
Anita sedang merapikan diri di kaca yang ada di kamarnya handphone nya berdering, Angga menelfon, dia ingin Anita ikut pada penerbangan pesawat pribadinya yang sedang berada di Bali hari ini, Anita memutar bola matanya, jelas Angga sudah mengatur ini, tidak mungkin pesawat pribadinya bisa tiba tiba di Bali dan punya penerbangan di hari anniversary mereka, dihari ini tepat di mana hari Angga menyatakan cintanya saat mereka masih menempuh dunia perkuliahan, Angga menyatakan cinta atau dalam istilah yang ramai saa itu adalah 'menembak' Putri dengan menyewa satu studio bioskop di mall paling mewah di Jakarta pada saat itu dan itu adalah hal paling keren pada jamannya, mereka adalah pasangan hokay impian.
Penerbangan Lingga sudah satu jam yang lalu, jam dua siang ini Anita berada di toko jam mewah dan akan langsung menuju pesawat, hal ini adalah sederhana namun sudah jadi kebiasaan bagi sepasang mantan suami istri ini, selama sepuluh maka sudah tahun sepuluh kali juga mereka tidak pernah tidak saling memberi benda saat peringatan hari jadi mereka, meski sudah bercerai sekalipun mereka menyebutnya menjadi cara bersilaturahmi, tidak ada kecanggungan karena yang membuat mereka berpisah adalah keadaan bukan keinginan mereka sendiri.
Pemandangan malam di kaca hotel sangat indah, hotel yang dipesan Angga memiliki view tepat di jantung kota Jakarta dengan bangunan dan pijar lampu yang cantik jika malam hari, dan tebak saat Anita masuk ia sudah disambut bunga, tidak bunga yang dimaksud adalah di lantai, kaki Anita menginjak bunga, bunganya tersebar di seluruh lantai kamar hingga diatas tempat tidur
Angga datang dari belakang dan memeluk Anita saat Anita sudah melangkah didekat tempat tidur
"Aku membeli bunga ini ditempat paling unik dan otentik di kota ini kau tau" bisik Angga di telinga perempuan yang sedang dipeluknya
"Kau membelinya sendiri?"
Tanya Anita
"Aku membelinya sendiri dan membawanya dengan mobilku sendiri"
Bangga Angga
"Sama seperti itu, aku akan memiliki mu dan menghidupimu dengan uang ku sendiri tanpa campur tangan papa lagi"
Anita cukup terkejut saat Angga membicarakan hubungan mereka kedepan, biasanya mereka hanya akan bercinta di malam anniversary seperti ini lalu kembali menjadi mantan suami istri yang terpisah jauh karena Anita tidak boleh bekerja di perusahaan papa Angga jika berada Jakarta
Namun di hati Anita sebenernya senang pada kepastian hubungan ini, meski ia sudah terlanjur mengatakan akan membuka hati pada Lingga, ia tidak mau ambil pusing dulu tentang itu
"Aku mau mandi dulu, atau kau mau kita mandi bersama?"
Goda Angga dengan suara pelan dan berat nya sambil tangannya terus merayap di tubuh Anita
"Tidak, aku sudah mandi di hotel sebelumnya"
"Baiklah, tunggu aku atau kau bisa sambil memilih gereja mana yang akan menjadi tempat kita menikah untuk kedua kalinya"
Cium Angga di pipi Anita sambil tersenyum dan langsung berlalu ke kamar mandi
Alhasil ditengah tengah bunga berhamparan itu adalah dua buah tomat matang yang rasanya ingin meledak
Anita duduk diatas pangkuan Angga di tengah kasur berbunga itu, tangannya mulai bergerilya di dalam baju anita, jelas Angga akan menuntaskan rindunya malam ini dan ia ingin tidak ada penghalang untuk kenikmatan nya di malam yang spesial ini.
"Rangga Lo selesai in perizinan pambangunan pabrik di Sulawesi secepatnya, proyek Papua harus menelan biaya pengiriman bahan yang rendah"
Lingga sambil menandatangi berkas berkas terakhir yang berada di atas mejanya
"Lo langsung pulang kan ya?"
"Atau mau ikut kita makan malam di luar?"
"Gue mau makan di rumah"
"Ada beberapa berkas di rumah yang harus segera di urus"
Lingga sudah selesai dengan tasnya
"Yak iyalah kangen istri kan Lo?"
"Dari Bali langsung ngantor sih"
"Dah yok"
Lingga melangkah keluar ruangan disusul oleh Rangga.
Pulang dari kantor Lingga benar benar lelah, ia rindu Anita dan malam ini ingin sekali makan masakan Putri.
Sampai di rumah ia masuk kedalam kamarnya
Ceklek
Lingga melihat Putri
"Kamu masak?"
Putri menoleh terkejut
"Iya"
__ADS_1
"Masak apa?"
Lingga meletakan tasnya dan membuka jas
"Ikan kuah kuning dan sambel matah"
Jawab Putri ragu
Lingga menoleh dan melihat Putri dengan ekspresi seperti berkata "aku tidak tau kamu bisa masak masakan itu"
"Aku suka masakan Sumatra yang bersantan dan agak pedas, dan kupikir sambel matah Bali cocok jadi pasangannya" gugup Putri
Putri bicara sambil melihat kearah bawah
"Kalau kamu enggak suka, aku bisa bikinin nasi goreng?"
"Enggak, aku juga suka masakan Sumatra"
"Aku akan makan setelah mandi"
Putri mengangguk dan segera turun untuk menyiapkan makanan, ditangga Putri berpikir "ya iyalah siapa yang tidak suka pada makanan Sumatra coba, rumah makan Padang tidak eksis tanpa alasan" putri menuruni tangga dengan cekikikan.
"Kamu pulang jam berapa tadi siang?"
Kata kata itu keluar setelah putri mengumpulkan keberanian, sangat tidak nyaman baginya makan dalam keadaan canggung karena mereka berdua diam saja sambil menyuap makanan dari tadi
"Sekitar jam tiga siang"
Lalu menyendok kuah kemulutnya lagi
Lingga makan dengan lahap terbukti satu mangkuk ikan kuah kuning didepannya habis tak tersisa
"Aku benar benar lelah, hah, makan makanan enak adalah cara yang bagus untuk mengembalikan energi"
Lingga tersenyum dengan tulus
dan di balas senyum termanis yang putri punya, jelas senyum Putri adalah senyum yang paling manis
Drit drit
Sedangkan Putri langsung berdiri dan membereskan kembali Meja makan dibantu oleh mbak Ida
"Hallo ma?"
Lingga beranjak ke teras rumah untuk mendapatkan angin segar
"Hallo Lingga, kamu dimana?"
"Di rumah"
Jawab Lingga heran
"Putri di rumah?"
"Iya"
"Lingga kamu tau?, keadaan papa kamu tidak mengalami kemajuan sama sekali, namun tidak juga mengalami kemunduran tapi papa kamu sudah punya firasat, jadi ia minta tolong mama untuk mengatakan sama kamu kalau kamu harus lebih rajin lagi berusaha dengan Putri untuk memberikanya cucu, setidaknya sebelum meninggal papa kamu bilang dia ingin menimang cucu, dan mama juga setuju, mama sudah ngiler ngeliat orang orang seusai mama sudah pada punya cucu cucu lucu disekitarnya"
"Mama, kita seharusnya cari pengobatan lain untuk papa, bukannya buat cucu "
"Lingga , kamu harus mengerti, papa kamu sudah tidak punya semangat"
Ratna menghela nafas
"Saat kami pulang, mama harap Putri sudah hamil, Ngomong-ngomong Mama tau kamu suka pake pengaman kan? Mama mohon jangan lagi, okey? Mama tutup ya?"
Lingga menghela nafas nya panjang
Hemmmmmhaaaaaaaaaaaaah
"Iya"
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Tut
Lingga mematikan kan handphone nya dan tidak menjawab salam mamanya
Putri masih di dapur bersama mbak Ida, Lingga langsung naik ke kamar untuk istirahat dan berpikir sejenak
Putri sudah selesai dengan pekerjaan nya di dapur dan segera naik ke atas untuk masuk kedalam kamarnya
Ceklek
Putri membuka pintu
Ia melihat Lingga sedang membaca buku sambil duduk di atas tempat tidur mereka
"Putri?"
Panggil Lingga
"Iya?"
Putri bingung
"Kunci pintunya"
"I iya"
Klek
"Putri saya ingin bicara sama kamu, kemarilah"
Lingga meletakan buku yang di pegangnya di meja kecil yang ada di tepi ranjang
Putri duduk di tepi tempat tidur sambil melihat ke Lingga dengan ekspresi seperti berbicara "ada apa Lingga?"
Lingga berdiri dan memutari ranjang mereka untuk duduk di dekat Putri
"Putri, saat kamu menerima permintaan om Herman untuk menikah dengan ku, kamu pasti sudah mempersiapkan diri bukan untuk segala hal yang terjadi dalam sebuah pernikahan?"
Lingga bertanya dengan nada yang rendah terdengar lembut
Putri mengangguk
Dengan hati yang bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Lingga ini
"Mama barusan menelfon, mama dan papa serius tentang mereka menginginkan cucu secepat mungkin karena pengobatan papa selama ini dirasa tidak menghasilkan apa-apa"
Lingga menunduk dan memegang tangan Putri dengan lembut
"Saat saya pertama kali menyentuh kamu, saya tidak sepenuhnya sadar, saya sedang dalam pengaruh obat perangsang"
Jantung Putri berpacu cepat saat Lingga mengatakan kata-katanya
"Sebenarnya obat itu berasal dari keusilan teman saya"
Lingga menjelaskan tentang kenapa saat itu ia menggunakan itu
"Mama ingin saat mereka pulang, kamu sudah positif hamil"
"Aku akan melakukan lagi kewajiban ku"
"Aku harap kamu mau bekerja sama, ini bukan yang pertama bagi kita, aku harap kita sama sama merasakan kenikmatannya" Lingga menggenggam tangan Putri erat
Sekarang Putri punya perut yang mules dan pipi yang memerah malu, hal itu bisa dilihat Lingga meski Putri dari tadi hanya menunduk, Lingga sedikit tersenyum melihat tingkah Putri yang hanya mengangguk saat di minta untuk saling merasakan kenikmatannya
"Dan aku ingin kamu menutup mata menggunakan ini"
Lingga memasangkan dasinya pada mata Putri
"Ini akan membuat saya lebih bebas dan lelasa dalam melakukan ini"
Bisik Lingga, padahal ia hanya tidak ingin bercinta sambil menatap mata Putri, karena ia akan membayangkan Anita saat melakukan ini, ia hanya mencintai Anita meskipun begitu didalam hatinya ia menyukai Putri sebagai istri yang baik dan penurut, awalnya ia pikir Putri hanya akan menyusahkan nya, ternyata tidak seburuk itu
Putri hanya mengangguk
__ADS_1
Lingga mulai melepas baju Putri dan mencium pipi merah Putri lama untuk meresapi bau tubuh Putri untuk lebih merangsangnya, lalu ia mendorong tubuh Putri untuk berbaring, setelah itu Putri menghilang dibaling punggung besar Lingga, hingga Lingga selesai.