
Drit drit
"Hallo? Dina kamu udah buka toko kan?
"Iya, udah"
" Aku bakalan telat, kamu kerjain pesanan yang mau diambil siang ini ya"
"Iya udah hampir selesai ini, kak Putri tenang aja"
"Aah syukurlah"
" Ke enakan tidur sama suami di kamar mewah gini nih"
"Eh apaan suami kakak masih di luar kota ya tolong, kalo berimajinasi ijin ijin dulu"
"Kalo kesepian, kok bisa kesiangan?"
"Ya enggak kesepian juga, tadi enggak tau kenapa mules banget terus buang airnya jadi lama, udah intinya kamu urus semuanya, bulan depan gaji kamu naik"
Tuut
"Asek asek bisa beli skin care yang mahalan dikit"
Bunyi Dina sambil menepuk plastik plastik bunga diatas meja.
Di kamar mandi Putri terpaksa melepaskan baju yang sudah rapi ia pakai tadi, memang kalau sudah masalah panggilan alam semua urusan bisa berantakan
Rasanya Putri seperti sedang di hotel sendirian, kamar mandi mewah, kamar tidur luas dan hanya saja perut ini rasanya masih seperti gembel, sulit diajak kerja sama, baru makan shusi ikan mentah ajah udah kayak keracunan, rutuk putri dalam hati.
"Dina kok ini bunga segernya enggak ada?"
Gedubrak (suara kotak jatoh)
"Astaga kak"
"Kalo dateng tuh Salam dulu kek"
" Kiriman bunga seger belom nyampe ya?"
" Enggak, sopirnya nikah hari ini"
"Hah?"
"Ya enggak lah kak, kirimannya udah sampe, tapi langsung di borong sama orang, tadi dia enggak minta di Iket, katanya buat surprise dikamar"
Dina sambil cengengesan
" Kamu kenapa senyum serem gitu?"
Mulai merasa ada yang aneh sama Dina
"Gaji kuhhhh akan dinaikan bukhan?"
Sambil mengibaskan bunga kering melewati wajahnya
"Iya biasa aja kale, kayak enggak pernah naik gaji aje lu"
"Enggak kak aku emang enggak pernah naik gaji, tolong di inget"
"Idup kak Putri aja yang berubah, hidoep aku enggak"
"Aku juga pengen dikasih supris bunga sama cowok idaman gitu kan"
"Din kamu salah makan hari ini?"
"Ih kak Putri beneran enggak faham"
"Kak aku seneng banget naik gajeee, tau nggak kak, aku kepikiran buat cari kerja di tempat lain yang gajinya UMR kote Jakarte, kan lumayan gede tuh, tapi enggak jadi karena kayaknya toko bunga kak Putri rame an sekarang, emang ya rejeki orang yang udah nikah tu"
"Kalo kamu mau cari kerja lain ya silahkan, palingan aku mau cari orang lain karena toko ini bakalan direnovasi, tokonya gaya baru pegawai juga harus baru donk? "
Putri tertawa lebar
"Kak Putri beneran abis manis sepah di buang ya"
__ADS_1
CEKRITTTTTTT, krek, Duk duk Duk duk
"Kak Putri kak Putri"
Suara laki-laki menghentikan pembicaraan dua penjual bunga ini
Putri menoleh cepat
"Eh kenapa Raka?"
"Ini siapa?"
"Kak ini aku nemu anak panti pingsan di gang sebelah, tadi dikerumuni banyak orang, katanya korban pemerkosaan"
Wajah Raka memerah dan berkeringat, ia sangat cemas
"Astaghfirullah halaazim"
"Kapan?"
"Bawa ke dalem Raka di diatas kasur"
Putri setengah berteriak karena sangat terkejut
"Barusan banget, tapi kayaknya kejadian nya pagi tadi, karena ada darah udah kering di celananya"
"Astaga"
Putri memejamkan matanya
"Din kamu tolong bikinin minum buat Raka, aku mau ambil minyak kayu putih dan air"
"Iya kak"
Jawab Dina bergegas
Sementara Raka sudah sangat berkeringat
"Andai aku datang lebih cepat, andai anak anak ini lebih dapat diperhatikan oleh orang tuanya, andai para predator **** ini bisa dibasmi, Andai andai"
"Raka"
dia baru pertamakali melihat Raka seperti ini
Putri melihat Raka dengan wajah sendu dan tatapan yang tak lepas, wajah Putri ikut berkeringat karena cuaca yang panas dan keadaan tidak menyenangkan ini
Putri menyentuh pundak Raka yang basah, Raka mendekat, gerakan refleks Raka memeluk dan Putri menyambut tubuh gemetar itu, tak diduga Putri, Raka menangis didalam pelukannya
Wajah Raka tenggelam didalam ceruk leher Putri, ia menangis benar benar menangis meski tak bersuara, dadanya naik turun dan tubuh yang basah, Putri hanya bisa mengelus tubuh besar didalam pelukannya ini
Saat sudah beberapa lama, Putri menepuk pundak Raka
"Udah yuk minum dulu"
Sambil mengangkat cangkir air minum yang diletakan Dina tadi di dekat kasur
Dina langsung pergi karena ada pembeli yang datang
" Tenangin diri kamu dulu"
Mengusap punggung Raka,
Raka menerima air putih itu dan meminum pelan
"Celananya robek, sepertinya benar ia korban pemerkosaan, aku tidak bisa membayangkan sakitnya, pasti sakit sekali"
Putri bertutur dengan kesedihan
Raka menoleh
"Kak Putri tau?"
........ "Ah iya kak Putri sudah menikah"
Putri ingin memberikan minyak kayu putih pada hidung anak kecil itu namun di tahan Raka
__ADS_1
"Lebih baik kita salin pakaian dan bersih kan tubuhnya dulu, baru kita bangunkan adik ini, supaya saat dia terbangun dia tidak terlalu shock pada keadaanya"
Putri mengangguk
"Aku beli pakaian pada toko terdekat, kak Putri tolong bersihkan paha dan bagian badannya yang lain"
Putri mengangguk lagi
Raka bergegas membeli pakaian ke luar dan Putri menutup pintu yang memisahkan ruangan belakang dan toko di tempat ini untuk membuka pakaian anak perempuan itu.
Raka sudah sampai dan membawa pakaian anak-anak yang baru ia beli, cepat saja ia berikan pada Putri dan mereka menyalin busana anak kecil itu berdua, sedangkan Dina harus menangani pelanggan toko sendirian hari ini.
Hemmm mmmm
Anak kecil perempuan itu mulai sadar, Putri menurunkan botol minyak kayu putih yang sedang dipegang nya
"Mmmm mmm ibuuuuu"
ia mulai melihat dengan sadar
"Pak dokter?"
"Pak ,ahhh ahnnn aduh"
"Pak, aku dima nahhh"
Anak itu mulai bergerak
"Hai ini kak Putri, kamu sedang di toko kak Putri"
Merangkul anak kecil itu
"Kak ahh ah"
Anak itu merubah ekspresi nya dan tiba-tiba air mata nya keluar
"Hei kenapa"
Putri memeluk anak itu
"Kak tadi ada om om, ngaaaaaa aaa"
Anak perempuan itu menangis di pelukan Putri
"Kamu aman sama kakak disini"
Putri menenangkan
"Tadi Dinda di paksa buka celana"
Tambah menjerit didalam dada Putri
"Enggak nggak kok, om omnya udah pergi udah di pukul sama pak dokter, kamu liat pak dokter disini, pak dokter udah bawa kamu kesini"
"Tapi punya Dinda rasanya sakit kaaaak"
"Iya sakitnya bakalan hilang kok, percaya sama kakak"
"Tapi sekarang sakit banget"
"Hei Dinda denger kakak, rasa sakitnya kakak janji akan hilang, kakak sama pak dokter bakalan tiap hari liat kamu ke panti dan bawain banyak mainan, biar kamu seneng dan sakitnya cepet ilang, mau?"
Anak kecil itu mengangguk
"Beliin mainan dan makanan yang Dinda mau"
"Iya"
Putri mengangguk
"Sekarang peluk kak Putri lagi"
Dengan senyum sumringah
Dibalas pelukan dengan senyum tak kalah sumringah dari anak kecil bernama Dinda itu.
__ADS_1
Raka memperhatikan tiap detik yang terjadi, dia melihat sisi seorang ibu yang luar biasa dari Putri, dia bahkan membayang ibunya yang melakukan itu meski bahkan ia tidak ingat sama sekali wajah ibunya sendiri, namun ia merasakan ibunya hadir di ruangan itu menjadi anak kecil Dinda dan menjadi Putri saat ini.