
"Dinda?"
"Iya pak dokter?"
Anak kecil itu melepas pelukannya pada Putri, terlihat matanya merah karena menangis tadi
"Kamu laper?"
Dinda memegang perutnya
Putri mengelus surai kepala Dinda dengan pelan
"Sayang kamu belum makan kan dari tadi pagi?"
"Iya"
Dinda mengangguk
Lingga mendekat ke ranjang itu
"Kamu mau makan apa?"
"Pak dokter beliin"
"Abis makan baru kembali ke panti, atau Dinda mau tidur dulu untuk istirahat juga boleh, kita kembali ke panti saat Dinda sudah lebih tenang, okey?"
Dinda melihat ke arah Putri sebentar lalu melihat Raka lagi
"Mau ayam kaefci sama es krim dan bergel"
"Siap"
Cup
Raka mencium kepala Dinda
"Pesanan akan segera datang"
Raka beranjak dan segera pergi.
15 menit lalu Raka pergi
Dinda masih berbaring sambil menonton YouTube lengannya di usap usap oleh Putri, tadi anak kecil itu bilang apa ia boleh meminjam handphone Putri, bagi anak anak yatim handphone adalah hal mewah dan bisa menonton YouTube adalah hal yang langkah bagi penghuni panti.
Putri dari tadi sebenarnya melamun, dia ingin menanyakan sesuatu pada Dinda
" Dinda sayang kak Putri boleh nanya nggak?"
Mengangkat wajahnya dari layar hp
"Mau nanya apa kak?"
"Kamu udah berapa lama di panti?"
"Udah lama tapi Dinda enggak tau berapa lama kak"
"Emmm sayang"
Putri mengusap pundaknya
"Kak boleh tanya yang lain?"
Bocah itu melihat mata Putri
"Kakak boleh tanya apa aja kak, Dinda udah biasa kok"
Tersenyum melihat wajah Putri yang terlihat khawatir
Putri bertanya dengan pelan
"Kamu masih inget orang tua kamu?"
"Kak, dari bayi aku katanya udah dititipin sama uwak, trus pas udah bisa jalan aku dititipin di panti karena uwak udah sakit sakitan"
Cairan benih menggenang di pelupuk mata Putri
Ia memeluk anak kecil yang berkata seperti itu barusan
"Sayang kamu tau? ,Kakak dulu juga tinggal di panti"
Mengusap kepala Dinda
"Kakak juga enggak punya orang tua"
Dinda mendongak
__ADS_1
"Ia kakak juga yatim piatu, tapi sekarang kakak udah nikah"
"Kakak di adopsi orang kaya?"
Krek (suara pintu)
"Yok makan"
Raka muncul dengan dua kantong besar makanan
"Dinda yok makan"
Yang namanya disebut langsung beranjak dan hendak berlari menyambut kantong plastik bergambar toko makanan terkenal itu, namun ia terjatuh
"Aduhhhhh"
"Aaaaaaah sakit pak dokter"
"Kita makan di tempat tidur aja ya"
Putri membantu berdiri
"Kakak ambil piring sama air putih dulu sebentar ya, jangan kemana mana dulu ya"
Raka mendekat
"Kamu diem aja dulu di tempat tidur jangan gerak dulu, nanti sakitnya jadi lama sembuhnya "
Raka mengusap lengan perempuan kecil didepannya
Dinda hanya mengangguk
"Nih makan Bergernya dulu abis itu baru ayam sama nasi"
Raka memberikan sebuah Berger besar yang sangat menggoda dan disambut dengan dengan wajah binar oleh anak perempuan didepannya
Raka tersenyum melihat itu
Tidak berapa lama Putri datang membawa sendok, piring dan air putih
Raka membeli makanan dalam jumlah banyak jadi semua yang ada di toko itu ikut makan bersama menemani anak kecil itu
Setelah kenyang makan Dinda anak kecil korban pemerkosaan itu tertidur sangat nyenyak, melewati hal mengerikan lalu disuguhkan makanan yang suka ia hayalkan, ia tidur dengan lelah dan perut terisi.
"Kak Putri dulu anak yatim juga?"
"Iya"
Putri menjawab nya dengan tersenyum, apakah Raka mendengar tadi?
"Kok kak Lingga enggak cerita ya"
"Aku tadi denger sekilas obrolan kalian pas mau masuk"
Raka menjelaskan kenapa ia bisa berkata seperti itu
"Aku tau rasanya menjadi anak yatim piatu dan tinggal di panti asuhan
Rasanya sangat sulit, tapi aku tidak bisa membayangkan perasaan dengan pemerkosaan dibawah umur, ini pasti benar benar berat, pengalaman pertama kebanyakan wanita dewasa pasti merasakan sakit, apalagi dengan usia sebelia ini"
Mata Putri merah dan pelupuknya menggenang, Putri dan Raka duduk dilantai tempat mereka makan tadi
"Yang tau rasanya bagaimana jadi korban pemerkosaan saat masih remaja adalah ibuku"
Saat itu tempat itu ruangan itu menjadi lebih hangat dan membuat gerah namun tidak, Raka nyaman dengan itu dan ingin terus bercerita
Jelas Putri menjadi menoleh dan menatap Raka
"Dalam kepala kak Putri pasti pernah bertanya kenapa aku dan kak Lingga sangat berbeda jauh, dia lebih gelap dan aku putih sipit "
"Aku bukan anak pak Poernomo dan istrinya"
Raka berbicara dengan nada yang teratur
Hingga berubah menjadi lebih terisak dan pilu di akhir akhir kalimat
"Ibuku seorang keturunan Tionghoa, di usia enam belas tahun ia merupakan korban pemerkosaan, ia takut dan malu, dia cuma punya satu sahabat yang sangat ia percayai yaitu ibunya Lingga, mama Ratna benar-benar memperdulikannya, ibu di urus dengan baik, keluarga ibuku adalah Tionghoa yang miskin dan mempunyai banyak anak, mereka tidak mencari ibu, ibuku meninggal saat melahirkan kan ku, entahlah apa yang terjadi saat itu aku tidak tau, aku lahir tanpa ayah dan beberapa menit kemudian tanpa ibu"
Raka menangis namun tidak tersedu, ia menangis dengan tenang
"Maaf aku tiba-tiba menceritakan ini pada kak Putri"
Sambil menyeka air matanya sendiri
Putri mendekat dan menepuk nepuk pundak Raka pelan
__ADS_1
"Tidak apa, kadang beberapa suasana membuat sesuatu hal yang sudah lama ditahan harus keluar"
"Terimakasih"
"Kau pasti begitu akrab dengan rasa sedih, namun tetap maju dan bisa jadi dokter di hari ini adalah hal luar biasa Raka, kau hebat, aku meski baru mengenalmu aku bangga pada kamu ka"
Putri mengatakannya sambil tersenyum
Lingga mendengar kalimat itu seperti tersetrum, ia melebarkan senyumnya dan menatap perempuan berambut sebahu dan hitam manis di depannya ini.
Saat sadar Dinda diminta Raka meminum obat pereda nyeri, karena sepertinya benar benar ada luka pada daerah di diantara kedua paha anak kecil itu.
"Awas nanti es krimnya jatuh"
Putri mengingatkan Dinda yang memakan es krim didalam mobil Raka saat diperjalanan pulang ke panti
"Enggak papa kok nanti pak dokter bisa bersihin sendiri"
Mengusap kepala Dinda disebelahnya.
Dinda duduk didepan dideket kursi kemudi dan Putri dibelakang
"Kak Putri kalo mau es krim juga masih banyak kok didalam box es krimnya, pak dokter belinya banyak"
Dinda berbunyi
Putri tertawa
"Enggak kok buat kamu aja sama temen temen kamu nanti di panti"
"Kamu jangan pelit ya harus bagi bagi sama temen temen nanti di panti"
"Iya tapi bagi bagi nya dikit aja, kan pak dokter beliinnya buat Dinda"
Raka menoleh ke samping dan tertawa
"Kalo kamu bagi bagi sama temen yang lain nanti pak dokter tambahin deh es krimnya kalau kurang"
"Beneran?"
Dengan antusias
"Beneran, tapi jangan makan es krim terus mentang-mentang es krimnya udah banyak, nanti jadi pilek trus demam, jadi tambah sakit deh"
"Iya deh nanti Dinda simpan di kulkas di dapur buat besok besoknya lagi"
Putri memunculkan wajahnya di depan di antara kedua kursi
"Tapi makan eskrim nya harus setelah makan nasi ya!"
"Nanti kamu jadi lupa makan nasi gara gara pengen makan es krim, trus masuk angin deh"
"Hehehehe iya siap kak Putri"
Dinda tertawa dengan coklat belepotan di wajahnya.
Ibu panti terkejut, namun Raka dan Putri bisa menjelaskan dengan tenang dan mengurangi kekhawatiran mereka, anak anak di panti yang masih kecil senang dengan kehadiran dokter Raka dan se kotak es krim namun tetap saja bagi penghuni panti yang sudah cukup besar ini menakutkan, mereka tentu mendapat sarapan yang dibarengi dengan ocehan ibu ibu panti yang meminta mereka lebih hati hati dan mawas diri untuk kedepannya.
"Kak terimakasih sudah mau menolong,
Dengan adanya perempuan anak kecil yang mengalami hal itu akan lebih cepat ditenangkan"
Ktek
suara Raka menekan gagang sen di mobil
"Aku senang bisa membantu, Raka kamu sangat suka anak anak ya?"
"Iyalah kak kan aku ngambilnya dokter anak"
Raka tertawa
Drittt drittt drittttt
"Halo?"
"Iya"
Putri menutup telfon
"Lingga udah sampe Jakarta, tapi dia langsung ke kantor"
"Ada yang harus langsung di urus mungkin"
"Heem aku antar ke rumah atau ke toko lagi aja?"
__ADS_1
"Mungkin ke toko aja"
Raka mengangguk