HASRAT TUAN MAFIA

HASRAT TUAN MAFIA
BAB 18. KEDATANGAN GERRY ALIAS DEVANO _ HTM


__ADS_3

Pukul sebelas malam, Devano tiba di bandara. Ia langsung check in di sebuah hotel kelas melati, atau hotel kelas menengah ke bawah yang lokasinya tidak jauh dari bandara. Devano sengaja menginap di hotel melati karena tidak perlu menunjukkan kartu identitas. lokasi yang dekat bandara juga menjadi pertimbangan


Di lobby Hotel ada dua customer service yang pakaian dan make up nya sangat mencolok. penerangannya pun redup terdengar suara musik memekakkan telinga


"Tuan kamar nomor tiga belas ya, di lantai tiga dekat lift." ucap salah satu customer service sambil mengedipkan mata.


Devano tersenyum ramah. "Terima kasih ya


Tuan, kalau butuh layanan plus-plus bisa hubungi nomor ini dijamin memuaskan."


wanita itu memberikan sebuah kartu nama sambil mengedipkan matanya. Kembali Devano menerimanya dengan terpaksa.


Devano menunggu di depan lift hingga seseorang memberitahunya, jika lift itu rusak.


"Sudah rusak cukup lama Tuan." ucap salah satu karyawan hotel.


Devano berdesak kesal. Terpaksa naik tangga dan cukup menguras tenaga. Keadaan kamar tidak terlalu buruk, lampunya terang, bersih dan rapi ada televisi kecil dan kipas angin gantung, kamar mandinya kecil tidak terdapat shower.


"Dasar payah." keluhnya


Devano sudah mengetahui informasi tentang Daniel dan dari Kairo, sebelum membunuhnya ia berniat bertemu langsung dengan pria yang sangat dicintai Alya. Skenario pembunuhan Daniel sudah tersusun rapi di otaknya.


****


Pagi yang cerah Murano membuka jendela lebar-lebar memandang langit biru sambil mendengarkan kicauan burung.


"Masuk." teriak Murano saat pintu kamar diketuk


Kairo masuk sambil menggendong Mariska yang sudah mandi.


Pagi ini Murano akan mengajak Mariska ke kamar Alya lalu mengajaknya jalan-jalan ke taman yang ada di sekitar rumah sakit.


"Selamat pagi Alya, sapa murano sambil mengecup keningnya. lihat, gadis kecilmu sudah mandi dia cantik dan lucu."


Murano meletakkan Mariska di dekat kaki sang Ibu. Murano menggenggam tangan Alya air matanya menetes satu demi satu. Terakhir kali ia menangis saat Maya Puspita menyulut pahanya dengan besi panas. Saat itu ia berteriak sekencang-kencangnya. Pembantu dokter Surya mendengar dan melaporkannya ke dokter Surya, akhirnya Murano berhasil diselamatkan.


"Alya sayangku, bangunlah jangan kamu hukum aku dengan cara seperti ini. bangunlah dan pukul aku sepuas mu. Aku sangat tersiksa melihat kamu diam seperti ini. Aku takut, cemas, sedih juga marah pada diriku sendiri, Bangunlah kita main bersama dengan Mariska." Murano mencium tanganmu Alya. Mariska pun ikut mencium tangannya.


Tanpa disangka jari-jari tangan Alya bergerak beberapa kali. Murano berlari memanggil dokter Ritonga dan perawat. Murano hilir mudik di depan pintu, rasanya campur aduk antara senang dan cemas. Akhirnya dokter Ritonga keluar dari ruangan Murano mencecar pertanyaan kepada dokter Ritonga


"Nyonya Alya mengalami sedikit kemajuan, sudah bisa menggerakkan jari tangan dan kaki." ujar dokter Ritonga namun belum bisa dipastikan kapan ia akan sadar

__ADS_1


Murano duduk dengan lemas. sudah sangat berharap kalian Alya akan sadar dan sembuh. dokter Ritonga menepuk pundaknya.


"Sabar Tuan, semua butuh proses tetap ajak dia bicara. Walau tidak bisa bicara, dia masih bisa mendengar." ucap dokter Ritonga


****


"Bagaimana Kak, Apa rasanya nyaman?" tanya Bimbim


"Ini bagus sekali Bim, kamu memang berbakat dan terampil." Puji Daniel yang sedang mencoba tongkat untuk membantunya berjalan yang dibuatkan oleh Bimbim.


Senyum remaja yang bercita-cita menjadi seorang polisi itu, mengembang syukur kalau Kakak suka.


"Permisi." teriak Devano yang menyamar menjadi pembeli kerajinan tangan dari bambu yang dibuat oleh Bimbim dan Daniel.


Mendengar ada yang memanggil, Bimbim bergegas keluar. "Ada yang bisa aku bantu Tuan?" ucap Bimbim ramah


"Iya, perkenalkan namaku Gerry." Devano mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Bimbim


"Aku mencari banyak kerajinan bambu untuk dijual lagi ke kota. Dan aku dengar dari beberapa orang, di sinilah tempatnya." ucap Gery alias Devano


Bimbim tersenyum lebar. "Iya, itu betul sekali mari masuk Tuan."


"Panggil saja kakak." ucap Gerry alias Devano


Bimbim memperkenalkan Gerry ke Daniel. Mereka pun berbincang-bincang soal kerajinan tangan dan harganya akhirnya tercapai suatu kesepakatan, besok Daniel yang akan mengantarkan pesan Gerry ke sebuah gudang dekat bandara.


"Besok aku ikut sama kakak ya." pinta Bimbim


"Besok kamu kan sekolah." tolak Daniel. "Tenang saja, kondisi kaki kakak Daniel sudah kuat untuk menyetir si hitam."


"Si hitam? tanya Gerry


Daniel dan Bimbim tertawa


"Si hitam adalah sebutan kami untuk mobil itu. Bimbim menunjuk sebuah mobil bak tua berwarna hitam itu. Walau sudah tua, tapi masih kuat menempuh perjalanan panjang.


"Oh...." Gerry ikut tertawa berkenalan dan bicara langsung dengan Daniel membuat Devano ragu untuk membunuhnya. Devano juga memikirkan bagaimana perasaan Alya kalau tahu suaminya terbunuh dan yang membunuhnya adalah dirinya yang sudah dianggap kakak.


"Ada apa Kok melamun?" tanya Daniel


Devano menggeleng. "Tidak apa-apa mata Devano tertuju pada sebuah foto dengan figura berbintang warna emas.Itu adalah foto pernikahan Daniel dan Alya.Alya terlihat sangat cantik dan bahagia.

__ADS_1


"Ini foto pernikahan kamu?" tanya Devano


"Iya betul sekali, Daniel tersenyum tipis. Istriku cantik kan?"


"Lalu ke mana istrimu?" Devano pura-pura tidak tahu.


Raut wajah Daniel berubah sedih.


"Dia pergi menuju masa depan yang jauh lebih baik."


"Tidak....tidak.....,kakakku terpaksa pergi meninggalkan kami. Dipaksa seorang yang kejam."


"Dipaksa?" Devano bertanya


Bimbim menceritakan apa yang menimpa keluarganya dengan penuh emosi. "Aku tidak akan pernah memaafkan Tuan Murano kalau terjadi sesuatu pada Kakak dan keponakan aku.


Devano membayangkan andai mereka tahu apa yang dialami alya setiap hari. entah bagaimana respon Bimbim dan Daniel.


"Daniel Apa kamu masih mencintai istrimu?" tanya Devano


"Aku masih sangat mencintainya, tapi aku harus realistis sebagai seorang pria. Aku tidak sempurna cacat dan miskin


"Lalu kamu mengikhlaskan dia pergi?" tanya Devano lagi


"Aku harus belajar ikhlas." lirihnya.


"Itulah yang aku sayangkan dari Kak Daniel. gampang menyerah cyber Bimbim. "Kak Alya juga mencintai kak Daniel, Dia terpaksa meninggalkan kita. Pria kejam dan licik itu sudah mengancamnya." ucap Bimbim berapi-api.


Devano meneguk teh manis hangat yang disediakan oleh Bimbim. "Aku setuju dengan Bimbim. Kamu harus berjuang merebut dia kembali Daniel."


Daniel tertegun. Sejak beberapa hari yang lalu ia selalu memimpikan Alya berat perasaannya campur aduk antara mengikhlaskan atau berjuang merebutnya kembali.


"Ikuti kata hatimu kawan, Kalau kamu benar-benar mencintainya kamu harus memperjuangkannya. Jangan mudah menyerah pada keadaan." Devano menepuk-nepuk pundak Daniel.


Daniel mengangguk penuh keyakinan. senyumnya kembali mengembang semangatnya kembali membara.


"Terima kasih kawan."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2