
Rumah mewah ini kosong, Putri sedang berada didalam kamar yang juga tidak kalah mewah, sendirian, dipikir tidak ada bedanya tidur di toko dan dirumah suaminya ini, hanya ada mbak Ida dan beberapa ART dibawah yang hanya datang saat masak dan bersih-bersih, setelah semua selesai mereka akan pulang, tapi apa yang harus dibersihkan kan? tidak ada anak-anak atau aktivitas memasak yang dikerjakan ditambah lagi masak untuk apa, orang-orang di rumah ini lebih sering makan diluar, itulah info dari mbak Ida waktu Putri mengobrol sebentar saat makan malam tadi, malam ini Lingga di Bali, Raka tidur di luar dan ternyata sudah biasa Raka tidak pulang ke rumah, entah karena sibuk sama kegiatan kedokteran atau memang tidak merasa nyaman di rumah, mbak Ida juga bilang kalau lebih baik Raka sendirilah yang bercerita tentang pribadi dirinya sendiri dari pada Putri mendengarnya dari asisten rumah tangga yang bahkan hanya menguping pembicaraan didalam rumah, Putri tertidur ditemani pikiran-pikiran mengenai itu semua di kepalanya.
Denpasar jam sepuluh malam
Lingga duduk di tepi restoran bergaya modern yang berada di hotel The Mulia Hotel yang menghadap langsung ke pantai, semilir angin dan musik menemani diamnya dengan seorang wanita , Anita Bahri perempuan berkilau yang dulu saat kuliah hanya bisa ditatap dari jauh oleh Lingga, sudah sangat lama rasanya Lingga tidak melihat perempuan seperti Anita lagi, ya hanya Anita yang bisa menjadi Anita, Lingga anak orang kaya, Anita juga anak orang kaya karena mereka memang kuliah ditempat paling elit pada saat itu, saat itu Anita sudah punya pacar dan pacarnya adalah cowok paling tajir dikampus mereka, Lingga memang kaya tapi dia hanya anak dari petinggi BUMN sementara pacarnya Anita anak dari pemilik salah satu tambang batubara terbesar di Indonesia.
Jam delapan malam, Lingga tentu saja memenangkan tender pemasok bahan untuk pembangunan tol besar itu, perusahaannya adalah calon terkuat selain karena dia adalah keponakan Presiden perusahaan Lingga juga terkenal sebagai produsen besi rangka terbaik saat ini.
Tender baru saja dimenangkan setengah jam yang lalu, sambil bersalaman dengan banyak kolega bisnisnya Lingga mengarah ke launch dinner di ballroom hotel, banyak yang membahas bisnis disini, meskipun mulut sedang menyantap makanan tapi telinga tidak henti-hentinya mendengar pembicaraan proyek-proyek baru tentu saja karena Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun dari Sabang hingga Merauke, Lingga diam dan melihat lurus ke depan didalam hatinya ia bersyukur bisa masuk kedalam industri ini pada waktu yang tepat dan kondisi yang sesuai, harus di akui dengan om Herman memenangkan pemilu kemarin membuat semuanya menjadi lebih mungkin, tapi tunggu dulu siapa perempuan yang memakai dress abu abu itu, tentu saja sulit menemukan perempuan apalagi masih muda di acara bisnis infrastruktur yang didatangi kalangan besar ini, mata Lingga menyipit untuk bisa meyakinkan bahwa sepertinya usia perempuan itu tidak berbeda jauh dengannya
"Lingga woi linggaaaaaa"
Lelaki berjas biru tua yang duduk disebelah memanggil tapi tidak dihiraukan pemilik nama
Lingga terpaksa sadar karena orang itu sudah menggoyang goyangkan badannya dengan cukup kuat
Lingga menoleh dan terkejut
"Raihan?"
"Elo dari tadi liat apa woi?"
Pria bernama Raihan itu tertawa
"Mentang-mentang udah menang tender besar sombong Lo?"
"Apaan enggak"
Lingga mengambil minuman didepan nya dan menyesapnya
"Kenalin istri gue Rana"
Raihan mengenalkan perempuan disampingnya
Perempuan itu mengangkat tangan rendah dan tersenyum
Lingga menyambut tangannya dengan senyum santai
"Gue baru dateng dari cek kandungan istri tadi, gue denger kabar perusahan Lo ikut tender jadi gue ngobrol sama boss untuk ikut juga di dinner malam ini sengaja mau ketemu sama elo eh lo malah enggak nanggepin"
Seloroh Raihan
"Bukan gitu , eh tapi istri Lo hamil?"
"Iya udah mau delapan bulan"
Senyum Raihan
"Wahhhh semoga sehat terus Han"
Lingga melihat ke arah Raihan dan istri nya bergantian
"Elo kenapa enggak ngundang gue pas nikah?"
"Nikahnya sederhana Ling, lagian gue tau elo sibuk di Jakarta kagak mungkin datang"
"Iyaa setidaknya ngabarin kek"
"Elo Ling yang kapan nikah?"
"Kalo Lo nikah undang gua yak, kalo Lo bayarin tiket pesawat pasti gue datengin dah"
Lingga diam didalam pikirannya apakah ia harus memberi tahu Raihan teman lama nya ini, bahwa dia sudah menikah ?
__ADS_1
"Eh Lo emang masih di perusahaan lama?, Perasaan udah lama banget Lo ngabarin keterima kerja di perusahaan di Bali"
Lingga mencoba membicarakan hal lain
"Iya Alhamdulillah, gue udah jadi kepala di salah satu kantor cabang di sini"
"Gila udah sekitar enam tahun Lo bertahan kerja di satu perusahaan, sampe jadi kepala cabang"
Lingga menepuk bahu teman lamanya dengan senyum bangga
"Belom apa apa sama Lo Ling, (tertawa)
Gila mimpi apa gue pernah temenan sama orang yang sekarang jadi produsen bahan infrastruktur terbaik se Indonesia"
Menepuk bahu lingga dengan bangga
"Elo juga udah jadi kepala cabang aja padahal dulu makan aja harus nyuci piring kantin dulu Lo (tertawa)"
Lingga memancarkan senyum kagum
"Aaaarg Jaman gue susah jangan di inget"
Drit drit drit
Ponsel seseorang berbunyi
"Eh gue angkat dulu ya"
Lingga menjauh untuk mengangkat telfon
"Hallo iya Rang?"
"Lingg ada perusahaan pengembang perumahan kelas menengah di bali mau kerjasama"
"Triutami karya residence, managernya bakalan nemuin Lo di acara dinner malam ini"
"Oh okey, makasih infonya Ngga"
Lingga mematikan sambungan
"Permisi dengan pak Lingga poernomo?"
Suara perempuan membuat Lingga harus menoleh
"Iya?"
"Saya dari Triutami Karya, ingin berbincang tentang proyek kami dengan anda, apakah ada waktu?"
Perempuan itu tersenyum sumringah
Lingga memperhatikan dari bawah sampai atas, wajah seperti penyanyi Raisa dengan alis tegas, hidung mancung, bibir indah, dengan tubuh tinggi, putih, berambut panjang, persis ini adalah Anita, temannya dulu di kampus
"Anita?"
Perempuan yang dipanggil Anita tersenyum sambil mengangguk
"Hai sudah lama tidak bertemu"
Lingga menyalami tangan Anita duluan
"Hai Lingg, aku enggak nyangka bakalan ketemu kamu di sini sebagai orang yang paling dibicarakan di acara bisnis malam ini"
Menyalami tangan lingga dengan gaya terbaik
__ADS_1
"Em Nita lebih baik kita pindah ke depan, biar lebih enak ngobrolnya"
Lingga mengajak dengan senyum dan kedua tangan didalam saku celana
Mereka pindah ke area paling depan dari restoran yang bertemu langsung dengan bibir pantai
Anita selalu memulai pembicaraan dengan narasi bisnis, namun Lingga sepertinya merasakan apa yang sebelumnya ia pernah rasakan untuk sepuluh tahun terakhir dia kembali terobsesi dengan perempuan dan uniknya tetap dengan perempuan yang sama
Satu setengah jam obrolan yang berakhir dengan penanda tanganan persetujuan kontrak kerja sama.
Setelah usai masalah bisnis, mereka mulai berbicara santai dengan Lingga yang melepas jas dan hanya mengenakan kemeja hijau mudanya
"Lingga by the way kamu udah nikah?"
Anita bertanya santai
"Belom"
Tidak, tidak mungkin Lingga mengatakan bahwa dia sudah menikah kepada perempuan yang kembali membuat ia terpesona
"Kirain udah"
"Kalo kamu, udah nikah belom?"
"Aku udah"
Lingga terdiam seperti baru saja terbang dengan pesawat mewah terbaik namun dipaksa turun dengan menabrak gunung
, ekspresi Lingga sangat kentara bahwa ia kecewa dan dengan itu Lingga lima menit tidak bisa bicara
Anita bingung kenapa lingga bisa se terkejut itu dan menjadi diam, namun dengan pelan Anita kembali melanjutkan kata-katanya
" Tapi udah berpisah"
Lingga menoleh
" Iya kami bercerai dua tahun yang lalu, ayahnya meminta kami berpisah saat perusahaan ayahku ternyata memiliki banyak hutang pada bank dan terpaksa harus menjual aset untuk menyicilnya"
Anita menjelaskan
"Itu menyedihkan, Maaf"
"Tidak apa apa, sedih itu pasti, tapi yasudahlah, sekarang aku bekerja di Triutami karya sebagai manager, bisa menghidupi ayah sendirian, ya meski hanya anak perusahaan dari korporasi besar yang berada di Jakarta, tapi aku sangat bangga"
Anita tersenyum
"Nita kamu itu cerdas, publik speaking bagus, kamu juga menarik (tertawa) itu sudah terkenal di seluruh kampus, kamu akan tetap bisa survive meski di masa masa sulit seperti ini, aku percaya itu"
Lingga bicara pelan menatap Anita
Anita menyentuh tangan Lingga
"Terimakasih"
Sambil tersenyum
Bukan main senang hati Lingga, mendapatkan senyum itu lagi
"Jadi ayah kamu sama kamu?"
"Iya, dia sudah sangat tua, ada mbok yang urus di rumah"
Mereka berbicara sampai larut malam dan memutuskan beranjak saat Anita sudah mengantuk, Lingga bahkan mau melewatkan tidur malam ini untuk terus ngobrol bersama Anita, Lingga sudah tidak normal.
__ADS_1