
"Bulan depan? Bentar hari ini tanggal 30, jadi lusa udah bulan depan yang di maksud?"
Putri membelalakan mata
"Iya"
"Sebenernya bagaimana sikap kamu sama perjodohan ini?"
Tanya Putri sudah tidak tahan lagi
"Aku menolak"
Tegas dan singkat Lingga
"Kamu?"
"Kita baru mengenal jadi aku juga belum bisa menerima harus pernikahan secepat ini"
Jawab Putri sejujurnya
"Tapi aku juga enggak bisa nolak, Pak Herman sudah pernah membicarakan ini sama aku, dia memohon dan bener-bener memohon agar aku menerima calon suami pilihannya, dannn jika aku menolak dia akan benar-benar merasa kecewa"
"Ta tapi kamu masih bisa menolaknya bukan?"
Lingga menggaruk rambutnya
" Aku dan om Herman itu sangat dekat, dia adalah ayahku dalam berbisnis, ayahku yang asli adalah pejabat BUMN, jadi om Herman lah yang banyak membantu dalam bisnisku"
Setelah mendengar ucapan Lingga barusan, mereka menyadari mereka sedang dalam posisi tidak bisa banyak mengambil keputusan alias sedang terjepit
Lingga dan Putri menjadi diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, kesunyian terdengar untuk beberapa menit
Akhirnya Lingga berbunyi
__ADS_1
"Kamu anak sma 10 juga kan?"
Putri nampak sedikit terkejut
"A iya kamu tahu dari mana?"
"Kamu pernah mencuri handphone blackberry kakak kelas kan?"
Tiba-tiba ekspresi wajah Lingga berubah dan dia menunjukan reaksi aslinya pada perempuan di depannya ini
Ketidaksenangan, itulah yang ditangkap putri setelah melihat lingga mengucapkan kalimat itu dengan nada sarkasme
"Ka ka kamu tahu soal itu?"
"Aku adalah teman sebangku orang yang kamu curi handphonenya"
Putri merasa nasibnya buruk sekali, calon suaminya adalah orang yang tau aib masa lalunya, dadanya sesak dan rasanya ingin sekali memencet tombol pause saat ini
"Sa saat itu aku punya hutang sama teman sekelasku karena aku ngerusakin hpnya dan dia minta ganti dalam waktu seminggu"
Putri menjelaskan dengan sedikit gagap dan perasaan yang sangat takut
"Aku benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini, namun om Herman nampaknya sangat berharap banyak pada hal ini, dan aku tidak ingin om Herman kecewa, bukan hanya karena dia adalah om ku tapi karena bisnisku sudah punya plan besar mendatang bersama proyek-proyek pembangunan beliau"
Lingga menjelaskan dengan nada bicara yang sebelumnya belum pernah ia tunjukan kepada putri
Lingga melanjutkan pembicaraan
"Kita buat semua ini menjadi mudah, kita buat om Herman senang, namun kamu juga tidak menderita, kamu akan mendapat kehidupan yang lebih baik, dan kerja keras saya selama ini tetap berjalan lancar"
Putri mengernyitkan dahi
"Kita akan menikah namun kamu tau bahwa kita tidak seperti pasangan suami istri yang sebenarnya, karena kamu sendiri tahu kita sama-sama tidak punya perasaan satu sama lain, tidak ada yang jahat disini bukan?"
__ADS_1
"Kita pada posisi dan pendapat yang sama, dan solusi itu jawabannya"
Lingga mencoba mengajak putri bekerja sama
"Apa kamu punya pacar?"
Putri bertanya dengan pelan
"Ck, tolong jangan jadi karakter yang tersakiti di sinetron-sinetron"
"Bu bukan, maksudku kamu bisa membatalkan pernikahan ini dengan bilang kamu sudah punya calon istri"
"Om Herman tau betul saya tidak punya pacar, saya terlalu sibuk dalam impian saya"
Lingga menjelaskan dengan jengah
Putri diam
"Baiklah saya akan atur tanggal, karena tadi pagi om Herman udah tanya tanggal, kamu ngikut saya saja bisa?"
"Aku bisa tapi kamu harus kabari saya dulu dari jauh jauh hari, karena toko ini perlu tutup dalam keadaan tidak punya janji pesanan"
Jawab putri akhirnya seadanya
Lingga tersenyum
"Itu artinya kamu setuju, kamu tenang saja tidak akan ada cerita kekerasan penyiksaan dalam kesepakatan ini, saya tidak sebodoh tokoh-tokoh drama murahan tv-tv"
Lingga tertawa ramah
Putri menyadari perubahan pada laki-laki didepannya
"Saya pulang nanti saya kabari, kita sudah bersepakat bukan"
__ADS_1
Mengulurkan jabatan tangan ke arah putri dan tersenyum