya.


"Yang paling biasa mereka mengutak-atik mesin mobil. Misalnya membuat rem tidak berfungsi, yang paling ekstrem memasang bom di mobil."cerita Murano membuat Daniel menelan ludah, adakah khawatiran padanya.


"Jadi intinya kamu harus teliti, fokus dan disiplin. Bukan saja demi keselamatan Aku sendiri, tapi juga keselamatan kamu,


mengerti!"


"Aku mengerti Tuan, "ucap Daniel dengan tegas.


"Kamu boleh keluar dan silakan lihat-lihat mobil yang semalam, biar kalau ada sesuatu Kamu sudah tahu."


Daniel beranjak dari duduknya, lalu berpamitan keluar. Saat membuka pintu, ia berpas-pasan dengan Alya. Merdeka saling pandang seberapa detik. Alya tersenyum tipis membuat jantung Daniel berdegup kencang.


"Sayang, Ayo kita sarapan. Mariska sudah menunggu."


Sayup-sayup Daniel mendengar suara Alya menyuruh Murano sarapan. Dulu saat dirinya masih berkutat dengan tugas-tugas para murid, Alya juga sering mengingatkan untuk makan. Saat-saat indah itu, akankah bisa terulang kembali.


"Ayo Sayang."Murano menggandeng Alya hingga ke ruang makan.


"Kamu bahkan belum mandi," bisik Alya

__ADS_1


"Walaupun belum mandi, tapi aku tetap tampan, kan? balas Murano sambil menggoda.


****


"Aku akan menutup pusat pelatihan Ini sementara sampai semua tenang."ucap Master Liu pada seseorang ditelepon.


"Jangan! itu malah terlalu mencolok, sangat terlihat kalau Master mau menghindar, ucap suara seorang wanita ditelepon. "Bersikap biasa, saja!"


Master Liu menghembuskan nafas kesal. "Ya baiklah terserah kamu saja!"


"Keempat orang itu sudah pergi, kan? tanya wanita itu lagi.


"Sudah."jawab Master Liu.


"Master harus hati-hati dan waspada, jangan terlalu sering menelepon aku oke!"wanita itu menutup sambungan telepon selulernya dengan sepihak, membuat master Liu marah-marah.


"Chang Mai sedang gelisah. Dia tidak bisa konsentrasi melakukan apapun. "Aku sudah jauh melangkah, tidak mungkin mundur lagi. dendam masa lalu harus terbalaskan sekarang sudah terlalu lama menunggu."


Di tempat lain, Alya menunjukkan brosur wisata yang ada di kampong camp pada Murano yang sedang tidur-tiduran di kamar.


"Bagaimana kalau kita liburan ke sini sayang? tanya Alya sambil memijat-mijat betis Murano. "Tempatnya indah, kan? aku suka banget."Alya mulai melancarkan rayuannya.


"Aku tidak suka pantai, begitu juga kamu sayang,"jawaban Murano membuat Alya bingung.


"Kamu punya pengalaman buruk saat di pantai."


"Pengalaman buruk, apa?"


"Saat kita lagi liburan di pantai, kamu berenang terlalu jauh. Sempat terseret ombak dan tenggelam. Tuhan masih baik memberi kita kesempatan."


Alya mencoba mengingat-ingat peristiwa itu Tapi tetap tidak bisa. Yang ada dia melihat sekelompok anak berlarian di pinggir pantai.


Murano merangkul pundak Alya. "Sayang Sudahlah, tak perlu mengingat-ingat masa lalu. Di masa lalu sekarang dan di masa depan kamu tetap milikku dan saling mencintai."


"Tapi aku penasaran dengan kehidupanku sebelumnya, Siapa orang tuaku apa Aku punya adik atau kakak." Desak Alya.


"Kamu anak yatim piatu lahir dan dibesarkan di panti asuhan. Aku tidak tahu siapa dan di mana orang tua kamu." ucapnya menatap Alya dengan lekat-lekat.


Alya merasakan matanya berembun, semakin lama embun itu semakin banyak lalu menetes membasahi pipinya yang mulus. Murano mengusapnya dengan lembut.


"Lalu bagaimana kita bertemu?" tanya Alya sambil terisak


"Kamu bekerja di Murano company perusahaan aku. Mulanya biasa saja aku atasan dan kamu bawahan. lama-lama aku kayak cinta padamu, lalu kita menikah.


"Sesederhana itukah?

__ADS_1


Murano menggeleng. "Tentu tidak, ada banyak ujian yang menghalangi. Tapi dengan kekuatan cinta, kita bisa bersatu."


Murano membingkai wajah Alya dengan kedua tangannya dan terus meyakinkannya agar tidak perlu lagi membicarakan masa lalu. Alya mengangguk walau hatinya masih tidak puas. Karena tidak ada satupun cerita Murano katakan membuatnya teringat sesuatu.


Alya menceritakan semua kegalauannya pada masayu.


"Kalau seperti itu Nyonya cari tahu saja sendiri." ceplos wanita muda itu.


"Inginnya seperti itu tapi bingung caranya bagaimana. Kamu tahu sendiri aku nggak bisa kemana-mana tanpa persetujuan Murano."Alya mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Tuan Murano sangat over protektif sekali ya,"tukas Masayu yang ditanggapi dengan anggukan dari Alya.


Masayu menjentikkan jarinya. "akun punya ide." seru Masayu.


"Apa?"tanya alya antusias. Masayu membisikkan rencananya.


"Bagaimana dengan para pengawal? mereka mengikuti kita."ucap Alya


Masayu menggigit telunjuknya, mencari cara menyelesaikan masalahnya. Beberapa menit kemudian ia menjentikkan jadinya lagi. "kita suap saja mereka."


Mata Alya menyipit. "Bagaimana kalau nggak bisa?"


"kita coba dulu." tukas Alya. "Semua orang kan pasti suka duit."akhirnya Alya pun setuju dengan rencana Masayu.


****


Murano dan Alya tengah menatap langit yang menghiasi bintang dan bulan dari balkon kamar mereka. Alya menyandarkan kepalanya di lengan kekar Murano. Banyak orang yang menilai Murano pria yang dingin, angkuh, dan tidak berperasaan.


Namun, di mata Alya Ia adalah pria yang lembut dan romantis tak pernah berkata atau bersikap kasar. Sedangkan bagi murano Alya adalah belahan jiwa. Satu-satunya orang yang bisa mengubah haluan hidupnya. Murano mengecup pucuk kepala bidadarinya.


Seseorang menatap mereka dari kejauhan dengan penuh amarah dan duka. "Harusnya aku yang berdiri di sampingmu Alya. harusnya aku yang memeluk dan mengecup mu."


"Ehem...Ehem,"Masayu berdehem, Daniel menoleh agak terkejut tak menyangka ada orang lain yang memperhatikannya.


"Mereka pasangan serasi, ya? Tuan Murano sangat romantis dan memperlakukan Nyonya Alya seperti ratu."ucap Masayu sambil menyandarkan pada dinding.


Daniel tersenyum sini. "itu hanya pencitraan untuk menutupi kesalahannya di masa lalu."gumamnya dalam.


"Apa maksudmu?"


Daniel mengangkat bahu baru berjalan. beberapa langkah, Masayu memanggilnya. Daniel menoleh, Masayu mendekatinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2