
Lingga menyetir mobil dan Putri duduk di sampingnya sementara mama Ratna dan papa Poernomo duduk dibelakang, barang barang mereka di bawa oleh mobil dibelakang yang dikendarai supir
"hemmmm sebenernya mama udah enggak kuat lagi mau keluar negri keluar negri, perjalanan nya bisa tiga belas jam di pesawat, di pesawat sebenernya udah sering tidur tapi tetep aja mama rasanya capek dan ngantuk banget" celoteh mama Ratna mengeluarkan uneg unegnya
" kalo jetlag abis ini mama sama papa mau langsung tidur atau makan malem dulu" Lingga bersuara di belakang kemudinya
"paling istirahat dulu makan atau minum yang ringan dulu sebentar baru makan berat karena nanti kalo enggak makan tambah parah besok paginya"
"iya ma" Lingga melihat mamanya lewat kaca ditengah depan mobil yang berbicara dengan wajah lesu seperti mengantuk
"Putri kamu gimana?" mama Ratna tidak jadi mengantuk
"Putri baik ma" yang punya nama menengok kebelakang menghormati mertuanya yang mengajaknya bicara
"ada kabar baik nggak untuk mama?" meski capek dan ngantuk mama Ratna tidak melupakan misinya yaitu bertanya tentang 'itu' kepada Putri
"toko bunga Putri sekarang sudah direnovasi dan menjadi lebih besar lo ma" Lingga berbicara
"ooh ya? mama seneng Put kamu punya usaha dan kesibukan sendiri dari pada di rumah aja nungguin Lingga yang kalo pulang pasti malem banget" mama Ratna tersenyum ke arah Putri
'iya ma terimakasih, lain kali dateng dong ma ke toko Putri liat liat gitu karena sekarang udah jauh lebih rame pembelinya dibanding dulu" Putri bercerita dengan senyum sambil menoleh kebelakang lagi
"iya pasti nanti mama ke sana mau liat liat toko kamu udah sejauh apa berubah" mama Ratna menoleh ke jendela "berkah banget ya pernikahan kalian, toko kamu rame dan jadi besar, Lingga juga sekarang sedang banyak proyek baru terus, semoga langgeng deh"
Lingga dan Putri hanya diam sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, Mama Ratna memutuskan untuk makan malam dulu baru istirahat tidur.
"Selalu Sop Iga, Putri tau cara menyenangkan keluarga ini" Mama Ratna tertawa cekikikan dengan Papa Poernomo yang juga setuju
"Itu juga ada makanan Jawa tengah lainya mah, Sop Iga hanya pelengkap" Putri menanggapi dengan senyum lebar
"Mama tidak sabar di rumah ini ada anak-anak yang tertawa dan juga menangis" mama Ratna mengutarakan harapan terdalam nya
"Emmm dimana Raka?" Papa berbunyi, dari sejak di bandara tadi tidak ada yang menanyakan Raka dan itu hal biasa hanya saja Sop Iga tentu saja juga kesukaan Raka, Papa Poernomo hanya berpikir ingin melihat Raka juga saat sedang memakan makanan ini
"Raka ke NTT pa, dia ikut tim yang di buat oleh ikatan dokter Indonesia dan kementerian kesehatan untuk menurunkan tingkat stunting di sana" Lingga dikabari oleh Raka lewat telpon saat Raka hendak berangkat waktu itu
"Dia selalu peduli pada orang-orang kekurangan" raut wajah mama Ratna berubah sedikit sendu ia menyadari ia kurang memperhatikan anak bujang Nya yang satu itu "tapi itulah kelebihan nya ia pribadi yang baik" kembai menampakan senyum
Papa, Mama, Lingga dan Putri lanjut menikmati makanan yang tersaji malam ini dan memang untuk dua orang yang baru saja tinggal lama di luar negeri makanan ini sangat mewah dan enak, meskipun mungkin makanan Indonesia ada di sana namun makanan di tempat aslinya tidak pernah ada yang bisa mengalahkan apalagi itu di buat oleh tangan terampil Putri
Ada satu hal yang merubah mood Putri kembali sedih, saat di tengah-tengah acara menyuap makanan masing masing di meja makan malam tadi Lingga membisikkannya "kita akan cari waktu yang pas untuk mengatakannya, besok aku yang akan memulai pembicaraan" terdengar suaranya sangat pelan namun mampu Putri dengar dengan jelas saat itu Putri melihat Lingga dan mengangguk tanda ia menurut padahal didalam kepalanya ia membantah kalimat Lingga menggunakan kata 'kita' padahal hanya dia yang ingin perpisahan ini bukan Putri, Putri malah ingin seperti apa yang dikatakan mama Ratna tadi, hidup seperti itu rasanya sedikit lagi mampu ia raih dengan kehamilan nya saat ini namun sekali lagi Putri harus kembali ke kenyataan bahwa Lingga tidak menginginkannya dan Putri sangat sangat menyadari bahwa memiliki ayah yang tidak menginginkan nya sangat menyakitkan dan ia tidak ingin anaknya hidup dalam situasi Ayahnya tidak mencintai Ibunya itu akan jauh lebih menderita juga pikir Putri.
Malam ini setelah perdebatan dan menjemput mama papa tadi Lingga menjadi lebih dingin, saat sampai ke kamar Lingga melihat Putri dengan tatapan kusut
"Kita tidak boleh satu tempat tidur lagi, sebaiknya kau tidur di sofa" Putri melihat ke arah Lingga seperti tidak percaya apa yang barusan Lingga katakan. "aaaaa tidak baiklah aku akan keluar, jangan katakan pada mama, aku hanya ingin mencari udara segar malam ini" ia memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar
"Tidak kah kau berpikir untuk setidaknya memakai baju dan celana panjang?" Lingga memutar lagi tubuhnya dan mengambil jaket dan celana panjang didalam lemari lalu melihat ke arah Putri "Put tolong jangan berpikir hanya kau yang sedang dalam masalah, aku juga sedang dalam masalah, jangan menunjukan wajah seolah kau yang paling di tersakiti disini, itu hanya semakin membuatku pusing" Lingga untuk pertama kalinya mengeluarkan air mata di depan Putri dengan wajah memelas
Putri berdiri dari duduknya diatas tempat tidur, ia mendekati Lingga dengan menepuk lengan lalu mengelusnya berharap perasaan Lingga menjadi lebih baik, sebenarnya ia ingin memeluk suaminya ini tapi karena keadaan rumit ini ia pikir Lingga tidak akan suka
"Hey tenang aku sudah ikhlas, aku akan mendukung semua argumen mu didepan ibu besok dan ibu insyaallah pasti terima" Lingga mengangguk dan sudah menghapus air matanya yang tadi sedikit keluar. "Hey" Lingga menoleh lagi pada Putri
"Kenapa?" Lingga bertanya
"Bukankah pacarmu hamil?" Lingga mengangguk lagi "ibu akan senang bukan? Ia akan segera memiliki cucu juga!" Putri menyemangati Lingga "itu akan menambah kemungkinan ibu menyetujui keputusan kamu dan tenang saja semua akan baik-baik saja"
__ADS_1
Lingga tersenyum sangat lebar, ia tidak tahu kalau Putri akan benar-benar bisa membuatnya menjadi lebih tenang, ia memeluk Putri dengan reflek "terimakasih" senyumnya masih lebar "aku akan memberi tahu Anita supaya tidak bunuh diri"
"Ha dia mau bunuh diri? Anita mendorong tubuh Lingga
"Iya dia tahu aku sudah punya istri melalui pencatatan sipil"
"Kenapa kau tidak memberi tahu?"
"Aku lupa, aku lupa nama kita ada di satu kartu keluarga di pencatatan sipil" ada tusukan lagi di hati Putri tatkala Lingga bilang ia lupa, sungguh Lingga bahkan lupa ia sudah menikah tapi dia ingat untuk mengisi ****** di rahimku, Putri berbunyi di kepalanya
"Kau peselingkuh yang amatir Lingga"
"aku bukan peselingkuh"
Putri menatap datar mata Lingga "aku tidak ingin berdebat lebih jauh tapi ini namanya tetap selingkuh Lingga meski memang aku tidak punya hak untuk marah" bruk Putri mendorong lengan Lingga "sudah cepetan hubungi pacar mu dan jelaskan apa rencana mu sekarang"
Lingga mengangguk "iya baiklah" ia terburu-buru keluar kamar dan pergi meninggalkan Putri sendirian dengan situasi menyedihkan ini.
Cuaca hari ini mendung, ada awan hitam besar di atas langit ia seperti menggulung hati perempuan yang kini berjalan menyusuri pantai dengan hati kecewa, dengan tabuhan gendang dari dalam awan tersebut hatinya jadi semakin remuk, kenapa ia menjadi anak orang kaya namun akan bangkrut pada akhirnya?, Mengapa ia mencintai seorang laki-laki dengan setia tapi malah di tinggalkan?, Dan pada akhirnya mencoba menikahi pria yang ia kira pria baik baik dan akan menjaganya seumur hidup meski ia tidak mencintainya balik namun pada akhirnya pria yang katanya sangat mencintainya itu ternyata menipu dirinya laki-laki baik hati yang mau menerimanya itu nyatanya sudah beristri, Lingga tidak mengatakan hal itu tapi ia kira Lingga adalah laki-laki sempurna dengan segala sifat yang lurus namun saat ia menyetubuhi Anita dengan keadaan beristri kini Anita tau tidak ada laki-laki yang sempurna semuanya sama buayanya dan sama-sama pembohong, demi ombak yang gelap, air yang dingin menusuk, juga laut yang tiada ujung didepan Anita ia sudah tidak percaya siapa-siapa lagi
Anita menatap lekat laut gelap didepannya sambil kakinya terus berjalan pelan maju, selangkah, dua langkah ,tiga langkah, empat langkah, lima langkah, hingga air sudah mendekati pinggangnya ia merasakan ada hp di sakunya, Anita diam sebentar, cukup lama sampai ia berpikir mengambil hp itu dan memencet nomor bertuliskan nama laki-laki satu-satunya harapannya itu
Tut tuut tut
Klek "Halo?" Lingga berbunyi diseberang saluran telpon
"halo Lingga" mata Anita masih sendu menatap laut
Bussssh burrrrrh bussssh burrr
"Iya? Kenapa Nita?" Lingga bingung kenapa Anita terdengar berat
"Aku tau kau sudah menikah" duarrrr
"Aku sekarang didepan lautan, aku benar-benar tidak tahu lagi untuk bagaimana sekarang Lingga" Anita terisak
"Hei heiiii Anita Anita dengar dengar kita akan tetap menikah, aku akan berpisah dengan istri ku"
"Kau sudah katakan pada mamamu tentang kita akan menikah Minggu depan?"
"Be belum tapi aku akan mengatakannya malam ini juga tenang"
"Lingga" Anita terisak lagi dan berusaha menstabilkan bicaranya "papa belum tahu namun ia akan tahu dan aku tidak tahu lagi tindakan apa yang akan aku sambil bersama janinku, aku sudah menyerah jika memang kau belum siap, aku akan tenang jika pergi bersama anakku di perutku ini"
"Jangan jangan Anita jangan, aku mohon jangan, anak yang ada didalam perut mu itu juga anak ku, dan aku berjanji akan melindunginya sampai kapanpun dan kamu jangan meragukan janjiku Nita"
"Lingga aku benar benar lelah aku ingin besok siang kedua orang tuamu sudah merestui kita dan perceraian mu sudah di urus besok juga"
"Iya iya iya tenang saja semua demi anak kita dan kamu tentu aku akan segera melakukannya"
Tut Anita menutup telpon, ia Munduk beberapa langkah lagi dan saat air sudah di mata kakinya ia terduduk dengan badan lemas, cukup lama Anita melamun dengan air ombak kecil yang menyapu pantai dan membasahi tubuhnya ini mungkin bisa dikatakan beberapa jam sampai menyentuh tengah malam sampai drrrit drrrit drrrit hpnya bergetar
"Halo Anita"
"Iya?..."
__ADS_1
"Dengar baik baik aku dan istriku yang sekarang sudah sepakat kita akan mengatakan bersama-sama keinginan kami untuk berpisah dan ia akan membantuku berbicara agar orang tua ku agar mereka mengerti bahwa ini memang keinginan kami berdua saat itulah aku langsung memberi tahu mama dan papa kalau kekasihku sedang hamil, Anita mama ku itu sudah lama menginginkan cucu, mama akan sangat senang mendengar aku akan menikahi perempuan yang aku cintai dan perempuan itu dalam keadaan hamil anakku" Lingga mengatakan hal ini dengan bersemangat
"Benarkah?...." Anita sedikit mengulas senyumnya
"Iya dan besok semua akan jelas sejelas jelasnya, sesegera mungkin aku akan memperkenalkan kamu dengan mama papa okey?"
"Okey beneran ya" Sangat lebar sekarang senyum Anita
"Iyaaaa, sekarang kamu segera pulang, sudah berapa lama kamu di sana?" Nada bicara Lingga berubah jadi tegas
"Ba baru, baru sekitar" Anita melihat jam di hpnya "tiga jam"
"Astaga cepat naik, nanti aku telpon orang buat jemput kamu, kamu belum makan?"
"Mmmm belum"
"Hastagaaa Anita Bahri dengar anda sedang mengandung anak saya, saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin dan ibunya, apa anda mengerti?" Lingga menceramahi
"Iiyaaaa iyaaa ini udah mau naik kok, by the way kalo nunggu jemputan kamu malah jadi makin lama Lingga, aku pesen taksi online aja ya biar cepet ini aku udah mulai kedinginan"
"Kannnn kamu pikir aku bisa tenang sementara kamu di sana dengan janin yang rentan sedang kedinginan di pinggir pantai, cepet sekarang pesen taksi online nya"
"Iya ini udah aku pesen, Anita menelpon sambil membuka aplikasi serba bisa warna hijau yang sudah terkenal itu"
"Udah dapet?"
"Bentaarrr, nah ini udah dapet pas banget kayaknya driver lagi di depan"
"Eeeit jangan di tutup dulu, sampai kamu masuk mobil baru aku matiin"
"Iya iya ini lagi jalan kedepan"
"Kamu langsung pesen makan sekalian jangan sampe perut kamu kosong lama-lama Nita" Lingga mulai menggerutu
"Iya iya ih bawel banget ya kamu ternyata"
Anita baru menyadari jika menyangkut anak maka Lingga akan sangat bawel
"Siapa coba yang enggak bawel saat calon istrinya lagi hamil muda trus tengah malem di pantai belum makan mana udara pantai itu sangat dingin kalo malem"
"He'em Linggaaaaa ini aku sama anak kamu udah masuk mobil, kamu tenang aja aku juga udah pesen sate tadi langsung dianterin ke apartemen kamu" Anita menutup pintu mobil
"Kamu enggak tinggal sama papa?"
"Enggak, buat apa aku minta kunci apartemen kamu kemaren coba? Masa buat aku jual sih, lagian kalo aku malem-malem baru pulang kayak gini yang ada papa tambah cemas dan marah-marah"
"Kaan siapa coba yang enggak marah-marah kalo tahu kamu lagi di luar malem-malem"
"Iya iya"
"Eh tapi emang papa enggak marah kamu enggak tinggal sama dia?"
"Dia nelponin aku hampir tiap jam, tadi pas jam sembilan aku bilang udah mau tidur jadi dia enggak nelpon lagi, lagian cuma malem ini aja, malem-malem lain aku tidur di rumah papa kok"
"Hemmmm yaudah ati ati ya, sampe sana langsung makan dan tidur"
__ADS_1
"Iyaaaa papa" jawab Anita dengan suara anak anak dan itu membuat Lingga senang terlihat dengan pipinya yang sudah memerah "udah ya" Tut Anita mematikan sambungan telpon