
Pagi selalu baik, Putri selalu pagi, di tengah ke bisingan di kepalanya karena baru saja mendapatkan pesan dari om Herman bahwa ia harus menemuinya hari ini di rumah Lingga, tentu juga pasti sudah ada Lingga di sana. Tapi ini akan mudah, Putri cukup datang dan mengatakan "iya" bukan?
"Din gue pake baju apa ya?, Biar enggak keliatan banget perutnya" tanya Putri di sambil duduk menghadap meja
"Pake aja yang ada Kak, lagian!. Pertama perut kakak itu masih kecil, Kedua ngapain di tutupin. Buat apa?" Dina bingung sendiri
"Biar tidak banyak menimbulkan pertanyaan dan tidak mengalihkan perhatian aja Din" Putri menjawab kebingungan Dina
"Santai aja kak, enggak bakal ada yg nelen Lo juga di sana" hibur Dina dengan senyumnya dan Putri menarik nafasnya lalu ikut tersenyum juga meyakinkan diri.
Putri sudah duduk di ruang tamu, ia merasa asing di rumah yang dulunya bisa di sebut sebagai rumahnya sendiri, namun kini sudah ada yang menggantikan posisinya, dan itu tidak apa, bukanlah hal yang perlu di khawatirkan. Hidup memang seperti itu, tidak pasti dan tidak bisa di atur sesuka hati.
Semua yang di tunggu sudah duduk dan hadir di ruang keluarga yang beberapa Minggu lalu terasa hangat namun kalo ini entah kenapa hawa yang berhembus adalah dingin, mungkin karena sekarang sedang musim dingin.
"Memang ini rumah tangga kalian, memang ini hubungan kalian yang menjalankannya, saya tahu" Laki-laki paruh baya itu men jeda kalimatnya "Tapi saya adalah wali dari pihak perempuan sekaligus masih keluarga dengan mu Lingga" Herman melihat keponakannya dengan mata yang tidak bersahabat
Lingga sedikit menciut karena sepanjang hidupnya ia tidak pernah melihat mata omnya memandanginya seperti itu, namun ia masih banyak amunisi alasan atas tindakan yang ia ambil untuk di jelaskan
"Saya merasa tersinggung karena tidak di hargai di sini" Herman dengan keriput di wajahnya mengatakan kalimat itu dengan pelan namun dingin. Setelah itu ia diam menunggu Lingga mengeluarkan pembelaannya
Yang di tunggu menarik nafas dan bersiap untuk mengatakan sesuatu "Kam
__ADS_1
"Kami berpisah dengan baik-baik pak" Putri berbunyi lebih dulu "Ini kehendak kami berdua" Ia mengangkat wajahnya
"Putri" Herman mendelik melihat ke arah lain
"Saya tahu apa yang terjadi!" Tegas laki-laki berusia empat puluh delapan tahun dengan jabatan paling tinggi di negara ini. Ia tidak perlu menjelaskan apa-apa kenapa ia tahu karena ia adalah pihak serba tahu di posisi ini
"Om Tahu apa?" Lingga memegang sofa dengan berusaha tenang "Om tahu Lingga tidak pernah menyukai perempuan ini? Om tahu Lingga harus tersiksa pada hubungan ini?" Kening Putri menyerngit tanda tidak setuju namun dia hanya bisa menampakkan ekspresinya sambil sedikit menunduk
"Om tahu saat menikah Lingga dalam keadaan terpaksa hanya karena menghormati om?, Om tahu pada hal itu?
"Kamu ini cowok SMP yang tidak bisa memegang tanggung jawab kah?" Herman kenal anak ini sebelumnya "Saya mengenalmu sejak kecil Lingga, kamu! (Sambil menunjukan jari telunjuk ke arah Lingga) tumbuh dengan saya, ilmu apa yang di berikan ayahmu agar kamu bisa bangun perusahaan?" Herman melihat ke arah Rangga dan Rangga seperti tidak masalah pada perkataannya lalu ia melanjutkan "ayahmu itu seorang pegawai sejati"
"Kamu ingat saat kuliah, saya berusaha membuat kamu bisa mendapatkan proyek pertama kamu dan saya yang membimbing mu, kita ke Kalimantan berdua, kamu ditipu saya yang hadapi" Lingga menunjukkan gelagat tidak senangnya saat Herman mulai membahas jasanya "Kamu ini laki-laki pejuang, saya menitipkan Putri saya pada kamu dan kamu merasa menjadi orang paling terbebani didalam sebuah sinetron"
"Apa saya pernah mengungkit jasa saya sebelumnya?" Meski dengan keriput dan beberapa bagian kulitnya sudah mengendur, Herman tetap punya tatapan yang bisa membuat lawan debatnya menghormatinya dengan sangat tinggi "Saya pernah meminta bagian?". "Apakah saya pernah mengecewakanmu sebelumnya?".
"Kamu tidak pernah membantu saya setetes keringat pun dalam perjalanan karir saya, Lingga keponakan yang paling dekat dengan ku"
Keponakan yang di sebut menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan ketukan yang cukup panjang "Om Lingga tidak ingin hubungan kita menjadi seperti ini, kita adalah keluarga" "Keluarga tidak bisa bercerai"
"Om Lingga mohon percaya, baik Putri maupun Lingga setuju bahwa berpisah adalah jalan terbaiknya kita berdua yang memutuskan ini, benarkan Putri?" Lingga menoleh ke arah kirinya dan mengharap respon dari perempuan itu
__ADS_1
"Iya pak" Putri menjawab dengan tenaga yang berusaha ia kumpulkan
Lingga melanjutkan kata-katanya "Kami merasa tidak cocok, kebahagiaan Putri bukanlah aku, om!. Ia merasa tidak bisa menyeimbangi aku, ia merasa tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Lingga om, kami pernah bertemu saat SMA, om. Saat itu Putri mencuri HP teman Lingga, sejak hari pertama kami saling bertemu di tokonya ia sudah merasa tidak pantas, Putri sendiri yang bercerita pada Lingga, namun Lingga meyakinkan untuk mencoba dulu hingg kami menikah, tapi pada akhirnya kami memang tidak cocok"
Seperti sedang di seset oleh silet sebagian hati Putri, menyadari ia memang malang dan tidak beruntung, untuk menyela ia tidak punya hak dan memang sebagian besar yang di ceritakan oleh Lingga benar adanya meski caranya sangat tidak manusiawi dan begitu memilukan hati
Herman terdiam beberapa saat, hingga kepalanya mulai menggeleng "Tapi Lingga, pria macam apa kamu ini?Istrimu sedang hamil, sedangkan kamu malah menghamili dan menikahi perempuan lain?"
Ratna yang diam saja dari tadi menjadi terkesiap, begitu juga dengan Rangga kepalanya bergerak naik dengan mata yang menyala setelah tadi hanya sayu
"Om, Itu bukan anak Lingga!!!". Tangan halus yang belakang hanya sering memegang bunga sambil mengelus perutnya, yang biasanya hanya mengerjakan tugasnya tanpa mau berkompromi dengan siapapun kini menjadi tersulut petir dengan ringan dan tegas mendaratkan belaian keras pada pipi laki-laki lancang ini
Plak!, Putri mengeratkan giginya sambil matanya menjadi berkaca-kaca memandang laki-laki kurang ajar ini "Hiksh hiksh" suara Putri menahan tangisannya yang sudah pecah dari dalam
"Itu memang benar" Lingga mengatakan kalimat itu
"IYA!!!!!" Untuk pertama kalinya suara Putri meninggi, keberaniannya sudah terkumpul
"Iya kamu memang bukan ayahnya, kamu tidak akan pernah di panggilnya ayah"
Ia memandang semua yang ada di ruangan ini yang memang hanya ada Pak Herman, Lingga, Mama Lingga Ratna, dan Papa Lingga Rangga.
__ADS_1
"Saya minta maaf pada keluarga ini karena mengacaukan, terimakasih"
Putri pergi dengan pasti dan tidak menoleh lagi sedikitpun.