
"Kita ada di pihak yang sama,"bisik wanita yang selalu ceria itu, sambil tersenyum penuh arti.
"Apa maksudmu?"tanya Daniel penasaran.
"Dokter chang mai, kamu mengenalnya? Masayu balik bertanya.
Mata Daniel menyempit. "Sebenarnya kamu siapa, ada hubungan apa dengan dokter Chang Mai?
Masayu terkekeh. "Sama seperti kamu! aku ada dendam dengan Murano. Mereka berbicara dengan suara pelan bahkan nyaris berbisik. Rumah ini dikelilingi kamera CCTV 24 jam dan banyak pengawal di sana-sini yang bisa saja mendengar atau melihat mereka.
Terdengar suara derap langkah yang seperti mendekat. "Kita bicara lain waktu."ucap Daniel yang kemudian pergi.
Murano mencium bibir Alya dengan lembut berkali-kali.
"Masih kurang sayang? tanya Alya.
"Apa kamu mau lagi?"Murano balik bertanya disertai senyum menggoda.
Alya menggeleng keras. "Sudah cukup aku lelah."
"Mau ku ambilkan sesuatu? cemilan atau mau makan?"Murano memakai celana panjangnya.
"Iya, aku mau anggur yang tadi siang dibuatkan oleh Pak Barco, dan segelas teh manis hangat. Alya pun memakai kembali piyamanya.
"Okey Murano mengacungkan ibu jarinya dengan bersiul. Ia menuruni anak-anak tangga.
Saat menuju ke dapur, ia melihat bayangan. Murano yang curiga segera mencari tahu dan memasang sikap waspada.
Murano menoleh ke belakang, karena merasa ada orang di belakangnya. Murano mencari, tapi tak menemukan apapun. Murano memutuskan kembali ke dapur dan menyalakan lampu. Dia terkejut melihat Alya ada di dapur.
Alya pun ikut terkejut karena lampu tiba-tiba menyala.
"Sayang apa yang kamu lakukan di sini?"tanya Murano
"Aku memutuskan membuat teh sendiri, sekalian bikinin kamu juga."Alya tersenyum.
Daniel memasukkan kembali pisau ke dalam saku jasnya, dan pergi diam-diam dari balik dinding yang memisahkan dapur dan pintu yang menuju lantai dasar, tempat parkir kendaraan dan kamar para pengawal.
Daniel tadi berniat menghabisi Murano yang sendirian, suasana juga mendukung karena sepi dan gelap.
"Aku juga bisa bikin teh."Murano bersedekap.
"Tapi tidak seenak buatan aku."Alya meledek sambil meletakkan dua cangkir teh hangat aroma keluar seketika.
Murano menarik kursi dan menghempaskan bokongnya. Mereka berdua menikmati cemilan dan teh berdua sambil berbincang ringan dan melempar rayuan.
"Sayang, besok aku mau ke mall sama masayu, Mariska dan pengasuhnya boleh nggak? tanya Alya.
__ADS_1
"Boleh dong, belanja lah sesukamu dan bersenang-senang."
Alya tersenyum lebar dan mengucapkan Terima kasih.
"Kamu berangkat jam berapa? apa mau aku antar dan temani?
Alya menggeleng. "Tidak usah, nanti kamu bosan."
"Baik, biarkan dikawal Bimo."
Mata Alya membelalak. Bimo kini menjadi orang kepercayaan Murano. Tentu dia sulit diajak bekerja sama. Alya menggigit bibirnya mencari alasan supaya tidak usah dikawal.
"Kamu pasti nggak nyaman ya, kalau dikawal?" tanya Murano seolah tau isi hati Alya.
"Iya sayang, aku akan menjaga diri dengan baik. lagi pula perginya juga ramai-ramai." ucap Alya.
Situasi sedang tidak aman ada pihak yang sepertinya ingin mencelakai aku." Murano meniup Tehnya sebelum meminumnya.
"Kemarin mereka gagal mencelakai aku, takutnya mereka mengejar kamu. Aku harap kamu mengerti ya." Murano menggenggam jemari tangan Alya. Alya mengangguk pasrah, berharap besok situasi berubah.
"Apakah rencana ke kampong camp berhasil?
****
Setelah berangkat ke kantor bersama Daniel. Alya segera menuju kamar Masayu dan menceritakan kalau yang akan mengawal mereka adalah Bimo. Masayu hilir mudik dengan wajah panik sesekali ia menggigit jari telunjuknya.
"Apa? tanya Alya antusias.
nyonya bersiap saja dulu biar semua aku yang urus. Masayu menarik tangan Alya hingga ke depan pintu.
"Kamu mau melakukan apa? tanya Alya heran.
"Nyonya tenang saja. Pokoknya semua beres jari telunjuk dan ibu jarinya bersatu membentuk huruf O.
"Baiklah, tapi pastikan semuanya beres, ya." ucap Alya sambil memutar knop pintu. Alya kembali ke kamarnya.
Masayu segera masuk ia menuju ke dapur. Pak Barco dan rekan-rekannya yang bekerja di bagian memasak sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk para pengawal. Masayu sudah hafal kebiasaan beberapa pengawal.
Yang paling berbeda adalah Bimo. Jika rekan-rekannya menulis secangkir kopi atau teh untuk diminum di pagi hari, ia memilih air rebusan rempah-rempah seperti jahe sereh dan kunyit.
Saat Masayu dengan celingukan pak Barco menegurnya. Apa yang anda lakukan di sini Nona Masayu? apa nyonya Alya membutuhkan sesuatu?" tanya pria itu ramah
"Nyonya minta dibuatkan orange jus pak Barco." jawab masayu.
Mata pak Barco menyipit. "Tumben sekali." gumamnya.
" Nyonya ingin yang segar-segar." jawab Masayu. Yang sebenarnya adalah siasatnya untuk mengalihkan perhatian pak Barco. Pak Barco pergi mengambil jeruk. Di kesempatan itu tidak disia-siakannya. Ia segera meneteskan obat pencuci perut ke minuman Bimo.
__ADS_1
Setelah melaksanakan misinya ia segera pergi dari dapur.
"Alya, Masayu, Mariska, dan pengasuhnya sudah siap di ruang tamu.
Bimo datang dan terlihat lemas."Nyonya sudah mau berangkat? tanyanya
"Iya, ini kami sudah siap. Alya menatap Bimo selalu bertanya. Kamu kenapa wajah kamu sangat pucat?" tanya Alya khawatir.
"Maaf nyonya, aku tidak bisa mengantarkan Anda ke mall, entah kenapa perutku sakit sekali." Bimo memegangi perutnya.
"Kalau sakit lebih baik kamu istirahat, atau ke dokter. lagi pula tidak usah dikawal tidak apa-apa."
"Iya, lagi pula cuma sebentar." timpal Masayu.
"Aku sudah menyiapkan pengawal lain, bimo manggil dua orang temannya yang bernama Malik dan juga Jason. Malik yang akan bertindak sebagai sopir.
Setelah sampai di parkiran mall yang masih sepi. Jansen membukakan pintu untuk sang nyonya. "Silakan nyonya." ucap Jansen dengan sopan.
"Aku mau bicara dengan kamu dan Malik." ucap Alya. Malik dan Jansen berdiri berhadapan dengan Alya. "Sebenarnya tujuan utama aku ke bandara, Aku ingin pergi ke kampong camp."
Dua pengawal itu saling pandang. "Apa Tuan Murano tahu tentang perubahan ini? tanya Malik.
Alya menggeleng Dia dan Bimo tidak boleh tahu perjalanan ini. Untuk itu aku minta bantuan kalian
Mereka sering pandang lagi. "Maksudnya apa kami tidak mengerti?" tanya Malik.
Alya menarik nafas dalam dalam dan menjelaskan rencananya. "Aku akan memberikan kalian sejumlah uang jika kalian bersedia membantuku."
"Kami pergi tidak akan lama, sore juga kembali." ucap Masayu, menimpali
"Aku akan memberimu masing-masing sepuluh juta Real, bagaimana? tawar Alya
Pengawal itu saling pandang, lalu mengangguk. Mereka kembali masuk ke mobil dan menuju bandara. Diam-diam Masayu mengirimkan pesan ke Daniel yang saat ini ada di kantor Murano company. Masayu memberitahukan bahwa mereka berhasil pergi ke Kampong camp.
informasi dari Masayu ia sampaikan lagi ke Bimbim yang nantinya akan menunggu kedatangan Alya di bandara.
Ingatan Alya pasti akan kembali setelah ia bertemu Bimbim dan melihat di desa kelahirannya." ucap Daniel sambil membayangkan bisa kembali bersama Alya dan hidup bahagia.
"Hei, Robert kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tegur rekannya.
Daniel terkejut dan gugup. "Tadi ada pesan dari teman."Kilahnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN