
Lingga
-Aku besok ke Bali lagi, untuk merapati proyek perumahan kemarin, kalo aku ke rumah, pak Bahri suka dibawain apa ya?-
Anita membaca pesan pada handphonenya dan membalas
-Btw Lingga, aku sekarang lagi di Jakarta
, Lusa aja sekalian ketemu sama arsitek yang ngedisain model rumahnya-
Anita menoleh ternyata makan siangnya sudah sampai, setelah membalas pesan Lingga ia melihat sekeliling mencari Angga yang berjanji akan menikmati makan siang bersama, Anita memilih untuk menunggu dulu pria yang menidurinya itu untuk menyantap makan siang mereka bersama.
Di dalam gedung Perusahaan Bara Energi, Pukul satu siang sebuah surat telah sampai di meja petinggi perusahaan batu bara terkenal itu, surat dari kementerian ESDM dan kementerian Kelestarian Lingkungan Hidup yang berisi pernyataan bahwa perusahaan batu bara yang telah berdiri tujuh puluh tahun itu harus berhenti melakukan aktivitas pertambangan di pulau Kalimantan karena sudah dalam berapa tahun kebelakang teguran-teguran yang dilayangkan oleh masyarakat karena pencemaran limbah tambang tidak pernah di indahkan oleh pihak perusahaan, maka pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah dan beberapa pemerhati lingkungan untuk menekan perusahaan itu tutup sementara waktu sampai adanya jalan tengah dan ganti rugi pada puluhan ribu masyarakat sekitar yang terdampak dan usaha untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang sudah rusak.
Hal ini tentu mengejutkan dan merugikan bagi perusahaan Bara Energi karena 70% pemasukan perusahaan berasal dari tambang yang ada di pulau Kalimantan
Brak Brak
Pria tua beruban itu menggeprak meja
"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa surat ini bisa sampai ke Jakarta, harusnya pejabat daerah harus cepat ditemui dan diajak bicara, dan masyarakat yang provokatif harus segera di kirimi uang, kenapa hal seperti itu saja tidak bisa diatasi Haah?"
Teriak bos besar Ambara pada dua belas direktur perusahaannya yang sedang berkumpul didepannya ini, dan sebagai Presiden Direktur Angga tegang dan tubuh bergetar, disaat yang sama ia harusnya memenuhi janji dengan Anita untuk makan siang bersama
"Pak Angga saya tidak mau tau, para investor tidak boleh tau mengenai surat ini, saya akan membunuh karir kalian semua kalau ini tidak cepat teratasi"
Ambara menatap tajam kedua belas direktur andalannya selama ini termasuk presiden direktur yang notabene adalah anaknya sendiri
"Saya akan segera menemui Mentri ESDM untuk menawar"
"Dan saya harus segara mendengar kabar baik juga dari kalian semua, faham?"
Pria tua berambut putih dan memegang tongkat itu pergi dengan ajudannya.
Ting Ting beberapa pesan masuk berbarengan
Lingga
- kamu di Jakarta? Urusan kantor ya, Kita bisa ketemu?, Mumpung lagi di kota yang sama-
Angga
- Nita aku lagi ada urusan mendadak, maaf banget, sebagai gantinya malem ini kita dinner okey-
Anita menghela nafas
To Lingga
- aku lagi di restoran italy di depan PIM-
Lingga
- aku belom makan siang, boleh kesana juga?-
Anita
-silahkan-
Makanan di depan Anita sudah dingin dan dia sudah tidak berselera
Tidak lebih dari sepuluh menit Lingga sudah sampai, ia masuk dan mencari meja Anita
Hah
Ia duduk dengan terengah-engah
"Capek banget kayaknya"
Celetuk Anita
"Kau tau aku meluncur seperti jet"
__ADS_1
"Laper banget kayaknya"
Anita sambil memanggil waiters
Sebelum Lingga sampai Anita sudah menyuruh pelayan untuk mengangkut makanan dingin di depannya
Lingga tersenyum mengembang
"Iya laper banget"
Pelayan restoran datang
Dan Lingga hanya memesan menu menu yang memiliki daging, Anita hanya pasta dengan taburan sirloin kecil, ia sudah tidak berselera
"Kamu ke Jakarta kapan?"
Lingga
"Kemarin sore"
"Mendadak ya?"
"Iya"
Jeda sebentar
"iya itu aku ditelpon sama kantor pusat untuk segera ke Jakarta terkait perumahan itu, Lingga kau tau, itu proyek pertama yang aku sendiri memimpin pembangunan dan pemasaran nya"
"Terimakasih sudah membantu mempermudahku"
Anita tersenyum tulus penuh terimakasih
"Sama sama"
Lingga senyum sambil mengangkat lengannya untuk disampirkan di bahu kursi
"Anita kau tau?"
"Kau lihat orang-orang yang duduk disebelah sana"
Anita menoleh ke arah yang ditunjuk Lingga
"Mereka membicarakan mu"
"Kenapa?"
Anita mengerutkan keningnya
"Tadi mereka bilang, 'lihat itu ada Raisa' "
" Mereka juga bilang 'mungkin yang duduk di kursi sebelah sana adalah adik atau masih saudara nya penyanyi terkenal Raisa"
Lingga menoleh ke Anita yang sudah memalingkan wajah tersipu nya gara gara di puji Lingga barusan
"Udah ah Lingga"
Anita benar benar ingin mengakhiri keadaan saat Lingga menggodanya ini
"Orang bilang Raisa adalah salah satu perempuan tercantik di Indonesia, tapi aku tidak setuju, mereka tidak tau ada Anita didepanku"
Selesai, Anita hanya bisa memejamkan mata, ia tidak ingin lagi dipandang Lingga kalau begini
"Permisi pesanan anda sudah siap"
Pelayan datang menyelamatkan Anita
Lingga menyuap dengan lahap daging daging dan saos di depannya
"Ling kamu suka banget sama daging panggang italy"
Anita yang melihat Lingga makan dengan lahap pun jadi ikut berselera, nafsu makan yang hilang tadi kini sudah kembali
__ADS_1
"Enggak juga, aku emang belom makan siang, ini udah mau jam dua siang"
Ya iyalah Lingga pasti makannya cukup banyak, liat aja badannya yang tingggi besar dan berisi
Anita berbunyi didalam pikirannya
Melihat Lingga makan lahap gini seperti liat anak kecil dengan tubuh tambun sedang makan dengan lahap, bedanya badan Lingga terlihat tidak asal berisi namun juga terbentuk, bisa dilihat dari urat di tangannya dan Otot dilengannya.
makanan yang mereka pesan sudah habis dan hanya meninggalkan piring yang kosong saja
"Nita kamu pulang ke Bali hari ini?"
Lingga membuka obrolan saat mereka sudah selesai makan
"Enggak, aku pulangnya besok pagi"
"Aku juga besok mau ke Bali lagi, ada banyak yang harus di urus"
"Kamu udah pesan tiket?"
"Kenapa kita enggak bareng aja?"
"Belum"
"Bareng?, Boleh aja"
"Eh Lingga, aku punya beberapa ide yang cukup melenceng dari proposal awal perumahan itu, tapi enggak yakin investor bakalan mau"
Anita perlu biacara masalah pekerjaannya dengan Lingga
"Ide nya apa?"
Lingga menanggapi
"Menurut aku membangun Perumahan bukanlah hal yang menarik di Bali, maksudku kalau ini kota lain di Indonesia mungkinlah perumahan kelas menengah masih bisa kita jual, namun ini Bali, dengan tempat yang terbatas dan ekslusifitas lokasi kita lebih baik membangun hal yang lebih selaras dengan tema gaya hidup masa depan"
Anita sangat bersemangat, ini adalah obrolan yang ia tunggu tunggu untuk dibicarakan dengan Lingga
"Maksudmu?"
Lingga bingung
"Aku berpikir bahwa Apartemen kelas menengah lebih menarik dari pada perumahan murah yang memakan banyak tempat"
Lingga semakin memperhatikan, jiwa bisnis nya menangkap sinyal menarik pada obrolan ini
"Dengan apartemen, tanah yang kita punya akan menyisahkan ruang, dan lokasi itu bisa kita bangun tempat makan atau tempat hiburan"
Anita antusias pada ide proyek yang sudah ia pikirkan itu
" Menarik"
Lingga menggumam
"Maksudku ini Bali Lingga, Bali tidak akan hidup tanpa tempat menarik sarana hiburan"
Anita mengetuk-ngetuk meja dengan tangannya sebagai gambaran ia sangat yakin pada idenya
Lingga tersenyum
"Aku suka idenya"
"Aku sebagai sponsor setuju"
Rasanya seperti mendapat undian lotre besar, perasaan Anita sekarang setelah mendapat persetujuan dari Lingga
"Aku harap ada banyak investor baru yang tertarik pada proyek ini"
"Amin, semoga"
Lingga senang melihat Anita senang.
__ADS_1