
Alya menatap Murano dan Daniel secara bergantian. Ada rasa kekhawatiran Murano, Alya akan meninggalkan dirinya. Jika Alya sudah mengingat masa lalunya. Sementara Daniel juga merasakan hal yang sama seperti Murano khawatir, kalau Alya akan memilih Murano secara Murano lebih mapan dibandingkan dirinya.
"Tolong kalian keluar dari sini! Aku ingin berbicara kepada Kak Alya!"mohon Bimbim kepada Murano dan Daniel. Yang tak dapat ditolak oleh Murano dan juga Daniel. Akhirnya Murano dan Daniel keluar dari ruang rawat inap Alya.
Setelah Murano dan Daniel meninggalkan ruang rawat inap Alya, Bimbim langsung mendekatkan tubuhnya kepada Alya dan mendudukkan Mariska tepat di samping Aliya.
Tangan Alya mengelus wajah cantik putrinya. Ia merasa iba melihat putrinya, pastilah putrinya khawatir akan keadaannya saat ini.
"Kak, Apa Kakak sudah mengingat semuanya? katakan yang sebenarnya kepada Bimbim. Bimbim akan merahasiakan semuanya jika Kakak terbuka kepada Bimbim."ucap Bimbim kepada Alya berharap Alya berbicara jujur kepadanya.
Alya menghela nafas panjang. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya. Itu artinya kalau kalian sudah mengingat masa lalunya.
"Syukurlah kalau kakak sudah mengingat semuanya, kalau begitu kita akan segera kembali ke kampung cam. Kita lebih baik hidup di sana lebih tenang dan nyaman. daripada hidup di kota ini, dibayang-bayangi dengan pria kejam itu."ucap Bimbim yang tanpa kesal mengingat perlakuan Murano terhadap mereka.
Alya pun langsung menaruh jari telunjuknya ke mulut Bimbim. "Jangan mendikte Murano seperti itu? dia melakukan itu semua karena ada alasannya. Kakak sudah mengetahui semuanya rahasia di balik kekejaman Murano. Kita tidak boleh menyalahkan Murano dengan sepihak.
Begitu pahitnya masa kecil Murano akibat perbuatan Ibu Maya Puspita terhadapnya. Sehingga ia mengalami traumatis yang begitu mendalam. Murano Baru sembuh dari rasa trauma itu setelah berkonsultasi kepada dokter psikiater. Penyiksaan Ibu Maya Puspita, menciptakan Murano menjadi manusia yang kejam, Arogan dan angkuh.
Kakak juga baru menyadarinya. Setelah kakak menelusurinya dan bukti-bukti yang kakak dapatkan. Setelah Murano sembuh dari rasa traumatis nya, Kakak dapat merasakan kasih sayang yang begitu tulus darinya. Begitu juga dengan Mariska. Sehingga Mariska menganggapnya Ayah kandungnya. Bukan karena harta kekayaan yang dimiliki Murano. Tapi kasih sayang yang ia berikan yang begitu tulus kurang lebih satu setengah tahun belakangan ini membuat rasa cinta kakak tumbuh di dalam hati.
Entahlah, Kakak juga tidak mengetahui semenjak kapan kakak memiliki rasa terhadap Murano. Bayang-bayang penyiksaan Murano terhadap Kakak menghilang begitu saja, dengan perhatian dan sikap manis Murano lakukan terhadap Kakak dan juga Mariska.
Kakak tidak tahu harus berbuat apa saat ini. yang pasti kakak tidak ingin kehilangan Murano juga. Karena kakak mengetahui dia pasti akan sangat kecewa dalam hidupnya. kehilangan orang-orang yang sangat ia sayangi semenjak ia kecil.
Bimbim hanya terdiam mendengar penjelasan Alya. Bimbim juga melihat ketulusan hati Murano yang begitu menyayangi kakaknya. Murano juga mengatakan kalau dirinya rela kehilangan harta kekayaannya, asalkan Alya akan tetap bersamanya.
__ADS_1
"Menurutmu apa yang harus kakak lakukan Bim? Daniel dulu juga baik dan cinta kepada kakak. Kakak juga demikian, Tapi entah mengapa rasa cinta kakak juga begitu besar terhadap Murano"ucap Arya kepada Bimbim adiknya karena dirinya sangat bingung saat ini.
Bimbim menghela nafas panjang. Lalu ia pun angkat bicara. "Kalau begitu ikuti kata hati kakak, Bimbim yakin hati kakak tak akan berbohong."sahut Bimbim yang dibalas anggukan dari Alya.
Sementara Mariska hanya terus menatap ibunya, sambil mengelus-elus wajah pucat Alya.
"Ibu cepat sembuh ya, kalau Ibu sakit Ayah Murano pasti sedih. Mariska juga sedih dan merasa kesepian karena Ibu tidak ada di rumah. cepat sembuh Ibu, Ayah Murano terus menangis karena takut Ibu kenapa kenapa."ucap Mariska yang mampu membuat hati Alya dan Bimbim terenyuh mendengar ucapan sang keponakan.
****
Di tempat lain Alex sudah merencanakan Hal terbesar yang akan menghancurkan Murano. ia benar-benar sudah merencanakan dengan matang-matang. Menambah personil agar rencana mereka berjalan dengan mulus.
Alex mengetahui kalau saat ini Alya sedang dirawat di rumah sakit. saat jam besuk Telah usai Bimbim keluar dari ruang rawat inap Alya. Karena dokter menganjurkan Alya harus banyak istirahat. Sehingga Bimbim pun keluar membiarkan Alya istirahat dengan nyaman tanpa suara berisik Mariska dan suaranya.
Sedangkan Daniel dan Murano masih mondar-mandir di depan ruang rawat inap Alya. Tiba-tiba saja suara deringan ponsel Daniel terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor ponsel yang menghubungi dirinya dokter Chang Mai, yang memberitahu kalau saat ini Ibu Maya Puspita alias ibu Nerina saat ini dirawat di rumah sakit. Karena jatuh pingsan mendengar Ibu Maya Puspita alias Ibu nerina jatuh pingsan dan dirawat di rumah sakit. Daniel langsung berlalu dari sana meninggalkan Murano begitu saja. ia berniat untuk langsung menghampiri Ibu Nerina.
"Terus pantau! aku tahu pasti banyak menginginkan kehancuranku karena mereka tahu saat ini masalah pribadiku begitu banyak. Tolong bantu aku untuk tetap melindungi semua aset-aset yang kita miliki." ucap Murano kepada Devano Begitu juga dengan Kairo dan Bimo.
Tanpa Murano sadari, beberapa orang masuk ke ruang rawat inap Alya dan menutup mulut Alya dengan saputangan Yang sudah di oleh obat bius agar Alya tidak dapat berteriak meminta tolong.
Kini Alya sudah berada di sebuah mobil berwarna hitam, mereka membawa Alya ke sebuah gedung tua yang sudah lama tidak digunakan.
Terlihat gedung itu sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba, Banyak debu dan kotoran-kotoran lainnya, sampah juga berserakan di sana rerumputan hijau sudah meninggi membuat aura gedung tua itu begitu menakutkan.
Alya yang belum sadarkan diri akibat obat bius itu, tangan dan kakinya diikat di kursi kayu. Sementara mulutnya ditutup dengan lakban hitam agar wanita itu tidak dapat berteriak minta tolong kepada siapapun yang melintas di sana.
__ADS_1
"Rencana sudah berjalan dengan lancar target sudah ada di tangan kita, Bos!"ucap seseorang yang bertubuh tinggi besar itu di dalam sambungan telepon selulernya. yang entah sama siapa ia berbicara, sayup-sayup Alya mendengarnya. Karena perlahan obat bius itu sudah mulai menghilang dari tubuhnya.
Perlahan Alya membuka kedua kelopak matanya. Berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia menelisik seisi ruangan, ruangan yang begitu luas tapi begitu menakutkan. Di mana-mana sarang laba-laba Banyak sampah juga berserakan ada aroma tak sedap dari samping sudut kiri membuat Alya merasa tidak nyaman.
Ia berusaha melepaskan dirinya berharap ia terlepas dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya. Alya tidak mengetahui Siapa orang yang menculiknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Alya berusaha untuk menjerit, tapi ia tidak mampu melakukannya, karena mulutnya sudah disumpal dengan lakban hitam oleh algojo yang menculik dirinya.
"Siapa kalian? Mengapa kalian berniat menculik saya? Saya tidak memiliki apa-apa." ucap Alya dengan nada yang tidak jelas karena mulutnya masih tertutup. Tapi sepertinya pria besar itu mengetahui apa yang diucapkan oleh alya. Membuat lelaki itu pun tertawa ngakak.
"Kamu cantik juga ternyata, Sepertinya kita bisa main-main terlebih dahulu. Sebelum Bos datang. Kamu boleh melayaniku juga sekarang ." ucap pria itu dengan wajah mesumnya membuat Alya semakin ketakutan ia tidak mampu berkata-kata.
"Tolong lepaskan aku!
"Apa salahku kepada kalian?
"Aku tidak mengenal kalian?
"Kasihani aku, anakku pasti menungguku di rumah."bilur bening sudah membasahi wajah cantik Alya.
Tapi lelaki itu seolah tidak peduli, ia berniat ingin memperkosa Alya. Alya berusaha untuk berontak walaupun tangan kaki dan mulutnya udah diikat. Hingga tiba-tiba saja Alex datang. menghentikan Atensi bertubuh tinggi besar itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN