
Di kamar hotel paling mewah, seorang perempuan tanpa busana tubuhnya tertutupi selimut sedang menatap pemandangan aktivitas pagi kota Jakarta, kamar itu hampir semua dinding nya adalah kaca namun dari luar kaca itu hanya hitam tidak dapat memperlihatkan apa pun isi dari balik kaca itu
Anita membalik tubuhnya menjadi tengkurap dan menopang wajahnya dengan kedua telapak tangan dan terus menatap jalanan ramai itu dengan lekat, ia tau semalam Angga tidak memakai pengaman dan ia juga merasakan cairan hangat memenuhi rahimnya semalam, namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena sudah tidak bisa mengendalikan diri dan menikmati permainan, sudahlah toh aku memang mencintai laki laki itu, bisik Anita pada dirinya sendiri.
Jam delapan pagi, jelas Putri kesiangan hari ini, Lingga sudah pergi dan tubuhnya pagi ini seperti remuk dan hanya meninggalkan nyawa saja, Lingga justru lebih melelahkan saat ia tidak terpengaruh obat perangsang.
"Hai Dina"
Sapa Putri saat masuk kedalam tokonya
"Kesiangan lagi?"
Dina berkacak pinggang
"Kak Putri mending enggak usah makan yang aneh aneh deh kalo perutnya aja masih kampungan" Dina tertawa sambil mengejek Putri
"Atau kak Putri harus nya ajak ajak aku kalo makan makanan mewah lagi, biar berkah jadi kak Putri enggak mules mules lagi pas pagi, karena jadi lebih Berkaahhhh"
Dina membesar kan mulut nya agar Putri bisa mencium bau mulutnya
Putri hanya diam menunggu Dina selesai mengoceh
"Nih aku bawain sarapan roti selai"
Putri menyodorkan sebuah kan kantong yang berisi kotak makanan
Dina menoleh dengan mata berbinar
"Wahhhh gitu dong, jadi bos yang udah kaya raya harusnya baik dan perhatian gini, apalagi pada nasib buruh yang sudah bertahun-tahun menjadi tiang bagi penghasilan sebuah korporasi besar"
Dina mengoceh sambil membuka kantong makanan itu dan langsung memasukan satu roti utuh ke mulutnya
"Korporasi-korporasi Lo ngomong udah kek ape aje"
"Nilai UN lu aje kagak seberape"
Dan, Putri dan Dina memulai drama Betawi mereka, udah keseringan menonton FTV yang menceritakan keluarga Betawi membuat mereka menganggap logat Betawi adalah logat yang lucu untuk di gunakan
Ting
Notifikasi pesan masuk pada handphone putri
Raka
-Kakak Putri aku udah di jalan mau jemput kakak, tadi buk panti ngabarin katanya Dinda nanya kita dan nagih janji buat sering - sering ke sana-
Putri mematikan hpnya
"Din nanti kak Raka datang mau ajak ke panti, liat Dinda ,anak kecil kemarin"
Beritahu Putri pada Dina di depannya yang sedang merangkai bunga kering
"Yahh kak, aku jadi sendirian lagi, kakak udah datangnya telat, sekarang maen pegi aja"
Dina memanyunkan bibir
"Eh kamu udah berani ya ngeluh didepan bos" Putri hanya menggoda Dina, mereka sudah biasa begini
"Eh kak, nyadar nggak sih, akhir akhir ini nih toko agak ramean ya?"
"Aku ngerasa udah agak kualahan nih kak"
"Bener, kayaknya gara gara kita nambah stok dan koleksi"
__ADS_1
"Kakak nambah karyawan lagi aja kak, buat bantu ngerangkai dan beres beres"
"Eh iya buk silahkan"
Putri menyambut pelanggan yang baru datang
Putri mendekati Dina dan menyoleknya
"Din kamu layanin dulu ibu itu, bair aku yang lanjutin ngerangkai"
"Baik kak"
Dina membungkuk, anak ini jadi lebih sopan saat sudah ada pembeli seperti ini, dan itu membuat Putri memutar bola matanya malas
Drit drit
"Halo"
"Halo kak, aku udah di depan"
"Oh okey baik, tunggu bentar ya"
Putri berjalan mendekati Dina yang sedang berbicara dengan dua pembeli
"Din kakak tinggal dulu, iya kakak bakalan nambah pegawai"
Bisik Putri
"Iya kak" balas Dina dengan tersenyum ramah, tentu saja itu karena dia sedang menghadapi dua calon pembeli.
Burk
Putri menutup pintu mobil Raka
Raka tersenyum renyah
Untuk beberapa detik sungguh Putri terpesona pada senyum itu
"Iya, siap meluncur"
Di akhiri tawa oleh dua orang itu
Di salah satu toko mainan besar di pasar tradisional yang terkenal di Jakarta bergantungan mainan - mainan menarik, Putri yang menyarankan Raka untuk membeli di sini karena selain lebih murah lebih beragam pula, mainan yang harus di beli haruslah dalam jumlah banyak karena semua anak anak panti harus kebagian jangan sampai hanya segelintir yang bisa merasakannya
"Raka mobil mobil gede deh beberapa kayaknya, anak-anak cowok tuh suka banget, nanti mereka bisa gantian mainya"
Putri menunjuk ke mobil - mobilan Truk yang digantung
Raka menoleh
"Iya, pak tolong mobil itu tiga"
"Enggak kebanyakan tiga?"
"Kan mereka bisa gantian"
"Emang kebanyakan?"
"Iya nanti malah numpuk, nyempit-nyempitin panti aja"
"Dua deh"
"Eh tapi anak cewek sukanya apa put?"
__ADS_1
Putri menoleh
"Mainan masak masakan?"
Raka tiba tiba terkejut
"Eh kok Put sih"
"Kak Putri"
Raka menggaruk tengkuknya
"Aku pendek"
"Emang enggak pantes dipanggil kakak kalo lagi sama kamu yang menjulang kayak satang"
Putri terpingkal dengan kata-katanya
"Eh kak kita beli boneka juga kali ya"
"Oh itu harus, harus banyak malah"
"Boneka itu bisa di peluk, anak anak bisa menyalurkan rasa sayang dan rasa emosional mereka sama boneka"
"Owkey"
"Gass"
Raka menunjukan sisi yang lebih ekspresifnya hari ini
Mereka berdua masuk kedalam mobil
"Kak Putri kita makan bareng anak panti ya, kita beli ayam goreng yang terkenal itu buat makan bersama, setuju?"
"Setuju setuju aja"
Sambil memasang seat belt nya
"Eh ka Lingga biasanya makan siang di luar kan ya?"
"Iya, jarang banget kakak makan siang di rumah, repot juga kalo dia harus bolak balik kantor sama rumah"
Raka memajukan mobilnya
"Aku pengen nanya dia, dia mau nggak kalo aku anterin makanan masakan aku ke kantornya untuk makan siangnya"
Putri menghembuskan nafas kasar
"Tapi aku belom berani"
"Kenapa?"
"Ya belom berani aja"
"Tapi"
Putri tersenyum
"Sekarang kakak kamu sudah sedikit lebih cair sih dari pada waktu pertama kali"
"Semoga lambat laun, semua jadi lebih baik"
"Amiiin"
__ADS_1
Sebenarnya Lingga tidak pernah mengatakan apa apa pada Raka tentang bagaimana hubungan dengan kakak iparnya Raka, namun jelas Raka sudah bisa membaca situasi bahwa pernikahan kakaknya itu bukanlah pernikahan yang didasari cinta, setelah bertemu dengan kakak iparnya ini ia berharap kebahagiaan selalu menyertai kedua kakaknya itu.