Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Pekerjaan Lingga


__ADS_3

Putri masuk dengan menyebut nama pak Herman dan menunjukan pesan singkat mama lingga kepada resepsionis, saat sudah membuka pintu ruangan kerja Lingga, putri disambut oleh harum maskulin serta keadaan ruangan yang lebih pantas disebut hotel itu, di kiri ada meja kerja dengan segala perangkatnya namun di sebelah kanan ada sisa ruangan yang di pasang sofa besar di sudutnya lagi ada meja dan lemari minimalis, toilet ada di sisi belakang ruangan.


"Wow"


Putri ber waaaaaw panjang namun pelan saat pertama kali masuk, dia beruntung Lingga sedang tidak ada di ruangannya saat ini jadi tidak harus melihat ekpresi terkejutnya.


Drittt


Notifikasi muncul di heandphone putri menampilkan mama Lingga mengirim pesan lagi bahwa putri harus meletakan makanannya tepat di atas meja kerja Lingga karena kalau tidak lingga tidak akan menyentuh makanan itu jika hanya diletakan di meja dekat sofa dan dia akan memilih makan di luar, dan satu lagi pesan mama Lingga yang membuat pekerjaan Putri bertambah yaitu makanan itu harus di hangatkan dulu di dalam microwave didalam lemari.


Putri spontan menoleh ke lemari itu


"Baiklah ini akan cepat"


Berjalan ke arah lemari lalu membukanya


"Ini lemari minimalis yang dalamnya tidak minimalis" ucap Putri pertamakali


Kita bisa melihat di dalam lemari ini ada lampu sendiri yang berfungsi memperlihatkan isinya, selain microwave didalamnya ada rice cooker,  alat untuk memasak air elektronik, penyeduh kopi sederhana, piring berbaris rapi, sendok garpu, cangkir mug bergantung, dan beberapa toples berisi kopi, gula, dan teh. Namun satu hal yang Putri dapati dan membuatnya kecewa, putri mendapati debu dan tanda bahwa barang-barang ini tidak pernah di pakai dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Gila"


"Saat barang-barang di dapurku yang sudah tua itu tetap aku paksakan kerja romusha, di sini perlengkapan mahal ini malah menganggur dan memakan gaji buta"


Rutuk putri.


Sudah dua jam Lingga dan Dika mengurung diri di ruang rapat bersama orang dari perusahaan pengembang


"Menjabarkan lagi bahan-bahan ini satu persatu hanya membuang waktuku" Lingga berucap dingin ke arah orang yang memperesentasikan ulang proposal proyek itu


"Beton dan besi itu tidak bisa menggandakan diri sendiri didalam file"


Lingga mengangkat alis


Diam sejenak


"Beri tahu bos kalian dan sampaikan pada rapat internal kalian, bahwa jika ingin membengkakan angka lakukanlah pada harga pekerja dan waktu lama pengerjaan, seperti yang banyak dilakukan pengembang lain"


Sedikit naik nada bicara Lingga

__ADS_1


"Kami tidak akan bersuara tentang itu saat kami memang tidak ditanya dan tidak terseret pada kasus bodoh ini"


Orang-orang dari perusahaan pengembang hanya memperhatikan Lingga berbicara dengan seksama


"Ganti angka-angka pada harga bahan-bahan dan pindahkan pada tempat lain dimana perusahaan kami tidak terlibat"


Final Lingga


"Lingga kami tidak mungkin tidak membagi keuntungan pada kolega proyek kami, jadi jangan berbuat seolah-olah kami mencurangi kalian " Pria paruh baya dengan perut buncit berbunyi dengan ramah dan senyum


"Saya tidak tertarik dan juga tidak berminat untuk mencurangi pemerintahan"


Laki laki itu tersenyum smirk dengan sangat jelas seolah-olah berkata


"Tentu saja, karena keponakan presiden ini ingin sok suci dan menyelamatkan rezim dimana keluarganya berkuasa"


"Baiklah-baiklah kita buat mudah saja, kami akan mengganti angkanya hanya saja kalian tetap diam untuk hal ini, sudah  begitu saja saya sudah bosan di ruangan ini" pria paruh baya itu berbicara lagi


"Ya baguslah" Lingga berbunyi singkat

__ADS_1


"Terimakasi" dika menyalami satu-persatu orang-orang dari perusahaan pengembang itu sebagai tanda mereka harus segera meninggalan ruangan ini.


Lingga dan Dika masuk ke keruangan kerja lingga dengan beberapa kali mematahkan leher untuk mengatasi ketegangan urat-urat leher mereka yang lelah pada jalannya rapat pagi ini.


__ADS_2