
"Apa sakit perutmu sudah benar-benar sembuh?"tanya Murano keheranan saat melihat Bimo masuk ke mobil.
"Sudah, Tuan. Sekarang aku bisa melaksanakan tugas dengan maksimal,"jawab Murano sambil mengacungkan ibu jarinya. "Ada beberapa kabar Yang aku terima, Tuan."
"Apa saja?"tanya Murano, matanya masih terpaku pada layar ponsel. Daniel memasang Indra pendengarnya dengan baik.
"Sopir kita sudah melewati masa kritis, Tuan."kabar pertama Bimo.
"Pindahkan saja ke rumah sakit dokter Surya,"sahut Murano. Bimo mengangguk.
Kabar kedua yang akan Bimo sampaikan adalah, "Master Liu menutup pusat pelatihan dan enggak jelas kapan akan dibuka kembali."
"Kenapa bisa begitu?"tanya Murano.
"Entahlah, tuan. Tidak ada kejelasan lebih lanjut. Beberapa petugas keamanan di sana juga terkena pemutusan hubungan kerja."
Kabar ketiga yang Bimo sampaikan tentang dokter Chang Mai yang sedang berlibur seorang diri ke Kampong camp.
"Tahu dari mana dia ke Kampong Camp?"
Murano mematikan ponselnya dan menaruhnya ke dalam jas.
"Dari instastory-nya Tuan,"jawab Bimo yang sebenarnya memendam rasa pada janda seksi itu.
Murano tertawa. "Sesibuk ini kamu masih sempat stalking instastory orang lain."
Murano geleng-geleng kepala. "Tapi, dari semua tempat yang bisa ia datangi Kenapa harus libur di Kampong Camp?"
"Itu juga yang sedang aku cari tahu Tuan. karena dia mengajukan cuti juga sangat mendadak."
Kedatangan Murano disambut riuh wartawan yang menunggu Sejak pagi. Murano dan pengawalnya kewalahan menghadapi wartawan. Murano melambaikan tangan dan tersenyum manis ke arah kamera.
Murano langsung menuju ke ruang rapat diikuti Bimo, semua peserta rapat yang berjumlah puluhan orang sudah berkumpul mereka adalah direktur dan manajer masing-masing anak perusahaan. Semua berdiri dan membungkuk memberi hormat.
"Selamat pagi semua,"sapa Murano Seraya menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Selamat pagi Tuan,"jawab mereka serempak lalu kembali duduk.
"Kalian pasti sudah tahu pemberitaan negatif yang beredar tentang perusahaan kita." ucap Murano membuka rapat.
"Aku tidak akan menuntut secara hukum, yang harus kita lakukan adalah bekerja dengan baik dan kompak."
Semua peserta rapat manggut-manggut Murano melanjutkan kembali ucapannya.
"Namun, kita harus meredam kehebohan di masyarakat dengan sesuatu yang spesial dan bisa menarik simpati masyarakat juga. Dari divisi Hotel apa sudah ada program?"
"Sudah ada, Tuan!"jawab seorang wanita berkaca mata duduk di belakang.
"Silakan katakan,"ucap Murano
__ADS_1
Wanita itu berdiri, ia tampak gugup karena semua mata menatapnya. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk mengurangi gugup
nya.
"Terima kasih atas kesempatannya, Tuan." Ucap wanita yang sudah bekerja di Murano company selama puluhan tahun itu membuka pembicaraan.
"Kalau memberikan diskon atau acara tahun baru yang mengundang artis itu sudah biasa, Bagaimana kalau kita akan ada akan nikah massal yang pesertanya pasangan dari kalangan tidak mampu."
Murano terlihat tertarik dengan ide wanita itu. "Lanjutkan!"perintahnya.
"Nantinya semua keperluan mereka kita yang sediakan, supaya lebih seru kita adakan door prize liburan sebagai hadiahnya. Nantinya awal acara hingga akhir kita siarkan di televisi, Seperti acara variety show. Aku perhatikan belum ada acara seperti itu. Itu program dari kami, Tuan."wanita itu membungkuk lalu kembali duduk.
"Itu ide yang bagus, aku suka!"Murano bertepuk tangan, diikuti peserta rapat yang lain. "Tapi ingat acaranya harus dikemas dengan menarik dan senatural mungkin, kerjasama lah dengan channel televisi pesaing berat milik Liu Kim."ucap Murano.
"Wah pesaing berat Liu Kim itu saat ini adalah Horison channel Tuan."celetuk salah satu peserta.
"Iya, aku sudah pernah mendengarnya, bekerja sama lah dengan mereka."
"Baik Tuan!"
lalu masing-masing divisi pun memberikan program terbarunya yang tahun ini bertema keluarga.
"Semua program yang kalian ajukan sangat bagus, terima kasih."Murano berdiri.
"Laksanakan dengan sebaik-baiknya, kalau ada sesuatu yang harus ditambah silakan bicarakan langsung di ruanganku."
Bimo menarik kursi di samping Murano.
"Tuan, wartawan semakin bertambah banyak, Apakah kita harus mengadakan konferensi pers?"
Murano berpikir dan menimbang menimbang yang dikatakan oleh Bimo, tapi kemudian ia menggeleng. "Tidak usah, biarkan mereka penasaran, kalau capek nanti mereka berhenti sendiri."
Tuan Airos menemui Kim Liu di kantornya. Kim Liu global media. Gedung berwarna-warni dan bertingkat sepuluh itu mayoritas karyawannya adalah anak-anak muda.
"Kamu harus menghentikan pemberitaan soal Murano company Kim! tegas Tuan Airos
"Aku tidak bisa menghentikan apa yang baru saja aku mulai paman."ucap Kim Liu dengan gayanya yang angkuh.
Tuan Airos geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakannya itu. "Dia bukan orang sembarangan, sangat berbahaya."
Kim liu tertawa. "Aku tahu, paman. tapi dia adalah orang yang sombong dan akibat pemberitaan itu penjualan surat kabar ku meningkat 100% dan acara-acara di
Kim global media menempati rating teratas."
Tuan Airos yang putus asa menghadapi Kim Liu memutuskan untuk pergi. Sebelum menutup pintu ia berpesan,
"Terserah kamu melakukan apa, aku sudah memperingatkan soal Murano Andalas!"
****
__ADS_1
Chang Mai menemui Bimbim dan bicara dengan remaja tanggung yang masih menjalin perawatan di rumah sakit.
"Maaf, gara-gara aku rencananya gagal."Bimbim menunduk sambil *******-***** ujung selimut
"Ini bukan salah kamu, memang perencanaannya kurang matang dan banyak hal tidak terduga,"hibur Chang Mai.
"Suatu saat nanti kalian akan kembali berkumpul."
"Iya, kuharap begitu. Aku merindukan mereka." remaja dengan rambut kemerahan akibat terlalu sering terkena matahari itu menunduk matanya mulai berkaca-kaca. Membayangkan betapa rindunya Bimbim terhadap Alya dan juga Mariska, wanita yang selama ini mendukung Bimbim dalam situasi apapun.
Chang Mai menepuk pundaknya. "Bagaimana kalau kamu dan nerina ikut aku ke Phnom Penh "
"Bagaimana dengan sekolah dan usaha kami di sini? Bimbim mengusap sudut matanya yang basah.
"Kamu bisa sekolah di sana. Soal usaha...
Chang Mai berpikir. Mengetuk-atuk jari-jarinya ke tempat tidur.
"Bisa membuka usaha baru di sana!"
Chang Mai terus meyakinkan Bimbim untuk ikut bersamanya ke Phnom Penh.
"Kesempatan bertemu Kak Alya lebih lebar."
"Aku akan bicarakan ini dengan ibu Nerina."? jawabnya.
Chang Mai mengangguk lalu pamit. Mereka tidak menyadari Jika ada mata-mata yang sudah disiapkan Bimo di sana. Mata-mata itu mengikuti Chang Mai hingga ke hotel, ternyata Master Liu juga menginap di hotel yang sama.
Mata-mata itu segera melaporkan temuannya ke Bimo, lengkap dengan beberapa foto-foto. tanpa membuang waktu, pria dengan rambut berjambul itu segera melapor ke Murano..
"Sebenarnya ada apa dengan dokter Chang Mai?"tanya Murano kesal.
"Aku belum tahu motif di balik semua ini, tuan"
Tangan kanan menopang dagu, sedangkan tangan kiri mengetuk-ngetuk pulpen kemeja. Murano sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Aku tidak punya masalah dengan wanita itu atau dengan Master Liu. Kematian ayahnya Vicky atau suami Chang Mai murni kecelakaan saat sedang balapan, Lagian suaminya itu sahabatku dari kecil.
"Aku akan menyelidiki latar belakang Chang Mai dan master Liu."
Murano menghela nafas berat. Akhir-akhir ini masalah datang bertubi-tubi, membuatnya pusing. "Iya kamu lakukan saja."pria itu mengendorkan dasinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1