
"Kau sudah banyak berubah karena ku, kali ini keinginan terakhirku adalah melihatmu sadar kembali sebelum mataku terpejam."
Alya sudah pasrah ya ingin sekali tangannya bisa sampai menyentuh pria yang baru saja dia cintai itu sebelum kematian menjemputnya.
Tiba-tiba doa Alya langsung terkabulkan. kelopak mata Murano perlahan terbuka dengan kedua tangan menapak di lantai berusaha bangkit dari pembaringannya. Kepalanya ikut terangkat melihat senyuman Alya yang perlahan menghilang dengan matanya yang ikut terpejam.
Karena sudah tidak tahan lagi rasa haus yang ia rasakan. Saat ini sudah tidak tertahan. akibat kobaran api yang tadinya berada di bawah sebelum Murano datang menyelamatkannya.
"Alya kau harus bertahan, dengan nada suara yang lemas Murano Memanggil nama Alya. Alex menarik senyum tangan kirinya perlahan masuk ke dalam jas mengeluarkan senjata api.
Tuan Alex menodongkan senjata apinya ke arah kepala Murano bersiap menarik pelatuknya
"Mati kau!"teriaknya melotot
Door
"Ahhhhk
Murano berbalik melihat Tuan Alex yang jatuh di sebelahnya. Ternyata bukan Murano yang terkena tembakan melainkan Tuan Alex. Tuan Alex tidak tahu sebenarnya Murano tidak datang sendiri tapi bersama anak buahnya.
Ini semua sudah direncanakan Murano sebelum sampai di gudang tua itu, dia minta anak buahnya untuk bersembunyi. Tidak ada yang boleh datang ke sana sebelum ada suara tembakan yang terdengar.
Suara tembakan merupakan simbol untuk meminta Devano dan anak buahnya datang di saat dia menggunakan pistolnya untuk melawan anak buah Tuan Alex. Ia sengaja menggunakannya, karena sudah tidak ada waktu bermain-main dengan anak buah Tuan Alex. Sedangkan Alya berada di atas sana, kondisinya yang sudah gawat darurat nyawanya diambang kematian.
Devano yang berdiri memegang pistol tidak jauh dari pintu masuk langsung berlari membantu Murano yang sudah semakin lemah. Ia juga melihat Alya yang tergantung di atas sana.
"Tuan tidak apa-apa?" ucap Devano di samping Murano. Murano bangkit mengambil besi panjang yang ada di sampingnya. Memegang alat berdiri di depan tiang menghantamkan gembok rantai yang ada di sana.
Beberapa kali menghantam gembok itu tetapi tak kunjung terlepas.
Murano berusaha menghantam gembok itu dan akhirnya terbuka. Perlahan mereka menurunkan Alya dari atas sana yang kondisinya sudah tak sadarkan diri dan terlihat denyut nadinya sudah melemah. Ketika tubuh Alya sudah berada di dekapan Murano. Ia langsung mengangkat tubuhnya membawa ke tempat yang lebih nyaman.
Daniel yang menyaksikan pengorbanan Murano, untuk menyelamatkan Alya, hanya terdiam mematung disana. Sebelumnya Kairo memberitahu apa yang terjadi terhadap Alya kepada Daniel, sesuai dengan perintah Murano.
"Tidak akan terjadi sesuatu kepada mu sayang, aku akan menyelamatkanmu. Ucapnya membaringkan Alya di atas lantai yang kotor. Murano dengan penuh hati hati melakukan pertolongan pertama. Berusaha untuk menyadarkan Alya.
Murano semakin sangat panik. Devano berdiri di samping Murano melihat Alya yang tidak memberikan respon sama sekali.
"Apa artinya Nyonya sudah Ma....?"
__ADS_1
"Tutup mulutmu! tidak akan terjadi sesuatu padanya." ucapnya terus fokus menekan dada Alya dengan tatapan serius.
"Bangun sayang!" teriaknya memohon berharap Alya terbangun. Tangan Murano mulai bergetar melihat tidak ada reaksi sama sekali dari tubuh Alya. Wajahnya yang panik seketika sedih. "Bangun, jangan membuatku takut. Devano memegang pundak Murano, mencoba memberikan kekuatan.
"Tuan sepertinya Nyonya alya sudah.... turut berduka atas kepergiannya." ucap Devano menundukkan kepala.
"Dia tidak akan pergi meninggalkanku aku percaya itu."ucap Murano dengan penuh harapan besar Murano memberikan nafas bantuan kepada Alya, berharap ia dapat pulih kembali.
Beberapa kali Murano meniupkan nafasnya ke mulut Alya.
Perlahan Alya mulai menggerakkan jari telunjuknya. Membuat Murano bernafas lega. Itu artinya Alya masih hidup. Alya dengan lemas membuka kelopak matanya. Devano, Daniel, Bimo kaget seolah tidak percaya melihat Alya masih bisa bertahan hidup.
Murano mengangkat tubuh Alya langsung memeluknya dengan erat." Aku tahu kau tidak akan mungkin pergi meninggalkanku begitu saja. Karena aku sangat mencintaimu. Hati Daniel, Devano dan Bimo ikut tersentuh melihat lelaki yang begitu kuat, Angkuh dan arogan ternyata bisa begitu rapuh saat dihadapkan dengan kondisi dimana dia harus siap kehilangan wanita pujaan hatinya.
Tapi takdir masih berbaik hati pada mereka. Waktu masih memperbolehkan mereka untuk bertemu, tapi entah sampai kapan kebaikan takdir akan berpihak kepada mereka. Senyuman kembali muncul di wajah Alya. Tangan Alya perlahan naik memeluk tubuh Murano
Entah mengapa hatinya begitu bahagia bisa kembali melihat wajah Murano . Pria yang selalu diharapkan pergi meninggalkan kehidupannya, tapi malah sekarang dia menginginkan kehadiran Murano di sisinya.
Daniel yang melihat itu semua, tidak mampu berkata kata. Karna bagaimanapun, Murano Lah yang menjadi dewa penolong Alya saat itu. Dan terlihat Alya juga mencintai Murano. Itu terlihat jelas dari senyum dan raut wajah Alya menatap Murano.
Anak buah Murano berlarian masuk ke dalam.
Devano berdiri menemui anak buah Murano yang berdiri di belakangnya.
"Baguslah, sekarang kalian semua kumpul mereka semua dan hilangkan jejak mereka.
"Baik Tuan"ucap anak buah Murano berbalik pergi.
Murano melepaskan pelukannya menekan bibirnya mencium kening Alya.
"Maafkan aku terlambat menyelamatkan kamu."
Dengan senyuman Alya membalas permohonan maaf Murano, kau sudah datang sekarang menyelamatkan aku , itu tidak penting Lagi." ucap Alya dengan nada suara yang sangat pelan, karena dirinya tidak mampu mengeluarkan suaranya.
"Ayo kita pulang sekarang. Alya tersenyum mengangguk. Murano mengangkat tubuh Alya dalam pelukannya membawanya keluar dari gudang tua yang gelap gulita itu. Ia membawanya ke dalam mobilnya menurunkannya di kursi depan memasangkan sabuk pengaman lalu buru-buru masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Daniel meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Devano, dan anak buah Murano lainnya, masih berada di gedung Tua itu. Hari semakin larut, tapi tidak membuat Devano takut berada di tengah-tengah kegelapan malam.
Devano keluar dari gudang itu berdiri di depan, sengaja menatap rembulan yang bersinar begitu indah di atas langit. Anak buah Murano kembali menemui Devano yang masih fokus menatap rembulan.
__ADS_1
"Tuan, semua mayat mereka sudah dikumpul di dalam gudang itu, dan mayat Tuan Alex juga sudah berada di tempat yang sama."
"Sekarang Tugas kalian ambil bensin dari tangki mobil, bakar tempat ini tanpa sisa. Biarkan tulang-tulang mereka, menjadi abu dan menyatu dengan tanah. Mereka sudah berani mengusik Bos dan Nyonya ." ucapnya dengan penuh keberanian dan tatapannya yang serius.
"Hilangkan semua jejak, Jangan sampai ada yang tersisa. Hanguskan semua gudang ini seolah-olah memang gudang ini terbakar. Titah Devano.
"Baik Tuan." ucap anak buah Murano sambil berbalik. Semua anak buah Murano Pergi mengambil bensin dari tangki.
Devano pria yang umurnya tidak terlalu jauh dari Murano memiliki sikap yang tegas, sebelas dua belas dengan Murano. Karena Murano sudah mendidiknya Devano tangguh dan mampu untuk menghadapi berbagai rintangan dari musuh-musuh Murano. Didikan Murano membuat pria berparas tampan itu menjadi sosok yang kuat dan bisa bertahan dengan kondisi berbahaya.
Jika Murano memiliki pekerjaan penting, maka Devano lah yang mengatur dan mengolah perusahaan Murano
Devano punya pengalaman di dunia gelap, dari Murano. jadi Murano tidak salah memilih orang untuk mengurus bisnisnya, untuk sementara waktu jika dirinya tidak memiliki waktu dan memiliki pekerjaan penting lainnya.
Anak buah Murano semua masuk ke dalam menyiramkan bensin yang mereka bawa ke seluruh sudut gedung tua itu. Tidak lama kemudian tiba-tiba anak buah Murano kembali menemui Devano
"Nona, sepertinya tempat ini merupakan salah satu tempat persembunyian penyimpanan barang yang diselundupkan oleh Tuan Alex. kami juga menemukan beberapa kotak senjata api dan obat-obat terlarang, begitu juga dengan bahan peledak lainnya berada di sana." ucap anak buah Murano
baiklah kita hancurkan saja semua.
"Baik Tuan"
Devano mengambil pemantik api yang ada di sakunya. Suruh mereka semua keluar sekarang!" perintah Devano agar semua anak buah Murano keluar dari sana.
"Baik Tuan."
Pria itu langsung berlari masuk memanggil rakan rekannya keluar. Karena sebentar lagi tempat itu akan di bumi hanguskan oleh Devano. Anak buah Murano berlari keluar menjauhi gedung tua itu.
Anak buah Murano semua pergi berdiri di belakang Devano, mereka berjejer dengan rapi mengangkat kepala dengan tegak menatap lurus ke depan. Devano menyalakan pemantik api menjatuhkannya di bawah kakinya. Api mulai menyebar seluruh tempat itu.
Devano tersenyum kecil, menatap api yang semakin tinggi berkobar sambil berjalan cepat, diikuti oleh semua anak buah Murano yang di pimpin langsung olehnya.
Beberapa bahan peledak yang ada di sana meledak, membuat suara ledakan itu terdengar jelas di telinga anak buah Murano dan juga Devano. Devano tersenyum devil, lalu meninggalkan tempat itu dengan api yang berkobar di udara. Diikuti oleh anak buah Murano.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN