
Chang Mai tercengang dengan banyaknya pesan dan panggilan tidak terjawab dari Masayu dan juga Daniel. Jangan menutup mulutnya saat membaca pesan dari Daniel yang mengatakan "Masayu tertangkap dan nyawanya terancam."
Chang Mai menutup wajahnya dengan kedua tangan, satu persatu usahanya gagal. Padahal sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak. Chang Mai jambak rambutnya sendiri, ia terkejut saat mendengar ketukan pintu di ruangannya.
Chang Mai merapikan kembali rambut dan pakaiannya. "Silakan masuk."ucapnya
kepala asistennya muncul dari balik pintu. "Maaf dokter Chang Mai ada paket untukmu."
Kening Chang Mai mengerenyit. "Dari siapa?"
asistennya masuk ke ruangan dengan membawa paper bag berwarna merah muda.
"Tidak ada nama pengirim, tadi diantar oleh kurir."asistennya menyerahkan paper bag itu ke Chang Mai. Lalu pamit keluar ruangan.
Di dalam paper bag itu ada kotak kayu yang diikat dengan pita berwarna biru muda juga. Chang Mai mengambil kotak itu dan membukanya. Matanya membulat seketika di dalam kotak itu ada foto-foto Masayu yang sedang terikat tangan dan kakinya.
Chang Mai kembali dikejutkan dengan suara deringan ponsel. di layar ponselnya tertulis nama Murano.
"Apa kamu sudah menerima paketnya?"tanya Murano tanpa basa-basi.
"Apa yang terjadi dengan Masayu?"
"Menurutmu sendiri bagaimana?"mengabaikan tanya dan malah balik bertanya. Chang Mai menggigit bibir bawahnya Murano bisa melakukan apapun termasuk hal yang sangat mengerikan.
"Apa kamu sudah membunuhnya, Murano?"tanya Chang Mai agak ragu.
Terdengar suara tawa, Chang Mai meremas ujung blazer dokternya.
"Aku tidak membunuhnya, Kamu kan, tahu aku sudah tidak membunuh orang lagi,"ungkap Murano di sela-sela tawanya.
"lalu di mana Masayu?"dia tidak bersalah, jika mau menghukum, hukum saja aku."lirih Chang Mai berkata.
"Wanita muda itu tidak bersalah, aku yang menyuruhnya."Chang Mai memejamkan mata. Ia siap menerima konsekuensinya.
Murano mematikan sambungan telepon, membuat Chang Mei gamang. Dia menelepon Kim Liu. Menanyakan rencana mengadakan wawancara eksklusif dengan Bimbim dan ibu Nerina.
"Paman Airos dan adikku tidak setuju sangat sulit. Mereka takut pada Murano."ucap Kim Liu.
__ADS_1
Chang Mai menghembuskan nafas kesal, ia menceritakan soal tangan kanannya yang tertangkap.
"Anak buah kamu terlalu ceroboh!" Cibir pria kemayu itu.
Chang Mai mematikan begitu saja sambungan telepon, membuat Kim Liu yang ada di apartemennya marah-marah.
"Alya kembali ke kamarnya setelah hampir seharian bermain bersama Mariska. Ia menemukan selembar kertas berwarna putih di atas ranjang. Ia meraih kertas itu dan menyesap aroma jeruk mandarin yang menempel pada kertas membuatnya teringat seseorang.
"Aroma ini mengingatkan aku pada seseorang tapi siapa ya?"Alya bertanya-tanya pada dirinya sendiri berusaha mengingat. Tapi hingga kepalanya sakit tetap tidak ingat Siapa pemilik aroma ini.
Alya membaca tulisan di kertas itu tulisannya sangat rapi dan bagus
"Masihkah namaku yang ada di pikiranmu?
"Masihkah cintaku yang bertahta di hatimu?
"Masihkah aku berhak untuk merindukanmu, saat ragamu tengah bersamanya."
Kening Alya berkerut mencerna isi surat ini. "Apa maksudnya, sih?"Alya merebahkan tubuhnya di atas ranjang
****
Seperti pagi ini, saat akan berangkat ke kantor Murano hanya mencium Mariska. Bocah menggemaskan itu melayangkan protes.
"Kenapa ayah nggak cium ibu, Ayah nggak sayang Ibu, lagi ya?"
"Sayang dong. Tapi ibunya marah terus,"jawab Murano.
Mariska menarik-narik rok Alya.
"Ibu kenapa marah terus, Ibu nggak sayang sama ayah, lagi?"
Alya meraih tubuh Mariska. "Sayang, Tapi Ayah suka bohong."sindir Mariska
Murano ingin membalas ucapan Alya, tapi ia urungkan karena ada Mariska. Jangan sampai ia melihat dan mendengar orang tuanya saling debat dan teriak.
"Ayah berangkat dulu, ya."Mariska dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Di tempat lain terlihat Masayu membuka mata perlahan, ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Pelan-pelan ia bangun dan menyandarkan punggungnya ke bagian atas tempat tidur.
Matanya memindah seluruh ruangan yang bercat biru dengan aroma obat-obatan yang khas. "Aku ada di mana"tanyanya sambil mengingat-ingat peristiwa beberapa hari yang lalu.
"Waktu itu, aku naik taksi dan ada dua orang datang setelah itu tidak tahu lagi apa yang terjadi."
Masayu mendengar beberapa orang sedang mengobrol tapi menggunakan bahasa yang sama sekali asing di telinganya. Tidak beberapa lama dua orang wanita masuk. Mereka memakai baju putih khas perawat, tapi warna kulit dan postur tubuh mereka tidak seperti orang Tionghoa.
Salah satunya bicara pada Masayu, tapi ia sama sekali tidak mengerti. Masayu mencoba memakai bahasa Inggris, mereka juga tidak mengerti.
Dua perawat itu pergi. Tak Berapa lama kemudian, seorang pria berkulit putih masuk, Ia tersenyum ramah dan menjelaskan kalau Masayu sedang berada di bangkok.
"Gila Murano membuang aku sampai ke Bangkok, apa-apaan dia?"gumamnya dalam hati.
Kim Liu dan chang Mai siap melancarkan aksi pembalasannya terhadap Murano.
Mereka akan melakukan wawancara dengan Bimbim dan ibu Nerina di channel YouTube yang dibuat sendiri oleh Kim Liu.
Alya kembali lagi ke ruang bawah tanah sendirian. Untung gemboknya masih terbuka, mungkin belum ada yang menyadarinya. Ayah memeriksa semua sudut membuka semua laci yang ada di ruangan itu dan ia menemukan surat kabar terbitan tahun 90-an dan dua lembar foto.
Surat kabar itu membuat berita tentang seorang anak laki-laki pewaris perusahaan besar yang disiksa ibu tirinya hingga mengalami luka-luka yang parah. Di surat kabar itu juga memuat foto tersangka Ibu dari korban dan foto korbannya. Nama korban dan pelaku hanya disebut inisial saja si korban berinisial MA dan pelaku berinisial MP.
Dan foto itu adalah... ?
kira-kira foto siapa dan apakah ada hubungannya dengan ingatan Alya.
Foto yang pertama adalah foto seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun dia berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit dengan tangan kanan yang tertancap jarum infus. Di sampingnya ada seorang pria dan wanita.
"Oh ya, memandangnya berkali-kali. "Oh ini dokter surya dan istrinya. Ayah menutup mulutnya dengan tangan kanan. Foto kedua, foto anak laki-laki, tadi bersama dengan seorang pria dan wanita yang wajahnya ada di surat kabar sebagai pelaku kekerasan.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini."Mariska merasakan sakit lagi di kepalanya."Ah Kenapa setiap kali aku ingin mengingat sesuatu kepalaku rasanya sakit sekali."Alya menjadi kesal sendiri.
Alya mencari lagi benda atau bukti yang berhubungan dengan masa lalu Alya dan Murano. Namun, lelah mencari. Ia tidak menemukan apapun lagi. Alya segera keluar dari ruangan pengap itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN