
luka Dan air Mata menjadi sahabat karib Alya saat ini. Mariska adalah alasan tetap bertahan. Ada Kairo yang selalu menjaga Mariska. Devano yang selalu mengobati luka dan Pak Barco yang selalu menghiburnya dengan beragam makanan enak dan cerita-cerita lucunya.
Alya menatap wajahnya di cermin rias matanya yang selalu memancarkan keceriaan, kini redup, sayup, dan sembab. Wajah yang dulu membuat banyak pria terpesona, walau tidak banyak tersentuh make up. Kini tirus, kusam dihiasi banyak luka dan lebam. Bukannya menarik malah menyedihkan.
"Bu Jangan menangis terus."ucap Mariska menggemaskan dengan nada suara anak kecil yang tak jelas. Usianya Mariska baru satu tahun setengah. Mariska sangat cerewet dan lincah.
Alya senyum dan mencium pucuk kepala Putri cantiknya itu. "Mama sayang Mariska jadilah anak yang baik dan kuat ya sayang."
****
Murano duduk di tepi ranjang melempar ikat pinggang yang digunakan untuk memukuli.
"Kenapa kamu tidak mohon ampun padaku?" tanyanya frustrasi
Alya tersenyum sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Untuk apa? itu hanya membuatmu besar kepala." ketusnya
Alya batuk-batuk. Dadanya terasa sesak. Selama kamu tidak menyakiti anak dan keluargaku, Aku akan diam seperti patung atau seperti samsak tinju dipukul Berkali-kali tetap akan datang lagi dan lagi.
Alya yang telah berpakaian lengkap berdiri perlahan. Matanya seperti ada kabut yang semakin tebal, hingga menutupi penglihatannya. Kepalanya berdenyut hebat Alya pun terjatuh tak sadarkan diri.
Murano yang juga telah berpakaian mengira Alya hanya pingsan seperti biasa. Ia membopong Alya keranjang hingga keesokan paginya Alya belum sadarkan diri. Suhu tubuhnya pun sangat panas. Murano yang panik dan cemas langsung menghubungi dokter Surya.
"Kamu harus segera membawanya ke rumah sakit. kondisinya parah." wajah dokter Surya menegang.
Demi kenyamanan dan privasi Murano menyewa satu lantai rumah sakit kelas super VIP . Murano hilir mudik di depan kamar yang ditempati Alya
Wajahnya tegang juga bingung. Menurut hasil pemeriksaan, Alya mengalami trauma berat di kepala dan dada. Hal itu yang membuat Alya koma.
Seorang suster menghampiri Murano dan memintanya ke ruang dokter Surya. Murano mengangguk dan mengikuti Suster itu ke ruang dokter Surya.
"Duduklah."
Murano menarik kursi dan duduk berhadapan dengan dokter berkulit kuning langsat itu.
"Aku sudah memperingatkan kamu Murano, wanita itu bisa mati kalau kamu perlakukan seperti itu terus." dokter Surya mengetuk-etuk jari tangannya di meja.
Wajahnya menyiratkan kekesalan yang besar.
Murano menunduk seperti terdakwa yang sedang menunggu keputusan hukuman yang akan diterima.Jika seperti ini ia tidak tampak seperti seorang bos besar.
"Aku ingin menghentikannya, tapi tidak bisa." lirih Murano berucap.
"Bukan tidak bisa, tapi kamu nggak mau
__ADS_1
bentak dokter Surya. Aku sudah memilihkan psikiater untukmu. Besok kamu mulai konsultasinya.
Murano menatap dokter yang menyelamatkannya dari kekejaman Ibu Nerina alias Maya Puspita.
"Aku tidak gila!"
Dokter Surya berdiri dan menggebrak meja membuat Murano terkejut. "Kamu memang tidak gila, tapi memiliki kelainan yang harus disembuhkan!"
Dokter Surya kembali duduk dan mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga kandas. "Besok kamu harus datang, Jangan sampai ada orang tak berdosa lagi jadi korban keegoisan kamu."
Murano mengangguk pasrah. "Baiklah dokter Aku pergi dulu."
Dokter surya adalah satu-satunya orang yang bisa memarahi, membentak, dan memerintah Murano. Murano pun sangat menghormatinya dan menganggapnya pahlawan. Dokter surya adalah tetangga Murano. Ia dan keluarganya pindah beberapa hari setelah Ibu Cintya meninggal. Anak laki-laki dokter surya yang bernama Justin sebaya dengan Murano. mereka sering bermain bersama. Hingga akhirnya Tuan Andalas menikah lagi dengan Maya Puspita.
Menurut dokter surya dan istrinya, Maya Puspita seorang yang tertutup dan keras kepala. Tidak mau berbaur dengan lingkungan. Saat itu Murano sendiri tidak terlalu dekat dengan sang ibu tiri. Tidak beberapa lama setelah Tuan Andalas meninggal, dokter surya dan keluarganya pindah. Karena dokter Surya ditugaskan ke luar kota. Saat itulah Maya Puspita mulai melakukan penyiksaan pada Murano.
Kejahatan Maya Puspita terkuat saat dokter surya dan keluarganya kembali lagi ke rumah itu. Mereka ingin bertemu Murano, tapi Maya Puspita bilang Murano dibawa adik tuan Andalas. Namun, mereka sering mendengar suara tangisan seorang anak. Mereka menyelidikinya dan akhirnya Murano berhasil diselamatkan. Saat itu Murano bukan hanya menderita luka, tapi juga kekurangan gizi.
Dokter surya dan keluarganya yang setia merawatnya, hingga Murano bisa seperti sekarang ini.
Berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit yang sepi Murano bukan hanya menyewa satu lantai rumah sakit. Tapi satu rumah sakit itu ia sewa, mengubah ruangan di sebelah ruangan Alya seperti kamarnya di rumah. uang memang membuat orang menjadi gila dan melakukan hal-hal tak terduga.
Murano memandang Alya yang terbaring lemah dari jendela. Dokter masih belum mengizinkannya masuk.
***
"Silakan masuk." ucap seseorang di dalam ruangan.
Murano memutar kenop pintu. Seorang wanita cantik tersenyum ramah menyambutnya. "Selamat datang tuan Murano."
Murano hanya tersenyum menanggapinya. wanita itu mengulurkan tangan kanannya dan memperkenalkan diri.
Murano membalas uluran tangan dokter dan menyebutkan namanya.
"Silakan duduk Tuan." ucap dokter itu dengan ramah
Dingin dan sombong di luar, tapi rapuh di dalam. Itu kesan pertama yang dilihat dokter itu pada sosok Murano selain tampan, tentunya dokter itu sudah membaca biodata Murano dan sudah mendengar sepak terjangnya dari dokter Surya.
"Apa kabar Tuan Murano?" Dokter Chang mai membuka percakapan.
"Baik." jawab Murano singkat.
sepertinya Anda kurang tidur ya, Anda terlalu lelah.
Murano menyandarkan punggungnya di sandaran kursi."Langsung saja pada intinya aku tidak suka berbasa-basi."
__ADS_1
dokter Chang Mai tersenyum.
"Baiklah Tuan." dokter Chang Mai memberikan dua lembar kertas formulir dan sebuah bolpoin.
"Silakan isi formulir ini dengan jujur dan sesuai keadaan yang terjadi.
Tanpa banyak bicara, hanya dalam waktu lima belas menit ia sudah selesai mengisinya.
Dokter Chang Mai kagum dengan tulisan tangan Murano yang rapi dan bagus .
"Tulisan yang bagus, anda pun telah mengisi formulir dengan cepat." Puji Chang Mai
"Iya terima kasih."
Sesi konseling pun dimulai. Dokter Chang mai mengajukan beberapa pertanyaan dengan suasana santai. Tetapi Murano hanya menjawab singkat, terkadang hanya dengan anggukan dan geleng kepala saja.
"Raga Anda di sini, tapi jiwa dan pikiran anda di tempat lain." ucap dokter Chang Mai.
"Aku takut dia tidak Selamat. Kalau dulu aku membenci perempuan, mungkin nanti aku akan membenci diriku sendiri."
"Saat akan beranjak, dokter Chang Mai memanggilnya
"Ada apa lagi? bukankah sudah selesai?" tanya Murano
Dokter Chang mai berdiri dua tangannya menyilang di dada.
"Apa kamu sungguh tidak mengenalku?"
Kening Murano mengerut. Ia menatap dokter lekat-lekat sambil mengingat-ingat sesuatu. Ketika sudah ingat ia menepuk keningnya.
"Oh my God, kamu istri Justin, kan?
Chang Mai mengangguk dan tertawa. Itu sebabnya tadi aku bilang ragamu ada disini, tapi jiwa dan pikiran kamu di tempat lain.
Murano merasa tidak enak hati. "Maafkan aku."
"It's okay dokter Chang Mai kembali duduk. perbincangan mereka jadi lebih santai.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1