
"Mama tau pas kemarin pagi pagi banget Putri ke tokonya beres-beres dan malemnya dia bongkar lemari mau tata ulang baju-baju aku supaya muat sama baju-bajunya dia, jadi dia capek banget, makanya dia belom bangun"
Lingga mencoba mengatakan itu dengan sesantai mungkin
"Gimana rasanya?" jeda "jadi suami"
Perkataan mama membuat jantung lingga hampir berhenti
"Sama aja"
Cuek
"Kalian bahagia?"
"Mama ada sinyal buat dapat cucu cepet nih?"
"Mah aku dan Putri menikah hanya karena permintaan dan permohonan pak Presiden yang menjabat sekarang"
"Kami tidak punya perasaan satu sama lain"
Lingga mengatakan hal yang jujur, dia tidak memiliki perasaan maupun mencintai Putri
Setelah mengatakan itu dia menengguk susu dicangkirnya sampai habis "ma Lingga pergi ya" langsung menuju luar dan pergi, suara deru mobilnya keluar bisa terdengar.
"Kamu enggak bakat akting Lingga"
Ratna tau anaknya baru saja mencicipi manisnya Putri, tetapi kenapa dia mengatakan hal seperti itu
"Apapun itu semoga lambat laun mereka akan saling menerima".
Putri terbangun dari tidurnya jam delapan pagi dia mencari manusia yang tidur bersamanya tadi malam dan nihil Lingga tidak ada, sedikit menyesal bangun kesiangan seharusnya dia bisa bangun lebih pagi dan membantu mama mempersiapkan sarapan pagi hari ini, tapi apakah Putri masih punya wajah di depan Lingga setelah kejadian semalam, tidak tidak dia tidak akan sanggup menatap wajah Lingga apalagi mengajaknya bicara, malu jika mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
Setelah membersihkan tubuh, Putri turun dan menemui mama, namun mama ternyata sedang menemani papa di halaman belakang, Putri merasa tidak enak jika mengganggu, dia mengisi waktunya dengan menelepon Dina pegawai tokonya satu-satunya
"Hallo din"
"Iya kak putri"
"Gimana toko?"
"Aman kak, kemarin banyak yang beli bunga seger, tapi kakak tau sendiri stok bunga seger kita cuma sedikit"
"Enggak papa, kita enggak bisa memprediksi pembeli, kalo kita banyakin bunga segar nanti yang beli dikit bunganya layu kita yang rugi"
"Iya kak"
"Eh Din gimana UN kamu?"
"Udah selesai kak, tingga nunggu surat kelulusan, dan aku mau langsung nyari kerja"
"Kamu enggak mau kuliah?"
"Enggak, ngabisin uang dan waktu aja, dan kalo kak Putri punya rencana nutup toko ini, aku mau ngelamar kerja ditempat lain nanti kalo ijazah SMA udah keluar"
"Kakak juga enggak tau Din, lihat nanti gimana kedepan, tapi untuk sekarang toko masih bukak terus kok"
"Iya kak"
"Putri"
Itu suara mama Ratna
__ADS_1
"Eh iya ma?"
"Yok kita masak buat siang, bareng mbak, kamu lagi telponan kok di dapur?"
"Iya ma aku tadi mau nyari mama di dapur eh pegawai ku di toko nelfon"
"Iyaa"
Putri kembali mengangkat handphonenya ke telingan
"Dina udah dulu ya, mertua kakak manggil"
"Iya kak".
Mama membuka kulkas daging
"Ada iga sama buntut"
"Masak sop enak kali ya"
"Iya ma sop iga sama sop buntut"
Saut Putri
"Kamu juga suka sop?"
"Sukak banget ma" putri tesenyum cengir
"Mama sih sukak banget sama sop iga"
"Kamu bisa masaknya?"
"Insyaallah bisa ma, putri enggak pernah beli, masak sendiri lebih enak"
"Berarti kamu pinter masak dong"
"Bisa sedikit sedikit ma"
Putri ragu untuk menyombongkan diri
"Bagus berarti Lingga enggak harus beli terus ya hhahahha"
Putri cuma tersenyum
"Ma aku yang masak sop buntut ya"
"Okey jadi mama masak sop iga, mbak ida bantuin ya"
"Siap ibu"
Saut mbak ida.
Semua makanan sudah siap di atas meja makan
"Putri kamu anterin ke kantor Lingga ya"
"Biar enggak makan di luar"
"I Iya ma"
"Angetin dulu kayak kemarin trus kalo orangnya belum selesai rapat, kamu taro aja di atas meja kerjanya kayak waktu itu"
__ADS_1
"Baik ma"
"Eh Putri mama juga mau ngasih tau siang ini abis makan siang mama sama papa mau ke swiss"
"mama sama papa memang lebih sering ke luar negri selain buat pengobatan papa kami memang suka jalan-jalan" Ratna merendahkan suaranya "sekalian bulan madu hhahaha"
Putri ikut tertawa sebentar dan kembali berbicara biasa
"Em ma papa sakit apa ya?"
Ratna terdiam sebentar
"Awalnya kata dokter Autoimun trus udah di obatin empat bulan trus sebulan setelah itu setelah di cek lagi kata dokter ada indikasi tumbuhnya tumor, tumornya di angkat trus ada lagi, begitu terus sampe lebih dari lima kali tapi kata dokter itu bukan kangker masih tumor, dan beberapa waktu lalu juga Autoimun nya kembali, kata dokter harus banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung Abumin, trus barusan kemarin dokter manjelaskan tumor-tumor yang semakin aktif ini memiliki kemungkinan besar manjadi kangker"
Ratna menjelaskan
"Putri enggak tau ma maaf, semoga papa cepet sembuh"
Putri ikut sedih dengan keadaan papanya lingga eh maksud nya papa mertuanya Putri
"Dan put kata papa kemarin, kalo Lingga udah punya anak dia baru semangat lagi menjalani pengobatan"
Putri terdiam
"Semoga kamu cepet ngisi ya"
Ratna tersenyum
"Dah gi anter makanannya udah jam sepuluh lebih, minta anter pak Arip di depan, udah selesai kamu anter baru kita makan sama-sama"
"Baik ma"
Putri naik ke atas untuk berganti pakaian.
Dika dan Lingga bisa makan bersama di ruangan Lingga karena kali ini ada dua lauk yang kirim ke kantor, Lingga makan sop buntut, Dika makan sop iga
"Ini kayaknya stri kamu yang masak?"
Dika
"Dari sebelum nikah udah pernah di nganter sop, pasti ini mama yang masak"
"Dulu kan cuma satu sekarang dua, pasti ini karena udah dibantuin istri kamu"
"Mmm bisa jadi"
"Btw si Rangga udah di Palembang?"
"Iya dia mau ninjau tol Palembang - Indralaya"
"Target tahun depan jadi kan?"
"Aku salut sama pak Herman, ada banyak daerah yang beliau bangun bahkan meski bukan lumbung suara beliau di pemilihan kemarin"
"Ya tapi efeknya ada banyak dana yang digunakan untuk infrastruktur dibanding sektor lain, dan hutang negara juga jadi bertambah"
"Iya itu negatifnya, semua hal punya resiko nya masing-masing"
"Iya bener pembangunan juga dampaknya jangka panjang, banyak keputusan dengan resiko besar harus diambil sebagai pemimpin negara"
"Nah gua jadi pemimpin keluarga aja kayaknya belom mampu hhahahha"
__ADS_1
Lingga terdiam.