
Gimana kabar pengobatan papa ma?" Lingga membuka pembicaraan pagi ini di meja makan, sarapan pagi ini semuanya ada di meja makan dan sudah memakan sarapan mengisi energi untuk bekerja pagi hari
"Sebenernya masih belum selesai tentu saja tapi sepertinya papa sudah capek untuk bolak balik terus dan enggak ada rencana untuk kembali, kau tahu rasa hanya ingin terus disini aja sampe ajal datang dari pada ajal kami menjemput saat kami di pesawat" mama Ratna mengutarakannya
"Umur papa sana Mama masih panjang kok jangan ngomong gitu, kalo enggak mau ke sana lagi semua terserah kalian ma yang penting kondisi papa sudah lebih baik" mama Ratna dan papa mengangguk
"Ma sebenernya Lingga ingin ngomong sesuatu sama kalian" Lingga membuka pembicaraan, semua yang ada di meja makan tampak mengangguk pelan pertanda mereka akan mendengarkan
"Hubungan aku dan Putri baik baik saja ma, namun mama dan papa tahu bahwa kami menikah bukan karena kehendak kami sendiri melainkan kehendak dari om Herman" Putri diam sedangkan mama dan papa nampak memperhatikan dengan serius setiap maksud dari kata yang keluar dari mulut Lingga
"Kami memutuskan sekarang adalah waktunya untuk kami menentukan pilihan kami sendiri ma"
"Maksud kamu apa Lingga?" Mama Ratna nampak cemas
"Aku dan Putri sepakat untuk berpisah sekarang, bukankah begitu Putri" Lingga melempar pernyataan pada Putri
Kaki Putri bergetar, ia benar-benar gugup dan bingung namun ia tahu ia bisa mengatakan hal yang Lingga inginkan
"i iya ma pa, hubungan kami baik baik saja namun kami merasa sudah saatnya menentukan pilihan kami sendiri" apalah daya yang Putri bisa lakukan hanyalah mengulang kata-kata Lingga sama persis yang penting pointnya tersampaikan
"Kalian ini kenapa? Jika baik baik saja maka teruskan, bukankah lebih baik?" Papa Lingga bersuara setelah diam saja dari tadi
"Bu bukan pa, maksud Lingga maksud Lingga sekarang Lingga sudah menemukan wanita yang Lingga sungguh cintai dan ia pun juga mencintai Lingga pa, dan Putri pun sudah saatnya bahagia dengan pilihannya" laki-laki bertubuh besar itu berusaha mengatasi situasi kalau mamanya menolak keinginannya
"Sudah menemukan wanita yang dicintai? Lingga kamu itu sudah beristri kenapa harus mencari wanita lain lagi disaat kamu sudah punya wanita sendiri di rumah?" Mama Ratna nampak mulai sedikit menggunakan emosinya
"Ma Lingga tidak mencari, cinta itu datang sendiri dan tidak bisa di halangi" Lingga berusaha menjelaskan "bukankah mama tau saat menikah kami tidak saling mencintai?"
"Lingga bisakah kamu bersikap dewasa? Laki-laki hebat sejatinya hanya menikah satu kali dan berusaha menepati janjinya dengan Tuhan untuk menjaga istrinya seumur hidupnya" Papa Poernomo terpancing pada sikap anak laki-laki nya yang seperti anak kecil saja gonta ganti perempuan bagi papa Lingga
"Kamu sadar kamu itu sudah menyakiti Putri kalau begini Lingga" tambah mama Ratna "om Herman sudah menitipkan anak angkatnya pada kamu, kamu harus menjaganya"
"Pa Lingga berhak menentukan pilihan untuk kebahagiaan Lingga sendiri" Lingga mulai menaikan nada bicaranya
Putri yang dari tadi diam saja mulai memberanikan diri menegakan kepala ikut berbicara "ma pa tenang dulu" lerai Putri "Putri tidak keberatan, maksudnya Lingga sudah menemukan orang yang ia cari dan kita tidak boleh menghalanginya karena itu akan berakibat buruk pada banyak hal, pekerjaan nya akan terganggu dan hubungan kami mungkin akan jadi tidak sehat kalau terus dipaksakan"
"Tidak Putri!" Mama Ratna sedikit marah dan dengan matanya yang sudah mulai memerah "mama tidak ingin Putri tersakiti daaaaan bukan itu saja mama tidak ingin mengulang dari awal lagi, berkenalan beradaptasi dan harus menunggu lagi untuk mendapatkan cucu, mama sekarang sedang menunggu cucu"
__ADS_1
"Ma pacar ku hamil" Lingga memotong
Mama Ratna dan Papa Poernomo memandang Lingga dengan keterkejutan
"Namanya Anita, Anita Bahri anaknya pak Bahri papa kenal, ia temanku di kampus dulu aku benar-benar menyukainya aku mencintai nya ma pa" ia melihat ke arah mama dan papa nya secara bergantian "dia hamil anak aku dan ia akan memberikan mama cucu , ini bukan salahnya ma ini salahku, aku sekarang harus bertanggung jawab secepat mungkin pada Anita ma"
Mama Ratna mengedipkan ngedipkan matanya untuk mencerna keadaan dan berpikir sejenak "dimana perempuan itu sekarang?"
"Ia di Bali ma, pak Bahri mengharuskan aku menikahi Anita sesegera mungkin dalam minggu ini" Lingga melihat mamanya melunak
"Aku harap mama dan papa menyetujui nya karena aku pasti akan segera berpisah dengan Putri dan menikahi Anita di Bali tanpa atau dengan kehadiran mama dan papa, tapi jika mama dan papa datang maka aku akan sangat senang"
"Tapi apakah Putri belum hamil? Kalian sudah menikah beberapa bulan" Papa Lingga bertanya
"Tidak Putri belum hamil ma pa" Lingga segera menjelaskan saat Putri baru mau mengangkat kepalanya
"Kalau begitu mama merestui kalian, cepatlah menikah, sesama wanita mama tahu betapa tidak enak berada di posisinya, kau harus cepat bertanggung jawab Lingga dan mama ingin segera melihat anak mu lahir" Mama Ratna tersenyum di akhir kalimatnya, ia pun bangkit dari kursi dan memeluk Lingga "inikah hadiah yang kamu bilang kemarin?" Lingga mengangguk dengan senangnya
Putri tau posisinya sekarang, Lingga tidak menginginkan anaknya sama sekali, disini ia tidak punya tempat, mulut nya tidak boleh berbicara mengenai keberadaan anak di perutnya sendiri.
sekarang Putri datang ke toko dengan kantong plastik besar yang memuat beberapa barang nya yang mulai ia cicil untuk di pindahkan
"Gile boss kite mau pindahan nih ceritaknye" Dina datang dengan mulut berbunyi nya
"Iya nih baru beberapa barang yang di bawa tapi setidaknya udah di cicil" Putri meletakkan barangnya diatas meja dekat sofa
"Eh kak Putri beneran mau pindah?" Dina menyesali perkataan nya tadi
"Iyah" Putri menghempaskan bokongnya ke sofa
"E e emang kenapa kak?" Dina penasaran apakah pikiran buruknya benar
"Kayaknya aku sama Lingga beneran enggak jodoh" jawab Putri dengan ekspresi biasa saja namun hati yang masih nyeri
"Tapi kak Putri kan lagi hamil" Dina benar-benar heran "Mak maksudnya apa yang terjadi dengan kalian kak?"
"Hemm Dina kak Putri capek, nanti ya ceritanya" Putri melihat Dina yang kecewa namun mencoba mengerti dengan mengangguk
__ADS_1
"Kak Putri mau jus buah atau teh?" Dina melirik Putri "buat nenangin diri sekalian aku pesenin batagor gimana?" Tawar Putri dengan senyum yang sangat lebar
Putri tersenyum dan mengangguk kan kelapa "iya pesenin yang banyak ya sekalian buat yang lain, kita pesta batagor hari ini" di akhiri tawa ringan oleh Putri
"No kak kita harus pesen amerrrrrr" Putri menatap Dina yang ajaib ini dengan tatapan horor "iya kak kita harus pesen yang agak Laen dari biasanya" Dina berbalik dan berteriak "Sindi!!! Pesen Amer sayanggggg!" Sungguh Putri hanya menggeleng dengan Adik tidak kandung yang ia sayangi ini
Tidak perlu waktu lama meja yang sebenernya cukup besar ini sudah dipenuhi beberapa porsi batagor dan beberapa macam bentuk es
"Katanya mau pesen Amer? Ini kok malah Boba?" Putri bertanya sambil membuka bungkusan batagornya
"Tadi sebenarnya mau pesen Amer itu yang merek Orang Utan tapi pas di pikir-pikir nanti kak Putri kepengen trus maksa minta kan enggak bagus buat kesehatan dedek bayi jadi kita pesen Boba dan jus buah aja deh" Mulut Dina berkomat kamit mengarang cerita sambil tangannya membuka bungkusan cabe dan kecap pada batagor
Putri hanya memutar bola matanya "Bye The Way kakak bakalan tetap tinggal disini" Okta dan Sindi menoleh berbarengan sambil tetap mengunyah makanan mereka seperti berkata 'kenapa kak?'
"Ruangan itu bakalan kakak besarin lagi, sore ini bakalan manggil tukang buat bongkar triplek besar itu dan bagun lagi, palingan dua jam kelar kayanya"
"Kak Putri" Dina berbunyi
"Emm" Putri menoleh
"Kak Putri perempuan yang kuat, kami selalu ada buat kak Putri, tenang aja Sindi sama Okta udah aku marahin enggak bakal datang kesiangan lagi kok nanti saat kakak udah tinggal di sini" Sindi dan Okta menoleh tidak terima
"Ehhh kak Dina mana ada ya gue selalu Dateng on time Sindi juga begitu, ih asli kakak ngarang banget" Okta cepat membantah tidak terima atas tuduhan Dina yang tiba-tiba
"Elah gue becanda doang biar kagak sedih" Dina mem pout kan bibirnya
Putri tertawa pada tingkah perempuan-perempuan muda di dekatnya ini "Terimakasih atas kata-katanya Dina dan ya dugaan di kepala kalian benar kakak bakalan berpisah sama suami kakak sesegera mungkin" Putri mengatakan nya dengan ketegaran "jadi pelajaran nya adalah kalian kalo mau nikah, menikahlah dengan laki-laki yang mencintai kalian dan juga sebaliknya okey?" Dina, Sindi, dan Okta mengangguk dengan seksama
"Gue sih udah cinta banget sama suami gue cuma masalah nya kita lagi LDR kak, dia Korea gue di Indonesia" Okta berbunyi dan sejak saat itu kita tau Okta adalah seorang kpopers.
Mama Ratna senang bahwa akan ada bayi di antara mereka, ia tidak sabar untuk bertemu perempuan yang sedang mengandung anak Lingga tersebut dan mengajaknya berbelanja pakaian bayi, sudah lama terakhir kali Ratna membeli perlengkapan bayi dan mencium bau-bau lembut khas bayi, ia cuma punya satu anak bayi yaitu Lingga sendiri sementara Raka saat itu sudah cukup besar saat ia mengasuhnya. Poernomo adalah laki-laki karir dengan perencanaan keuangan yang matang dan Ratna juga setuju kalau lebih baik memiliki satu anak saja selain lebih mudah menjamin masa depannya dengan dana pendidikan yang berkualitas juga Ratna adalah perempuan muda yang percaya jika memiliki banyak anak pasti merepotkan dan akan berdampak negatif pada anak itu sendiri, namun setelah bertahun-tahun hidup berdua saja di usia tua dengan keuangan yang super baik, keinginan untuk memiliki anak kecil yang lucu dan manja menjadi sangat kentara karena rumah yang besar dan sepi ini sudah kehilangan warna serta bunyinya saat kedua anak mereka sudah dewasa dan mereka sudah tua untuk terus berada di luar rumah.
Sebenarnya keluarga Poernomo tentu saja akan membantu keuangan mereka saat awal menikah jika ingin memiliki anak yang cukup banyak namun dengan prinsip kemandirian dari Poernomo sendiri dan Ratna ialah wanita muda yang sudah berjanji hanya ingin memiliki satu anak saja
Ratna mengenang kembali masa-masa saat ia masih muda dan penuh energi, yang bersemangat namun juga takut dalam mengurus bayinya sendiri, Lingga kecil yang sudah terlihat gemuk sejak kecil sudah mencuri hati Ratna saat pertama kali mereka saling tatap, Ratna muda berjanji akan mencurahkan semua yang ia punya untuk satu anak ini saja, saat Lingga sudah besar kadang ia bertemu anak anak kecil di jalan maupun di mall muncul kembali hasrat untuk memiliki mahluk kecil itu didalam rumahnya yang besar, teman-teman satu persatu sudah memiliki cucu dan Ratna beberapa kali menggendongnya bahkan bercanda untuk menculiknya karena sudah terlalu gemas dan rindu pada kehadiran anak kecil. Mama Ratna berencana menemui perempuan bernama Anita itu secara langsung dan Lingga juga memiliki rencana besok langsung ke Bali dan mengurus semua keperluan pernikahan mereka
Pernikahan ini akan digelar cukup besar karena tentu sana akan mengundang semua kolega kerja Lingga serta semua tim pembangunan apartemen Anita, Lingga bilang pernikahan mereka akan diadakan lima hari lagi karena memang Pak Bahri meminta Lingga melakukannya kurang dari satu Minggu sebagai hukuman Lingga sudah menghamili anaknya di luar dari pernikahan, hukuman terbaik yang pernah ia terima Lingga pikir, tentu saja menikahi Anita adalah salah satu cita-citanya yang paling awet dan saat seperti ini rasanya Lingga sudah memenangkan banyak tender dan proyek bahkan lebih dari itu, bagaimana tidak ia akan menjadi ayah sekaligus menjadi suami dari perempuan tercantik yang pernah ia temui, terlepas dari pernikahan perjodohan konyol. Malam ini sebelum hari pernikahan diadakan ia seperti menang besar, banyak koleganya dan beberapa karyawan akan melihat Anita Bahri yang cantik menjadi istri dari Lingga Poernomo yang sukses, bukankah itu akan jadi sangat keren? Tentu saja, ditambah setelah itu akan lahir bayi paling manis yang pernah ada karena wajah tampannya akan tercetak jelas pada anaknya nanti ditambah fakta bahwa bayinya berasal dari rahim Anita jelas mereka akan memiliki bayi paling tampan atau cantik di antara yang lain pikir Lingga sambil melihat langit-langit kamarnya yang mewah
__ADS_1