Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Malam Dingin


__ADS_3

Angga masuk kedalam mansion besar dan mewah itu dengan perasaan berdebar dan berkeringat


"Perusahaan tambang batubara yang sudah beroperasi selama tujuh puluh satu tahun, Bara Energi secara resmi ditutup sementara oleh kementerian ESDM menyusul kasus pencemaran lingkungan yang sudah meluas dan menyentuh tiga kabupaten di Kalimantan tengah sejak lima tahun kebelakang, banyaknya masyarakat yang menderita penyakit karena air yang tercemar dan hilangnya habitat beberapa burung dan ikan air tawar yang hidup di sungai mahakam, berikut laporan rapotase metro tv di tempat terdampak"


Suara tv menggema di ruang tengah mansion megah itu


Angga tercekat mendengar suara tv itu dan melihat ayahnya yang tengah duduk di ruang tengah mewah namun sedikit menyeramkan itu


"Tahun 1959 kakekku mendirikan perusahaan itu dan sudah bertahan sampai sekarang "


"namun baru pertama kali ini, perusahaan yang agung dan besar ini tersandung masalah koreng seperti ini"


Bunyi Ambara menampilkan akspresi marah dengan kerutan dan wajahnya yang sudah mengendur ditambah lagi rambut yang sudah memutih


"Hal ini sangat mudah diatasi jikalau kamu satu tahun saja lebih cepat menindaklanjuti nya"


"Pa surat teguran itu sebelumnya tidak pernah sampai ke tanganku, surat-surat itu hanya diterima oleh cabang daerah dan mereka tidak pernah membuka nya, mereka menganggap remeh surat itu"


Angga melakukan pembelaan, karena memang Angga merasa ini bukan salahnya


"Kaulah pemimpinnya, apa investor akan memarahi karyawan-karyawan di daerah?, apa investor tahu nama-nama mereka? Mereka tidak tahu menahu tentang anak buahmu, kamulah kepala yang bertanggung jawab, untuk apa ada Presiden Direktur di Perusahaan tambang besar ini jika ia hanya bisa menyalahkan anak buah?"


Ambara menekan setiap kalimat nya yang ditunjukkan kepada penerus Perusahaan keluarga besar mereka itu


"Jika memang perusahaan ini besar dan berpengaruh, papa bisa melobi Mentri dan membuat pengalihan isu agar orang-orang tidak lagi peduli pada masalah ini"


Angga bersuara


Ambara berdiri dan berjalan pelan ke arah taman yang bisa di lihat dari kaca


"Papa sudah menemui langsung menteri itu, kau tau Presiden yang sekarang menjabat itu sok suci, ingin mengambil hati masyarakat untuk pencalonannya yang dua kali, papa tidak suka melihatnya"


"Mentri muda itu juga tidak kalah sok merasa sucinya, ia masih bersemangat dengan jabatannya"


"Jangan lagi kita menyuntikkan uang untuk partai yang akan mencalonkan orang baru, orang-orang lama jauh lebih baik dan penurut"


"Jadi papa enggak bisa ngomong sama presiden itu untuk masalah kita?"


"Papa sudah bicara!, dan kau"


"Kau jangan lari dari tanggung jawab, ini adalah masa jabatan mu sebagai pemimpin perusahaan, turun ke bawah, temui semua orang, berlagak lah menjadi orang baik"


Angga memutar malas bola matanya


"Kalau kau tidak mau, jangan harap kau masih diterima di sini, semua yang kau punya akan dicabut, semua kasus yang kau buat saat masih remaja akan papa bongkar, jangan coba-coba berbuat aneh"


Angga membulatkan mata


"Kerjakan sekarang, secepat mungkin perusahaan harus segera beroperasi"


Ambara beranjak dari tempat itu dan berjalan masuk, ia tidak ingin mendengar alasan dari anaknya lagi.


Sementara itu didalam pesawat menuju Bali, Lingga dan Anita duduk bersebelahan, Lingga disebelah jendela dan Anita disebelahnya


"Lingga, semalam aku mabuk dan aku tidak terkendali, aku benar-benar tidak bermaksud menggoda"


Anita berbunyi sambil menunduk,


Bohong Anita tidak minum apapun, ia sudah membuat keputusan ia memilih Lingga, Angga sudah tidak dapat diharapkan, dari malam itu telfon dari Anita tidak pernah diangkat dan Anita pun sudah membaca berita terbaru


Lingga menoleh 


"Iya aku tahu"


"Dan kau juga harus tahu, sangat sulit untuku untuk mengendalikan nya" 


Lingga ber smirk


"Bagaimana kau mengatasinya?"


Tanya Anita


Lingga diam sebentar dan berpikir


"Kau tau?"


Ia menatap Anita dengan mata sendu


"Aku bukanlah orang yang suci"


"Kau menyewa perempuan?"


Anita bertanya


Lingga mengangguk dengan alis terangkat


Anita menyenderkan tubuh dan kepalanya ke tubuh Lingga dan memegang lengan Lingga


"Lingga, aku memikirkan apa yang kau ucap kan saat kita terakhir kali di Bali"


Anita menengadah dan menatap pria disebelahnya


Lingga menoleh dan menatap mata yang melihatnya

__ADS_1


"Aku rasanya terlalu merasa hebat dan mengabaikan kamu sejak dari jaman kita kuliah"


"Maaf kan aku"


"Aku terlalu sombong"


"Aku pikir aku membutuhkan mu Lingga sebagai partner hidupku"


Anita menenggelamkan wajahnya di ketiak Lingga sambil memeluk pria itu


Lingga tersenyum geli


"Benarkah?"


"Aku tidak menyangka hari ini akan tiba secepat ini?"


Menyentuh kepala Anita untuk mengeluarkan nya yang bersembunyi di balik lengan belakang Lingga


"Ah tidak, ini tidak cepat"


Melihat mata Anita yang sedang malu 


"Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat mu melihat ku"


Anita tersenyum tapi menunduk


"Jadi, kita jadian?"


Lingga bertanya


Anita mengangguk kecil


"Baiklah, ini harus dirayakan"


"Kemana kita sebaiknya?"


Lingga memegang tangan Anita sambil melihat ke depan


"Bukannya kamu akan menghadiri banyak rapat?"


"Aaaaa iya"


Lingga mengepalkan tangan sedikit kesal


"Kamu memesan hotel?"


"Malamnya aku akan berkunjung, kau pasti lelah jika kita harus keluar"


Anita mengusap tangan yang memegang tangan nya itu


"Pembangunan tol pertama di Kalimantan, pembangunan venue di Papua, semuanya akan di rapatkan di Bali"


"Aku akan lama di Bali, jadi kupikir aku butuh tempat tinggal disini"


Lingga menatap Anita


Ohhhh tidak melihat Anita tersenyum seperti itu membuat Lingga tidak fokus, bibirnya yang tebal dan merah, hidung yang mancung, rasanya ingin sekali bibir Lingga mencobanya


Dan ternyata Anita mendekat


Baiklah otak Lingga sudah tidak dapat bekerja lagi, mereka sudah berpacaran dan mencium pacar sendiri bukanlah kejahatan kan?


Bibir mereka bertemu lama dan pesawat itu tetap terbang dengan tenang.


Setelah turun dari pesawat pasangan baru itu tambah lengket lagi, Anita tidak segan memeluk dan menggandeng Lingga di tempat umum seperti bandara bahkan sampai didalam mobil


Dan Lingga tidak terganggu dengan hal itu, hey tidak Lingga bahkan senang dengan perlakuan Anita ini, saat dada besar Anita menyentuh lengannya tentu saja itu menciptakan rasa melayang di sekujur tubuh dan kepalanya


Anita turun di kantornya dan Lingga melanjutkan perjalanan menuju gedung pertemuan, senyum menghiasi wajah tampan Lingga dan senyumnya sangat awet sejak didalam mobil hingga rapat nya selesai, orang-orang melihat Lingga yang nampak sangat bahagia pun ikut tersenyum, iya sangat jarang melihat CEO ini murah senyum seperti hari ini


Ada tiga rapat yang harus Lingga hadiri siang hari ini dan semuanya sangat menguras tenaga dan otak untuk membahas nya, ia pulang jam tujuh malam


Lingga adalah tipe pria yang harus mandi sebelum tidur, selelah apapun ia


Ting Nung Ting Nung


Anita memencet bel 


Lingga yang sedang disiram shower mendengar suara bel itu, ia mengkerut kan dahi


"Siapa?"


"Apakah Anita jadi malam ini kesini?"


Lingga mematikan air shower itu, mengambil handuk dan mengelap tubuhnya lalu mengambil handuk baru yang lebih besar dan melilit kan ketubuhnya


Ceklek


"Anita?"


Bunyi Lingga dengan senyum sumringah


Anita datang dengan celana pendek dan jaket kebesaran yang menenggelamkan tubuhnya, rambutnya di kuncir hingga menampilkan leher jenjang dan mulusnya

__ADS_1


"Hai"


Jawabnya renyah


"Kau sudah makan?"


"Makan malam?"


"Belum"


"Aku bawa beberapa makanan Bali yang terkenal"


"Ayo makan bersama"


Lingga tersenyum geli kali ini


"Cie yang udah jadi pacar baik banget"


Okeh kali ini ia sedikit tidak bisa menahan diri untuk menggoda perempuan yang sudah resmi menjadi kekasihnya ini


Anita menahan senyum


"Emang enggak boleh?"


Anita meletakan makanan itu di atas meja dekat  kaca yang menghadap langsung ke arah pantai


"Ya boleh sih" lingga tertawa sambil meninggalkan Anita 


"Mau kemana?"


"Pake baju" 


Teriak Lingga yang sudah menjauh.


Lingga sudah menghabiskan makanannya


"Kamu enggak panas pake jaket gitu?"


"Enggak"


"Kedepan yuk"


Ajak Lingga untuk melihat bagian luar apartemen nya yang super mewah,


Anita mengikuti saja langkah Lingga dari belakang, mereka sampai di dekat kaca pembatas dan angin pantai menyambut mereka


"Lepas aja jaketnya, aku peluk, mau?"


Entahlah Lingga risih melihat jaket tebal dan besar itu


"Okey" Anita membuka jaket itu


Dan Lingga tidak menyangka kalau Anita hanya memakai pakaian yang sangat pendek dan tipis ditambah lagi bagian dadanya sangat kekurangan bahan namun begitu pas membentuk dada Anita


Lingga meneguk air liur


Dia sudah bilang akan memeluk dan tentu saja Lingga akan memeluk perempuan yang sedang kekurangan bahan ini


"Lingga aku buta ya?"


Bunyi Anita


"Aku enggak tahu kalau sama kamu aku akan bahagia, jauh lebih tenang dan nyaman dengan hubungan ini"


"Ya kamu memang buta dulu"


"Sekarang enggak lagi"


Lingga tertawa


Anita menangkap tangan Lingga dan membawanya ke perutnya dan mengeratkan pelukan mereka


Baiklah bokong Nita menyentuh bagian bawah Lingga dan entah kenapa gerakan nya seperti menggesek-gesek, Lingga tidak munafik dan kucing mana yang akan menolak jika dikasih ikan, Lingga menggerakkan kan tangannya mengelus perut dan sedikit naik ke atas


Anita malah membantu tangan Lingga meraih payudara nya dan melakukan sedikit gerakan disana, Lingga memejamkan mata dan melenguh


"Lingga jangan menolak lagi yah?"


Lingga mengangguk


"Tidak mungkin menolak"


Bisik Lingga


"Kenapa"


Tanya Anita 


"Aku hanya pernah satu kali jatuh cinta, itu saat aku kuliah dan hingga saat ini cinta itu tidak pernah berubah, aku dekat dengan banyak wanita namun perasaan ini hanya ada saat bersamamu Nita, aku tidak diatur apapun, aku memilih jalan hidupku sendiri"


Bisik Lingga ditelinga Anita 


'ya tidak seperti Angga yang mengekor di buntut ayahnya' Anita berbunyi didalam pikirannya

__ADS_1


Lingga mengangkat tubuh Anita dan membawanya masuk, malam itu hanya milik mereka berdua, Lingga seperti kedapatan rejeki nomplok


__ADS_2