Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Mengikuti Alur


__ADS_3

Di meja makan rumah Ratna dan suaminya sudah duduk, Putri membantu papa mencentong nasi, Raka datang


"Mah pah kak putri"


Raka duduk


"Kamu makan di rumah?, mama seneng, pas banget mama sama Putri masak sop sop enak"


Ratna tersenyum


"Iya kata mbak mama masak sop iga sama buntut"


Senyum Raka


"Gimana Kedokteran kamu?"


Papa bertanya dengan dingin


"Koas ku udah selesai pa, Raka mau ngelamar di beberapa klinik anak di jakarta"


Datar Raka


Orang yang disebut papa itu hanya mengangguk dan diam


Dan Putri memperhatikan dengan serius interaksi adik ipar dengan keluarganya keluarga


"Mama sama papa mau ke Swiss hari ini?"


Raka bertanya disela-sela makan


"Iya kan mama sama papa lama di jakarta cuma buat acara nikahnya Lingga"


Mama


"Abisin dulu makannya baru ngomong"


Papa menyela, kebiasaan lama baginya melihat Raka selalu berbicara saat makan dengan orang lain dan ia tidak suka itu


Raka diam


selesai makan, mama ratna mengelap sudut bibirnya


"Pesawat akan berangkat jam tiga jadi jam dua kami harus ke bandara"


Mama sambil mengelap bibirnya dari sisa kuah


"Pak Arip yang nganter nanti, kamu tenang aja"


"Raka juga akan pergi jam setengah tiga ma"


"Yaudah mama sama papa siap siap dulu ya"


Ratna pergi meninggalkan meja makan dan mendorong kursi roda suaminya, memang udah dua hari ini suaminya drop.


Raka juga ikut meninggalkan meja makan, sedangkan saat Putri berinisiatif akan mengakat piring piring kotor di meja makan, ia ditahan mbak ida


"Enggak usah non, biar yang mbak sama yang lain aja"


"Jangan panggil non mbak, enggak enak saya tidak terbiasa hhehhe"

__ADS_1


Putri berbicara menyamai logat mbak ida


"Kalau saya panggil Putri lebih enggak enak lagi non apalagi di denger den Lingga sama ibu"


"Aaa terserah mbak aja"


"Non Putri bisa logat jawa juga?"


"Iya mbak dulu ayah saya sering pake dia orang jawa juga kalo enggak salah"


"Jawa mana non?"


"Saya kurang tau mbak, ayah saya meninggal saat saya masih kecil"


"Oh maaf non"


"Enggak papa, saya tinggal ya mbak"


"Nje non".


Malam hari jam sepuluh Lingga pulang, di kamar dia melihat Putri sedang duduk menggadap kaca pemandangan sepertinya Putri sedang membaca buku pikirnya, Putri menoleh lalu berdiri dan mendekati Lingga, ia tidak berani menatap Lingga


"Kamu sudah makan malam?, kalau belum saya akan siapkan"


"Iya aku belum makan"


"Dan saya, maksud saya 'aku' ingin bicara sebentar"


Memegang lengan Putri


"Kita sebaiknya jangan saling memanggil 'saya kamu' , kamu bisa panggil saya Lingga atau 'kamu' juga boleh dan lebih baik menyebut 'aku' dari pada 'saya' untuk diri sendiri"


"Iya baiklah, aku siapkan makan dulu"


Lingga mengangguk dan Putri keluar dari kamar.


Di kepala Lingga berbiacara


"Aku akan menjalani bagaimana kehendak kehidupan, tidak menolak dan juga tidak berusaha menerima, ini tidak buruk, punya istri seperti Putri tidaklah merugikan selagi memang aku tidak memiliki gadis lain yang aku cintai"


Lingga mandi, dengan baju piayamanya ia bersiap turun untuk makan malam


Di dapur ia melihat Putri dan mbak idak mempersiapkan makanan di meja, ia menarik kursi dan duduk sambil memperhatikan dua wanita ini menghangatkan makanan, tidak lama setelah itu Lingga melihat Raka berjalan ke arah meja makan ia tersenyum melihat adiknya itu


"Mau ikut makan juga?"


"Iyalah emang enggak boleh"


"Tumben bener"


"Masih mau makan sop"


"Mbak idak sopnya masih ada kan?" Teriak Raka pada mbak ida


"Ada den semangkuk tadi non Putri yang simpen"


Balas mbak ida sambil berjalan keluar dari dapur


"Biasanya udah di buang sama ibu, harus lauk yang berbeda katanya kalo makan malam"

__ADS_1


Senyum lebar mbak ida sambil menaruh satu mangkuk panas sop buntut


"Ayam goreng ungkep, dan sayurannya dibawain mbak mbak yang lain"


Putri sambil meletakan makanan itu di atas meja


"Tumben bener den makan malem bareng kayak gini, biasanya pada makan di luar" cengenges mbak ida


"Iya mbak ketagihan masakan embak"


Senyum Raka


"Ih den Raka mbak mah masak sayur sayur doangan, ayam sama sop mah non Putri"


"Mbak ida mau makan bareng?"


Putri mengajak


"Enggak non silahkan makan"


Mbak meninggalkan meja makan


Putri menyentongkan nasi ke piring Lingga


"Sekalian kak"


Raka tersenyum


"Jauh nasinya"


"Iya" Putri tertawa


"Ayamnya pedes nggak?"


Lingga bertanya


"Enggak kok, kalo mau pedes pake sambel ijo aja itu disamping kamu"


Putri.


Makan malam selesai, Lingga dan Putri sudah didalam kamar, Lingga menyikat gigi lalu menuju ranjang dan menyelimuti dirinya


"Ling lingga"


Putri memanggil


"Em" "ya ada apa" dia memasang wajah yang sangat mengantuk


"Aku boleh ke toko kan kalo siang, mama udah keluar negri, jadi bosen banget di rumah sendirian"


"Emm ya"


Gumam Lingga dan membelakangi putri melanjutkan tidurnya


Didalam hati


"Gila meski enggak kayak semalem setidaknya enggak membelakangi juga kali"


"Atau satu kalimat selamat tidur bisa kali"

__ADS_1


Rutuk Putri


__ADS_2