Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
ART


__ADS_3

'"Gimana toko?"


Putri yang tengah fokus dengan buku laporan pembelian diatas meja menoleh


"Baik, renovasi nya enggak banyak, cuma nambahin dan perbaikin yang kurang aja"


"Ranovasinya pake uang yang mana?"


Putri diam dan menoleh


Lingga membuka mulut lagi


"Jangan tersinggung, aku hanya bertanya, kalau kamu butuh lebih banyak aku bisa tambahi"


"Enggak, aku renovasi nya cuma dikit"


"Uangnya berasal dari uang yang mau aku kasih ke pak Herman buat nyicil tapi pak Herman enggak mau nerima, jadi aku pake buat perbaiki toko"


Jawab Putri pelan


"Bagus, kalau kurang bilang aja"


Ujar sambil membuka bajunya


"Aku mau mandi"


"Beneran?'


"Iya udah gerah banget"


"Bisa kok"


Lingga berbunyi sambil berjalan ke arah kamar mandi


Drittttt drittttt


Handphone Lingga berbunyi


"Hp kamu"


Putri memberi tahu sambil terus memperhatikan buku catatan penjualan nya


Lingga tidak jadi berjalan ke arah kamar mandi ia berbelok melihat handphone nya di atas nakas


Tertera 'Anita'


Ia mengambil handphone nya dan membawanya ke dalam kemudian menutup pintu kamar mandi agar suara tidak terdengar


"Hallo, Lingga"


"Iya"


"Gimana keadaan kamu hari ini?"


"Baik, lukanya udah mulai membaik"


"Besok kamu bisa ke Bali lagi?"


"Besok aku emang ke Bali sih tapi siang, sekalian besoknya lagi mau ke Palangkaraya"


" Besok sore sekitar jam 3an aku mau cek ke lokasi bareng beberapa calon investor, kamu ikut yah, sekalian abis itu ke rumah, aku kenalin ke papa"


Jklp


"Beneran?"


"Sebenernya aku pasti datang meski cuma kelokasi doang"


"Tapi kamu yang ngajak ke rumah jadi aku tambah semangat"


Lingga tertawa di akhir kalimatnya, sambil tangannya menyentuh dan sedikit mengelupas lukanya sudah agak mengering


Anita ikut tertawa


"Dah aku tunggu ya besok"


"Iya"


Tut


Lingga meletakkan hp di tempat sikat gigi dan mulai menyalakan shower nya


Saat air mulai menyentuh tubuhnya


"Aaaaa"

__ADS_1


Lingga merasa sedikit perih pada area yang sudah ia kelupas tadi.


Alarm pada jam Beker berbunyi,


Jam 7 Pagi Lingga memutuskan ke kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan sampai siang karena jam 11 siang adalah penerbangannya ke Bali, Lingga sampai di depan kantor, ia turun dari mobil


Dika lansung menyambar kedatangan Lingga dengan terburu, ia menghampiri Lingga yang baru saja sampai di loby kantor


"Lingga Lo bawa blueprint surat persetujuan itu nggak?"


"Yang izin dari kementerian?"


Lingga menanggapi dengan cepat


"Bukan, yang dari kerjasama dengan mereka luar"


Mereka berjalan beriringan sambil berbicara melewati loby yang ramai dan memperhatikan mereka


"Enggak, ada di rumah"


"Kenapa?"


Lingga memperhatikan Dika


"Mereka udah datang dan mau merevisi persetujuan"


"Mereka di mana?"


"Manajer dan beberapa orang udah nunggu di ruang meeting"


"Aku minta supir buat nganter ke sini"


"Supir Lo kan barusan nganterin Lo?"


"Bakalan lama kalo dia musti bolak balik"


"Gue telpon Putri, suruh nganterin"


Lingga mengambil handphonenya


"Siapa put"


"Aaa istri Lo?"


"Ia cepetan gih"


"Okey"


Dika berbelok dan meninggal Lingga untuk segera ke ruang meeting tempat orang-orang dari perusahaan yang mau bekerjasama sedang menunggu


Lingga meletakan tas dan duduk, telponnya sudah diangkat Putri


"Halo Put kamu liat meja kerja aku?"


"Iya?"


Putri yang bingung langsung dipaksa melihat ke arah meja kerjanya Lingga


"ada berkas map plastik warna biru tua?"


Putri mengangguk


"Iya ada"


"Bisa tolong kamu anterin ke kantor aku"


"hallo Put"


"Bisa nggak?"


"Bisa"


Jawab Putri dengan sedikit lambat karena ia masih bingung


"Tolong anterin sekarang ya"


"Penting"


"Okeh aku naik ojol aja biar cepet"


"Iya bagus, aku tunggu ya"


Tut Lingga menutup telpon


Didalam Loby besar kantor perusahaan Poernomo corporation, Putri masuk dan handak langsung menuju ruangan Lingga namun ditahan oleh satpam yang berdiri di dekat meja resepsionis

__ADS_1


"Maaf mbak mau kemana?"


"Saya mau ke ruang pak Lingga"


Jawab Putri sopan


"Pak Lingganya sedang ada meeting"


"Anda mungkin bisa datang lain kali"


Putri mengernyitkan dahi


"Tapi saya harus mengantarkan berkas ini"


"Boleh saya lihat"


Putri memberikan nya


"Citra!"


Satpam itu memanggil resepsionis yang berdiri dimeja dan mendekati nya


"Coba kamu telpon pak Lingga bilang ada yang nganter berkas, mungkin ART nya pak Lingga yang dimintai tolong ini"


Putri mendekat pada meja resepsionis


"Saya coba telpon pak Lingganya ya"


Orang yang bernama citra itu berbicara ke arah Putri


Tut


"Halo pak Lingga maaf menganggu, Disini ada yang mengantarkan berkas map berwana biru, apa benar punya bapak?"


"Oh iya tolong diterima dan suruh satpam antar ke ruangan meeting lantai 8 , jangan telpon saya lagi, saya sedang meeting"


Lingga menanggapi dengan cepat karena dia akan segera masuk kedalam ruangan meeting nya


Citra menoleh kearah Putri


"Baik mbak saya terima dan akan diantar ke pada bapak Lingganya langsung, terimakasih"


Jawab resepsionis itu ramah seperti biasa


Putri diam melihat wajah resepsionis itu, ia sebenarnya berharap bisa masuk dan memberikan itu langsung pada Lingga


"Oh baiklah"


Putri akhirnya berbicara


"Terimakasih mbak"


Putri pamit dan meninggalkan kantor milik suaminya itu


Putri datang dengan cepat dan hanya menggunakan kaos yang ia gunakan tadi, bahkan kalau sempat pun mungkin Putri hanya akan memakai kemejanya polosnya seperti biasa


"Kalo enggak salah mbak-mbak itu pernah kemari atas perintah ibunya pak Lingga untuk membawakan makanan"


"Sepertinya dia memang ART di rumah pak Lingga"


Resepsionis tadi berbicara kepada satpam disebelah nya


Cv


"ARTnya pak h terlihat masih muda ya"


"Kalo ARTnya tua entar kerjanya lambat pak"


Resepsionis itu tertawa


"Tadi kata pak Lingga bapak disuruh anterin berkas ini ke ruang meeting lantai delapan sekarang, berkasnya penting untuk meeting"


"Baik, sini"


Satpam itu berlalu dan naik lift untuk menuju lantai yang dituju, sampai didepan ruang tersebut


Tok tok


Klek


Lingga keluar


"Ini pak tadi dianter oleh ART bapak"


Lingga diam sebentar

__ADS_1


"Yasudah baiklah, terimakasih"


Orang-orang menganggap Putri sebagai Asisten Rumah Tangga nya Lingga, "apakah tidak ada yang menganggap perempuan yang mengantarkan berkas tadi istrinya?" Lingga bertanya di kepalanya sendiri, "apakah memang Putri tidak pantas menjadi dan disebut istrinya"  Lingga sudah tahu dari awal perjodohan ini memang tidak bagus, Putri memang secara alami tidak memberikan kesan disegani selain itu juga Putri punya masa lalu yang pahit yaitu pernah mencuri hp temannya saat SMA, "aku bahkan melupakan bahwa aku sudah menikahi pencuri" bagaimana bisa perempuan itu bisa menjadi nyonya Poernomo? apakah bisa diajak bertemu dengan kolega-kolega bisnisnya di acara-acara yang biasanya membawa istri.


__ADS_2