Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Hidup seorang Putri


__ADS_3

sampai di dalam kostan Putri hanya melamun, didalam pikirannya kenapa dia harus melalui ini, harusnya hari ini menjadi menyenangkan karena akhirnya dia di traktir ketua kelasnya karena kelas mereka menjadi kelas terbaik semester ini, seharusnya Putri mengobrol dan tertawa sambil makan bakso tadi bersama teman temannya di kantin, seharusnya kemarin adalah hari bahagiannya karena bisa menjadi anak anak normal yang makan bersama teman temanya di kantin sekolah dannn harusnya juga lidah Putri bisa merasakan lagi bakso yang sudah membuat ia meneguk air liur saat hanya melihatnya, tapi semua itu hilang tidak ada dan batal berganti menjadi masalah besar yang paling ia hindari, menjadi anak terbully karena miskin


Tangis mengantar tidur Putri malam itu


Jam lelajaran olah raga kelas 12


"Put kamu masuk ke kelas nya sekarang mereka udah keluar semua"


Bisik Dina


Dina dan Putri memantau dari ujung kantin dan suasana sedang sepi semua kelas sudah masuk jam pelajaran


"Tapi itu di kunci Din" rintih


Didalam hati ingin rasanya Putri menangis kejer karena dia sedang melakukan apa yang sangat tidak ingin ia lakukan


"Ini kuncinya"


Benda logam berwarna silver


Putri terkejut


"Kok bisa kamu"


"Udah cepet"


"Tasnya kak rangga warna biru tua trus ada list putihnya"


"Cepet cepet nanti keburu ketauan"


Dengan pipi yang mulai basah karena keringat dan tangan gemetar Putri mengambil kunci itu dan mulai berjalan ke arah kelas yang dimaksud


Drrittt


Putri membuka pintu dan masuk


Matanya mulai mencari tas yang ciri cirinya sudah disebutkan Dina, ada banyak tas berwana biru tua namun hanya satu yang belist list putih diantara hamparan tas yang ditaruh diatas meja dan kursi kosong


Dug dug dug dug dug dug jantung Putri berpacu, dengan hati hati ia mendekati tas itu, disinilah saat saat paling krisis kepercayaan diri ia harus membuka satu persatu resleting tas itu


Srrrrreeettttttt


Kusuk kusssuk


Tidak ada benda yang mirip hp sama sekali, Putri harus membuka lagi resleting berukuran sedang

__ADS_1


Ssrrrreetttt


Angkat dan itu dia benda berat berbentuk kotak berwarna hitam


Putri cepat mengambil hp itu


Kepalatibatibamuncul


"Siapa kamu?"


Dor!!! Jantung Putri copot


"Eng engg gak"


Ternyata ada yang tidur dikelas dengan posisi meniduri kursi jadi tidak kelihatan


"Kamu mau nyuri hp?"


Salah satu penghuni kelas berkaca mata bertubu kurus langsung menodong Putri dengan pertanyaan yang sebenarnya benar


"Enggak"


"Itu hp rangga kok di tangan kamu"


"Kamu tunggu disini"


Orang itu pergi sambil mengunci kelas dan mengurung Putr sendirian.


Tima menit yang amat panjang dalam hidup Putri.


"Kamu mau nyuri hp saya?"


Orang yang bernama Rangga berbunyi


Kelas sudah penuh dengan penghuninya dan satu orang asing yang sedang berada di tengah kerumunan pemilik kelas, siswa tadi memberi tahu semua teman - temanya tapi sepertinya ia tidak memberi tahu bapak yang mengajar olahraga hanya itu yang Putri syukuri, setidaknya ia tidak dimarahi guru dan masuk ruang BK.


"Eng enggak kak"


Putri menunduk wajahnya basah dan siswa-siswi kelas itu melihat Putri sebagai tontonan yang tidak membosankan.


"Jadi kamu mau apain hp saya"


Putri hanya diam dia tertekan rasanya ingin menghilang saja ditelan bumi dan muncul kembali di bongkahan es seratus tahun kemudian menjadi Avatar Aang, tontonan favoritnya waktu kecil


"Kalo enggak ngaku bakalan di laporin ke bu buru BK"

__ADS_1


Rangga menekan


"I Iya aku ta tadi mau ngambil hp"


Putri mengucapkan itu sambil menunduk dan menutup mata


Rangga hanya diam, cukup lama dia diam


"Yaudah siniin memori sama kartunya"


Rangga menarik tiba tiba hp nya dari tangah Putri


Ia membuka casing hp itu dan mengambil memori serta kartu selularnya


"Ambil"


"Jangan lagi nyuri"


Rangga memberika hp itu ke arah Putri lagi


Di otak Putri terjadi dilema, haruskah dia ambil hp itu lalu orang orang akan melihatnya sebagai pencuri yang tak tahu malu, tapi kalo enggak di ambil Dina gimana dia bakalan terus cari masalah sama Putri sampe dua tahun kedepan sampe lulus sma ditambah lagi anak anak kelas ini sudah tau sama Putri yang mencuri hp kakak kelas


Tangan Putri terjulur kearah hp itu pelan pelan namun pasti dengan rasa malu disekujur tubuh Putri meraih hp itu


Rangga ber smirk


"Yaudah sana"


Putri menunduk dan berkata


"Terimakasih" sangat pelan hampir tidak terdengar oleh Rangga dan keluar kelas itu dengan buru buru.


Setelah hari itu, Putri tidak pernah menampakan wajah lagi pada anak anak kelasnya Rangga, Putri selalu menghindar jika diajak ke kantin meski itu di traktir, Putri hanya datang ke sekolah untuk belajar dan mengurung diri dikelas sampai pulang.


SMA harusnya menjadi masa paling indah setidaknya itu adalah apa yang ada di dalam hayalnya Putri remaja, namun dia salah Tuhan belum selesai dengan ujiannya untuk perempuan belia itu, masa Sma dianggap Putri paling suram dia merasa malu setiap berada di lingkungan sekolah ini rasanya dua tahun seperti neraka yang panjang.


Sebenarnya setelah kejadian itu Putri tidak dilaporkan dan Putri juga berhasil memberika hp itu kepada Dina, namun jelas tatapan anak anak kelas Rangga menggambarkan semuanya, Putri bisa berkaca lewat menatap mata mereka tentang siapa Putri tentang miskin dan pencuri, tidak tidak lagi gambaran pintar dan aktif yang Putri bangun sejak kelas 1 di sma ini tidak lagi ada.


Sudah beberapa tahun berlalu dari kejadian itu, tahun kemarin Putri lulus sma Putri meneruskan ke salah satu perguruan tingga swasta di jakarta ia memilih kuliah malam agar siangnya bisa bekerja, setidaknya hanya itu langkah yang jelas masih bisa Putri lakukan untuk masa depannya sambil ia bekerja sampingan, entah masa depan seperti apa didepan sana yang Putri tau dia hanya bisa terus maju karena dia masih hidup jika mundur lumpuh namanya.


Apa yang kalian harapkan pada orang yang bernama Putri ini ia pendek, kulitnya gelap, dia yatim piatu, tidak ada koneksi tau sendiri mencari kerja di jaman ini seperti apa semua yang bekerja seakan punya orang dalam, Putri ini sudah lama berjualan entah itu menjual langsung makanan atau mengantarkannya dia melebarkan sayapnya dari hanya pengantar makanan tetangga ke ibu kantin sampai menjadi penjual roti bermerek keliling ia benar benar fokus pada mata pencariannya, kulit wajah yang seperti terpanggang sinar matahari, tangan yang kecil.


Sampai tiba tiba bapak bapak asing meminta tolong padanya agar bisa bersembunyi di gerobak roti kelilingnya saat itulah mulai Putri rasakan kebaikan seseorang, orang itulah yang memberi Putri toko kayu kecil itu dan mengurus semua perizinan membuka toko di kota itu dan tentu saja Putri bilang ia akan mencicil semua ini, benar saja tiga tahun dengan sedikit sedikit rejeki Putri bisa mencicil toko ini meski ia harus mengorbankan tidak membugarkan toko kayu yang terlihat paling tua di sepanjang jalan itu.


Hidup Putri berjalan sesederhana mungkin selama ia mengambil keputusan berjualan bunga dan tanaman hias kering di toko pinggir jalan itu, meski Putri adalah bossnya ia tau ia tidak sebesar itu ia masih harus terus berhemat meskipun tidak bisa di elakan taraf hidup Putri perlahan naik, ia makan memenuhi kebutuhan pribadinya untuk mengurus diri suda tidak susah lagi, namun Putri tetap Putri ia tau ia tidak akan berubah banyak seperti impianya menjadi orang besar di dunia besar ini.

__ADS_1


__ADS_2