HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 19. SEDIKIT RAGU _ HTM


__ADS_3

Malam harinya, Setelah dari kamar Alya Murano menghubungi Devano. "Apa kamu sudah membunuhnya?"


"Belum, Tuan."


tangan Murano mengepal. "kenapa?"


"Rencananya besok, Tuan."


Murano menangkap ada keraguan dalam diri Devano, sebab biasanya pria yang sudah dianggap adik itu selalu bekerja cepat, dingin, dan tanpa basa-basi.


"Baik, aku tunggu kabar baiknya!" tegas Morano. Yang langsung menutup sambungan telepon selulernya.


Devano mendesah dan merebahkan tubuhnya keranjang, netranya menerawang menatap langit-langit kamar.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati ragu melaksanakan perintah dari Tuannya. Murano menutupi wajahnya dengan Kedua telapak tangannya.


Keesokan paginya, Devano sudah bersiap melakukan aksinya, membunuh Daniel. meski sudut kecil di hatinya mengatakan, "Jangan lakukan itu."


Saat Devano datang di daerah pergudangan, Devano yang berpakaian serba hitam dan sudah duduk di belakang kendali mobil truk akan segera menabrak mobil yang dikendarai oleh Daniel. Kondisi gudang yang sepi karena lama tak digunakan menjadi keuntungan tersendiri.


Di rumah Daniel tengah bersiap-siap,ia memanaskan si hitam sedang Bimbim menaikkan barang-barang yang akan dibawa Daniel.


"Untung kita banyak persediaan kerajinan bambunya, iya Bim."ucap Daniel


Bimbim mengangguk. "Tapi, aku heran Kak."Bimbim menyela peluh di keningnya.


"Heran kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa Kak Gery menyuruh kakak mengantarnya ke daerah pergudangan, daerah itu kan, sepi dan jarang digunakan lagi."


"Entahlah."Daniel mengangkat dua bahunya. "yang jelas ia tak menipu kita karena dia langsung membayar cash kemarin, bahkan dilebihkan untuk kamu bim."


Daniel mengacak-acak rambut Bimbim yang mulai panjang. "Rambut kamu sudah panjang, pulang sekolah, langsung ke tempat potong rambut. Kalau kakakmu tahu bisa dibotakin kamu." canda Daniel.


"Beres Bos!"Bimbim memberi hormat pada Daniel, Daniel pun tertawa. pembawaan Bimbim yang ceria dan penuh semangat sangat menghiburnya.


"Hati-hati, ya Kak."ucap Bimbim saat Daniel masuk ke mobil, Daniel mengacungkan ibu jarinya.


Sementara di tempat lain, Murano kembali ke kamar Alya, kali ini Mariska tidak ikut karena masih tidur.


"Sudah satu bulan lebih kamu tidur seperti ini, tidakkah kamu rindu padaku atau Mariska?"Murano mengejut kening Alya.


"Ya, Kalau rindu padaku mungkin tidak, kamu pasti sangat membenci ku, ya? tapi, aku sudah berubah, kamu pasti akan terkesan Dan mencintaiku."


"Jangan cuma jari yang bergerak, buka mata kamu, sayang."ucap Murano sambil menatap Alya dengan tatapan penuh kasih sayang.


***


Jam 08.00 Daniel masih di jalan agak sedikit telat karena tadi harus mengisi bensin dan terjadi antrian yang panjang. Daniel melirik jarum jam yang melingkar di tangan kanannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari istrinya Alya.


"Wah, sudah jam 08.00, aku harus bergegas."Daniel menginjak gas dalam-dalam, si hitam pun meleset membelah jalanan yang masih sepi. masyarakat kampung lebih suka menggunakan sepeda untuk mobilitas, yang menggunakan mobil paling hanya pedagang dan kendaraan travel.


Di rumah sakit, saat sedang membaca buku, Murano mendengar Alya mengeluarkan suara.


"Sayang, apa kamu sudah bangun?"Murano mengecup tangan Alya.

__ADS_1


"Da....Daniel...."ucap Alya lemah.


Murano mendekatkan telinganya di wajah Alya. "Kamu bicara apa, sayang?" bisiknya


"Daniel....."kembali Alia bersuara meski masih lemah dan tersamar, tetapi Murano bisa memahaminya. walau bukan namanya yang disebut pertama kali, Murano tetap bahagia Alya ada kemajuan pesat. Murano memanggil dokter Ritonga.


etelah melakukan pemeriksaan yang intensif, sang dokter keluar dari ruang rawat inap Alya.


"Tuan Murano, siapa Daniel?" Tanya Dokter senior itu.


"Ada apa, Dok? Murano malah balik bertanya.


"kesadaran Nyonya Alia sudah kembali enam puluh persen dan dia terus mengucapkan nama Daniel."jawab dokter Ritonga membuat Murano bingung.


Murano dilanda kebimbangan, saat dokter Ritonga memintanya menghadirkan sosok Daniel.


"Mungkin dengan kehadirannya kesadaran Nyonya Alya bisa lebih meningkat atau bisa saja sadar."


"Bagaimana menurutmu Kairo?" tanya Murano setelah dokter Ritonga pergi.


"Mungkin saat ini Devano sudah membunuhnya."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2