Hati Untuk Adik Ipar

Hati Untuk Adik Ipar
Persetujuan


__ADS_3

bruk


suara Lingga menutup pintu mobil, ia memegang tangan Anita dan berjalan beriringan menuju pintu rumah yang mereka datangi, Anita mengetuk pintu rumah itu


tok tok tok


"mbaaak"


tok tok


Pintu terbuka dibuka langsung oleh lelaki tua beruban di kursi roda yang menjadi tujuan utama datangnya Lingga dan Putri kemari


"papa!" Anita memeluk papanya  "Nita semalem tidur di apartemennya Lingga pa" ia berbicara dengan sedikit gugup, pak Bahri mengerutkan keningnya seperti bertanya 'kenapa?', "sekalian ada yang mau kami bicarain sama papa" Anita menambahkan


Lingga menyalim tangan pak Bahri, "apa kabar pa?, kemarin saya di kalimantan belum sempat kemari" pak Bahri menerima tangan Lingga dan menyuruh mereka masuk.


"kamu ada bisnis apa di Kalimantan Lingga?" tanya pak Bahri saat Lingga sudah duduk di sofa dan meminum air yang disuguhkan


"saya pemasok bahan untuk pembangunan tol kalimantan pa"


"jangan pake 'saya' pake aku saja, kita sekarang sudah dekat bukan?"


Lingga tersenyum nyengir dan mengangguk

__ADS_1


"itu proyek yang besar, bagaimana kamu mendapatkannya?" pak Bahri bertanya sambil meminum kopinya


"perusahaan aku memang selalu berusaha memuaskan pengembang dan bertanggung jawab pada kualitas produk kami dan memang barang dari perusahaan kami sudah cukup sering bekerja sama dengan proyek di mentri PUPR pa"


"kamu dekat dengan mentrinya?"


"ah tidak, tapi om Herman yang dekat" jawab Lingga


"Herman? aaaaa berarti benar Pak Herman itu om kamu?" pak Bahri tau namun belum pernah memastikan hal ini


"iya pa" Lingga membenarkan posisi duduknya, "ada hal yang ingin saya sampaikan" ia melihat mata pak bahri yang masih memancarkan ketegasan namun dengan guratan dan kelopak mata yang lelah "saya sudah bilang ke Anita bahwa saya ingin mengajaknya menikah dan ia menerima dan sekarang saya ingin langsung meminta persetujuan dan restu papa terhadap niat saya ini" Lingga memandang lurus ke arah pak bahri "saya melakukannya sendiri karena orang tua saya sedang berada di luar negeri untuk berobat" Anita muncul dan ikut duduk di sebelah Lingga, sebenarnya ia mendengarkan pembicaraan dua laki-laki ini dari ruangan sebelah, "saya harap bapak memberikan persetujuan dan merestui kami karena itu sangat penting bagi saya dan Anita", Anita yang duduk disebelah Lingga menunggu harap-harap cemas


pak bahri mengulas senyumnya, dengan tubuh yang dipenuhi bau minyak angin dan badan yang sudah tidak berdaya lagi ia sadar ia sudah tidak boleh banyak memilih dan mengatur kehidupan anaknya lagi meski Anita adalah anak perempuan semata wayangnya lagi pula Lingga adalah pilihan terbaik yang pernah diperkenalkan Anita padanya, "papa senang mendengar ini"  pak bahri bersuara dengan hangat  "papa sangat senang mendengar ini, papa harap orang tua Lingga bisa segera kesini, papa mau segera berbincang dengan calon besan" pak bahri tertawa dengan renyah


"pa nita dan lingga mau nikah minggu depan" Anita merasa harus segera mengatakan ini


Lingga hendak menjawab namun di tahan Anita, Anita maju dan memeluk papanya sebentar dan memandang wajah orang tua tunggalnya yang sudah merawatnya dengan segala perjuangan hingga sebesar ini "maafkan Anita pa tapi Anita sedang mengandung"


Bahri Erlangga laki-laki hebat ini selain gagal di hari tua ia juga gagal dalam mendidik anak? pak bahri menghina dirinya sendiri, bibirnya kelu ia kecewa namun untuk beberapa detik ia kembali sadar ia sudah sejauh ini hidup dan sudah melalui banyak hal kenapa hal seperti ini hari ini ia harus menyerah dan kehilangan langkah?


Anita melihat dengan matanya papanya terkejut dan kecewa dengan mata yang berkedip-kedip dan bibir yang ragu untuk berbicara, "uruslah semuanya kalau begitu, semakin cepat semakin bagus" yang bersuara adalah pak bahri dan Anita sangat senang degan hal itu ia lega dan bahagia jalannya mulus untuk bisa hidup dengan normal saat ia melahirkan nanti


"jadi papa akan segera menjadi kakek begitu?" Anita mengangguk dengan semangat dan tidak sadar kelopak matanya basah ia benar-benar bahagia pada kalimat papanya barusan itu seperti papanya menyambut dengan suka cita anaknya nanti, "papa tidak menyangka sekarang sudah ada calon bayi di perutmu dan betapa bahagiannya papa keinginan untuk menjadi kakek sebelum meninggal akan kesampaian"  "dan terimaksih Lingga sudah mewujudkannya dan mempertanggung jawabkannya" tutur lelaki tua itu

__ADS_1


"tentu saja papa akan sempat jadi kakek karena calon cucu papa sudah berusia satu bulan di rahimku paaaa" Anita kembali memeluk papanya dengan rasa haru


sementara Lingga menyaksikan ini semua denga senyum yang lebar ia senang bisa menyaksikan kebahagiaan di tengah keluarga kecil pak bahri ini, "Anita kamu tolong ambilkan handuk kecil papa di kamar, air mata papa terlalu banyak hari ini" pak bahri tertawa, Anita beranjak pergi mengambil apa yang diminta papanya


"saya minta kamu segera mengurus semuanya, pernikahan harus sesegera mungkin dan sama minta cucu saya harus lahir dalam status berayah" ucap pak bahri dengan nada datar kepada Lingga didepannya yang langsung merubah wajah serius dan mengangguk  "jangan kecewakan saya, saya berharap besar padamu".


hampir semuanya sudah di urus itu membuat Lingga cukup lega ia jelas tidak akan mengecewakan pak bahri, sekarang dalam perjalanan ke bandara ia harus ke Jakarta karena orang tuanya akan pulang dalam lusa dan urusan pekerjaannya di Jakarta juga sudah menunggunya, saat sedang menunggu di bandara telponnya berbunyi dilayar tertera nama Rangga


"halo? Lingga lo udah di Jakarta?"


"belom ini masih di bandara Denpasar nanti kalo udah sampe gue langsung ke kantor kok"


"aa enggak gue lihat adek lo di kabayoran baru lagi nyumbang buku sama cewek keknya istri lo deh, gue kira lo juga ikut kalo lo ikut berarti lo udah di Jakarta gitu"


"ngapain lo di kebayoran baru?, atau lo emang sengaja ngintilin mereka? kurang kerjaan banget lo mentang-mentang gue tinggal ke Kalimantan"


"ee enggak ya, gue" Rangga tertawa "biasa, gue jemput cewek, olahraga lo tau laahh hahahaha" Rangga tertawa cukup besar dan nyaring, Rangga dan kehidupan **** bebas memang sudah seperti gaya hidup Lingga juga heran padahal ia dan Dika bukanlah orang yang seperti itu tapi kenapa temannya itu seperti anak salah pergaulan


"ati ati lo kena AIDS baru tahu lo, gue sih tinggal cari direktur pemasaran baru, tinggal orang tua lu aja yang sedih atas kelakuan anaknya"


"aaaaa lo Ling mentang-mentang udah nikah bisa banget ceramahin orang, lagian gue tuh udah jarang sekarang enggak sesering dulu lagian ini juga gara-gara lo pergi lama banget jadi gue harus handle tugas lo"


"lah gue pergi itu karena kerjaan bukan hiburan kayak lo tahun lalu molor semua kerjaan"

__ADS_1


ting ting ting suara panggilan dari bandara sudah berbunyi menyebutkan nomor penerbangan yang Lingga tumpangi


"dah pesawat gue mau berangkat" tut Lingga menutup telpon.


__ADS_2