
yaudahlah Dina ngurusin urusan perut dulu, meluncurlah dia kedepan untuk menyuruh anak-anak mengambil batagor pesanan Putri, Putri biasanya menyantap makanannya di dalam ruangannya sambil menghadap laptop tapi kali ini ia makan bersama penghuni toko yang lainya karena katanya makan sendirian itu tidak enak
krek kris slurp
"mmpantes ya kang batagor itu suka rame banget sampe ngantri buat nungguin ni batagor, emang enak bange sih" celoteh Dina
"baru tau lo!" seketika mata sindi membesar menyedari kesalahannya, "ma maksudnya kak Dina baru tahu?" Dina menahan tawanya sedangkan Putri hanya memperhatikan sebentar dan kembali fakus pada makanannya, "maaf kak Putri" Sindi bersuara seperti mencicit
Putri menaikan kepalanya dan melihat sindi, "kok saya?" sambil tertawa ramah "santai aja, usia kalian kan hampir sama, panggil yang nyaman dan sesuai kesepakatan masing-masing aja" Sindi dan dua pegawai yang lainya hanya mengangguk
"enggak gue pokoknya mau di panggil kakak, nggak mau tau gue" ucap Dina sambil menyuap batagornya
"lo juga, emang enggak pernah makan batagor ini?" Putri bertanya
"gue selama ini kan orang susah ditambah gue harus nanggung biaya dapur di rumah, jadi gue hemat donggg kak Putri" ucap Dina disela makannya
"jadi lo enggak pernah jajan selama kerja sama gue selama ini?, perasaan dulu pernah"
"bukan gitu, hemat bukan berarti pelit sama diri sendiri kak" Dina meminum air disampingnya, "gue tuh enggak pernah beli batagor yang ini gara-gara gue seringnya beli batagor di depan gang kita ituloh sin, ta yang ada toko gede jual buah dan rujak itulo" okta dan sindi mengangguk tanda tahu, "nah yang itu kan lebih murah setengah harga dari batagor yang ini"
"eh rujak yang didepan gang itu enak banget loh kak, aku pernah beli emang agak mahal sih tapi emang isinya banyak dan enak" Okta akhirnya berbicara setelah mode pesawat dari tadi
__ADS_1
"bener" Sindi bersuara
"kedondongnya kek seger banget, jambunya bersih enggak ada ulet, nanasnya gede, kuahnya pake kuah kacang yang pedes gurih gitu, asli rekomended banget kak" Okta ternyata melanjutkan mendeskripsikan rujak yang sebenernya sudah nyantol di pikiran Putri jadi naik ke lavel bikin air liur Putri mencair
"tinggal pake lampu ala ala selebram , lo udah bisa banget terima endorse lo ta" Dina mengejek anak bawang Okta yang paling muda di toko ini
"emang seberapa enak ta?" Putri bertanya
"behhh enak banget kak Putri kek mau meninggoy" semua menunda mengunyah untuk tertawa sebentar mendengar cara Okta mempromosikan makanan
"kakak mau deh nyicip, tolong di beliin ya besok tiga porsi" Putri meraih dompetnya dan menyerahkan uang seratus ribuan ke Okta, uang itu disambut okta dengan anggukan
"tiga porsi banyak amat kak" Dina bertanya
Selama ditinggal oleh Lingga ke kalimantan tidak banyak perubahan pada keseharian Putri karena memang kalau Lingga ada disinipun mereka tidak banyak interaksi, Lingga akan berangkat ke kantor pagi-pagi dan Putri pun tidak berbeda hanya beberapa jam dari berangkatnya Lingga Putri juga berangkat ke toko bunganya kemudian saat hari sudah malam baru keduanya bertemu untuk makan malam sebentar lalu tidur dan tenggelam pada mimpi masing-masing namun Putri sedikit heran entah perasaannya saja atau bagaimana ia sedikit merasa ada yang kurang pada hari-harinya dalam beberapa minggu terakhir, ia mulai berharap ada manusia lain disebelahnya ketika ia tidur ketika ia terbangun dari tidur sedikit ada harapan tiba-tiba ada sewujud orang yang bisa ia peluk sebelum menyambut hari, saat membuat sarapan ia berharap ada orang bisa melihat variasi masakannya, atau memuji bumbu racikannya yang mengeluarkan bau sedap saat dimasak, lebih dari itu sebenarnya ia menginginkan ada yang menciumnya saat ia hendak berangkat ke toko, pernah satu waktu secara tidak sadar Putri berbicara kepada jas yang tergantung di lemari dan dibawanya ke tempat tidur dan Putri bercerita tentang betapa bahagiannya ia setelah toko bunga miliknya kini lebih besar dan lengkap itu seperti setengah mimpi besar dalam hidupnya sudah terwujud, Putri nyaman bercerita karena ia bisa menghirup bau parfum maskulin dari jas itu yang memang tidak ia temui ketika berada di toko bunga meski di toko bunga punya banyak bau wewangian, entahlah Putri belum berani menyimpulkan perasaan itu, apakah tidak apa ketika ia menyebut perasaan ini adalah ia merindukan Lingga?.
Raka dokter muda yang dipercaya dan ditunjuk oleh Persatuan dokter seluruh Indonesia untuk menjadi relawan dan juru bicara dalam program penanggulangan Stunting di Indonesia, Stunting adalah gagal tumbuh tinggi badan akibat kekurangan gizi kronis, di daerah timur Indonesia yang sekarang mengalami kelonjakan angka Stunting tertinggi di asia tenggara, jelas Raka harus ke Indonesia timur dan terjun langsung untuk mempertanggung jawabkan tugas mulia itu, beberapa hari sebelum Raka berangkat ia sempat mengajak Putri untuk mengunjungi pemukiman kumuh di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, tentu ini juga karena Raka tau Putri sedang kesepian di rumah besar itu sekalian sebagai kegiatan perpisahan sebelum Raka ke Indonesia Timur untuk menjalankan tugasnya
Di daerah kebayoran baru sebenarnya sudah ada beberapa rumah baca yang didirikan oleh sekelompok dari sedikitnya anak muda yang peduli pada masalah pendidikan pada masyarakat miskin, mereka bergerak sendiri dan secara sukarelawan dan Raka mengenal mereka, sebenarnya Putri baru tahu pada informasi itu, di kebayoran baru ada rel kereta yang dulu jadi sakah satu transportasi andalan warga jakarta pusat
Raka dan Putri berjalan melewati jalan di samping rek kereta, Raka memegang sekardus dan seransel buku sedangkan Putri memegang dua kantong buku berukuran sedang, Putri terlihat berjalan bersemangat ia menaiki salah satu bahu rel kereta dangan merentangkan kedua tangannya yang memegang kantong plastik berisi buku di masing-masing tangan dengan agak terhuyung-huyung Putri tertawa namun Raka malah khawatir dan memegangi lengan Putri yang sedang direntangkannya agar Putri berjalan dengan seimbang, Putri menoleh sambil terus berjalan ia bertanya "kamu dulu aktifis atau emang suka aja kegiatan sosial?"
__ADS_1
"suka aja, aku enggak pernah ikut organisasi aktifis apa apa tapi emang ngerasa lebih bahagia kalo liat anak-anak ketawa dan senang, itu seperti tujuan hidup untuk aku" Raka berbicara dengan tetap memperhatikan jalan
"waw kamu keren banget sih, kamu pernah ajak Lingga unbtuk ikut kegiatan - kegiatan kayak gini?" tanya Putri sambil melompat dari rel kereta yang ia pijaki agar bisa berjalan seperti biasa tanpa harus menyeimbangkan diri
"enggak, kak Lingga lebih suka ngasih uang aja buat nyumbang"
tutur Raka memperhatikan wajah Putri
"aku enggak tahu kalo dia bakalan punya istri yang cukup berbeda dengannya"
Putri seketika tertawa
"hahaha enggak, aku juga sebenernya enggak nyangka bakalan nikah sama cowok yang punya adik modelan kek kamu gini udah ganteng, dokter, peduli sesama lagi, apalagi kakaknya yang CEO perusahaan dengan banyak cabang" Putri tertawa "udah kayak cerita novel hidup aku"
"dengan kekayaannya itu gantengan kak Lingga dong dari dokter bau kencur ini?"
"ganteng sih relatif" jeda Putri, "tapi kalo kita melihat cerita film dan sinetron emang CEO tuh kek tipe suami idaman banget"
"berarti kak Putri bersyukur dong?"
"bersyur dong, bersyukur mah harus biar bahagia ngejalaninnya tapi udah mulai liat hal enggak enaknya kek ditinggalin terus, kerjaan enggak abis-abis, mana kakak kamu itu orangnya dingin lagi"
__ADS_1
Raka tersenyum setengah tertawa "dia itu sebenernya orangnya hangat loh kak, mungkin cuma belom terbiasa aja dianya, masih belom nyadar punya istri, tapi ada tuh yang aku paling hindarin dari kak Lingga, kalo dia marah udah kayak beruang hutan yang gede dan item itu kak Putri tau kan badanya kak Lingga itu udah gede, kulitnya coklat, kalo marah serem lagi"
"hemmm aku belom liat sih, jangan deh semoga enggak pernah liat selamanya"