
"kak Putri....... H..A..M..I..L"
Putri melihat Dina dengan tatapan tidak percaya, "tadi dokter bilang kak Putri sedang hamil dengan kandungan memasuki usia dua bulan" "kak Putri harus lebih memperhatikan jadwal makan dan istirahat kakak"
Putri masih menatap Dina dengan tidak percaya, "kak aku seneng banget sekarang aku bakalan punya keponakan dari kak Putri"
"bentar bentar, Dina kamu beneran ini?" Dina mengangguk dengan semangat, air mata jatuh lagi untuk kesekian kalinya hari ini di mata Putri, "Dokter bilang gimana?"
"iya katanya kak Putri sedang mengandung janin dengan usia dua bulan, ditambah tubuh kak Putri tidak mendapat asupan sama sekali dari pagi maka tubuh kakak melemah dan pingsan" jelas Dina "seharusnya kakak tuh bilang ke aku pas baru sampe biar aku beliin makanan biar ponakan aku sehat terus sampe lahir" Dina bersemangat "eh kak pantes ye kemaren kemaren kakak makannya kek orang baru gajian setelah melewati tanggal tua" Dina tertawa renyah "buanyakkkk banget, taunya buat ngasih jatah bocah di dalem perut" tawa Putri pun pecah, ia tertawa dengan sangat lepas dan bahagia
Putri mengelus perutnya yang memang sudah terlihat sedikit buncit selain karena ada janin di sana tapi juga lemak-lemak tubuh yang dikumpulkan lewat batagor batagor dan nasi padang yang ia timbun selama ini, lagi lagi mata Putri terasa panas, ia tidak menyangka sekarang ia akan menjadi seorang ibu setelah bertahun-tahun hidup sebagai yatim piatu sebatang kara sekarang ia akan punya anggota keluarga yang berasal dari darahnya sendiri, Putri melamun
"kak telpon kak Lingga gih kabarin kalo dia bakalan jadi ayah" Dina berseru dengan semangat membuat jantung Putri untuk sepersekian detik berhenti, ia baru menyadari hubungannya dengan Lingga sedang tidak bagus dan nampak akan segera berakhir
"kakak mau ngomong langsung aja" Putri tersenyum kearah Dina lalu berpaling merapikan baju dan barang yang lainya "ayo kita pulang ke toko kasian anak-anak nanti rame pada kualahan" Putri duduk kerah samping ranjang dan beranjak turun, Dina melihat itu hanya mengikuti saja
ia mengangguk " mmm ayok" ia membantu memegangi Putri saat berjalan karena sedikit terhuyung huyung akibat baru bangun dari pingsan "kita duduk dulu di sana kak, aku pesen taksi online dulu"
"cie udah bisa pesen taksi online aja" Putri tertawa "inget banget dulu kita naik angkot atau bis kalo lagi cari barang yang enggak di anter toko langganan atau mau ke pasar" Dina memesan sambil tersenyum lebar, mereka duduk di kursi panjang dekat arah pintu masuk rumah sakit
"iya ya kak banyak banget yang berubah" ia menutup hpnya "dulu waktu di godain abang abang kernet busnya kita langsung turun aja dan enggak bayar, lagian udah sumpek panas pake acara godain lagi"
"enggak waktu itu udah aku bayar di belakang kamu aja yang enggak liat"
"kakak udah bayar? yahh enggak jadi rugi deh abang mesum itu" Dina memanyunkan bibirnya
"Din kita itu bayar bukan cuma buat abang itu aja tapi buat supirnya, buat bensin busnya, trus buat keluarganya di rumah, lagian kita juga udah numpang"
"hehehe iya ya kak banyak banget yang berubah, dulu kita cuma lakuin sesuatu yang bisa dapetin uang buat makan sehari-hari doang, emang ya kalo kita sabar terus dan terus lakuin suatu hal kita akan menuai hasilnya"
"uang buat renovasi dan modal tambahan itu dari uang yang harusnya kakak bayar ke pak herman buat sewa tempat itu tapi beliau nolak dan ngasih kakak balik dan ditambahin juga sama pak herman uangnya jadi tiga kali lipat direkening jadi yaaaah kita hajar ke toko lagi lah biar uangnya memanjang dan enggak habis begitu aja, sebenernya kakak sempet kepikiran buat beli seblak seumur hidup sih" Dina menoleh dengan cengok lalu mereka tertawa bersama hingga driver taksi online menelpon.
"bangggggg! berenti bang!"
Okta berlarian keluar menghalau abang tukang bakso yang lewat, ia membawa empat mangkok di tangan, Putri memutuskan mentraktir para karyawannya ini, saat ia datang toko sudah setengah kosong sementara Okta dan Sindi duduk sambil minum mengatur energi nampaknya mereka kelelahan karena pembeli yang ramai hari ini namun begitu Putri mengabarkan ia hamil mereka semua secara bergiliran memeluk Putri dengan hangat dan penuh suka cita, jelas sekali mereka menyambut bahagia kabar perut bosnya akan membesar dan akan hadir anak kecil di antara mereka
"bawa berkah nih anaknya kak Putri, baru denger hamil aja udah rame banget nih toko, gimana dah lahir" Sindi bersemangat berbicara saat mengaduk bakso dan cabenya yang langsung menghasilkan bau enak yang menyeruak
"kalo lahiran bisa-bisa buka cabang baru" celetuk Dina
"aminnnnn, di doain aja tapi jangan dipikirin nanti enggak ke sampean kalian nyalahin dia lagi" Putri menanggapi sambil tertawa
__ADS_1
"iya kak enggak mungkin kok, lagian kalo kalo nambah cabang kak Putri jadi enggak disini terus dong" Okta menambahkan
"kalo beneran buka cabang salah satu dari kalian kok yang bakalan jadi kepalanya, tenang aja, tinggal siapa yang paling rajin dan dapat dipercaya aja" Putri menggoda anak buahnya
"ya pasti aku dong kak Put, kan aku emang yang paling rajin disini" Sindi melirik Okta
"aku juga rajin dan dapat dipercaya kok, liat ke depan nih toko bakalan maju pesat karena pelayanan gua yang memuaskan" Okta memonyongkan bibir ke arah Sindi
"yeee elo kan maen hp mulu, lagian nih ke depan kita bisa lihat siapa yang paling rapi dan rain kak Dina jadi juri ya kak" Sindi memulai pertikaian
"okey kita lihat" Okta menerima tantangan mendadak dari Sindi
"okey okey Poetry Manager Competition siap di adakan dalam waktu dekat" Dina menambahkan bensin pada pertikaian Sindi dan Okta
"eh kakak pergi dulu ya, gocar nya udah di depan" tanpa mereka sadari Putri sudah selesai makan dan bersiap untuk pergi hingga taksi online nya sudah di depan toko
"ke mana kak?" Dina bertanya
"ada deh, barang tinggal dikit sebelum jam tujuh tutup ya tokonya" Putri beranjak pergi
"iya, hati-hati kak" Dina tampak khawatir
"okey, assalamualaikum" Putri menjawab dari jauh dan terdengar cukup samar.
jam setengah lima sore Putri sampai ke rumah, ia segera masuk dan naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian lalu turun dan tentu saja menemui mbak mbak di dapur agar memasak lebih banyak untuk malam ini karena nyonya akan pulang dari luar negeri, Putri meminta untuk memasak beberapa masakan khas Jawa Tengah seperti Bandeng jumawa, Lumpia dan tentu saja beberapa porsi Sop Iga kesukaan keluarga ini
beberapa menit sebelum adzan maghrib Lingga tiba, Putri bisa mendengar suara ia melangkah dari dalam kamar, klek suara pintu kamar di buka
"kau sudah pulang?" yang bersuara adalah Putri
"iya, aku akan menjemput mama dan papa di bandara mereka akan sampai kira-kira jam delapan" Lingga melepas sepatu dan baju lalu mengambil handuk dan pakaian tidur, "kalian memasak Sop Iga?" ia berhenti sebentar untuk bertanya
Putri menoleh dan menjawab "iya" ia tersenyum dan mengangguk
"bagus mama dan papa suka itu" Lingga melangkah ke kamar mandi
"aku juga masak beberapa masakan khas jawa tengah" tambah Putri
"iya itu juga bagus" Lingga bersuara saat pintu sudah kamar mandi di tutup
klek Lingga keluar dengan baju kaos tangan pendek abu-abu dan celana krem panjang dengan rambut yang masih basah
__ADS_1
"mmm Lingga aku ingin berbicara sesuatu" Putri benar mengumpulkan keberaniannya
"iya?" ucap Lingga melihat ke arah Putri sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk
"Aku sedang mengandung" Putri berbicara dengan menatap Lingga tanpa berkedip
seperti Lingga adalah miss colombia yang mendengar bahwa host acara miss universe 2015 membatalkan kemenangannya dengan alasan salah sebut dan menyatakan miss filipina lah yang sebenarnya menang, rasa tidak terima, kesal, dan gundah menyeruak di dalam dadanya, ia menatap Putri dingin dan tajam, Lingga mendongakkan kelapanya
"Putri! aku tahu ini seperti tidak adil bagimu tapi bukankah kamu juga bilang bahwa pernikahan ini dijalankan dengan terpaksa demi menghormati Pak Herman?"
Lingga bicara dengan nada tajam
''iya aku tahu Lingga, tapi kenyataannya aku sekarang sedang hamil dan anak ini juga butuh kamu sebagai ayahnya" Putri menggerakkan tangannya ke depan untuk menunjukan ia sangat tidak terima dengan keadaan ini
"lalu kau ingin apa?"
"selamatkan rumah tangga kita, kini kita sempurna Lingga" Putri berbicara setengah memohon
"bagaimana bisa kau hamil?" Lingga menaikan nadanya "antara kau sedang berbohong atau itu adalah anak Raka" pikiran Lingga menghilang ia kini diselimuti amarah "kita tidak satu rumah dalam satu bulan lebih dan jangan pikir aku tidak tahu kedekatan kalian berdua" Putri menganga dan menggeleng bagaimana bisa pikiran Lingga bisa begitu menyimpang dan buruk tentangnya dan Raka adiknya sendiri, "kau pikir aku akan percaya hah?" "bagaimana bisa kau bilang hamil saat aku bilang kekasihku sedang hamil dan aku akan menikahinya? ini begitu mendadak dan terkesan mengada-ngada" bukankah Lingga menyatakan akan menikahi kekasihnya yang hamil juga mendadak itu juga mengejutkan Putri tolonglah
"aa aa" Putri tidak bisa berkata kata dengan jalan pikiran suaminya ini
"kau sekarang tidak ingin melepaskan ku? kau harus tahu diri Putri" Lingga melepar handuknya dan naik ke kasur menunjuk langsung wajah Putri dengan tangannya yang besar "kita sejak awal sudah tidak pantas bersama, aku hanya mencoba baik padamu, karena aku tahu kau juga terpaksa karena di paksa om Herman, tidak menyangka akhirnya kau berharap jadi penghuni tetap rumah ini" "aku akan memberimu uang saat sudah menjanda tenang saja" Lingga menuruni tempat tidur dan ingin membuat pembicaraan ini selesai
"ini anakmu Lingga, aku siap di tes DNA atau apa pun namanya untuk membuktikannya!"
Putri menaikan nada bicaranya, ia tidak terima direndahkan seperti itu
"dengar! aku tahu dengan jelas itu adalah anak Raka, ia menyukaimu dan kamu senang dengannya, daaan tenang saja anak ini akan tetap mendapat kucuran uang dari keluarga ini" Lingga tidak tahan lagi untuk mengatakan sesuatu
"Lingga" cepat dipotong yang punya nama
"bahkan jika aku disuruh memilih, aku akan tetap memilihnya Putriii, aku mencintainya dan ia mengandung anak ku sekarang, bukankah ini adil, aku hidup dengan orang yang aku cintai begitu juga denganmu kau akan hidup dengan pria yang memang benar-benar kau cintai"
"aku.... sudah.. benar.. benar..mencintai ayah dari anak ku!, karena aku tidak ingin ia sama seperti aku!, aku ingin dia memiliki orang yang utuh tolonglah Lingga" Putri menangis untuk pertama kali didepan Lingga
Lingga memalingkan wajahnya melihat ke arah lain saat mendengar Putri menangis, ia pun berbicara agak pelan "dia akan tetap memiliki orang tua yang utuh saat kau menikah lagi dengan laki-laki lain Putri''
"tolong sekarang permudah urusanku, aku mencintai wanita ini dan membutuhkan wanita ini didalam hidupku, aku tahu kalimat ini kasar tapi aku harus mengatakannya bahwa kamu tidak cocok menjadi istri ku, kita tidak pernah cocok Putri, aku menghargai semua kekurangan dalam hidupmu tapi aku tidak bisa menerimanya sepenuhnya" Lingga berbicara dengan nada naik turun kini ia menarik nafas dan "namanya Anita ia perempuan yang aku cintai! ia cocok denganku, mungkin kalau kau mengenalnya kau pun akan setuju, jadi sekarang aku sedang dalam masalah jika tidak segera menikahinya secepatnya karena perutnya akan segera membesar" Lingga melihat Putri yang menunduk percayalah ia memang tidak membenci perempuan manis ini tapi memang mereka tidak cocok dan Lingga merasa pantas untuk mendapatkan wanita impiannya iya wanita impiannya adalah wanita seperti Anita, ia memegang pundak Putri "aku akan menjemput ibu ke bandara dan kalau kau mau ikut cepatlah bersiap, aku pikir kalau kau ikut itu akan bagus dan menunjukan kita tidak bertengkar dan memang kita tidak bertengkar bukan" Putri mengangguk dengan masih menunduk, ia sudah pasrah sekarang.
didalam mobil Putri berusaha bersikap senormal mungkin karena memang Lingga sendiri juga sudah biasa saja seperti kejadian tadi tidak terjadi dan melupakan fakta bahwa perempuan yang sedang satu mobil dengannya sekarang sedang hamil dan mengandung anaknya, Putri menatap jalanan malam yang basah, mereka membawa dua mobil satu mobil untuk ditumpangi mama dan papa satunya lagi untuk barang, di antara kelap kelip cahaya lampu di jalan ini sedikit sedikit menangkap sinyal bahwa sepertinya Lingga memang tidak akan menganggap kehamilan Putri sepertinya ia akan benar benar tidak bisa merasakan kasih sayang seorang suami di sepanjang masa kehamilannya hingga melahirkan entah kapan tanggal pasti mereka akan bercerai Putri tidak tahu tapi yang pasti sudah Putri rasakan adalah hari itu semakin dekat untuk tiba apalagi tadi Lingga sendiri yang mengatakan dia perlu menikahi kekasihnya itu secepat mungkin karena ia sedang hamil sedangkan perempuan yang didekatnya sendiri juga sedang hamil jangankan diprioritaskan ia malah akan diceraikan
__ADS_1
benar-benar malang nasib Putri aaaah tidak nasibnya tidak benar-benar malang jika dibandingkan dengan yatim piatu di luar sana yang harus bekerja kasar setiap hari untuk mencari makan di hari yang sama, sekarang Putri punya toko bunga yang cukup besar dan beberapa karyawan yang sudah Putri anggap keluarga sendiri namun yang malang adalah anak di dalam kandungannya tidak dianggap oleh ayahnya sendiri, saat suami suami lain di luar sana akan senang ketika mendengar bahwa benihnya sudah tumbuh di dalam rahim istrinya sendiri tapi Lingga malah akan menceraikan calon keluarganya yang dikira Putri akan utuh dan hidup penuh cinta, tapi sudahlah ia harus menghapus mata dan pipi yang basah ini agar ibu mertua tidak curiga nantinya.