
Pintu ruangan di buka dua orang yang masuk yang mengernyitkan dahi dan menciumi bau ruangan, setau Dika parfum ruangan kesukaan Lingga belum berubah menjadi aroma masakan
Tepat di atas meja kerja Lingga, mereka berdua melihat satu mangkuk besar sop buntut yang masih mengeluarkan uap-uap panas
"Buset sop buntut ling"
Dika melihat dengan tatapan bersemangat
Dika mengambil sendok yang memang sudah ada di dekat mangkok
Menyendok kuah dan menyeruputnya
"Emmmm enak ling, beli dimana nih orang?"
"Eh siapa yang nyuruh lo makan?"
Lingga menyerobot sendok
Sruuup hemm memejamkan mata
"Dik ini cuma satu mangkok, lo cari makan di luar"
Lingga jelas tidak ingin membagi makanan ini dia sangat lapar, tadi pagi ia hanya memakan sepoting tipis roti sampai siang jelas dia menjadi sangat lapar, ukuran tubuh Lingga yang terlihat cukup besar dan berisi tetapi dia tidaklah gendut masa ototnyalah yang membentuk tubuhnya, untuk tinggi 183 cm dan berat tubuh 80kg lingga adalah pria besar karena ayahnya dulu juga besar sebelum menjadi lebih bungkuk sekarang dulu ayahnya 180 cm, jelas satu mangkuk besar itu hanya untuk satu porsi lingga
"Ling ini tuh banyak dan lo liat ada nasinya, kita bisa bagi dua"
Dika dengan mata memohon
"Dika lo punga uang buat makan, bagi dua kayak orang susah aja, beli di resotran sebrang sana suruh ob"
"Gue udah laper banget, lo keluar ya tolong"
Usir Lingga
Jarang sekali ruangan dingin ini ada makanan yang seperti baru dimasak seperti ini, paling sering ia akan makan di luar sambil mengobrol sama calon kolega atau orang memang yang memang sudah menjadi sahabat partner bisnisnya.
Satu mangkok besar sop buntut dan satu piring nasi porsi sedang tandas di jam makam siang hari ini di ruangan boss besar Lingga, ibunya memang yang terbaik pikir lingga
__ADS_1
Tok tok tok
"Dik udah habis, mending beli sendiri"
sreeet
"Kak " dengan mata bingung
"Oh raka"
Sambil mengelap sudut mulutnya dari sisa asin kuah sop buntut
Mengambil kursi di depan meja kerja dan mendudukinya
"Kak gimana proposal klinik anak gue?"
"Ah ya sebentar, duduk dulu"
Lingga menganggakat piring, mangkuk dan cangkir ke meja besar dekat sofa dan mengembalikan fungsi meja kerjanya untuk bekerja
" ya tinggal tanda tangan dokter terkait"
"Emmm"
Sang kakak nampak sedikit berpikir
"Raka lo harus coba dulu kerja di rumah sakit atau bahkan jadi tenaga sukarelawan buat beberapa klinik anak yang sudah ada dulu"
"Nanti bikin konsep sendiri gimana sistem kerja dan ruangannya, trus setelah punya pengalaman baru kakak bantu bangun klinik itu "
Lingga menyerahkan proposal kliniknya Raka
"Iya gue juga udah punya niatan buat ngelamar di beberapa klinik anak dijakarta"
"Bagus nanti kita sama-sama wujudin impian kamu"
"Udah 7 tahun kuliah masa di sia-sia in"
__ADS_1
Lingga tertawa di ujung kalimat.
Raka sudah pergi dari kantor dan aktivitas kantor berjalan seperti biasanya, semua karyawan dan pekerja tenggelam di dalam pekerjaannya sampai malam sudah mulai pekat, Lingga selesai dengan berkas terakhirnya , sejenak menarik nafas dan tiba-tiba terfikirkan dia harus menemui perempuan itu untuk memberi tau bahwa mereka harus cepat menentukan tanggal karena om Presiden yang meminta pernikahan mereka cepat di selenggarakan
huuhhh
dadanya turun Lingga membuang nafas.
Jam sepuluh malam lingga di depan toko dari kayu itu
"Hei hei jangan di tutup dulu saya mau bicara"
Putri mengangkat bola mata
"Kayak ada suara orang"
Menarik kembali pintu yang baru saja akan di pasang gembok tadi
" Saya mau bicara"
"Disini atau mau masuk aja"
"Sepertinya masuk lebih baik"
"Silahkan" menarik lebar pintu itu
"Duduk disana dulu nanti saya ambilkan minum" berlalu ke dalam
Lingga sudah duduk didepan meja bulat kayu dan kursi plastik itu lagi seperti kemarin
"Diminum dulu"
Meletakan tatakan berisi dua cangkir teh hangat
Lingga terlebih dahulu melihat teh itu masih berasap tipis dan itu artinya tehnya masih sangat panas jadi dia memilih untuk langsung bicara
"Om herman minta kita menikah bulan depan"
__ADS_1