Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Batagor Putri


__ADS_3

Drittt dritt


sesuatu di saku Lingga bergetar, "aku angkat telpon dulu"  lingga izin menjauh dari meja tempat mengantri serombotan, Anita hanya mengangguk dan terus memperhatikan HPnya  dan menunduk, saat sudah agak jauh Lingga mengangkat telpon itu, "Hallo ma?"


"Assalamualaikum Lingga"


"waallaikumsalam ma"


"kamu di mana?"


"lagi di bali, mama tahu kan banyak client internasional mintanya meeting di bali"


balas Lingga sambil mengetuk-ngetukan kakinya ke jalan


"maaf mama bilangnya mau ke Jakarta tapi enggak jadi, kemarin terapi papa kamu nambah jadwal, kata dokter disini sih ada sedikit kemajuan jadi membuat papa kamu tambah optimis"


"alhamdulillah kalo gitu mah"


"jadi mama sama papa mungkin tiga hari lagi ke Jakarta untuk jeda terapi yang di sarankan dokter"


"tenang aja besok Lingga udah terbang ke jakarta kok"


"iya bagus tapi maksudnya bukan itu, maksudnya mama......." Lingga menunggu kalimat selanjutnya dari mamanya ini, "gimana si Putri udah hamil belum?"


"astaga mama kirain apaan"


"apaan gimana, masa kamu enggak usaha lebih sih abis dari telpon mama kemarin?"


"heemmm mah, yang penting mama berangkat dan sampe dengan selamat dulu ke Jakarta, itu urusan nanti" Lingga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"urusan nanti gimana?, kam"

__ADS_1


"mama mama" lingga langsung memotong ucapan mamanya yang belum kelar


"mama denger, Lingga sebenernya punya kabar baik tapi nunggu mama sampe ke jakarta dulu baru Lingga kasih tau biar pas di pesawat mama enggak kepikiran, tenang aja ini kabar bahagia"


"beneran?", " kamu enggak bohongkan?"jawab mama Ratna dengan dengan ragu di seberang sana


"enggak ma, tenang aja"


"kabarnya tentang kehamilan kan?"


"bisa jadi, tapi! Lingga enggak bakal kasih tau kalo mama enggak bawa oleh-oleh dari sana"


"tenang aja banyak kok, tapi kenapa sih harus nunggu di jakarta dulu?" mama Ratna mulai ragu dan kesal


"ada deh pokoknya berita bahagia, dada mamah, assalamuallaikum" tut Lingga memutus sambungan telpon, ia menghembuskan nafas, "tenang semua akan baik-baik aja" sedikit termenung dan akhirnya memilih melanjutkan langkah kembali memenemui Anita, "mama pasti ngerti posisiku dan tidak ada yang harus aku khawatirkan" ucap Lingga didalam langkahnya.


Bali memang sangat indah dengan pantai dan kulinernya yang memabukan, sangat amat indah saat kau melihat pria tampan yang mengaku setampan Hamish Daud tenagjh tidur memelukmu dengan penampakan laut di belakang dan pagi ini memang sangat indah, lalu Anita tersadar akan grub alumni kampus angkatannya kemarin yang dimana ia temukan foto-foto jadul Lingga dulu saat masih kuliah, ia mengganggu Lingga dengan menggoyang-goyangkan badannya, "Ling! Ling! Ling-ling"  orang disebut namanya itu tersadarkan seketika saat ia mendengar panggilan yang aneh itu, "Lingga aku mau kamu buatin aku makanan sanahhhh, aku laper"


Lingga menyerngit dengan mata baru bangunnya "enggak mau pesen aja?"


"nita jujur aku enggak bisa masak, kamu mau minta masakin apa, paling banter aku cuma bisa masak mie instan dan air doang" Lingga berkata jujur


"enggak mau tau, pokoknya masak sanahhhhhhh" usir Anita dari kamar dengan mendorong tubuh besar itu.


sementara di seberang pulau yang cukup jauh, Dina dengan dayang-dayang baru nya yang bekerja di toko bunga Poetry iya nama tokonya Poetry


"ayo-ayo barangnya bawa kesini, sindi jilbab lo bisa nggak diiket aja biar enggak riweh kalo kerja" teriak Dina di pagi hari ini saat mereka belum membuka toko sedangkan suplier bunga sudah mengantarkan banyak barang


"kalian satupun enggak ada yang pake parfum ya?" Dina selain sibuk menulis ia juga menciumi bau anak-anak yang baru kerja beberapa hari ini, "kemaren perasaan pada wangi kok enggak ada baunya lagi hari ini?"


"minyak wangi gue abis din" ucap slah stu dari mereka yang sedang memindahkan keranjang-keranjang dari depan toko ke dalam

__ADS_1


"kita tuh kerja di toko bunga jadi harus wangi dan seger terus karena itu mencerminkan bunga yang kita jual" Dina bicara sambil berkacak tangan di pinggang


"gue belum ada uang buat beli minyak wangi din, kan belom gajian"


"gajiannya akhir bulan, udah itu ambil parfum di dalem di atas kaca meja gue, pada pke ya dimohon banget sebelum bos Putri dateng" perintah Dina, ia sangat menikmati bisa memerintah dan menyuruh-nyuruh anak-anak cewek dilingkungan rumahnya yang selama ini hanya luntang-lantung dan bergosip di sekitaran rumahnya


dulu toko bunga milik Putri hanya memampang bunga di depan toko namun sekarang sudah menggunakan papan naman yang besar yang dipajang di atas pintu depan toko dengan tulisan Toko Bunga Poetry berwarna merah dan krem, Dina yang dulu hanya anak perempuan miskin biasa kini sudah punya banyak bawahan dengan bekal beberapa tahun menjadi pegawai satu-satunya Putri, ia kini jadi manager toko bunga terkeren sepanjang jalan besar dan ramai ini, ada tiga pegawai toko baru yang direkrut Putri usai renovasi tokonya selesai dan pegawai-pegawai itu juga merupakan orang-orang yang berada disekitar rumah Dina, Dina bilang dia juga ingin bisa membantu anak muda -anak muda disekitar rumahnya dengan memberi lowongan pekerjaan, Putri menyerahkan semua urusan rekrut orang baru dengan Dina karena selain ia sudah percaya dengan gadis itu ada banyak urusan lain yang harus ia urus juga seperti menambah suplier bunga segar dan menambah daftar bunga yang bisa di jual karena tempatnya sudah lebih besar dan bagus maka produknya juga harus bertambah banyak dan bagus.


Kring


bunyi pintu dibuka yang atasnya menyentuh lonceng yang sengaja di pasang diatas pintu agar setiap yang masuk dapat diketahui oleh para pegawai toko, saat semua menoleh ternyata itu adalah


"aaaaa Nyonya muda tuan Putri sudah datang" Dina dengan suara nyaringnya berbunyi dan putri hanya memutar bola matanya malas, Putri sebenarnya tidak nyaman dengan panggilan berlebihan itu


"bisa nggak lo biasa aja, gue bukan selebram yang lagi viral itu" Putri benar-benar malas menanggapi Dina yang nampaknya euphoria senangnya sejak toko dibuka tidak luntur-luntur hingga sekarang


"kak lo lemes banget perasaan" Dina mengambil tas yang dibawa Putri dan langsung membawanya ke ruang pribadi Putri di belakang, Putri tersenyum ke arah pegawai yang lain dan berjalan ke arah yang sama dengan Dina berjalan tadi


baru beberapa langkah Putri terhenti, "eh sindi itu galonnya habis ya?"  orang disebut namanya hanya mengangguk  "tolong beli ya, biar kalian enggak perlu bawa air dari rumah kalo mau minum"


"baik kak" si Sindi yang disebut menjawab dengan kaku


"uangnya minta sana Dina ya" Putri lantas langsung meninggalkan ruang utama tokonnya dan menyusul Dina


Putri lebih memilih duduk di sofa dan mengecek laptopnya untuk melihat email suplier yang masuk,  "eh kak perasaan lo gendutan ya?" Dina menyeletuk dan Putri dengan berat kepala harus mengangkat kepalanya lagi dari laptopnya


"ini lo ngejek atau beneran?" Putri kembali melihat laptopnya


"ih elo enggak ngerasa?, liat tuh tembolok lo kalo nunduk jelas banget",  sudah cukup Putri harus menutup laptopnya dulu dan mengecek kebenaran dari ucapan makhluk di dekatnya ini,  dan apa yang ia liat di kaca sepertinya memang benar dan matanya membesar


"anjir kok bener sih, perasaan dulu garis wajah gue kek tirus banget mirip kek Isyana versi item manis gitu" dan kini giliran Dina yang memutar bola matanya

__ADS_1


"kak elo tuh emang tembem ya, sekarang tuh cuma elo kek lebih sering jajan batagor aja jadi kek gini" jawab Dina jujur karena memang akhir-akhir ini Putri seperti lebih sering makan dari biasanya


"astagaaaaa, gue kemaren pesen bator lima porsi sama abang-abang batagor di depan rumah makan diseberang, ambil gih ada jatah kalian juiga satu-satu gue traktir" dan seketika Putri lupa pada isu yang diangkat oleh waratawan terkenal Dina dan kembali membuka Laptopnya untuk kembali tenggelam didalam pekerjaannya.


__ADS_2