Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Berpisah dan Hamil


__ADS_3

'saya sudah sampai Jakarta dan langsung ke kantor'


pesan singkat dari Lingga ke handphone Putri, dahi Putri berkerut "kenapa dia pake 'saya" padahal dia sendiri yang melarang waktu itu daaan singkat amat pesannya kek bukan ngirim ke istri aja" rutuk Putri


hari ini terasa lebih cerah dari biasanya Putri memandang kearah jendela dari ruangannya dengan senyum lebar, hari yang cerah maka harus di isi dengan yang cerah cerah juga Putri melihat segunung es campur mengambang seperti terbang wara wiri di pintu, es itu seperti memanggil untuk segera didaki dan eksplorasi warna merah karena marjan dan warna-warna lain seperti sedang duduk di badan gunung juga ikut berpose dengan eksotisnya  aaaahh itu terdengar seperti surga dunia ditengah siang hari yang terik ini


"kak Putri mau es campur nggak? tadi kak Dina beli banyak, udah di sajiin dimangkok di depan, kak Putri mau makan bareng atau di anterin ke ruangan kak Putri?"


Sindi berbunyi memecah halusinasi Putri


"hah beneran ada es campur?"


"iya kak, kak Dina yang traktir" ajak Sindi antusias


Tring tring


'udah sampe makan siangggggggg' teriak Dina di luar


"sekalian makan siang yok kak, nasi pada di temenin es campur kan manteb bener"


ucap Sindi bersemangat


mata Putri berbinar, ia pun bersemangat "ayok" ia beranjak dari kursinya.


Untuk makan siang Putri dan anak buahnya kadang membawa bekal dari rumah atau beberapa kali saat tidak sempat memasak mereka membeli nasi padang di depan jalan atau kadang memesan delivery order karena ada restoran yang sedang promo dan siang ini nasi padanglah yang menjadi pilihan karena ada yang sedang pengen makan rendang, Putri mengajak untuk memesan nasi padang karena dia sedang pengen makan dan mencium bau rendang


"gila porsi nasinya banyak banget" ucap Okta


"lo aja yang kurus kaya triplek ta, nasi segitu mah porsi biasa di nasi padang" ucap Dina sambil menyuap nasinya


"kayaknya aku makan setengah aja deh" Dina dan Sindi saling pandang dan tertawa


sementara Putri fokus pada makanannya, ia makan dengan lahap dan bersemangat, beberapa kali Putri menggelengkan kepalanya tanda makanan yang ia makan ini enak sekali, Putri menghabiskan makanannya lebih cepat dari pada yang lain, isi piringnya sudah lenyap sementara yang lain masih setengah perjalanan dalam menghabiskan nasi hangat nikmat itu, Putri mengelap mulutnya pipinya yang sekarang benar-benar tembam terlihat sangat mengembang karena rasa senang atas makanan itu sementara Okta membungkus makanannya dan menyerah "dah perut gue udah enggak muat'


"ta daging kamu masih?" Putri bertanya


"daging di tubuh aku sih ada tapi dikit karena aku kan slim" jawab Okta dan meminum airnya


"bukaan, maksdunya daging rendang" Putri meluruskan


"aaa masih banyak nih kak" Okta membuka kembali nasinya "kalo kakak mau mabil aja"


Putri melihat mata Okta "beneran"  "nanti aku ganti deh" Putri tidak enak lantaran boss makan punya anak buah


"enggak kok kak Putri, aku beneran kenyang palingan entar sore baru makan lagi itupun harus buah-buah doang" jawab Okta


"oke makasi Okta, enggak tau kenapa kakak kek lagi tergila-gila gitu sama daging rendang" Putri tertawa "lagian kamu kenapa pengen jaga postur tubuh? ada rencana ikut sesuatu ya?"


"iya kak aku ada rencana mau ikut casting bintang iklan heheheh" Okta tertawa menyengir


"kalo keterima jangan lupa sama kita aje lo"


Dina menimpali


"keterima aja belom kak, di anggep pas casting aja udah seneng banget, gue selama ini berdiri di depan pintu ruang casting aja berasa udah gugur" hiks Okta memanyunkan mulutnya.


'saya pulang larut malam jangan menunggu'

__ADS_1


Lingga mengirimi pesan pada Putri jam tujuh malam, sial padahal Putri ingin segera melihatnya, entahlah ada keinginan yang sangat menggebu-gebu untuk menghirup aroma lelaki itu dan menurut Putri ini punya alasan kuat karena Lingga sudah satu bulan meninggalkan rumah ditambah terakhir kali Lingga di rumah adalah saat-saat dimana Putri merawatnya karena kecelakaan tergelincirnya pesawat waktu itu, tanpa sadar Putri senyum-senyum sendiri mengingat Lingga seperti anak kecil saat itu yang tidak bisa mandi sendiri secara langsung


Tidak perlu waktu lama bagi Ikan panggang bumbu kuning milik Putri jadi dan siap untuk dimakan, namun tiba-tiba ia merasa sangat menginginkan sesuatu yaitu Rendang Kapau, dulu mungkin Putri harus jadi yatim piatu diusia remaja namun sebelum itu terjadi keluarganya adalah pecinta kuliner meski berasal dari keturnan Jawa namun ibu Putri sangat mencintai makanan Padang sebenarnya ibunya mencintai hampir semua makanan tradisional Indonesia namun kita semua mungkin setuju bahwa Sumatra Barat adalah tanah ajaib untuk kuliner Indonesia, sementara rendang kapau adalah rendang yang cukup berbeda dengan rendang biasanya selain dari daging sapi pilihan rendang kapau menggunakan bumbu racikan khas negeri kapau yang biasanya ada di nasi kapau  rendang kapau dimasak lebih lama dan lebih kering hingga menghasilkan warna hitam namun bukan mutung menjadikan rendang kapau jauh lebih tahan lama jika dibawa merantau, Putri pernah memakannya saat kecil dan sekarang ia benar-benar ingin mengecap rasa otentik itu lagi


' Em Lingga bisa kah kamu membelikan aku Rendang Kapau di rumah makan Padang Mewah, aku benar-benar sedang menginginkannya, aku akan menunggu jam berapapun kamu pulang' Putri mengigit bibirnya ia harap Lingga tidak menganggap ini hal aneh karena tolonglah istrinya sendiri yang menginginkan ini, Putri berharap ia bisa sedikit bermanja dengan Lingga karena mau bagaimana pun mereka berdua adalah suami istri bukan? mereka akan bersama sampai tua


krek klek


jam setengah satu malam Lingga baru pulang dari kantornya, mendengar suara pintu dibuka Putri yang tertidur di sofa bangun dan menyambut Lingga, Lingga yang sedikit bingung tetap memberika tasnya yang diminta Putri untuk dia bawakan


"kamu belum makan malam kan?" tanya putri sambil memegang tas Lingga


"mm aku hanya makan roti malam ini" jawab Lingga


"dimana rengdang kapaunya?" tanya Putri antusias, sementara Lingga hanya berjalan ke arah meja makan


"kamu masakan?" tanyanya


"heem" Putri tersenyum "ikan panggang bumbu kuning"


"apa kamu sudah makan?" Lingga bertanya sambil menarik kursi di meja makan


"belom, aku nungguin rendang kapau yang kamu bawa" jawab Putri dengan wajah polos


"kamu bisa makan masakan kamu sendiri, saya tidak membelinya karena tidak sempat" jawab Lingga datar dan dingin sambil fokus menyendok lauk ke piringnya


"ha?" Putri kecewa "tapi Lingga aku ingin rendang kapau"


"kamu bisa membelinya besok, sekarang makan yang ini" Lingga menjawab dengan sedikit emosi namun masih menahannya, tentu saja ia tidak ingin bertengkar karena ia sedang capek sekarang


"Lingga aku mau malam ini, malam ini" sedikit lantang suara Putri sambil menghentakan kakinya


PRAAAAAAAAAAANG! TREEECK TEC TEC


pecahan mangkuk kaca dan kuah kuning ikan bakar yang Putri masak tadi sudah terbang dan berserakan di lantai


dengan wajah yang memerah Lingga berbalik


"saya baru saja pulang, bisakah kamu tidak bertingkah!" teriak Lingga di depan wajah Putri, wajah Putri pucat badannya kejang, jantungnya seperti meloncat keluar ia tidak menyangka akan melihat Lingga seperti ini


"saya lelah lembur, apakah kamu tidak punya malu bertingkah manja seperti ini"


"ketahui posisimu dan lebih tahu diri" Lingga masuk ke kamar dengan emosi membumbung tinggi dikepala


kepala Putri menunduk dengan air mata yang sudah tak terbendung, badannya bergetar dan kakinya sudah tak tahan lagi untuk menopang tubuh, Putri terduduk dengan perasaan hancur entahlah kenapa jadi sepilu ini padahal dulu rasanya hidupnya sudah cukup menderita untuk sekedar menahan tangis seharusnya ia bisa namun kenapa rasanya sangat menghujam dada kalimat yang dilontarkan Lingga benar-benar seperti mimpi buruk yang menjadi nyata


Dengan kondisi yang kacau Putri membereskan lantai yang kotor ini, pecahan\=pecahan kaca itu kecil kecil dan warnanya terlihat menyatu dengan lantai, ada tinta merah di lantai dan sesuatu menetes dari tangan Putri  ternyata tangannya berdarah, Putri baru merasakan tangannya perih karena ada pecahan kaca yang menggores tangannya cukup dalam dan Putri tidak sadar seakan rasa sakitnya sekarang terlalu sakit hingga tidak bisa merasakan saat kaca itu menggores tangannya, Putri ke dapur mencuci tangannya lalu menetes obat merah dan menutup lukannya dengan plester luka dan ia kembali membersihkan kekacauan yang ia buat tadi dengan sarung tangan ditangannya, ada sedikit penyesalan jika tadi ia tidak manja dan memaksa mungkin ini semua tidak terjadi dan mungkin ia bisa tidur dengan nyenyak di tempat tidur disebelah Lingganya yang sudah sangat ia rindukan.


Putri merasakan rasa lapar yang sangat tidak nyaman diperutnya maka ia memanaskan lagi ikan panggang tadi dan memakannya karena ia semalam tidak makan demi menungu rendang yang Lingga bawa namun sekarang ia tidak memikirkan rendang lagi, makanan apapun  akan ia makan karena perutnya sudah sangat lapar, setelah makan jam setengah tiga subuh Putri baru tertidur, ia tidur di sofa ia sekarang sudah punya malu untuk sekedar tidur di kamar tamu


jam tujuh pagi Lingga membangunkannya


"Putri bangun" bunyi Lingga sambil menggerakan badan Putri, yang punya badan membuka mata dan melihat Lingga di depan wajahnya yang memasang wajah datar


"bangun saya mau bicara"


Dengan melawan kantuknya Putri bangun dan duduk dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih

__ADS_1


"mmm saya minta maaf untuk semalam" dengan sedikit terdengar menggumam


"ya tidak apa-apa" seolah-olah kejadian semalam bukanlah hal besar


"sekarang saya mau berangkat kerja saya juga sudah sarapan, bibi yang masakin, saya cuma mau bilang hari ini papa sama mama akan pulang, katanya nyampenya kalo enggak sore ya malem" Lingga menjeda sebentar


"saya minta kamu bilang sama mama bahwa kamu setuju berpisah dan tidak masalah saya menikahi perempuan yang saya cintai yang sedang mengandung anak saya" Lingga mengatakan itu sambil melihat hpnya dan membuka aplikasi pesan singkat, ia tidak ingin melihat mata Putri yang mungkin bisa membuatnya merasa bersalah itu akan membuatnya kesulitan menyelesaikan masalahnya sendiri untuk segera menikahi Anita yang sedang hamil muda


Sedangkan Putri merasa seperti sedang di prank oleh Dina dipagi hari buta, namun untuk beberapa menit ia sudah sepenuhnya sadar dan bisa mencerna semua omongan Lingga


"ma maaf apa?, tadi aku enggak denger jelas baru bangun tidur" mungkin saja tadi Putri salah dengar atau masih pengaruh mimpi buruk semalam


Lingga mematikan hpnya dan melihat Putri "ya kita waktu itu sepakat kalau kita melakukan ini hanya untuk pak Herman dan kamu setuju, sekarang waktunya kita menentukan pilihan kita sendiri dan aku sudah menemukan perempuan yang aku cintai dan secara bersamaan dia sekarang ia sedang mengandung anakku dan mengenai waktu itu" Lingga mengangkat alisnya dan sedikit menunduk "mama sama papa pengen cepet punya cucu dan kita juga sudah usaha dan alhamdulillahnya sekarang pacarku sudah hamil jadi kita sudah tidak punya beban lagi bukan" Putri melihat Lingga dengan lurus lama sekali lalu mengedip-ngedipkan matanya seakan ada kotoran yang menempel di matanya dengan wajah yang kaku dan pasrah, Lingga mengangkat tangannya dan mengelus lengan Putri "terimakasi sudah mau bekerja sama dengan baik" ia tersenyum "sekali lagi terimakasih" Lingga beranjak dan meninggalkan Putri yang sudah seperti seonggok raga dengan jiwa yang sudah terbang lepas dan tersesat entah kemana


Pintu di tutup, suara deru mobil meninggalkan rumah terdengar dan Putri sendirian dengan semua informasi buruk yang dengan beruntun menabraknya pagi ini, ia mematung dan berharap ada yang teriak 'PRANK!!!!!' namun suara mba-mba di dapur, bunyi nafasnya sendiri, dan bunyi kendaraan lewat sayup sayup terdengar memperjelas bahwa ini nyata dan bukan bagian dari salah satu mimpi buruk yang Putri alami sejak kecil, air matanya sekali lagi mengalir tanpa permisi dan semalam ternyata bukan bagian terburuk dari kisah rumah tangganya dengan Lingga


"apakah aku tidak layak untuk merasakan bahagia?" dengan getir ia besuara


"apa ini ya Allah?" "apakah ujian ini tidak salah alamat?" Putri berbunyi dalam kepalanya, bukankah ia sudah melewati kesedihan sejak kecil hingga dewasa kenapa belum juga menemui bahagia


cukup lama Putri terduduk di sofa ruang tengah ini dengan selimut tipis di bawahnya dengan keadaan mengenaskan seperti ini dari semalam, semua benar-benar terasa cepat dan sulit dipercaya namun tetap berada di rumah ini dan terus menangis juga bukan hal yang bisa memperbiki keadaan, Putri dengan langkah gontai masuk ke kamar lalu mandi, ia mandi dengan wajah melamun, didepan meja hias lama ia memperhatikan dirinya didalam kaca 'apakah selama ini aku kurang menjadi istri yang baik untuk Lingga?, hingga dia harus menghamili perempuan lain?' Putri berbunyi didalam hatinya sambil melihat tubuhnya yang memang nampak sedikit lebih berisi sekarang 'apakah ia gagal menjadi perempuan yang Lingga inginkan?' TRINGGG! TRRINGGG! suara telpon memecah lamunan Putri, dilihatnya nama Dina tertera


"halo din" jawab Putri dengan suara agar parau


"kak Putri kenapa belom dateng? kak Putri lagi sakit?" Dina mendengar suara Putri yang beda dari biasanya


"engaaaak, bentar lagi aku berangkat, emang agak siangan aja" Putri berusaha menjawab senormal mungkin                          


"beneran kak? kalo lagi enggak enak badan istirahat di rumah aja dulu kak"


"beneran enggak, tunggu aja oke?"


"oke kak", tut Putri memutus telpon


"rumah?" ia kembali mematung menghadap dirinya yang ada di dalam kaca, "kalau kami berpisah apakah rumah ini tetap rumah untuk ku?" dia bertanya didepan kaca  "tentu saja tidaklah, aku cuma datang untuk sementara sejak awal dan gelandangan yatim ini harusnya jangan bermipi terlalu tinggi"   ia bersiap dan berangkat  ke toko, toko adalah rumahnya yang sebenarnya.


Putri membuka pintu toko dan terlihat toko bunganya sedang ramai jadi ia langsung masuk ke dalam saja menuju ruangannya, Putri tadi berangkat dengan ojek online ia tidak ingin lebih terlihat tidak tahu diri lagi dengan menggunakan supir rumah Lingga.


karena keadaan toko sudah kembali sepi Dina memutuskan masuk ke dalam ruangan Putri seperti biasa untuk mengobrol namun apa yang ia temukan Putri justru nampak menunduk seperti tertidur di atas mejanya dengan keadaan berantakan ini jarang sekali kak Putri lakukan pikirnya, Dina mendekati dan mengangkat bahu serta kepala Putri agar terlentang diatas kursi namun gerakan itu tak membuat Putri bangun justru Dina melihat wajah Putri yang pucat


"Sindiiiiiii" teriak Dina ia panik dan hanya satu yang ada dikepalanya sekarang yaitu membawa Putri ke Dokter secepat mungkin


Jam dua siang dan Putri di ruang dokter tengah berbaring lemah, ia sudah bangun dari pingsannya, disisi tempat tidur ada Dina duduk dengan mata sendu memandang perempuan yang sangat berjasa pada hidupnya ini, perempuan yang tak hanya memberinya gaji namun kepercayaan dan pengalaman hingga kini bisa hidup lebih sejahtera dan sungguh demi apapun Dina sangat menyayangi Putri, ia cukup tidak mengerti bagaimana kehidupan rumah tangga bosnya ini namun ia bisa membaca sesuatu dengan suami kak Putrinya ini tidak pernah nampak datang ke toko atau sekedar menjemput istrinya hingga kehamilan Putri yang nampaknya tidak ketahui oleh suami bahkan dirinya sendiri sampai-sampai ia kehilangan kesadaran karena kelelahan atau memang belum makan seharian, Putri melihat Dina melamun "Din kamu bawa aku ke rumah sakit?"


Lamunan Dina buyar "iya kak" Dina tersenyum  "kak Putri belum makan kan dari pagi?" tanya Dina, Putri mengangguk dengan nyengir  "kak aku beli bubur ayam, enak banget sumpahhhh, yuk makan aku suapin"


"kamu beli berapa?" tanya Putri sambil membenarkan posisinya yang tadi tiduran sekarang sedikit duduk dan menyender ke tempat tidur agar memudahkan ia makan


"beli dua kak tenang aja" cengir Dina


"kok kamu tahu sih? aku sekarang kurang kenyang kalo cuma satu porsi"


"keliatan kali dari kemaren-kemaren kak Putri makannya udah kek porsi kuli"  Putri tertawa kecil


satu suap, dua suap, tiga suap hingga akhirnya diporsi kedua Putri memilih menyuap sendiri makanannya, keadaan Putri cepatv membaik karena tadi dokter sudah memberinya vitamin untuk nutrisi janin dan si calon ibu ditambah Putri memang menjadi lebih bersemangat jika sudah diberi makanan yang menurutnya lezat


"kak putri" Dina berbunyi saat Putri sudah di suapan terakhirnya    

__ADS_1


"ya?" Putri membalas sambil merapikan wadah bekas makanannya


"selamat ya" Putri menoleh dan bingung sementara Dina tersenyum lebar  "aku sebentar lagi akan punya ponakan" Putri menatap Dina dengan pupil membesar  "aku sangat bahagia mendengar penjelasan dokter tadi, katanya"  Dina menjeda sebentar dengan senyum yang sangat lebar dan wajah amat bahagia  "kak Putri......h..a..m..i..l".


__ADS_2