
"iya iya, gue akan ke Jakarta"
"Iya semua akan tetap dijalankan"
"Rangga gue di Bali ini buat ngurusin mega proyek di Kalimantan sama papua, bukannya leha-leha"
"Iya, gue enggak tau kenapa pengembang sama sponsor maunya ketemuan di Bali"
Suara Lingga menanggapi telponnya
"Iya tapi kantor kita disini juga butuh elo"
"Banyak berkas yang perlu tanda tangan Lo" Rangga diseberang telpon menggerutu
"Siang ini gue ke jakarta dua hari, sebelum gue harus ke kalimantan ninjau langsung bahan-bahan yang sampe"
Jawab Lingga
"Okey, kalo bisa sebelum jam tiga siang tuh berkas harus udah ditandatangani, jam empat harus segera dikirim ke perizinan"
"Iya oke tenang aja"
Tut Rangga mematikan telfon.
Jam sembilan pagi Lingga terbangun karena telfon Rangga yang meneror, sementara Anita sudah keluar dari apartemen Lingga sejak subuh tadi.
Anita keluar dari apartemen Lingga dengan sedikit rasa nyeri di bagian bawahnya, Lingga benar-benar bersemangat tadi malam, Anita harus segera berada di kantor jam delapan pagi.
Anita sudah di kantor, secepat kilat ia membersihkan diri dari kegiatan semalam dan langsung ngantor di esok harinya
Brukkk setumpuk makanan kekinian memenuhi meja kerja Anita
"Hari ini gue yang traktir"
Teriak seorang wanita baru datang yang membawa makanan-makanan itu
"Gilak idenya Anita bisa merubah nasib dan posisi kita semua, trus ilmu guna-guna apa coba yang dipake Nita sampe bisa buat perusahaan nya seorang Lingga Putra Poernomo bisa mensponsori proyek yang barusan banget kita rancang"
Perempuan itu mengangkat cangkirnya
"Beda ya kalo orang cantik udah turun tangan, semua bisa terjadi"
Perempuan yang lain berbunyi
"Tiga tahun Tina ngedeketin anak gubernur, enggak ada tuh satupun proyek buat kita"
Perempuan satunya lagi nyeletuk
"Eh diem Lo, elo juga ya enggak ada kontribusi apa-apa buat tim kita selama ini"
Perempuan bernama Tina itu sedikit tersulut emosi
"Udah udah, Tina Ayu udah"
"Proyek ini harus berhasil dan sesuai ekspektasi, ini jembatan kita untuk mendapatkan karir yang lebih dipandang kedepannya"
Anita berbicara serius, dia harus mendapatkan kembali gaya hidup yang dulu pernah ia dapatkan sebagai anak pengusaha besar yang mewah dijaman kejayaan ayahnya
"Gue butuh tim yang kompak dan bisa diandalkan untuk proyek besar ini, gue enggak mikir dua kali buat ganti tim kalo emang kalian enggak bisa diandelin"
"Anita gue mohon jangan"
__ADS_1
"sumpah gue bakalan lakuin apapun buat proyek apartemen ini, gue udah nunggu-nunggu moment ini"
Bunyi perempuan yang dipanggil Ayu mendekati kursi tempat Anita duduk
"Lo enggak ngeraguin gue kan Nita?"
Tina mengangkat alisnya sambil berbicara
"Tergantung"
Anita berdiri dan memandang mata Tina
"Gue enggak mandang seberapa senior orang, yang gue hargai cuma ide dan etos kerja berapa pun usia orang itu"
Tina memalingkan mata
"Gue bakalan lakuin yang terbaik,Lo kira cuma Lo doang yang mau keluar dari posisi enggak guna ini, gue juga mau bikin sejarah dibalik suksesnya properti terkenal di kota wisata paling laris ini"
Anita tersenyum
"Mari kita sama sama unjuk kebolehan untuk keberhasilan apartemen paling hits dimasa depan ini"
Minuman kaleng didalam plastik diambilnya dibuka dan dideklarasikan didepan teman teman tim propertinya untuk bersulang bersama-sama dan semuanya menyambut dengan senang.
Bali sedang dilanda hujan deras, sekarang hampir jam tiga dan Bandara Internasional Ngurah Rai mengalami keterlambatan penerbangan, beberapa penerbangan terpaksa harus di delay beberapa jam, kaki Lingga mengetuk-ngetuk lantai dengan hati yang tidak tenang menunggu hujan reda dan harap-harap penerbangan bisa langsung dilanjutkan, ia membuka hp dan mengecek prakiraan cuaca hari ini menurut BMKG ada beberapa provinsi yang dilanda hujan deras Jakarta dan Bali masuk dalam salah satu nya, hal itu menambah ritme ketukan pada sepatunya, bagaimana ia bisa melupakan surat perizinan produk cat tembok terbaru mereka, Lingga menandatangani puluhan berkas kemarin lusa dan masih menyisahkan beberapa, ia tidak tahu jika salah satu diantaranya adalah surat perizinan yang dibutuhkan dalam waktu dekat.
Lingga memutuskan untuk berjalan mencari makanan di salah satu tempat makan yang ada di bandara sambil menghilangkan rasa cemasnya karena terlambat sampai ke Jakarta, semua tempat makan di bandara ini ramai karena semua penumpang mengalami keterlambatan penerbangan dan semua juga mencari makanan saat hujan begini, ia memutuskan untuk ikut mengantri pada toko roti yang terkenal dengan bau khasnya yang menggoda Indra penciuman, hujan tidak bisa ditebak ia tiba-tiba mereda Lingga tersenyum lega, antrian panjang pada toko roti ini nampaknya tidak berkurang sama sekali padahal sudah hampir 10 menit Lingga berdiri disini, ternyata semua sedang menunggu rotinya matang memang siapa yang mau makan roti yang masih dalam bentuk adonan, toko roti memiliki pendapatan besar jika sedang hujan begini karena selain enak roti yang mereka jual masih hangat karena baru keluar dari oven
"Kepada penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Bali Jakarta, pesawat akan segera lepas landas dalam sepuluh menit, harap segera memasuki pesawat"
Lingga terkejut ia melihat jam tangannya berpikir sejenak sambil memperhatikan antriannya yang sudah setengah jalan, tapi tapi tidak ingin ambil resiko ia lantas meninggalkan antrian itu meski memang perutnya sudah membayangkan roti itu masuk kedalam mulutnya, Lingga juga sebenarnya belum makan siang hari ini, baiklah ia akan makan saat sudah sampai di Jakarta, ia pergi meninggalkan antrian dan bergegas menuju pesawat yang sudah ia tunggu-tunggu dari tadi.
Penerbangan Bali Jakarta tidak memakan waktu yang lama, saat dirasa sebentar lagi sampai Lingga menelpon putri untuk menyuruh supir menjemputnya di bandara.
Kepala Lingga terasa pusing, ia membuka mata, badannya terasa sakit, saat kesadarannya pulih Lingga melihat ia berada didalam kamarnya yang ada di Jakarta, saat menoleh kebawah ia menemukan Putri sedang mendekatkan wajah pada perut Lingga, ia mengerutkan kening "apa yang sedang dilakukan Putri?" Pikirnya dan kenapa pakaiannya sudah berubah
Putri mengangkat kepalanya dan Lingga baru bisa melihat ada luka di perutnya, Putri menoleh ke arah orang yang sedang dirawat nya ini
"Kamu sudah sadar?"
Putri melihat dengan wajah cerah
"Apa yang terjadi?"
Lingga bersuara dengan pelan dan serak
"Pesawat yang kamu tumpangi tergelincir dan jatuh, kakinya patah saat lending, tidak ada yang meninggal hanya saja banyak yang panik dan memecahkan kaca pesawat, kamu ditemukan pingsan dengan luka bekas kaca di perut, kami membawamu ke rumah dan supir kamu manggil dokter ke rumah, dia bilang luka kamu ringan dan akan segera sadar jadi dia sekarang sudah pulang "
Itu berita buruk tapi Putri menyampaikan nya dengan senyum, ayolah ini berita buruk kenapa Putri seperti sedang menyampaikan cerita pada anak kecil
Lingga mengangkat alis
"Kamu masak?"
"Kamu mau makan?"
Tanya Putri
Lingga mengangguk
Putri ikut mengangguk dan hendak beranjak
__ADS_1
"Bentar"
"Kamu belum makan siang?"
Putri dengan wajah terkejut nya yang berlebihan membuat Lingga yang melihat itu menyadari sesuatu, Putri mungkin tidak cantik tapi ia cukup menggemaskan
"Aku buru-buru tadi"
"Pantes kamu lemes banget sampe pingsan gini Lingga, badan aja gede, yang lain nyelametin diri kamu malah pingsan"
Putri memegang kepala Lingga dan mengusap surai nya
Lingga menyadari hal itu berdehem
"Ehemm"
"Jadi tolong ambilkan aku makan"
Putri terdiam, ia sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan, keadaan jadi sedikit canggung
"Baiklah"
Putri beranjak dari kursinya yang berada di samping ranjang untuk mengambilkan makanan Lingga
Setelah beberapa menit Putri meninggalkannya, pintu kamar itu diketuk dan dibuka oleh seorang pria
"Lingga lo kecelakaan?"
Dika datang dengan sedikit mengagetkan
"Menurut Lo?"
Jawab Lingga wajah datar
"Ngomong-ngomong Lo tau dari siapa?"
"Gue nelpon Lo enggak diangkat, trus gue telpon supir Lo"
Klek
Putri masuk dengan nampan berisi piring dan cangkir ditangannya
Melihat Putri datang dengan nasi yang mengeluarkan asap dan lauk terlihat menggoda Lingga segera merespon
"Dika Lo ceritain gimana surat perizinan itu sambil gue makan"
Lingga berbicara
"Tolong tiap sendok banyakin lauknya"
Lingga berbicara ke arah Putri
Putri mematung
"Ape nih?"
Putri bingung
"Gue nyuapin?"
dengan sedikit canggung kepada teman suaminya ini
__ADS_1
Putri duduk dan mulai menyodorkan sendok demi sendok ke arah mulut Lingga sambil mendengarkan Dika temannya ini berbicara tentang pabrik produk cat baru mereka